Category Archives: Cerpen

Hujan yang kepagian

Payungmu terlalu kecil untuk kita berdua. Kamu sengaja memilih payung yang ramping, payung kecil, mudah dilipat, dan praktis. Aku maklum, toh aktivitasmu memang menuntut  kepraktisan dalam segala yang berjalan begitu dinamis di duniamu. Hari ini, ketika mentari belum menggenapi siang, kala usia pagi masih dini, awan yang sontak memanggil rintik hujan agaknya membetot kita pada sebuah jarak; jarak antara aku, kau, dan payungmu yang begitu kecil ini. Kau tahu, kaki kita tadi nyaris terjerembab selokan di pinggir terotoar ketika kau terburu-buru membuka payung dan berlari. Di tengah kota Jakarta pagi ini yang mendadak agak ramah sekalipun, aku selalu tak mampu mengimbangi kecakapan langkahmu.  Obrolan kita di simpang jalan itu belum selesai ketika awan mengipasi anak-anak hujan. Sekarang, di bawah payung kecilmu, aku begitu ingin berkata: “Kasih, maukah sejenak mampir ke kedai di depan sana? Meneguk segelas kopi hangat sambil kita berbincang”. Sayangnya, aku dan kamu pun tahu, dengan segala kesibukanmu, hal itu tidak mungkin dilakukan.

Seperti hari-hari yang lalu, kau selalu tak punya banyak waktu di hiruk pikuknya pagi Jakarta; sepuluh menit di halte, empatpuluh lima menit di busway atau tigapuluh menit di dalam taksi. Selepas itu, kau tenggelam dalam tautan waktu dan pekerjaan. Entah, waktu kita bertemu pun tiada menentunya bergantung pekerjaanmu yang saling berkejaran dengan kecepatan.

Hari ini, pagi ini, dalam jalanan yang serba becek, beserta suara riak hujan yang mengalun penuh distorsi knalpot motor, taksi, dan kopaja-kopaja yang liar menderu, aku hanya ingin menikmati waktu 5 menit di bawah payung kecilmu ini; Berdua. Sebelum taksi berhenti di depan kita lalu membuka pintunya, dan membawamu melaju ke sana. Manisku, rasanya aku ingin melingkarkan tanganku ke pinggangmu, sambil membaui rambutmu yang sedikit basah karena hujan ini. Biarlah kita berdiri di sini, tapi agak jauh dari air yang menggenang di depan trotoar sana. Aku enggan kemeja biru muda kesayanganmu terciprat motor-motor yang membelah jalan dengan ketergesaan ke tempat-tempat kerja.

Jika kau tahu, punggungku sudah basah sedari tadi.  Jaket maupun kemeja bukan pakaian akrab bagi seorang penghuni anyar kota ini. Andai saja aku pakai jaket sebelum berangkat, inginnya kusampirkan di pundakmu.

Bagiku tak mengapa sedikit dingin, aku memang suka dingin; dingin hari ini, walau tidak sejuk, mengingatkanku  suasana di Bukit Tinggi, kampung yang kurindukan. Ah, Aku nyaris basah kuyup. Biar sajalah, asal nanti kau tak basah dan kedinginan di kantormu yang penuh AC.

Sambil memegangi payungmu, tetes-tetes hujan terus berjatuhan di dekat kaki kita. Benak ini menerawang, menjauh dari laju-laju kendaraan yang kian menumpuk: aku terlalu sulit untuk memberimu peneduhan yang layak, memberi sepercik kemewahan bagi wanita yang harusnya bisa dinyamankan oleh lelaki terkasih. Hati ini kerut mengingat itu; seperti kau tahu, satu-dua lukisanku sekalipun laku terjual, tak akan mampu membeli motor apalagi sebuah mobil yang bisa mengantarmu pergi ke kantor. Seperti sebulan lalu, ketika sebuah lukisanku laku di pasar seni, senangnya bukan main. Alih-alih ingin mengajakmu makan malam di restoran mahal dengan dua gelas Sampanye dan lilin, akhirnya kita mojok di roti bakar Edi. Saat itu tentu kau mengerti, Mahmud rekan dagangku yang ramah dan sopan itu, harus segera membayar biaya masuk anaknya ke SMP.

Untungnya, aku bisa berlega hati, kau masih nyaman cekikikan saat kuceritakan leluconnya Pidi Baiq. Bersama pisang keju, roti bakar dan teh manis yang kau pesan, kita bicara hingga larut, sampai kau pun menguap lebar,  menyisakan mata sipitmu menjadi garis lurus dan bertitik-titik air di sudutnya. Jika sudah begitu, kewajibanku membujukmu, atau jika masih bandel, sesekali harus juga memaksamu pulang dengan embel-embel rapat redaksi yang harus kau ikuti besok pagi.

Ya, aku ingat betul itu sebulan lalu ketika kerjaanmu sedang longgar, kita pun bisa sedikit bersenang-senang berdua dalam hura-hura ala kita; tanpa Jazz, tanpa anggur atau sofa-sofa empuk di cafe. Aku selalu berpikir, heran, juga sedikit cemas, bahwa kau sesungguhnya punya kapabilitas dan kemungkinan yang selalu menganga, untuk paling tidak, bisa memilih lelaki ber-Mercedes dengan dasi Pierre Cardin serta berjas perlente Arnon Brook, bukannya pria belepotan cat minyak, kumal dan jarang bercukur ini.

Aku sadar betul, andai Bang Jali tidak membawaku ke kios buku itu, tentu hari ini kita tidak berdiri berdua di bawah hujan, sambil menunggui  taksi yang lewat, lalu aku akan menanti saat mengecup keningmu sebelum taksi akhirnya mengantarmu pergi. Kalau saja hari itu kau tak mencari Seribu Kunang-kunang di Manhattan dan aku bukan mencari Para Priayi, tentu kita tidak akan terlibat obrolan mendalam tentang Umar Kayam. Dan tentu saja, tanpa momen itu; kala kau ngotot dengan kesalahan argumenmu, mungkin  saat ini kita bukan kopi dan koran yang selalu kau umpamakan. Jika hari itu kau tak emosional menyemburkan kekagumanmu pada karakter Bawuk, mungkin saja hari ini kita sibuk di dunia sendiri-sendiri; aku menyelesaikan lukisan di bengkel, sementara kau sibuk dengan laptopmu di kantor serba dingin dan kaku. Mungkin pula kita tidak saling kenal tanpa itu semua. Mungkin, mungkin saja. Tapi kini, pagi ini, di tengah anomali cuaca Jakarta, agaknya aku masih bisa tersenyum meski kau tak harus tahu.

Dua atau tiga menit lagi, taksi akan segera lewat. Aku masih ingin menikmati dingin-dinginan kita di bawah payung mungilmu. Kulihat orang-orang berkemeja rapi sudah berjejal dalam halte busway di seberang sana, beberapa orang berlarian menutupi kepalanya dengan koran, jaket, atau tas. Karyawati-karyawati muda nampak lalu lalang, gopoh-gopoh dikejar jam masuk.

Aku menikmati momen ini;  saat kutatapi jatuhnya tetes-tetes hujan dari ujung payung, dan kau di sini, melingkarkan tanganmu ke siku lengan kiriku.

“Mas, aku mungkin pergi empat hari sampe seminggu…”.

“Hmm.. lantas ? ”

“Mmn… “. Kau mencari jawaban. Kulihat kau menundukkan kepala, menatapi aspal basah di bawah kaki kita, seolah kata-katamu tercecer di sana. Kakimu tak hendak diam, menepuk-nepuk kecil aspal yang becek. Kau gelisah.

“Sebetulnya, aku enggan Mas, tapi Kang Mochtar ngotot, katanya cuma aku yang cocok dan punya waktu agak kosong di biro. Belum lagi Alif dan Mbak Rina sudah dapet liputan lain”.  Wajahmu masih merunduk melihat aspal, tapi tanganmu terasa hangat menggantung di siku ini.

“ Di Malang kan dingin… kamu ga  lupa bawa sweater tebal? Juga syal ?”

“Sebetulnya aku kesel juga sama Kang Mochtar!  Diki-dikit Fey, dikit-dikit Fey, apa ga ada orang lain?! Di biro kan ada 28 anak buah. Baru dua hari pulang, udah disuruh ngeliput lagi”. Kau mendumel,  mengabaikan pertanyaanku tentang sweater dan syal.

“Mas ga marah kan rencana kita nonton teater jadi batal ?” Wajahmu seketika mendongak, seperti anak yang minta jajan.

“ Fey, Kang Mochtar itu percayanya cuma sama kamu. Dan itu, aku kira peluang emas untuk karirmu.. ”

“Tapi mas, waktu untuk kita jadi semakin jarang belakangan ini”. Kau merengut.

Aku tersenyum, mengelus rambutmu yang sebahu, lalu hanya diam. Tak menjawab. Tak menyanggah. Kucium rambutmu. Perlahan. Dan kita diam, berdiri menunggu taksi lewat, sedang hujan gemericik belum bosan berhenti. Klakson bersaut-sautan di depan kita. Rupanya motor bebek seorang bapak mogok di depan sebuah Inova dan truk pick up. Motor-motor yang mandeg di belakang tidak kalah buasnya memencet klakson. Jalanan agak gaduh, Si bapak sibuk mendorong motornya ke samping. Kota ini agak galak bagi mereka, mungkin juga bagi kita.

Kemacetan yang sejenak ini, inginnya dapat menunda sebuah taksi menuju ke arah kita.

“ Dari kantor langsung meluncur ke Malang ?”

“Iya, ngambil beberapa bahan, terus nunggu instruksi Kang Mochtar dulu”.

“Mas, minggu depan, kalau liputanku selesai, aku ingin nyari bukunya Andre Gidde di kios Bang Jek. temenin ya?” Aku hanya mengangguk pelan, sementara mata ini  lurus terpaku ke arah tukang koran yang sibuk menutupi koran-koran dagangannya dengan lembar-lembar plastik. Hujan sepagi ini di luar perkiraannya.

Celana jeans yang kupakai hampir basah hingga lutut ketika taksi Silver Bird berhenti di depan kita. Kubukakan pintu taksi, kamu masuk, dan kusimpan tas dan payung di bawah jok.

“ Payungnya Mas bawa saja. Hujannya lumayan deras”

“ Ah, aku tanggung basah, kamu saja yang bawa. Sampai kantor pasti masih hujan”

bergegas Aku suruh bang sopir:  “Bang, ke Kebayoran Baru ya… Mayestik !” Lalu, segera kututup pintu mobil. Taksi itu membawamu, dan kita kembali menunggu jeda yang agak lama, paling tidak satu minggu untuk dapat menikmati momen seperti lima menit yang lalu. Atau barangkali berminggu-minggu lagi. Aku tak tahu.

Pukul enam lewat empat puluh ketika kulirik jam di tangan. Aku harus segera pulang, mandi lagi, lalu mengamplas frame-frame yang belum rampung.

Ah, kacamataku mulai berembun. Hujannya makin deras saja. Aku berlari ke tempat yang lebih teduh.

Masih pukul enam lewat empat lima. Hujan yang kepagian.

***

Sore

Hari itu kota J menyisakan sisa-sisa panas siang yang anginnya terasa begitu berharga.  Bulan April rasanya angin agak malu-malu menampakkan diri, maka ketika ia muncul sesekali, rasanya menggelitik di kulit, di leher, atau di dahi yang berkeringat.  Matahari sudah senyap-senyap sore ,menyorot pada lorong lantai dua. Kelas-kelas sudah lengang, white board sudah tersapu bersih dari coretan, dan kursi-kursi rapi tertata tanpa penghuni. Sisa-sisa siswa SMA D yang masih nampak, menghabiskan waktu sore untuk aktivitas-aktivas yang kurang penting. Kurang penting atau berkaitan dengan hal-hal yang tak ada kaitannya dengan kepentingan sekolah; beberapa terlihat berbincang di lorong-lorong di depan kelas, beberapa bermain basket di lapangan, dan orang-orang Osis duduk-duduk di depan sekrenya. Pak Rosyid, satpam sekolah tak di posnya, seperti biasa ia mengecek pintu-pintu ruang guru dan TU. SMA D sudah nyaris sepi sore itu.

Jati duduk di samping lapang basket bersama kawannya, Beni.  Ia dengan pikiran yang entah ke mana, dengan mata yang kosong, menatap ke arah lapang basket; ke arah tiga orang anak yang dengan asyik melempar-lempar bola.  Suara bola memantul begitu tangkas di tangkap telinga. Lapang basket dan taman disekelilingnya menampilkan sunyinya sore. Angin menerpa dengan  intensitas yang jarang.

Mata Jati begitu kosong, sedikit lesu, kuyu. Beni, kawannya, tahu betul mata Jati menatap ke arah lapang basket, tetapi Beni lebih paham bahwa pikiran Jati tidak di situ. Rutinitas baru Jati; duduk dilapang basket menjelang sore sudah berlangsung sejak 3 hari yang lalu. Jati sudah tiga hari ini melupakan buku-bukunya yang biasa ditenteng, dibaca ketika istirahat siang atau selepas kelas selesai. Sejak tiga hari lalu, Jati lebih terlihat pasif, lebih pasif dari kepasifan Jati yang biasannya. Kini, ia, menyalahi pakem rutinitasnya. Ia jadi lebih senang, bukan, lebih tepatnya lebih memilih untuk berlama-lama di sekolah, o…bukan, lebih tepatnya untuk semakin berlama-lama di sekolah dari pada sebelumnya. Jika sebelum tiga hari yang lalu, Jati biasa pulang jam 3 lebih 20, kini Ia pulang hampir menjelang pukul 5, itu pun ketika Pak Rosyid sudah mencak-mencak bahwa pintu  gerbang depan sudah mau di kunci. Akhirnya, atau di waktu sore, Jati menjadi siswa yang paling terakhir pulang. Ya, hampir mencetak record karena ia pulang hampir berbarengan dengan Pak Rosyid si penjaga sekolah. Orang-orang, teman-teman sekelas tidak ada yang sadar dengan perubahan perilaku Jati, hanya Beni yang tahu, plus Pak Rosyid jika masuk hitungan, kerena toh 3 hari belakangan Pak Rosyid mendapati seorang siswa yang bertingkah aneh, lebih tepatnya mengesalkan. Jati tidak ambil peduli, ia hanya melanjutkan rutinitas barunya. Ia tak peduli apakah “aktivitasnya” disadari orang lain atau tidak.

Sore itu, seperti kemarin sore;  Jati duduk manis di bangku taman yang posisinya mengarah ke lapang basket, kali ini ditemani Beni. Sebuah kata rasanya begitu kaku untuk keluar dari kedua mulut mereka. Ada sesuatu yang menahan untuk hadirnya sebuah percakapan hangat.  Hanya ada kekakuan. Jati diam dan Beni canggung. Beni agaknya tak mau mengganggu suasana hati Jati. Beni tahu ada sesuatu yang tak beres setelah kejadian tempo hari. Beni enggan sahabatnya bertingkah aneh seperti lupa dengan sekeliling; lupa bahwa ia hidup dengan manusia-manusia.  Sejak peristiwa itu, Jati seolah membentuk bentengnya sendiri dan hidup dengan dirinya sendiri. Ia semakin tertutup.

Beni mencoba merangkai-rangkai sebuah kalimat untuk memulai percakapan, tapi ia sendiri tahu bahwa itu akan sulit, sesulit ketika ia pertama kali berkenalan dengan Jati dua tahun silam. Beni masih ingat, bahwa sejak dulu Jati adalah orang yang tertutup. Beni bisa membayangkan, seberapa tertutupnya Jati kini, terutama setelah kejadian yang tak mengenakan itu.

Angin tenang sesekali menerpa rambut Jati yang tak lurus; rambutnya kusut. Tadi siang ia lebih banyak tidur di pojok kelas. Lensa kacamatanya agak berdebu akibat angin sore. Dari samping, Beni bisa melihat sedikit warna belang pada kulit wajah Jati yang tertutup batang kacamata; kacamatanya jarang di lepas di tengah panas ataupun basah. Beni melihat wajah Jati yang runyam seperti kemeja yang lama tak disetrika. Beni tak tega karibnya murung

“Jat, lu pasti ga tahu, tadi siang pas lu tidur di kelas, bang Mao yang bertubuh kerempeng kaya cacing kering itu, diceburin ke kolam sama anak-anak…!! sumpah.. itu semua anak kelas 2-B cekikikan ampe puas. Hahaha… coba lu bayangin; kepala kerempeng bang Mao dipenuhi lumut-lumut dari kolam belakang.. si Dadang bilang, wajahnya kaya Bob Marley dengan rambut gimbal yang di cat hijau…huahahaha…”

“Apa dia marah ?”

“ya  gak lah… lu tahu sendiri bang Mao. Kalo udah begitu dia ngerasa dikaryakan. Eh…. bukannya ngadat, dia malah joget-joget kaya manusia tanpa tulang.  Dia santai, karena pulangnya pasti dia dianter ampe rumah sama si Doni. Ah, tapi ga pa pa lah… setaun sekali ini. Mumpung dia ulang tahun, toh ini ide cewenya sendiri.”

“Kasian bang Mao..”

“Kenapa kasian? Dia senang koq..”

Ah sial, gerutu Beni dalam hati. Dia tahu langkahnya keliru, bahkan Jati tidak tersenyum sama sekali.

“Justru dia kasihan, dari dulu selalu jadi bahan lelucon, dan kita tertawa tanpa dosa”

Beni sadar, Jati semakin sensitif dan perasa.

“Mau permen…?”

Beni mencoba mengalihkan topik pembicaraan, tapi Jati hanya menggeleng dan matanya masih fokus ke arah lapang basket tanpa menoleh ke arah Beni di sebelahnya.

“Kamu sudah makan Jat ?? temenin gue makan mie ayam yuk..? lapar nih.. ayo, gue yang traktir.”

Aku masih kenyang Ben.. lagian mbok Narti udah tutup jam segini.”

“Oia ya… gue koq jadi linglung begini..?”

Tiga orang anak di lapang basket masih bermain dengan asyik; menghentakkan bola, mengumpan, menyuting, dan tertawa-tawa seolah tak peduli dengan dua orang linglung duduk di dekat taman. Kondisi yang kontras; di satu sisi tampak ceria, di pojok sana tampak murung dan hening.

“Jat, kalau lu ga keberatan, boleh gue minjem buku lu yang judulnya… Tenggelamnya… tenggelamnya apa tuh..? tenggelamnya kapal apa gitu… gue lupa. “

“Tenggelamnya Kapal van der Wicjk.”

“Nah, yang itu barang kali….”

Kemudian hening… Beni berharap feedback pertanyaan terkejut dari Jati, tapi ia masih dingin. Beni berharap Jati mengeluarkan pertanyaan balik seperti: wah, sejak kapan kau suka baca? atau sejak kapan kau tertarik dengan sastra? atau pertanyaan yang paling diinginkan Beni seperti: ga puyeng kau baca buku yang sudah bau apek? Beni mengharapkan kelakar dari Jati, tapi itu percuma. Jati hanya hening.

“Besok aku bawa…”

“Boleh, boleh… kira-kira itu buku seru ga ya..?”  Beni bertanya sekenanya.

“Besok baca sendiri aja.”

“hmm…betul,betul, lebih asyik baca sendiri.”

Tak ada yang cair dari Jati. Ia masih kokoh, sekokoh namanya. Beni bingung untuk mencairkan si iceman yang satu ini.

“Lusa besok, kelas 2-B maen lawan 2-D, biasa…frendly-frendly-an.. lu maen ya? Kasian si Aji, dia bisa repot di belakang. Lu kan tau, Mambo bisanya cuman nendang kenceng, dia ga bisa ngumpan… kalo lu maen, paling ga bola di belakang bisa agak masuk ke tengah. Maen ya Jat…? we need you..”

Beni berharap umpan yang ini nyangkut. Beni tahu betul, Jati baru bisa berkoar-koar kalau bicara tentang bola, tapi…

“Si Mambo libero yang sempurna Ben.”

“Jadi..?”

“kasih dia kesempatan maen.”

“Maksudnya..?”

“Maksudnya apa..?”

“Maksudnya, lu maen apa ga..?”

“Enggak dulu ..”

“Kenapa?”

ga kenapa-napa.”

“Ah, aneh lu Jat. Biasanya lu selalu semangat.”

“Ben….”

“Apa…?”

“Ah, sudah lah…”

“Sudah apanya..?”

“Aku sedang males ngapa-ngapain.”

Beni sadar betul umpannya telah gagal. Sudah kepalang basah pikir Beni, sudah tiga hari dia tidak mengobrol banyak dengan Jati. Dia ingin menenteramkan hati kawannya.

“Jat, sebetulnya gue gak enak ngomongin ini, tapi tiga hari ini lu bener-bener berubah…  wuhhh.. gue tau kejadian kemarin itu emang ga enak, tapi lu mesti bangun. Ga sehat kalo lu terus mikirin kejadian itu. Paling ga, lu bisa cerita daripada bengong, melawun sampe sore kaya orang bego.”

“hmm…”

“Ayolah kawan, bicara donks… cerita apa kek, ngomong buku juga ga pa pa lah kali ini gue siap.. ayo lah Jat jangan bengong terus.“

“Sudah lah Ben… percuma.”

Matahari sore itu sudah nampak sayu, cahaya kuningnya menerpa lapang basket yang kering. Rerumputan hijau di taman seolah berwarna luntur. Pak Rosyid mulai nampak di tengah lapang, menghampiri tiga orang anak yang asyik bermain. Mereka berbincang. Dari jauh sudah bisa ditebak obrolannya. Salah seorang dari ketiganya mengangguk-ngangguk, dua orang lagi nampak kecewa. Dari raut mukannya nampak dan berkata: tanggung pak, sebentar lagi. Tak lama, ketiganya mengambil tas yang tergeletak di pinggir lapang lalu meleos ke luar. Pak Rosyid kemudian mulai menghampiri pada kedua orang yang serba tak jelas di kursi pinggir taman.

Gue tau Jat, kejadian kemarin itu pahit banget. Lu sayang sama Lani, bahkan terlalu sayang, tapi mau gimana lagi… kenyataan memang menyakitkan. Dan sayangnya, Lani yang lu puja-puja setengah mati itu, ternyata lebih suka cowo berjaket kulit dan bermotor Tiger. Ayo lah Jat…jangan murung. Kita bisa cari cewe yang lain, yang lebih soleh, yang sesuai dengan karakter lu.. ayo lah bro, jangan murung”

“Tak sesederhana itu..”

“Iya, gue ngerti Lani sudah….”

“Ini bukan lagi tentang Lani…” potong Jati

“Lalu.. ?”

“heh,, hey.. kalian ! pulang sana..! sudah jam 5. Pintu mau saya kunci. Kalian mau nginep heh ?!”

Pak Rosyid memotong perbincangan kaku antara Beni dan Jati.

Tak lama, Jati membawa tasnya yang tergoler di bawah kakinya. Ia berdiri, menggendong tasnya lalu berjalan ke luar. Beni yang sedikit bingung masih bengong di kursi taman. Ia melihat Jati melangkah pergi. Cat tembok sekolah nampak pucat di mata Beni. Sedangkan Jati, berjalan dingin tidak peduli sekitarnya.

“Hey boss, mo nginep di sini? Tuh, temen lu udah pegi …!” tegor Pak Rosyid pada Beni yang terbengong di kursi.

Beni diam, kemudian dia berjalan mengejar Jati.

Di lorong sekolah yang sudah agak gelap, luas dan melompong tanpa kesibukan yang biasa, hanya ada Beni dan Jati berjalan menuju ke halaman luar.

“Kalo bukan Lani masalahnya, lalu apa..? lu bener-bener gak mau cerita..?”

Sori, Ben. Saat kondisinya begini, aku hanya rindu Ibu. Aku hanya ingin nasihat dari Ibu. Mengobrol dengannya. Itu saja yang aku Ingin; ngobrol dengan ibuku.”

Beni seperti tertonjok, hatinya mengkerut. Bukan karena merasa legitimasinya sebagai seorang kawan seolah dilangkahi, namun ia insyaf keresahan Jati itu hampir sulit diobati. Beni sahabat Jati yang paling dekat, bahkan mungkin satu-satunya, dan Beni satu-satunya yang selalu mendengarkan kisah bahagia Jati dengan ibunya. Jati selalu bercerita; ketika kecil, ketika Jati diolok-olok oleh kawan sepermainannya di rumah, ibunya selalu hadir, mengelus-elus rambutnya, lalu mendongeng cerita-cerita heroik dari Grimm Bersaudara. Ketika Jati mendapat nilai matematika yang buruk dan dimarahi gurunya, Ibunya tidak pernah marah, namun saat hendak tidur, ibunya selalu bicara dengan nasehat-nasehat lembut yang membuat Jati kecil tidur pulas. Bahkan, ketika Jati menginjak masa puber  dan menyukai teman wanitanya di SMP, ibunya selalu bilang dengan bijak bahwa rasa cinta itu anugerah. Namun kini, hal itu tidak didapatkannya. Ibunya meninggal empat tahun lalu karena sakit. Kini, di saat yang paling memilukan, di saat emosi seorang remaja begitu labil, ibunya tak ada di situ.

Beni mulai paham kenapa Jati begitu enggan pulang ke rumah. Ia diam dengan haru melihat punggung sahabatnya dari belakang.

Jati pun berjalan di tengah sore yang hangat, meninggalkan lorong sekolah menuju gerbang, lalu berdiri di trotoar menunggu bis yang mungkin baru akan lewat setelah limabelas menit. Jati berdiri begitu tegak di tengah sore yang hangat.

 

***

H.G. Budiman, 18 Februari 2011.

Mimpi Bolong (Bagian II)

Feeling by Krinisty, http://www.toonpool.com

”Ben, tolong… jangan mulai lagi.”

” Ckckck… aku ngomong bukan tanpa perhitungan. Aku ngerti karaktermu, kamu terlalu sulit bicara, terlalu rigid dengan emosi, bahkan masih kaku ketika itu berhubungan dengan fitrah manusia: suka dengan lawan jenis. Jat, pacaran bukan melulu berpaut mulut dengan mulut. Tidak seburuk yang kamu pikirkan. Tidak harus dan tidak mesti seperti itu. Iya..kamu lihat aku kan ?! kamu mungkin membayangkan dari apa yang ku perbuat. Memang bagi sebagian orang menjalin hubungan adalah pemenuhan birahi. Dan aku tak mungkir itu. Barangkali aku termasuk di dalamnya. Ya, dalam hal lebih ekstrem hubungan pria-wanita tujuannya adalah kasur. Masalah sperma dan sel telur.”

Beny bicara serius dan emosional. Kalau sudah bengini Beny lebih mirip ayahnya, Pak Iskandar, seorang Dosen Arsitektur di UI. Mereka sering bicara aneh-aneh kalau aku berkunjung.

“ Dalam sudut pandang yang lebih ilmiah, kecocokan atau daya tarik pria-wanita, semata kecocokan unsur Pheromon; Sebangsa bebauan di ketiak atau tengkuk. Percaya?? Itu menurut para ahli, mereka-mereka yang mengerti. Tapi ada kalanya masalah suka antara pria-wanita tidak bisa hanya dijelaskan dengan sudut pandang syahwati, biologis, atau kimiawi. Ini masalah kodrat. Suatu anugerah dari tuhan. Ketika kamu berusaha menampik, boleh jadi kamu lalai menginsyafi anugerah Tuhan, memang ada batasan dan norma, tapi apakah suka itu dilarang? Dosa ? apakah saling suka itu hina ? aku pribadi tak mau ambil pusing, terserah keyakinan dan kepercayaan tiap orang.” Beny yang meledak. Mungkin kesal karena aku kuyu sebelum berperang.

“Jangan bilanga kamu malu Jat..! itu terlalu rendah untuk orang secerdas kamu.”

Bu Yuli yang duduk di pojokan sedikit melirik pada Beny. Beny tidak peduli, ia melanjutkan bicara.

Okeh..okeh.. kita buat sederhana. Aku selalu ngomong karena aku yakin progressmu belakangan ini lumayan. Kita lihat situasi rilnya, kita timbang keunggulan dan konsekuensi terburuk yang mungkin menimpa mu.”

Hujan di luar telah deras, kawanannya tidak malu-malu lagi berselimut di balik awan. Sensasi bau tanah basah dan debu yang tersapu. Aku fokus pada Beny.

”Pertama, sebulan lalu kamu dapat nomernya, lebih tepatnya Lani tulis sendiri nomernya di buku mu. Ini satu poin plus. Kedua, kamu sudah coba konfirmasi. Sok tanya-tanya dengan terbata-bata, ditambah kamu sudah coba telepon langsung walau bicara mu ngelantur dengan ngomong masalah film untuk tugas PPkn. Okeh that’s finegak apa-apa. Paling tidak ia tahu kamu ada perhatian. Ketiga, kamu sudah coba pdkt waktu kita studi tour ke Museum Gajah. Hasilnya ga terlalu bagus tapi kamu berhasil duduk 3 menit di sampingnya dan bertanya ‘pulang ke mana Lan..?’ terlampau konyol memang pertanyaan kaya gitu. Tapi untuk kasus kamu, aku bisa memaklumi. Keempat, seperti yang selalu kamu bilang, kamu selalu memandangnya dan ketika dia tau, pipinya kadang memerah. Lani sudah tersipu Jat… satu lagi poin plus yang kamu punya. Sudah cukup modal sampai di situ pun. Keempat…”

”Kelima Ben…”

“O..iya, kelima, dan ini yang paling penting. Bukankah selasa minggu lalu dia bilang sendiri suka kamu? Ya..ya… kita tahu dia gadis yang periang dan mudah akrab dengan siapa saja, sehingga semu apakah pernyataan-pernyataannya main-main atau serius. Mungkin saja dia kesal melihat kamu yang terlalu pasif, lebih banyak tidur di pojok kelas. Itu sinyal Jat… sinyal..!! ayo ada faktor lain yang luput aku sebut ?”

“Sms..”

“Betul, itu dia. Kamu sudah coba sms meski hp-nya minjem dan kata-katanya minjem pula dari ku. Biar begitu, aku yakin dia pasti tahu kamu ada perhatian. Coba kurang yakin apa lagi?

”Aku takut Ben…”

” Takut apa lagi sahabat ku Jati yang baik?” Beny menahan rasa gemas.

”Takut salah tingkah dan terlihat buruk di depannya, nervous ku pasti kambuh.”

”Kamu krisis kpercayaan diri Jat.” Beny mulai santai dan  lebih serius. ”Kamu bukan bajingan, bukan penjahat, hanya ordinary boy yang kebanyakan diam. Aku pikir ga ada yang salah. Ketika orang lain lebih banyak bicara, kamu berhemat kata. Aku yakin anak-anak satu kelas pun setuju bahwa kamu pendengar yang baik. Sebagai seorang cowo sebetulnya aku benci mengatakan hal ini, muak juga sih, tapi honestly, penampilanmu lumayan okeh..”

Beny diam sejenak. Lalu sontak berkata: ”Damn… maksudku, oke lah kamu punya daya tarik. Ya sedikit lumayan lah… tapi ga lebih ganteng daripada aku sih.. hahahaha..” tawa Beny memecah di ruang perpus yang melompong. Hanya ada aku, Beny, dan Bu Yuli di pojok.

Hujan di luar sudah agak deras. Aku lihat jendela, kaca jendela sudah dikerubuti titik-titik air yang menempel. Rasanya titik-titik air itu menyegarkan, menempel pada kaca jendela yang berdebu, ada paduan antara debu dan air yang melekat, lama-lama air itu pun akan mengering dan debu yang dominan. Besok-besok tentu akan hujan lagi dan air bergumul lagi dengan debu di kaca, tapi air akan selalu kalah karena nanti matahari mengeringkannya. Begitu seterusnya, dan air hujan tak akan pernah bosan. Aku suka melihat hujan.

Ruangan hening, hanya hp-radio Beny yang berbunyi. Ku dengar intro Hoobastank, The Reason. Terdengar suara basah Doug Robb. Suaranya tubrukan dengan hujan di luar. Entahlah tubrukan atau berharmoni, yang ku tahu lagu itu dan hujan seperti tidak saling mengganggu, keduanya berjalan masing-masing. Telinga dan mata ku nyaman dengan suasana ini. Rasanya ingin tidur dan berselimut diri. Suasana dingin kota Bogor selalu membuat ku melankolis. Suara Doug Robb begitu bening dan basah waktu itu.

”But I continue learning. I never meant to do those thing to you… and so I have to say before I go…”

Bukan lagu yang terlalu bagus memang, tapi mungkin aku terbawa sendu suasana hujan saat itu. Ya, seperti kebanyakan anak muda yang kasmaran atau wanita yang biasanya begitu rentan terharu. Aku dan Beny terdiam, sepertinya kami sama-sama menikmati hujan. Radio terus bunyi dan terdengar. Hujan telah deras tapi tidak terlalu besar. Cas cis cus penyiar di radio, bicara seputar khasiat tidur siang, lalu menyampaikan salam-salam ala remaja. Tidak lama dan lagu telah berganti, Harder to Breath-nya Maroon Five yang diputar. Temponya cepat, mood ku surut. Aku buka kembali buku puisi yang dipinjamkan Bu Yuli. Beny anteng memainkan misting plastik, Aquanya sudah habis.

”Masih suka tahajud?” Beny memulai.

”Masih, kadang-kadang… kalau gak telat bangun.”

”Kalau sholat Tahajud, kamu dapat apa ?” Aku diam menunggu. Beny meneruskan.

”Maksud ku apa yang kamu doakan kalau sholat tahajud?”

”Perlu kamu tahu..??”

”Ya… kalau gak keberatan sih…”

”Aku selalu berdoa untuk almarhum ibu, lalu berdoa agar selalu diberi jalan terbaik oleh Alloh”

”Jalan terbaik bagaimana maksudnya?”

”Aku selalu minta dimudahkan dalam setiap hal.”

”Termasuk dalam masalah asmara? Cinta?”

“Termasuk masalah pelajaran, nilai, hubungan dengan teman, mungkin dengan yang satu itu juga.” Aku jawab tak mau bertele-tele.

“Kamu yakin Lani jodoh kamu?”

Gak sejauh itu lah…Ben..”

”Bohong. Kamu pasti berdoa…’ ya Alloh jadikanlah Lani jodohku, mudahkan lah aku untuk bicara dengannya’ Pasti seperti itu !??” Beny sedikit memperolok dan tertawa ringan.

Gak juga ah..”

Alaah…. jangan bohong Jat, hampir setahun kita sebangku. Aku selalu lihat cara kamu curi-curi pandang. Ingat kawan, aku lebih pengalaman dalam masalah begini.”

Sok playboy kau Ben…”

”Jat, 2 minggu lagi kita ulangan umum, aku kira waktu mu gak banyak. Mau nunggu kelas 3 ? Mungkin dia ke IPA, sedangkan kamu ke IPS. Aku tahu, matematika dan fisika musuh mu.” Beny bicara dengan pelan dan santai, lebih santai daripada tadi

”Ketika kalian beda kelas, aku yakin, itu bakal terlalu sulit untuk orang seperti kamu Jat.”

Beny  masih lanjut bicara.

”Satu kelas saja kamu masih sulit untuk ngobrol, apalagi beda kelas… belum lagi dia bisa-bisa keburu digebet orang. Mau ??”

Beny yang masih bicara.

”Aku tahu usaha mu, jangan sampai ini jadi sia-sia, ah… toh kamu koq yang suka sama dia. Up to you ! Cuma aku kira sekarang momennya lumayan pas, di luar hujan dan dia pasti belum pulang. Sekarang atau tidak Jat…”

Omongan Beny, intonasinya, gaya dia bicara, dan bahasa tubuhnya memang selalu nampak meyakinkan. Tidak heran banyak gadis yang menyukainya. Aku kadang merasa terhipnotis. Beny memang cerdas, omongannya tadi terlalu logis untuk diabaikan. Dia mengambil kesimpulan dari premis-premis, mayor-minor; Sebuah hipnotis silogisme Aristoteles. Kalimatnya seperti vonis hakim pada terdakwa. Ia tidak menyediakan banyak pilihan kali ini. Kalimatnya mendorong sekaligus menekan. Aku kehabisan kata.

Perasaan cemas mengepung lagi. Jantungku loncat-loncat setiap aku memikirkan kemungkinan ngobrol dengan dia, dengan Lani. Sial… apakah harus dibuktikan sekarang.

“Hujannya sudah agak reda tuh.. kalau berhenti, mungkin Lani keburu pulang.”

Beny ngomong dengan santainya, tapi sejatinya itu adalah tekanan pada pikiran ku yang timpang, antara yakin dan tak yakin. Antara mau dan takut. Bimbang seperti ombak di pantai, pasang dan surutnya silih berganti. Emosi seperti kapal yang tidak kunjung menepi, tidak pula menurunkan jangkar.

” Ah… Barangkali memang menunggu kamu Jat. Mungkin dia tahu kamu sering gak langsung pulang dan diam di sini.”

Sial, bicara Beny tambah mengganggu. Ketakutan ku belum goyah layaknya benteng pertahanan menancap di tanah dengan kokoh, tapi dorongan untuk melawan semakin besar pula seiring lontaran-lontaran kata yang diucapkan Beny. Mulai ku susun segala alasan dan dorongan yang dikemukakan Beny sedari tadi. Kutumpuk satu persatu dalam pikiran seperti menyusun bata, seperti menyusun keyakinan baru. Sementara itu, jantungku lagi-lagi semakin dag dig dug memburu. Rasanya terhimpit kecemasan dan pertimbangan sekaligus. Segala pertimbangan yang dikemukakan Beny sekali lagi ku susun. Pertimbangan ku yang ruwet macam benang kusut, ku coba urai satu per satu.  Satu alasan aku urai, dua alasan aku urai lagi, tiga, empat, lima, enam. Segala macam alasan yang kusut kini jelas helai per helainya. Kemudian ku coba tapaki kabut imaji; kabut imaji akan sebuah keindahan, kabut imaji yang menutupi hasil akhir. Aku tahu kabutnya masih gelap, Hasil akhirnya belum terbayang. Ku coba singkirkan.

”Hari ini atau besok-besok Jat ? aku Cuma ingin kamu segera lega, segera lepas dari kecemasan.”

Omongan Beny yang tadi seolah menghentak kebimbanganku. Kata-katanya itu menyemburkan terang, menyingkirkan kabut-kabut imaji yang menghalangi pikiran ku. Kabut itu lenyap, hanya hangat dan terang. Kabut menyingkir dan aku yakin, yang nampak adalah keberhasilan: Aku dan Lani akan ngobrol hari ini. Sampai kami lelah bicara, sampai hari sore dan hujan berhenti. Hingga Pak Rosyid menutup gerbang sekolah. Kami akan pulang. Ya, kami akan pulang, tapi tidak sendiri-sendiri. Kami akan pulang bersama. Duduk dalam sebuah bis, bersebelahan. Kemudian, bicara tentang hal-hal menarik hingga lupa kita telah sampai. Aku bayangkan senyumnya, lesung pipinya dan obrolan berhenti ketika ia berucap: Dadah…Jati…

Saat itu terjadi, hati ku akan begitu hangat dan sempurna. Betul kata Beny, saat itu bisa terjadi, aku akan lepas segala cemas, lalu tidur dengan bahagia. Pulas, lelap.

“Ben, Aku akan coba.”

Beny diam. Sedikit lama. Dia seolah ingin memancing reaksi ku, memaksa ku menunggu responsnya. Dia lirik sana lirik sini. Bibirnya mingkem menahan senyum. Sorot mata dan mulut mingkemnya menandakan kepuasan. Aku masih menunggu reaksi Beny. Ku lihat profil mukanya dari sebelah kiri. Ia masih memandangnya ke arah jendela dan mingkem masih menahan senyum. Lalu Beny menghentak.

Why you just sitting here and wasting time….” Sok Inggris dia, sambil memukul lemah ke dada kiri ku.

“ Ben…?”

“Sana-sana pergi..! cepet, keburu dia pulang.” Beny mengusir seperti tuan rumah yang malas menerima salesman di jam tidur siang.

”Sudah, sudah… sana pergi.” Beny keukeuh mengusir. Aku tahu ini dorongan terakhirnya untuk menyuruh ku ngobrol dengan Lani. Beny setia kawan, aku pasrah.

Aku mengambil buku puisi yang tadi ku baca, ku ambil misting dan botol Aqua bekas Beny. Sambil gopah gapah, aku pamitan ke Bu Yuli. Ku buka loker di dekat pintu keluar, ku masukan misting, botol, dan buku ke dalam tas, ku kunci kembali loker dan tas ku gendong. Jantungku memburu, berderap seperti kuda, tapi ku coba optimis.

Ku tengok ke belakang, ke arah Beny. Ia mengangguk-ngangguk. Menatap ku penuh keyakinan. Tanpa bicara pun aku tahu, tekad Beny untuk mendorong ku lebih bulat dari kepercayaan diriku sendiri.

Masih ku dengar sayup sayup suara radio dari hp Beny: I won’t put my hands up and surrender… There will be no white flag above my door .. I’m in love and always will be. Ku dengar suara halus Dido dengan lagunya White flag. Sedang jadi top chart waktu itu. Lagunya di putar-putar ulang di berbagai stasiun radio, sedang hits. Aku jalan ke arah pintu. Hujan deras sudah jadi gerimis tapi belum berhenti, hanya kecil-kecil saja. Siklus hujan selalu seperti itu, gerimis, deras, besar, lalu gerimis kecil lagi, sebelum akhirnya berhenti sama sekali.

Saat udara terasa dingin seperti ini, saat jantungku loncat-loncat tak karuan, aku sudah bisa memastikan bahwa rasa ini adalah buah dari kecemasan. Aku menghela napas, menenangkan diri dengan melihat langit. Langit sehabis hujan selalu putih bersih, tanpa noda. Awannya habis dilepehkan bersama air hujan. Aku pun ingin melepehkan kecemasan seperti langit yang melepehkan awan hitam bersama hujan.

Aku jalan di koridor. Tangan agak dingin, mungkin karena gugup.

Jalan ke kelas tidak jauh. Kelas itu ada di lantai 2, di lantai yang sama dengan perpustakaan. SMA B dibangun melingkar dengan lapang basket di tengahnya, maka  sudut pandang di lantai 2 cukup luas.

Dari arah perpus sebetulnya aku sudah bisa melihat Lani. Ia meletakkan tangannya di atas tembok pembatas. Ia tampak melamun. Menopang dagu dan wajahnya tertuju ke bawah, ke arah lapang basket. Ia tampak lucu, seperti anak balita yang menunggu permen, hanya saja mulutnya tidak manyun. Ia memikirkan sesuatu. Aku terpaku dari kejauhan, gemetaran. Kedua tangan rasa-rasanya agak lemas, aku linglung, apakah maju ke sana atau menunggu. Ku putuskan untuk melangkah.

Urat kepala ku di pelipis berdenyut-denyut. Pusing, tegang. Diam, lalu ku tatap dia di kejauhan. Profil tubuhnya terlihat dari samping. Ia mungil, proporsi tubuh yang energik, dan semua tahu, ia gadis yang periang.

Apakah cukup ku tatap dari jauh seperti yang sudah-sudah? Memang, dengan melihatnya saja aku sudah puas, hanya konsekuensinya sudah jelas: saat aku pulang ke rumah, lamunan akan menggantung, menunggu lamunan lain yang tak pasti, hanya fatamorgana. Hal yang demikian hanya bisa mencubit-cubit hatiku tanpa mampu menghangatkannya, atau pun untuk sekedar berdentum dengan teratur. Hari ini aku harus mengakhiri segala yang menggantung, segala yang tak mengenakkan.

Dari jauh ku lihat Lani mengeluarkan hp-nya. Mungkin ada sms masuk. Dia pencat-pencet hp itu. Wajahnya nampak sok serius, alisnya bertemu pertanda berpikir, mulutnya sedikit manyun; manyun seorang bocah. Dengan ekspresinya yang seperti itu pun aku senang. Bagiku wajahnya selalu nampak damai kekanakan, tenang seperti ombak di lautan Pasifik.

Aku tak tahu kapan pastinya mulai suka Lani. Yang jelas, bukan rasa suka yang datang seketika, tapi rasa suka yang menimbun. Rasa suka yang menumpuk lembar per lembar di setiap harinya. Aku senang melihat keriangannya, bahasa tubuhnya ketika ia sedikit menaikkan kemeja lengan panjangnya ke atas, tangannya nampak, ada jam di lengan kirinya. Tangan itu putih, mungkin juga halus. Aku selalu suka gestur tubuhnya ketika ia berkaca dan membetulkan letak kerudungnya, merapikan rambutnya yang keluar.

Aku biasa memerhatikannya dari pojok kelas, dari bangku biasa aku tertidur. Keriangan Lani yang sedikit kekanakan selalu mewarnai riuhnya kelas kami. Ia sering rusuh kalau PR belum beres, sering sibuk dengan teman-teman lain yang mengerjakkan PR. Tiap pagi hampir pasti selalu ada kesibukan di kelas kami. Aku lebih banyak diam di pojok. Bisa kurasakan teriakkan Doni, Rina, Arisa, Yuda, juga si Ucok. Beny kadang kala sama sibuknya dengan yang lain. Semua suara bercampur, riuh, ramai, walau begitu, aku masih bisa membedakan sedikit nyaring suara Lani. Volumenya medium antara lembut dan manja. Aku tahu walaupun agak tidur di pojokan. Aku selalu ingat gerutuan manjanya ketika yang lain mengambil contekannya. Aku ingat rengekan itu ” iih… Yuda..!! Lani belum beres… siniin contekannya..” Aku merekam suara itu di kepala, suara rengekan manja yang membuat hatiku pegal.

Tapi yang paling ku suka dari Lani adalah senyumnya. Ketika ia memiringkan kepala dan bertanya, senyumnya begitu jelas. Lesung pipinya begitu nampak, yang kanan lebih dominan daripada yang kiri, aku bisa lihat sedikit gigi taringnya. Sebuah raut wajah kenakalan yang polos, seperti anak-anak. Aku selalu tak tahan melihat senyum dan lesung pipinya.

Ah, rasanya terlalu banyak sensasi yang ku rekam. Sering aku curi-curi pandang dengannya. Ketika kebetulan mata kami saling bertemu, aku juga Lani sering pura-pura tak tahu. Pura-pura sibuk masing-masing, buru-buru melakukan aktivitas lain, menutupi gelagapan kami. Aku kira Lani pun tahu. Ketika kejadiannya begitu, aku selalu coba melihatnya lagi. Pipinya agak merah, pipinya itu seperti bakpau hangat yang diangkat di pagi hari; mengepul-ngepul dan hangat. Seperti pula hangat yang kurasakan setiap pagi, setiap menatapnya.

Aku tak ingin banyak hal dari Lani. Dengan melihatnya saja aku sudah senang, tapi rasanya jauh lebih menyenangkan ketika kami bisa sekedar ngobrol. Bicara tentang hobi atau sesuatu yang senang-senang. Aku ingin merasakan keriangannya. Melihat lesung pipi, senyum, dan gigi taringnya lebih jelas, lebih dekat. Mungkinkah itu? Rasanya keriangan Lani, keceriaannya, mampu menutupi ku yang lebih banyak diam dan sunyi, cenderung agak gelap dan pengap. Aku Cuma ingin obor, semacam pelita yang menerangi ruang-ruang gelapku. Aku kira itu kamu Lan… kamu yang punya obor beserta pelitanya.

Mimpi Bolong (Bagian I)

Morning After (by Krinisty, http://www.toonpool.com)

“Anjing.”

Kamu tahu mimpi itu tidak melulu berada pada kategori indah dan buruk. Mimpi kadang menyungkruk pada rasa kecewa. Lebih buruk dari sekedar mimpi buruk aku kira, meskipun mungkin kekecewaan bisa golongkan pada suatu hal yang buruk. Ah, tidak sesederhana itu.

 

Malam itu aku bangun, mengumpat, dan kesal; aku kutuki mimpiku sendiri. Aku bangun lalu menyumpah serapah macam pengamen yang tak dibayar. Malam itu aku terhenyak dan mulut lebih dulu bereaksi ketimbang otak yang belum sempat ku rekonstruksi.

Kamar kosan masih berantakan. Selepas bangun, aku melirik sana-sini. Buku kuliahan masih tersimpan di raknya, tapi majalah, novel, buku-buku budaya, dan koran berserakan tanpa juntrungan, seperti tumpukan sampah habis dikorek-korek anjing lapar; berantakan di karpet, nyungsep di sela-sela bantal, beberapa tumpuk nyangkut di kusen jendela, beberapa masih numpuk di dekat komputer. Semua belum sempat ku bereskan. Aku bangun menghela napas, duduk di kasur yang sudah tidak empuk lagi. Cermin di pintu kamar memantulkan wajahku yang berantakan; sangat kacau.

Tiga hari tak bercukur, masih lebih baik ketimbang Tom Hanks di Cast Away. Buram. Kupakai kacamata dan lebih jelas. Kamar ini seperti sehabis kena goncangan gempa. Lebih banyak barang yang tidak pada tempatnya, seperti pikiranku yang belum beres aku susun kembali. Menghela napas lagi lebih panjang, pertanda banyak urusan belum selesai.

Masih kurasakan udara dingin sisa-sisa hujan deras tadi sore. Kutengok jam, kini sudah setengah satu malam. Ah sial. Bob Dylan di dinding masih merokok dengan kaku, mengingatkanku bahwa Classmild di tas sudah kandas tadi siang. Melamun di kamar aku urung, lebih baik keluar, merokok, dan sedikit menenangkan diri atas mimpi tadi.

Aku ingat khotbah Jum’at beberapa minggu lalu. Khotib bilang tidur di waktu Ashar lebih banyak kerugiaannya, tidak disunnahkan, dan tidak sehat untuk tubuh. Sensasi ini mungkin akibat tidur di waktu Ashar; sholat Ashar aku pun lewat, Magrib aku lewat pula, mau ku sholat Isya tapi sudah kepalang malas. Sekali lagi aku lewat sholat-sholat itu.

Apa mau di kata, toh sore tadi aku kepalang lelah. Otot-ototku dipaksa macam kuli beras. Resiko bergiat di kampus. O, bukan, aku bukan aktivis, hanya pelarian atas kehidupan normal yang tidak begitu sukses. Tapi memang, ada banyak hikmah dari kegiatan-kegiatan di kampus. Aku tahu banyak orang, tau ketololan dan kebodohan mahasiswa, banyak referensi aktual, dan paling tidak, aku kenal beberapa orang ”sakti” di antara mereka. Maksudku, sakti dalam hal ilmu pengetahuan serta wacana-wacana yang berkembang dewasa ini. Ah, sudahlah tidak terlalu penting untuk dibahas. Yang pasti acara diskusi tadi siang membuat aku dan kawan-kawan angkat-angkat kursi satu aula, dan kursi tidak terisi penuh seperti yang sudah-sudah. Kami sadar acara diskusi tidak punya daya tarik bagi sebagian orang, tapi aku senang punya kesibukan.

Kesibukan membuatku lupa akan sekrup-sekrup otak ku yang agak longgar. Alhasil, begitu diskusi selesai aku terkapar di kosan hingga terbangun di malam buta. Otot boleh cape tapi pada dasarnya otak lebih lesu daripada itu.

Ku putuskan keluar mencari angin. Suntuk di kamar yang runyam ini. Ku ambil dompet dan korek. Hp ditinggal saja, malas kiranya kalau harus membalas sms atau telpon yang masuk. Kulihat hp sejenak, ada sms dan beberapa telepon yang masuk. Alaaah… peduli setan, paling-paling orderan makalah dari teman-teman yang keliwat dungu tapi mereka punya uang. Ya, uang, itu yang biasanya. Tapi tidak untuk malam ini. Tidur dan mimpi tadi kelewat runyam dibandingkan uang. ”sori kawan, malam ini saya jaga nenek di Ujungberung. Libur dulu ya.. J ” dalih. Aku balas sms sekenanya. Mereka terlampau dungu untuk seorang kaya.

Aku ambil sweter lusuh di kursi. Masih sempat ku lirik Tribun Jabar hari ini tergeletak di meja, belum sempat aku baca. Sedikit kulihat, ada tulisan ”Partai Puncak…” Ada gambar John Tery dan Ronaldo. Lupa, malam ini Final Champions. Peduli amat, aku gusar kali ini, tak ada taruh-taruhan, Lagian aku bangun bukan untuk nonton. Gundah dengan rasa kecewa, rasa direnggut, rasa kehilangan yang mengepung mimpi tanpa diundang. Seperti tersambar petir.

Jatinangor sudah sepi, tapi tidak begitu sepi seperti hari-hari yang lalu. TV menyala di beberapa warung. Aku jalan pelan di sepanjang jalan Sayang. Udara sisa hujan cukup menusuk, dan jalan becek. Efek lampu memantul di jalan basah. Nuansa malam dingin tentu lebih kusuka ketimbang siang yang berdebu; bau kesibukan siang cenderung menghasilkan kepengapan. Malam ini tidak pengap, tapi aku gusar dengan mimpi tadi. Ah, gusar apa panik? Apa kesal? Apa dendam ? aku bingung.

Aku singgah di sebuah warung yang masih nyala. Beli Classmild yang boleh diketeng di warung ini. Kulihat TV menyala. RCTI. Tukang warung menyerahkan Classmild sambil basa-basi. Kami cukp kenal meski tidak akrab. Aku sering sambangi warung ini, cukup rutin barangkali. Tiap jam 11 atau 12 malam ketika rokok mulai habis.

“Pinal kang… pegang mana?”

“Ah.. henteu, jagoan saya mah tos eleh.”

”Barca nya..?” tebak si akang warung.

”Muhun..” mengiyakan. Malas kalau harus berlama-lama basa-basi.

”Ronaldinho sareng Xavi nuju awon Kang…”

”Iyah..” jawabku sambil sedikit senyum.

”Ada lagi kang..?”

”Kratingdaeng..”

”Jadi 8500 kang..”

Aku bayar dan kutinggalkan warung, lalu berjalan dan menikmati sendal terkena genangan air. Tak sengaja memang, namun ampuh mengembalikan kesadaran yang samar-samar akibat tidur tadi. Kuteruskan berjalan. Masih ku dapati beberapa motor terparkir di depan warnet. Warung kopi masih nampak sepi, hanya ada seorang pedagang dan seorang pengunjung menikmati mie rebus. Sekarang 12 lewat 50, Champions mulai 2.30. Indomaret di jalan Sayang sudah tutup namun terlihat tiga begundal mabok minuman murah. Aku acuh. Kuputuskan untuk nongkrong di depan Gerbang Unpad; Tempat paling nyaman tuk menikmati malam sambil makan nasi gila barangkali. Sayangnya, hari ini tak ada rasa lapar sama sekali. Aku pikir cukuplah sekedar duduk dan melamun. Jalan ke sana ambil waktu 10 menit.

Kutegak Kratingdaeng sambil jalan. Aku coba hilangkan mimpi yang tadi membekas. Masih sulit. Setegak-dua tegak aku minum macam begundal-begundal tadi yang mabok Topi Miring. Bukan mabok yang ku cari, hanya ingin mata lebih melek sehingga dapat kuatur memori-memori, ku defrag file-file di ingatanku seperti Pentium. Pentium yang masih II karena otakku berjalan sedikit agak lambat. Ku tegak lagi, dan sedikit lebih segar. Asamnya Kratingdaeng mengiringi ingatanku, ingatan lama yang ingin ku kubur. Kini ku coba gali, ku coba buka seperti membuka lapis-lapis peti harta karun yang digembok berlais-lapis pula. Sedikit-sedikit ku buka gembok itu.

Ingatanku jatuh pada peti besar pertama, peti memori ketika aku masih sekolah di Bogor 4 tahun silam. Ingatanku kembali pada VW butut itu, VW butut milik Beny. Aku ingat ketika kami ngobrol di pinggir jalan. VW kodok Beny diparkir. Kami ngobrol di kursi depan tanpa keluar. Di jalan banyak mobil berlalu-lalang dengan cepat. Radio butut dalam si kodok meraung-raung, kalau tak salah mengalun Transparent and Glasslike-nya Carparknorth. Sebuah band asal Copenhagen, Denmark, cukup oke di tahun 2004.

Aku tertunduk lesu di kursi depan, Beny berkar-koar di depan stir. Mulutnya terus nyeroscos layaknya seorang ibu yang sewot barang belanjaannya kurang. Mulut itu aku tak akan pernah lupa, mulut yang selalu setia memberi saran macam orang pintar saja.

”Eh.. Jat, aku kan sudah bilang prinsip layang-layang?! Tarik-ulur., tarik-ulur, terus seperti itu sampe bener-bener nyangkut.”

”Iya, saya sudah coba dan memang perkembangannya lumayan.”

”Nah, kenapa dong cemas-cemas kaya gini ?”

”emm..”

Hp Beny bunyi, bunyinya sangat mengganggu. Saat itu polyphonix belum ramai, dan suara hp lebih mirip paduan suara tikus-tikus. Beny punya yang seperti itu, aku tidak.

Cewenya nelpon. Dia bicara, aku diam. Beberapa saat dia bicara dengan cewenya dengan intonasi yang lebih halus. 3 sampai 5 menit, kemudian dia tutup. Dia bicara lagi. Padaku kali ini. Di bilang cewenya menyecap mulutnya selama lima menit. Bohong, aku kira keduanya memang saling ingin menyecap. Tapi itu bukan masalahku. Aku sudah tidak fokus pada omangan Beny. Hari sudah sore dan aku lelah, belum pulang ke rumah dan belum pula makan. Beny belum bosan dengan petuahnya, sementara radio sudah berganti lagu. Semusim lagunya Marcel. Artinya, segmen lagu Barat sudah ganti ke lagu lokal. Program sore di radio sudah berganti dan Beny masih menyemburkan kalimat-kalimatnya. Aku insyaf, Beny adalah teman yang baik.

“Ingat Jat, yang penting prinsip layang-layang”

”Iya, saya ingat, saya akan berusaha untuk…” kalimat belum selesai tapi Beny memotong seperti biasanya.

”Oia, kamu bagus sering tahajud, biar percaya diri, gitu toh ? haha… kalau dipikir-pikir kamu terlalu serius juga ya..!? sudah… dibawa nyantai saja seperti kebanyakan orang. Kalau terlalu serius, aku khawatir kamu malah jadi kaku dan hasilnya ga akan bagus.”

Obrolan 4 tahun silam itu masih ku ingat dengan samar. Seperti menapaki kaki gunung yang penuh kabut. Kita tidak tahu bagaimana puncaknya, kita baru tahu ketika sudah dekat.

Aku ingat Beny mengantarku pulang. Kala itu aku tak banyak berkata-kata, aku terlalu telat untuk paham dan merasai gejolak orang muda; gejolak muda yang harusnya aku cicipi pula dengan normal sebagaimana kebanyakan orang. Beny orang normal, aku merasa kurang normal walaupun berada pada usia yang sama dengannya, ataupun dengan yang lain. Pikiranku seperti orang tua yang penuh pertimbangan, bahkan keliwat ruwet. Tidak reaktif seperti kebanyakan anak muda di usia 16 atau 17. Ada yang berjalan tidak wajar. Ketika teman-temanku senang ngobrol, ngerumpi, atau pacaran, aku lebih banyak tidur di kelas. Aku kurang bisa melakukan hal serupa, aku tertinggal jauh dari teman-teman. Aku minder.

Walau begitu, aku kira aku masih cukup beruntung kala itu. Aku senang bola dan dapat bermain baik di lapangan, itu yang membuat aku dan Beny bisa akrab. Sepakbola membantuku untuk menjalin hubungan sosial dengan teman-teman. Sepakbola mampu menutupi kekuranganku dalam bergaul. Dengan teman-teman lelaki, paling tidak aku bisa ngobrol banyak tentang bola. Tapi bola bukan sesuatu yang cukup akrab dengan lingkungan cewe. Di mata teman-teman cewe, aku kuper. Dan Beny mengerti betul akan hal itu.

Peti memori 4 tahun silam aku buka. Obrolan aku dan Beny masih ku ingat walau tidak secara lengkap. Malam ini, aku jalan menuju gerbang Unpad. Kratingdaeng yang ku beli di warung tadi sudah habis. Rokok saja ku cocor, lalu hisap dalam-dalam. Rumah makan Padang tempat biasa aku makan sudah lewat. Beberapa orang, tidak ramai, berkeliaran di sekitaran gerbang. Tukang nasgor, ayam goreng dan sejenisnya masih ada yang buka meski sepi pengunjung.

Ku hisap kembali rokok dalam-dalam sambil mencari tempat duduk yang nyaman. Kudapati tempat duduk dekat lampu jalan. Asap rokok mengepul-ngepul terkena sinar lampu. Aku senang mengamati asap rokok yang terkena sinar lampu. Aku hembuskan asap rokok lebih banyak, cahaya lampu semakin memperjelasnya. Kepulan asap, Lalu aku melamun sedikit tersenyum.

Aku ingat kepulan asap motor di parkiran sekolah SMA-ku dulu. Aku sering melihat kepulan asap motor dari perpustakaan di lantai 2, dan asap motor itu, pasti asap motor Vespa si Tito. Pak Rosyid sang satpam selalu uring-uringan ketika motor itu bunyi. Pekat asapnya bukan kepalang, belum lagi berisik suaranya. Pak Rosyid mencak-mencak, tapi Tito dengan dinginnya melajukan motornya ke jalan. Aku tertawa dari kaca jendela perpustakaan.

Aku masih cukup ingat hari itu, Bulan Oktober 2004. Dari jendela perpustakaan aku lihat langit sudah mulai mendung. Tito dan motornya sudah melaju entah ke mana, hanya asapnya saja tersisa di parkiran. Mungkin sekitar jam 2 siang. Siswa-siswa SMA B sebagian besar telah pulang. Beberapa masih nongkrong sehabis pelajaran olahraga. Beberapa berduaan di pelataran kelas, barangkali pacaran. Ada yang ngumpul di sana-sini tak jelas juntrungannya, anak-anak kelas tiga baru keluar istirahat dari pelajaran tambahan. O..ya, Beny salah satu yang pacaran sehabis pulang sekolah. Aku lebih senang di perpustakaan, tempat itu sunyi, hanya ada beberapa siswa mengerjakan tugas untuk besok; siswa rajin.

Di Perpus ini aku suka menemani Bu Yuli. Beliau guru Bahasa Indonesia. Beliau sering nongkrong di perpustakaan sehabis jam pulang, barang sejam atau dua jam Bu Yuli menyempatkan diri diam di perpustakaan. Entah untuk memeriksa ulangan atau sekedar membaca-baca buku. Nampaknya tidak betah diam di ruang guru.

Beliau guru yang ramah. Beliau yang memperkenalkanku pada sastra. Memang, di kelas 2, mata pelajaran bahasa Indonesia ada materi yang membahas angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru, tapi itu semata materi sekilas, tidak mendalam, seperti jatah berita lokal di koran nasional. Suatu hari ketika aku nongkrong di perpus, Bu Yuli menyodoriku, lebih tepatnya sedikit memaksa untuk membaca ”Di Bawah Lindungan Ka’bah” karya Hamka. Novel itu aku baca habis meski agak lama dan menjemukkan. Seminggu kemudian beliau sodori aku ”Layar Terkembang” buatan Sutan Takdir Alisyahbana. Lelahnya bukan main, aku tak biasa membaca novel yang berat-berat. Biar begitu, novel itu habis juga aku baca. Aku dan Bu Yuli lebih sering ngobrol di perpustakaan. Belakangan, Bu Yuli menyodoriku ”Atheis” karya Achdiat K. Miharja. Novel itu aku sikat habis lebih cepat. Bu Yuli bilang, Achdiat itu penulis Angkatan ’45, sezaman dengan Chairil Anwar. Saat itu aku bartanya-tanya tentang Chairil. Namanya terasa sering terdengar.

Di hari yang mendung itu, selepas ku lihat parkiran dengan kepulan asap Vespa Tito, aku temui Bu Yuli seperti biasa. Kali ini Bu Yuli meminjami ku sebuah buku tipis sudah usang, judulnya ”Deru Campur Debu” , tertulis nama Chairil Anwar.

”Jat, kemarin kan kamu bertanya tentang Chairil Anwar? Nih, ibu pinjamkan bukunya. Baca baik-baik ya, ati-ati bukunya sudah tua, kertasnya sudah pada mau lepas.”

Aku buka selembar dua lembar, sebalik dua balik. Sekilas ku baca.

“Bu, ini bukan novel, ini puisi. Saya ga ngerti puisi bu…”

“Sudah, baca saja dulu. Nanti kamu pasti suka.”

”Baik Bu, saya coba baca.” jawaban yang biasa aku lontarkan.

”Jangan lupa, setelah selesai ibu ingin tahu pendapatmu.”

Aku mengangguk dan meleos ke meja kosong. Bu Yuli meneruskan memeriksa pekerjaannya, mungkin jawaban ulangan anak-anak 2-7.

Aku buka buku itu. Baunya usang, sungguh tak enak di hidung. Kupaksakan saja, toh buku yang sudah-sudah tidak kalah bau apeknya. Ku baca dengan pelan-pelan karena aku sadar, aku tidak mengerti betul apa itu puisi. Dulu aku bingung melihat puisi. Apa bagusnya kalimat-kalimat tidak tuntas macam begini. Cenderung menggantung, sepotong-sepotong, mungkin pembuatnya semacam orang linglung yang senang memelintirkan kata. Aku kira orang-orang yang membuat puisi adalah orang-orang yang senang dengan sesuatu yang pelik, atau sesuatu yang dibuat pelik oleh mereka sendiri. Pantaslah kiranya jika orang-orang seusiaku tidak suka hal-hal begini rumit. Aku baca secara acak, mencari-cari judul yang barangkali lebih mudah dimengerti, lebih mudah dipahami, lebih nyaman dikonsumsi sesederhana menyeduh Pop Mie dengan air hangat. Tak ada yang seinstan itu, tapi aku suka yang ini:

DOA

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

Cahayamu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Mataku berhenti pada kata remuk, ketika Beny memecah kesunyian, gelagatnya rusuh seperti biasa. Gapah gopoh membawa tas, Hp besarnya ia jinjing. Aku lirik dari meja, pura-pura konsen dengan bacaan sendiri. Bu Yuli di pojokan sudah maklum. Beny buru-buru memasukan tasnya ke dalam loker. Mengambil earphone dari saku, lalu memencet-mencet hp jumbonya. Hp itu multi fungsi, selain bunyinya yang mengganggu macam tikus-tikus, benda itu bisa pula menangkap gelombang radio; hp besar dengan fasilitas radio. Aku tak punya yang seperti itu.

Beny tak suka kesunyian., ia aktifkan loud speaker. Bu Yuli tidak sewot, toh perpus sudah sepi siang itu. Dan langit siang lebih banyak gelap.

Sebetulnya aku agak suntuk dan terlalu malas untuk ketemu Beny, bukan suntuk dengan senyumnya yang lebar, bukan pula masam dengan gayanya yang sok cool. Sejujurnya aku senang dengan tingkah lakunya yang sedikit urakan, tapi hari itu aku malas menanggapi semprotan motivasinya. Aku tahu dia pasti menyemburkan dorongan-dorongan itu. Beny tahu progressku kali ini lumayan. Kutegor dia lebih dulu, berusaha membelokkan niat kedatangannya.

Ga nganter Wiwid Ben..?”

Beny diam sambil mencet-mencet hp-nya. Ia asyik sendiri. Ia mengambil kursi dan duduk di samping.

”Jat, aku lapar.” Beny tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang besar-besar. Aku sudah hafal.

Kebiasaan kami menghabiskan bekal siang. Aku agak malas dengan keramaian kantin, dan Beny lebih sering memanfaatkan itu. Ketika uangnya habis, aku kira untuk pulsa, dia rutin merecoki bekal siangku.

Aku ambil misting dalam loker. Masih ada sisa Aqua. Aku ambil keduanya. Roti tersisa tiga lembar dalam misting. Tanpa basa-basi Beny caplok roti dan telur dadarnya.

Aku lanjut baca, sok fokus dengan puisi-puisi yang sebetulnya tak kumengerti. Cas cis cus, cas cis cus. Hp berbunyi radio itu mendendangkan Someday Will Know, penyanyinya Mandy Moore dan John Foreman. Ku lihat jendela dan gerimis mulai bergrilya, kecil-kecil tidak rata. Bau tanah basah belum sempurna kucium. Beny menegak Aqua setelah semua roti tumpas.

“Mau pulang jam berapa Jat..?”

Ga tau, mungkin jam 3-an, di luar juga hujan.”

”Itu novel apaan Jat..?”

”Chairil..”

« Oia.. Sabtu malam Roma-Juve, mau nonton bareng gak ? si Adi udah sedia snack katanya. »

«  hmm.. » aku jawab sok dingin. Beny banyak nanya, dia mencari celah untuk bahas hal itu lagi.

Aku sudah mulai dag dig dug tak jelas. Aku yakin di mana muara obrolan Beny. Aku sering kehilangan kata-kata dan salah laku. Berbagai logika dan pertimbangan sering kali lenyap seketika layaknya rumput yang dipangkas habis oleh tukang kebun. Aku selalu coba hindari obrolan itu. Tanganku sedikit basah pertanda gugup. Tolong Ben jangan obrolkan masalah itu. Harusnya Beny mengerti, aku terlampau tolol untuk mengekspresikan hasrat. Aku mencak-mencak dalam hati. Ceroscosan Beny berlintasan di kepala. Aku tahu di mana ujungnya. Aku tahu di mana ujungnya. Dalam hitungan detik dia pasti lontarkan pertanyaan itu. Aku mau meledak.

Pada kawan sendiri saja aku sulit mengungkapkan. Aku coba baca buku lebih serius. Terpikir untuk menghindar saja, keluar dari perpus dan pulang. Ceroscosan Beny mulai nyangkut. Aku masih pura-pura sok dingin. Sok tidak peduli padahal rasa sudah mendidih-didih. Kemudian, pertanyaan Beny menghenyakkan bacaanku yang sudah tidak fokus lagi.

“Masih suka gemetaran..? Parkinson seperti yang kamu bilang!? Hehe.. kaya Muhammad Ali ya..?? Jati, Jati… aku kira itu masalah kegugupan. Nervous !!”

“Sok tahu..”

“Tuh..! tangan mu yang bicara.” Beny lanjut berkoar “ Ya Alloh… parah betul sih ni anak. Eh, denger nih… kamu ga akan maju-maju kalau kalah dengan kegugupan mu sendiri”

Aku diam, darahku rasanya sudah surut di tangan dan kaki, keduanya dingin. Jantung dag dig dug lagi, sementara kepala panas. Aku nyaris meledak. Beny tinggal meng-KO, aku limbung. Beny sudah mulai senyam senyum jail, Aku pasti meledak. Senyum Beny yang selalu sama.

“Jat, tuh… Lani ada di depan kelas. Sendiri.” ia tekankan intonasi pada kata sendiri. Darah ku sudah sampai puncak. Ternyata aku tak meledak, tapi kempes. Kempes seperti balon dilepas ikatanya. Anginnya berhamburan, loncat-loncat, dan mengkerut. Aku ringkih dan mengkerut macam balon; Letoy.

Cerita Emak

Pagi ini (10/12) saya membaca Koran Pikiran Rakyat, Headline-nya memuat tentang kebakaran yang terjadi di Pasar Andir, Bandung. Sambil menyuruput teh, dan menghabiskan beberapa batang rokok, saya pelototi berita utamanya. PR melansir bahwa sekitar 700 los di lantai 2 Pasar Andir Kota Bandung ludes terbakar. Penyebabnya diduga hubungan pendek arus listrik. Tidak ada korban jiwa, hanya saja kerugian diperkirakan mencapai puluhan miliar.

Sejujurnya, saya agak heran, rasanya masalah kebakaran di pasar adalah peristiwa yang biasa terjadi di Indonesia, mungkin dalam satu tahun bisa terjadi beberapa kebakaran pasar dalam suatu kota. Entahlah, apakah ini wujud kelalaian manusia atau ada main di belakangnya. Jika ini bentuk kelalaian manusia, rasanya sering betul manusia-manusia di pasar lalai dengan listrik. Tiap kebakaran terjadi, dalihnya adalah hubungan pendek arus listrik yang sering kumat. Tapi, ya sudahlah… toh di sini saya bukan ingin membahas masalah perlistrikkan atau kebakaran, namun peristiwa kebakaran di Pasar Andir itu mengingatkan saya pada hal lain; hal lain yang mungkin bisa memberi makna lebih daripada sekedar kebakaran.

Seorang kawan, ah, seorang sahabat lebih tepatnya, pernah bercerita tentang kios ibunya yang terbakar di Pasar Tanah Abang (kalau tidak salah). Peristiwanya mungkin sudah berlalu beberapa tahun, sudah lama mungkin, dan orang sudah lupa. Sahabatku ini seorang anak dari seorang ibu yang memiliki 6 atau 7 anak (saya agak lupa), dia paling kecil; si bontot begitu kakak-kakaknya memanggilnya. Dari mulutnya yang hobi nyeroscos, saya sering mendengar hal-hal basi terkadang seronok, tapi ketika ia berbicara masalah keluarga atau seputar curhatan hidupnya, saya selalu respek. Dari obrolannya, lama-lama saya sedikit paham betapa sulitnya hidup di Jakarta.

Agustus setahun yang lalu, saya sengaja wara-wiri ke Jakarta, maksudnya ingin menyelesaikan skripsi yang belum rampung; bahan yang ada sudah lumayan tapi belum cukup untuk menyelesaikannya. Saya tidak punya keluarga atau saudara di kota itu, hanya kawan saya itu yang saya tahu. Alhasil, saya sambangi rumahnya. Agak malu dan tak enak hati memang, tapi saya coba menyesuaikan dan berusaha akrab dengan keluarganya; ibu juga abang-abangnya. Mereka baik, juga punya keramahan yang khas Betawi, sekalipun kawan saya ini punya darah Padang, tapi toh gaya Betawi yang dominan, mungkin karena mereka sudah lama tinggal di Jakarta, tepatnya di daerah sekitar Prumpung; sebuah daerah yang bisa disebut sangat padat. Saya numpang di rumah itu hampir satu minggu lamanya.

Rumah itu sederhana dan tidak besar, biasa saja seperti kebanyakan keluarga di Jakarta, ada sebuah warung yang dikelola oleh anak tertua, abang pertama dari sahabatku. Rumah itu hangat, di dalamnya dihuni oleh seorang ibu –sahabat saya dan abang-abangnya memanggilnya Emak—didiami pula oleh empat orang anak laki-laki, satu yang tertua (yang saya sebut duluan di atas) sudah berkeluarga: punya anak yang masih kecil-kecil juga seorang istri, tinggal bersebelahan dengan rumah emak. Tiga orang anak emak yang lain, termasuk sahabat saya itu, tinggal rumah yang sama bersama emak. Anak-anak emak yang lainnya lagi sudah tidak tinggal di rumah itu. Anak-anaknya yang perempuan sudah menikah dan tinggal dengan suaminya, anak laki-laki emak yang kedua masih tinggal di Jakarta tapi jauh dari daerah Prumpung, bersama anak dan istrinya masih sering berkunjung di hari libur.

Saya merasakan betul kehangatan rumah itu, paling tidak, rumah itu lebih hangat dari rumah saya yang hanya ditinggali oleh ayah-ibu, dan adik. Di rumah sahabat saya itu, di rumah emak, tiap pagi selalu saya dengar bising-bising sedikit percekcokkan, tapi saya tahu percekcokkan itu semata wujud saling sayang sebuah keluarga. Sungguh khas Betawi, yang kadang bicara dengan urat-urat leher, agak kurang nyambung barangkali dengan telinga saya yang terlalu nyunda.

Emak kadang komplen pada sahabat saya yang sedikit bermasalah dengan kerapihan. Emak juga sering cas cis cus mengomeli anaknya –sahabat saya itu—tentang susahnya ia bangun di waktu subuh: Lu, ini susah bener kalo disuruh sholat, bangun siang mulu…. tuh, liat temen lu ! bangun subuh-subuh, sholat. Coba… lu bisa kaya gitu. Kira-kira begitu ucapan emak. Saya bisa merasakan di balik omelannya, emak adalah ibu yang tulus dan penuh cinta kasih pada anak-anaknya. Selain itu, emak punya kriteria lengkap seorang ibu: emak pintar masak. Masakannya enak, saya jadi lahap makan sebagaimana sahabat saya yang selalu bilang rindu masakan emak ketika ia di Jatinangor. Hari-hari itu saya membuktikan sendiri mengapa sahabat saya itu selalu bilang rindu masakan emak. Masakan emak agak pedas tapi kami berdua suka. Emak selalu ngomel kalau saya sok malu-malu makan. “ayo dek… makan dulu, emak ga mau anak orang kelaparan di sini, anggap aja rumah sendiri. Sana-sana..  makan gih ma Iman..!!” selama seminggu itu, rasa-rasanya saya ikut menjadi anaknya emak, dan saya suka saja. Saya justru agak insyaf, di Jakarta yang terkenal ganas, masih ada keramhan semacam ini.

Kini koq saya jadi melankolis mengingatnya, mungkin karena sedikit tahu riwayat emak beserta anak-anaknya. Saya tahu dari sahabat saya sendiri yang sering bercerita, juga langsung dari mulut emak ketika kami iseng ngobrol-ngobrol.

Suatu kali, suatu sore selepas kami –saya dan sahabat saya itu—pulang dari Perpusnas, kami duduk-duduk di sebuah lapang basket; meminum es kelapa sambil menghabiskan sebatang rokok. Ia bercerita tentang tuntutannya untuk cepat lulus, maksudnya keinginan ia sendiri untuk segera menyelesaikan kuliahnya. Emak dan abang-abangnya sebetulnya tidak menuntut macam-macam hanya menginginkannya lulus kuliah, tetapi ia sendiri merasakan tekanan yang berbeda; sebuah tekanan yang muncul dari tanggung jawab yang besar berangkali.

Gue ini bisa kuliah karena dibiayai abang-abang gue Be…” begitu katanya. Mungkin itu yang membuat ia –sahabat saya ini–, tak ambil pusing dengan tugas, tak ambil pusing dengan nilai skripsi nantinya, tak ambil pusing pula dengan teman-teman lain yang terkadang agak sinis-guyon dengan bacotnya yang melantur. Yang ia concern adalah bagaimana menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin.

Sahabatku yang berawak kecil dan berbacot liar ini, sering menceritakan pula tentang abang-abangnya juga kakak perempuannya. Nampaknya ia bangga punya kakak-kakak yang baik, dan saya kira itu sangat wajar.

Ia bercerita bahwa abangnya yang paling besar terpaksa menggugurkan pendidikannya. Abangnya yang sulung ini, yang mungkin paling tahu keprihatinan emak sejak kecil, paling merasakan barangkali, karena ia harus peras keringat lebih dulu, bersama emak berusaha menyekolahkan adik-adiknya, ikut berdagang dan bantu-bantu emak jualan di pasar, di kios yang dipunyai emak. Sahabatku bilang, mungkin abangnya yang satu ini yang kurang sukses secara materi, tapi ia punya hati yang lapang, begitu katanya. Kini abangnya punya sebuah warung bersebelahan dengan rumah emak, tidak terlalu besar memang warung tersebut, tapi warungnya selalu ramai, dan kadang sebuah obrolan yang seru dimulai di warung ini. Mengenai pendapat sahabat saya itu, mengenai sukses dan kurang sukses, saya kira ia keliru.

Abangnya yang kedua seorang lulusan STM, kini abangnya yang ini sudah kerja di sebuah perusahaan, hidup lumayan dan berkecukupan katanya, sudah punya anak dan istri. Mungkin jabatannya cukup lumayan di perusahaan yang ia tempati. Kadang sahabat saya ini tinggal di rumah abangnya yang kedua, sekedar menjaga keponakannya yang masih kecil-kecil.

Lalu, abangnya yang ketiga, kala itu masih bujangan. Abangnya yang ini mengecap bangku kuliah, walaupun kuliahnya asik sendiri, dalam artian ia tak membuat repot emak dan kedua kakaknya, bahkan saat wisuda pun tak ada yang tahu, tak ada photo-photo wisuda. Ia asik sendiri, termasuk pula ketika ia sudah kerja; tak ada yang tahu ia pernah kerja nguli, pernah kerja jauh di tengah laut, pernah kerja sebagai “bandul” penyeimbang barang dalam sebuah mesin pengangkut di tengah laut. Seorang sarjana yang bersedia berpayah-payah kerja demi keluarga dan adik-adiknya. Saat itu, abangnya yang ketiga nampaknya sudah menduduki posisi yang lumayan di sebuah perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia. Ia sudah punya motor sendiri, juga punya laptop sendiri. Dari obrolan-obrolan yang biasa dilontarkan, nampaknya abang sahabat saya ini punya mental dan prinsip yang keras: tipe orang lapangan yang mengerti perihnya hidup.

Sahabat saya ini juga punya kakak perempuan, ia sering bercerita tentang kakak perempuannya yang jenius dan religius. Kakak perempuannya itu sudah menikah dan tidak tinggal di Jakarta lagi, ikut dengan suaminya. Kakaknya yang ini lulusan ITB, pernah aktif di Salman kalau tidak salah. Sahabat saya itu pernah bercerita, katanya kakaknya sudah menulis diary sejak SMP; diary-nya rapi dan kadang-kadang berbahasa Inggris pula. Bayangkan betapa pintarnya kakaknya yang satu ini. Bahagia betul seorang ibu yang memiliki anak-anak yang pintar. Masih bisa kulihat tumpukkan buku di rumah emak, buku-buku milik kakak perempuan sahabat saya, kebanyakan buku-buku Islami. Apalagi yang kurang dari seorang anak yang pintar juga solehah ?

Saat itu, sahabat saya dan abangnya yang setingkat di atasnya masih sama-sama kuliah. Abangnya yang terakhir ini kuliah di UNJ, seorang aktivis dan ketua BEM. Masihkan ada yang kurang dibanggakan dari anak-anak macam demikian?

Sahabat saya itu selalu bercerita ingin kuliahnya bisa cepat selesai, dengan lulus kuliah, bebannya pada abang-abangnya terbayar, sekalipun memang abang-abangnya tidak banyak tuntutan, hanya minta ia kuliah yang bener, lulus, dan tak perlu pusing-pusing mikir biaya kuliah. Justru, katanya, dengan kondisi demikian, ia jadi merasa punya tanggung jawab besar untuk jadi orang yang lebih baik. “Gue pengen nanti, abis lulus kuliah, gue bisa cepet kerja, dapet gaji gede, dan nyekolahin keponakan-keponakan gue yang sekarang masih bocah-bocah…”

Selama seminggu numpang, saya semakin merasakan betapa nyamannya keluarga ini. Ada nuansa egaliter antara sahabatku dengan abang-abangnya, tak ada yang sok superior, tapi semua sama; yang tua mengayomi yang muda, yang muda menaruh hormat, meski tampak dengan cara tak lazim, penuh canda, dan banyak kelakar. Obrolan adik dan kakak-kakaknya macam obrolan orang-orang di warung kopi, dan batasan umur pun menjadi luntur; nyaman, hangat, dan bersahaja, ada kesan sederhana tetapi indah.

Suatu kali sempat saya menyempatkan diri ngobrol dengan emak, sambil menonton sinetron RCTI di malam hari. Saya bilang emak hebat, bisa menyekolahkan anak-anaknya yang banyak. Dua hampir lulus kuliah, sisanya sudah pada mandiri dan ada yang berkeluarga. Saya hampir tidak bisa membayangkan. Emak hanya bilang: ya… mungkin memang jalannya dari Alloh de.. emak juga bingung, padahal emak cuma lulusan SD. Emak juga bercerita, katanya dulu emak pernah punya kios kecil di pasar Tanah Abang, emak cukup lama berdagang di sana, cuma beberapa tahun yang lalu pasar Tanah Abang kebakaran, sejak itu emak tidak berjualan lagi. “Abang-abangnya Iman ngelarang emak jualan lagi sana. Ya, emak sih… terserah anak-anak” jawab emak sambil tersenyum ringan. Saya pikir mungkin sebagian besar anak-anak emak dibesarkan dari hasil berdagang di pasar Tanah Abang.

Saat itu saya masih bisa melihat raut ketangguhan di wajah emak, rambutnnya banyak beruban, matanya menyiratkan keyakinan juga nuansanya teduh; mata seorang ibu yang telah merasakan pahit manisnya hidup. Walau sudah tua, gestur tubuh emak nampak masih energik, dinamis, mungkin emak tipikal ibu yang tidak doyan berdiam diri. Kulit emak agak gelap, dan saya tahu, emak banyak menghabiskan waktu dengan bau debu Jakarta serta ganasnya matahari di kota ini. Dan saya pun sadar, mata emak mirip dengan mata Iman; anaknya yang juga sahabat saya itu.

“Sekarang sih emak lebih banyak di rumah, ngurus-ngurus cucu…, cucu emak sudah banyak”. Emak tersenyum ramah. Emak juga bilang, sekarang-sekarang emak cuma ingin cepet-cepet lihat Iman lulus kuliah; harapan sederhana seorang ibu.

Iman tak ada di ruangan itu, hanya kami berdua, kalau Iman ada di situ, saya kira dia hanya bisa cengengesan dan berkelakar barangkali, atau mungkin terharu. Ah, tak tahu lah saya bagaimana reaksi Iman seandainya ada di situ.

Saya tak numpang lama di rumah yang hangat itu. Setelah sumber skripsi saya dapat, saya segera pulang ke Bandung. Saya pulang, sebelumnya saya bersalaman dan pamit pada Bang Buyung, kakak Iman yang tertua; saat itu dia sedang sibuk di warungnya. Kemudian, saya pamitan pada emak. “Emak doain mudah-mudahan cepet lulus. Nanti, kalo udah sampe rumah, telepon Iman ya…. kabari”. Begitu ucapan emak di akhir perjumpaan kami. Saya jadi sedikit rindu kehangatan rumah itu

***

November kemarin, setelah hampir setahun lebih lewat, saya ke Jakarta lagi, kali ini untuk ikut tes CPNS, bukan mencari sumber skripsi lagi, tapi mencari sumber uang. Saya minta dijemput di Ampera Raya selepas tes selesai. Kebetulan hari Sabtu, dan Iman datang dengan sandal jepitnya dan celana selutut; bersahaja dia. Kami mengobrol sambil naik metro mini yang begitu kosong saat itu, kami menuju blok M. Seperti biasa, Iman membacot sana-sini, saya sudah maklum. Iman sekarang sudah kerja di salah satu perusahaan Asuransi terbesar di Indonesia, bahkan salah satu yang terbesar di dunia setelah Axa. Ia baru kerja sebulan, katanya cape, tapi uangnya lumayan.

“Gimana kabar emak ?”

“Alhamdulillah be… emak lagi ke Mekah. Desember baru pulang ke sini.”

“Wah..Hebat.”

“Ya… hasil tabungan abang-abang gue Be…”

Hari itu saya tidur di rumah Iman, di rumah emak yang dulu saya sambangi. Kali ini sepi, sangat sepi. Iman bilang abangnya yang ketiga sudah menikah dan tidak tinggal di rumah ini lagi, tapi rumahnya yang baru berlokasi di dekat-dekat situ. Abangnya yang terakhir lebih banyak sibuk di luar, maklum aktivis katanya. Kini Iman tinggal sendiri menunggu-nunggu emak yang akan pulang dari haji. Kami mengobrol hingga larut dan nonton bola. Rumah itu kini sepi, tapi masih bisa kucium samar-samar bau kehangatan sebuah keluarga yang setahun silam aku sambangi, kini bau kehangatan itu terasa semakin sedap dan gemilang. Emak dan anak-anaknya mungkin representasi orang sukses; orang sukses di dunia dan akhirat. Insya Alloh.

Saya jadi ingin bersalaman lagi dengan emak, juga bersilaturahmi dengan abang-abangnya Iman, siapa tahu saya kecipratan hal serupa.

***

 

Untuk Sahabatku: Ade “Iman” Irmansyah.

H.G. Budiman, 10 Desember 2010 ketika hujan rajin turun.

 

P.S: buat sodara Ade, maaf ..klo ada salah2 data dan fakta, ini hanya interpretasi dan perenungan…. ^.^  (sebuah cerpen ekperimetal !!)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.