Tinjauan Simulakra Sepakbola

Bagi saya, membaca buku terbaru Zen R S, Simulakra Sepakbola, merupakan antusiasme tersendiri. Pasalnya, sudah lumayan lama saya mengagumi tulisan-tulisan Zen, baik yang dimuat di laman Pandit Football, maupun di Detik Sport. Bukan Kebetulan pula, saya mambaca habis Jalan Lain ke Tulehu.

Atas pembacaan tulisan-tulisannya selama ini, saya kira Zen mampu mempertemukan dua hal, yang bagi saya terasa begitu personal. Pertama, Sejarah, karena dengan ilmu ini saya merasa dipupuk dan dibentuk secara intelektual selama kuliah. Kedua, tentu saja sepak bola; karena sejak kecil,bahkan hingga sekarang, sepakbola banyak memberi saya kebahagian, cinta, bahkan indentitas (warga Bandung tak lepas dari Persib). Dengan membaca tulisan-tulisan Zen selama ini, saya pribadi merasa ada keterwakilan perasaan, ada passion yang kuat terhadap sejarah dan sepakbola.

Pada satu titik, kadang saya merasa iri terhadap kekayaan bacaan dan daya tahan dari sang pendiri Pandit Football ini, untuk konsisten berkarya. Bolehlah dalam konteks ini saya masukan faktor ketiga kenapa tulisan Zen terasa jadi begitu personal bagi saya: cita-cita lama saya semasa kuliah untuk membuat tulisan ala Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad dengan topik yang begitu saya cintai; sepakbola. Dan Zen memberi wujud nyata terhadap impian saya itu.

Dengan membaca tulisan-tulisan Zen, sebetulnya secara terselubung, saya mulai menyorot kembali mimpi yang dulu keburu kandas selepas keluar dari dunia kampus. Mungkin dengan kesunyiannya sendiri, saya mulai meraba dan mengamati model tepat penulisan sepakbola supaya terasa nikmat dibaca layaknya karya sastra. Esai-esai Zen merupakan salah satu contoh, yang di masa menguatnya media dunia maya dewasa ini, bisa begitu dinikmati oleh masyarakat.

Tulisan ini merupakan cara saya untuk mengapresiasi Simulakra Sepakbola, sekaligus upaya diri mencoba mencari bara yang masih menyala untuk bisa menulis. Mungkin tulisan ini sebatas tinjauan dan catatan. Meskipun begitu, bagi saya tinjauan Simulakra Sepakbola ini merupakan sebuah pertemuan yang intens untuk setidaknya mencoba menjaring sepercik arus pemikiran penulisnya dan menampung energinya. Hal ini terasa penting karena tulisan-tulisan Zen yang termuat di Pandit Football dan Detik Sport belum sepenuhnya utuh dan terstruktur. Dengan bukunya ini, paling tidak, ada benang merah yang lebih mudah ditarik karena bentuknya yang terkumpul dan tersusun berdasarkan kategorinya tersendiri. Dengan bentuknya yang demikian, akan lebih mudah menilai dan membandingkan antara satu tulisan dengan tulisan lainnya. Baca lebih lanjut

Tinjauan Buku Kekerasan Budaya Pasca 1965*

tinjauan-kekerasan-budaya-pasca-1965_patanjala-vol-6-no-2-juni-2014

Detail Buku: Herlambang, Wijaya. 2013. Kekerasan Budaya Pasca 1965; Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalu Sastra dan Film. Tangerang:  Margin Kiri.

Sejarah adalah milik penguasa. Ungkapan tersebut agaknya lumrah bagi negeri seperti Indonesia; negeri di mana penggulingan kekuasaan, perlombaan pengaruh ideologi, dan revolusi yang penuh darah pernah terjadi. Tentu saja kita paham, bahwa revolusi yang penuh darah itu adalah periode 1965, pasca peristiwa Gerakan 30 Septermber, dan beberapa tahun setelahnya. Pada periode itu terjadi penangkapan dan pembunuhan masal terhadap orang-orang yang dituduh komunis, yang menurut Robert Cribb mencapai 78.000 hingga dua juta orang. PKI pun sirna di negeri ini, kepemimpiman Soekarno berakhir, dan munculah Soeharto sebagai penerus kepemipinan negeri ini. Sejak kepemimpinan mantan Pangkostrad inilah fakta tentang peristiwa Gerakan 30 September seolah olah tunggal; bahwa pembunuhan ketujuh jenderal adalah ulah PKI dalam usaha mereka melakukan coep de etat terhadap pemerintahan yang syah.

Semenjak kepemimpinan Soeharto, dan selama berlangsungnya pengaruh politik-ekonomi Orde Baru, Sejarah Indonesia pun kemudian dicatat dari perspektif sang penguasa. Paham komunis ditetapkan sebagai ideologi yang haram dan terlarang, orang-orang yang dianggap mantan PKI atau simpatisan PKI kehilangang hak hidup yang layak. Kekerasan dan pembunuhan masal pada 1965 dilegitimasi menjadi tindakan wajar dalam usaha mempertahankan kedaulatan NKRI dan Pancasila. Pelegitimasian ini dilakukan lewat beragam cara; lewat jalan politik, ideologi, agama, seni, sastra, dan film. Kekerasan pun pada akhirnya bukan hanya berupa fisik, namun menyentuh sendi-sendi sosial budaya, di mana suatu kebenaran menurut penguasa dipaksakan diterima oleh masyarakat, tanpa kecuali dan tanpa alternatif. Ungkapan Jozef Goebbles, salah satu tukang propaganda Hitler di Perang Dunia II agaknya menjadi sangat tepat dengan kondisi sejarah Indonesia di masa Orde Baru: “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya.”

Tentu saja kepercayaan ini bisa ditumbukah dengan berbagi cara. Kengeriaan, bahkan mungkin kebencian yang muncul terhadap PKI ketika kita menyaksikan film Pengkhianatan G30S/PKI yang selalu diputar setiap tahun, dari 1980-an hingga 1997, boleh jadi salah satu bukti bagaimana praktik kekerasan budaya terjadi. Buku berjudul Kekerasan Budaya Pasca 1965 yang ditulis oleh Wijaya Herlamabang berusaha menggali bentuk-bentuk kekerasan Budaya melalui karya sastra dan film yang muncul manakala pemerintahan otoreterian ala Orde Baru berkuasa selama kurang lebih 32 tahun. Lewat bukunya ini Herlambang berfokus pada kekerasan budaya yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru dan penyebaran produk budaya anti komnunis yang dilakukan oleh golongan liberal—yang oleh sang penulis disebut sebagai pendukung humanisme universal. Kajian yang dilakukan Herlambang mencakup beberapa permasalahan pokok kekerasan budaya yang terjadi setelah 1965, bahkan hingga Indonesia modern saat ini, yaitu 1) bagaimana pendukung anti-komunis dan agen-agen militer memanipulasi produk kebudayaan untuk mengukuhkan semangat anti komunisme; 2) upaya-upaya dari kalangan kebudayaan dalam merekonstruksi ulang atau membongkar tradisi Orde Baru dan pengusung anti-komunisme; dan 3) bagaimana upaya dekonstruksi itu berlangsung.

Baca lebih lanjut

Saya dan Guru; Sebuah Refleksi

Saya besar dan tumbuh di lingkungan pendidik, di lingkungan guru. Kakek saya seorang guru bahasa Indonesia, sempat juga ia beberapa lama menjabat sebagai kepala sekolah. Darinya saya mengambil banyak teladan. Kakek seorang guru bahasa Indonesia, tetapi ia mewajibkan kami, cucu-cucunya, untuk bisa berbahas sunda sebagai bahasa dan identitas kami, juga cara agar kami tidak lupa di mana kami lahir dan berpijak. Nyaris setiap akhir caturwulan, kakek memeriksa rapot kami para cucunya, kemudian memberi reward bagi kami yang mendapat nilai bahasa daerahnya tinggi. Bukan hadiah yang besar, hanya uang 500 perak. Dan itu rutin dilakukan, baik itu jika kami melakukan pekerjaan rumah, maupun jika prestasi dinilai baik. Dari kebiasaan berbahasa sunda, secara tidak langsung kami diajarkan etika; bahwa orang Sunda terbiasa berperilaku santun, terbiasa menghormati siapa-siapa yang lebih tua.

Kakek seorang guru, begitu pun kedua orang tua saya. Ibu mengajar mata pelajaran manajemen di salah satu SMK di Bandung, Bapak saya mengajar bahasa Inggris di salah satu SMA Negeri di kota yang sama. Oleh mereka saya tumbuh dan dibesarkan. Bapak saya orang yang terbiasa keras dan disiplin. Bukan hal aneh jika saya dikurung dan dikonci di kamar. Bukan tanpa sebab, tentu saja itu karena saya yang rewel atau menangis karena ingin sesuatu. Bapak, sering kali menegor, bahkan dengan nada keras manakala saya sesuka hati menaruh pakaian bekas pakai sembarangan. Ia mengajarkan saya disiplin dan bertanggung jawab dengan diri sendiri.

Ibu, seperti kebanyakan ibu lainnya bersikap lebih melindungi dan mengayomi. Ibu kebetulan juga guru BP di sekolah tempat ia mengajar. Ia tau bagaimana membesarkan hati anak-anaknya. Ibu tak pernah membebani saya dengan prestasi yang muluk-muluk, nu penting mah naek kelas, wios nilai awon ge, asal ngke taun payun langkung rajin. Ia tak pernah pula mem-push saya untuk les ini-itu. saya ikut les ketika memang saya mau, misalnya les renang. Selebihnya saya tak pernah di-leskan ke lembaga pendidikan macam SSC atau GO. Ibu dan bapa sama-sama tak pernah membebani saya dengan tuntutan prestasi, menurut mereka; asal ulah bereum nilai PPKn sareng agama na. Mun bereum moal naek.

Seperti anak pada umumnya, dahulu saya senang main, bergaul dengan anak-anak yang lebih besar, dan mulai badung. Di sekolah pun saya bukan anak yang berprestasi; matematika saya jeblok, nilai IPA saya meluncur bebas. Sejujurnya, saya bukan tipikal anak yang bisa membanggakan orang tua. Suatu waktu sering pula saya ketauan menyontek, kabur dari sekolah untuk main PS, atau ketika SMP pernah pula kena razia karena sok modis memakai sepatu convers hitam yang dilarang di sekolah. Ibu pernah dipanggil guru BP sekolah perihal sepatu ini, tp ibu tak pernah benar-benar marah. Ia hanya memperingati saya dengan sewajarnya, dengan caranya yang kira-kira bisa mengena ke hati.

Saya anak biasa yang memang tak pintar-pintar amat, tapi mungkin Tuhan selalu menaungi. Alhamdulillah, meski nilai pas-pasan saya selalu lolos ke sekolah negeri, dari SD sampai SMA, bahkan hingga kuliah saya bisa masuk ke Universitas Negeri, meski bukan jurusan yang bergengsi dan jadi rebutan selama SPMB. Saya masuk jurusan sejarah, yang mana satu angkatan mahasiswanya hanya berjumlah 40 orang🙂

Saya besar dan tumbuh di lingkungan guru, saya tau betul keseharian seorang guru, dari bangun hingga tidur. Ibu-Bapak saya orang yang biasa-biasa, bukan tipikal orang tua yang bisa memberi fasilitas serba ekslusif bagi anaknya, tapi mereka memberi saya pelajaran dan didikan untuk saya tumbuh dan dewasa; untuk saya tumbuh dengan mindset saya sendiri, dan menghargai hidup. Dengan tanpa beban, saya belajar dan menikmati masa kecil saya. Terkadang saya nakal, terkadang pula saya taat. Ada masa-masanya saya keblinger saat SD, ngobrol saat guru menerangkan. Saya masih ingat hingga saat ini, dulu karena perilaku saya itu, Ibu Guru menyuruh saya menyalin huruf bersambung hingga 4 halaman. Pulang paling akhir, ketika teman-teman sudah ada rumahnya masing-masing.

Pernah pula, saya dipanggil ke ruang guru karena nilai ulangan bahasa inggris saya mendapat nilai 3. Saya dimarah-marahi, lantas diomeli. Sekali lagi, saya bukan anak yang baik-baik amat, juga bukan anak yang berprestasi secara akademik. Selama masa tumbuh dan berkembang saya menjalani masa pendidikan, tentu saya menemui pula guru yang galak, guru yang suka nendang-nendang meja, atau guru yang lempar kapur ketika murid berisik, atau guru yang menggebrak meja ketika muridnya tak bisa menjawab pertanyaan. Ada guru yang memperlakukan siswa dengan baik, ada guru yang memperlakukan siswa dengan penuh canda, dan tidak saya pungkiri, ada pula guru yang memperlakukan siswa dengan galak dan menyeramkan. Guru yang galak dan menyeramkan itu, saya anggap sebagai hal yang wajar-wajar saja, sebagai bagian dinamika hidup, dan kini jadi bahan cerita ketika reuni dengan teman-teman.

Saya tumbuh dan dididik oleh seorang guru, baik di rumah (karena bapak-ibu saya guru), maupun di ruang kelas. Boleh dibilang, tiap langkah yang saya capai hingga saat ini tak pernah lepas dari orang-orang yang bekerja sebagai guru. Saat ini, manakala saya sudah berkeluarga dan bekerja, sekali lagi secara kebetulan saya menautkan diri dengan dunia pendidikan. Saya seorang pekerja sejarah dan budaya di sebuah instansi pemerintah. Meski lebih banyak menyuntuki dunia sejarah, sering pula saya terlibat dengan anak-anak dan guru-guru SMA ketika kegiatan-kegiatan pengenalan sejarah yang merupakan bagian dari tugas kantor. Meski saya kini bukan seorang guru, tapi boeh lah dibilang darah saya mengalir darah guru, bahkan nafkah yang saya cari pun terikat pula dengan dunia pendidikan, dunia guru.

 

Guru Hari ini

Melihat fenomena yang terjadi belakangan ini, khususnya tentang guru yang dipidanakan karena mencubit siswa (Sidoarjo), dan guru yang dipukuli orang tua murid (Makasar), rasanya bagi saya pribadi terasa menohok hati. Betapa tidak, saya menempatkan diri, bagaimana apabila guru yang dipidanakan itu orang tua saya sendiri.

Menurut hemat saya, sebagai seorang yang besar dengan didikan guru, kiranya bisa menilai bahwa apapun perilaku guru di kelas, sejatinya ia mempunyai dua dunia. Pertama, seorang guru yang mengajar dan hidup dari ruang kelas (dengan siswa yang unik dan beraneka ragam). Kedua, guru yang juga menghadapi dunianya sendiri; rumah di mana ia harus menafkahi dan juga membesarkan anaknya sendiri. Dunia guru bukan hanya ruang kelas, di luar ia harus menghadapi, misalnya; tuntutan sertifikasi, membagi waktu dengan keluarga, bayar cicilan rumah, bayar cicilan motor, mengurus sanak famili yang sakit, atau memikirkan tunjangan sertifikasi yang telat, dsb, dsb.

Kita tak bisa mengabaikan fakta bahwa, dunia pribadi seorang guru, bisa tanpa sadar mempengaruhi cara ia mengajar di ruang kelas. Tentu, guru yang baik bisa memilah dunianya dan bersikap profesional di ruang kelas. Guru yang kurang baik, mungkin saja tak bisa membagi emosinya antara masalah di rumah dengan kondisi di ruang kelas, sehingga tidak menutup kemungkinan berimbas pada siswa yang di-didiknya. Apapun itu, perilaku kekerasan kepada anak didik tidak bisa dimaklumi begitu saja. Pada titik ini, orang tua dituntut untuk bisa lebih bijak menilai. Orang tua harus bisa membedakan, mana perilaku kriminal, mana perilaku mengajar yang–mesekipun pada praktenya ada cara didik yang salah.

Perihal mencubit, atau parahnya menampar, jika memang tidak ada intensi untuk melukai, baiknya tidak perlu lah orang tua memersoalkannya ke ranah hukum. Kalaupun orang tua merasa keberatan, harusnya di-dudukkan secara evaluatif atau cukup teguran kepada guru yang bersangkutan atau kepada kepala sekolah misalnya. Kalau boleh melihat konteks di masa lalu, konon berdasarkan cerita orang-orang tua, anak murid yang ditampar oleh seorang guru, lantas mengadu pada orang tuanya, justru si anak akan kena damprat dari orang tuanya sendiri.

Tentu, nilai seiring zaman ikut berubah, tidak mestilah kita mengacu pada nilai lama, tetapi ada nilai-nilai lama yang masih bisa kita serap; betapa orang tua menempatkan guru pada posisi yang penuh hormat, guru bukan dilihat sebagai tenaga yang dibayar lantas harus me-raja-kan anak, tetap pada porsinya untuk mendidik (bukan sekadar akademis tetapi juga moral-perilaku).

Mudah-mudahan asumsi saya keliru, tetapi bagi sebagian orang tua, guru hari ini seolah dilihat sebagai tenaga bayaran yang wajib membuat anak jadi pintar. Pada kondisi ini, orang tua menempatkan guru secara keliru, yang secara otomatis juga menempatkan anak secara sama kelirunya. Bagaimana bisa melihat guru dalam proporsi yang tepat, jika cakrawala orang tua terhadap anaknya sendiri sudah keliru.

Orang tua yang serba sibuk namun punyak kekuatan finansial, cenderung memfasilitasi anaknya pada sekolah-sekolah yang elit tanpa menghiraukan seberapa besar biayanya. Dengan cara pikir kurang lebih seperti ini; saya sudah bayar biaya yang besar, anak saya harus pintar, nilai akademisnya besar-besar. Nanti kalau pintar, dapat pekerjaan bagus, mudah cari uang yang banyak. Pada titik ini, anak seolah dilihat sebagai produk. Seberapa mampu guru mencetak produk yang unggul (secara akademis). Sebetulnya, menurut hemat saya, mungkin mudah saja membuat anak jadi pintar. Jejali saja pelajaran, beri tips-tips menghapal cepat, atau beri rumus-rumus cepat agar bisa menyelesaikan soal matematika yang njelimet itu. Anak pintar, sukses, banyak uang, beres perkara. Apakah orang tua mau seperti itu?

Anak yang pintar, anak yang jenius tanpa bangunan moral yang adiluhung, hanya akan seperti gedung yang rentan roboh. Bukankah karekter, moral, dan perilaku yang lebih menentukan untuk kita bisa bertahan menghadapi dunia? Coba lihat kembali film Good Will Hunting (1997), film ini mengajarkan kita betapa kejeniusan sekalipun, bukan jaminan seseorang bisa terkoneksi dengan lingkungan. Jika pendidikan anak, jika seorang anak hanya dilihat sebagai produk, maka cara membentuknya pun bisa lah layaknya mesin. Padahal, pendidikan berperan bukan sekadar membentuk  anak jadi pintar tetapi supaya anak jadi manusia seutuhnya.

Harus diingat pula, ketika orang tua menyekolahkan anaknya pada suatu-sebutlah-institusi, sejatinya secara tersirat ia menitipkan anaknya dengan kesadaran yang penuh seluruh. Sekadar menitipkan, bukan pula si institusi harus berkewajiban bertanggung jawab sepenuhnya atas karakter dan prestasi si anak. Kendali awalnya tetap ada di orang tua, ada di rumah.

Dalam semboyan Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang dirumuskan dengan ciamik oleh Ki Hajar Dewantara, kita dapat mengambil makna filosofis pendidikan; bahwa seorang pendidik harus bisa mencipta ide, memberikan motivasi, dan memberikan teladan. Lantas, dari mana seorang anak dapat memperoleh teladan? Selain teladan itu bisa diperloleh dari seorang guru (sebagai sebuah ranah profesi), teladan itu justru bisa lebih intens diperoleh dari lingkungan terdekatnya, dari contoh dan perilaku orang tua. Bukankah dalam ajaran Islam pun dijelaskan bahwa didikan awal diberikan dari contoh dan teladan orang tua. Jika orang tua secara heboh memidanakan seorang guru atau memukuli seorang guru, teladan macam apa yang diperoleh si anak?

Untuk kesekian kalinya, dalam tulisan ini saya ungkapkan, saya berbangga hati bisa tumbuh dan besar di lingkungan guru. Meskipun saya tak menutup mata; ada guru yang baik, ada pula guru yang buruk. Apapun itu, bagaimanapun sekian banyak guru yang pernah singgah di kehidupan saya, sejatinya mereka, termasuk bapak dan ibu saya, telah turut serta membentuk saya saat ini. mungkin ada puluhan guru atau ratusan yang pernah saya kenal, pernah saya peroleh inspirasinya, saya adopsi cara pandangnya, untuk jadilah saya saat ini. Mungkin saya belum menjadi orang yang sukses, belum menjadi orang yang berguna, belum menjadi orang yang besar yang mungkin ibu-bapak saya harapkan, tetapi saya masih berbangga dan berdiri tegak untuk setidaknya masih memegang nilai; bahwa guru adalah sosok yang harus selalu dihormati.

 

***

 

Post script: Hatur nuhun Bapak Iton K. Djajawisastra, Ibu Line Lindari, Bapak Atik Setiawan. Hatur nuhun guru-guru sadaya; Bu Eutik, Bu Teja, Bu Imas, Bu Ike, Pak Topan, Bu Nunung, Bu Dede, Bu Lisyanti, Bu Etty, Bu Isma, Bu Ade, Pak Dadang Abdul Fatah, Bu Nani, Bu Nenah, Pak Sukirman, Pak Slamet, Pak Tamsil, Pak Mustari, Pak Aceng, Bu Euis, Pak Sambas, Pak Hudori, Bu Dartika, Bu Heni, Bu Nonoy, Pak Aceng, Pak Marno, Bu Heti, Bu Dina, Bu Tuti, Pak Dadang, Pak Mamat, Pak Dede, Pak Deden, Pak Sofyan, Pak Deni Dimyati, Pak Odin, Pak Endang, Bu Latifah, Pak Muhtar, Bu Neni, alm. Bu Yeti,  Pak Andang, Bu Nurlela, Pak Ucup, Bu Siti Saadah, Bu Nurhadini, Bu Euis akutansi, Pak Cucu, alm. Pak Aceng, Bu Imas fisika, Pak Aris, Pak Enceng, Pak Iskandar Bahasa inggris, Bu Suwangsih, Pak Taufik Matematika, Bu Nenny matematika, Bu Elly, Bu Dedeh, Pak Tatang, Bu Etin, Pak Kamal, Bu Euis kimia, Pak Heldan, Pak Endang, Bu Lin matematika, Pak Cepi, Bu Sri Retno, Bu Euis Heni, Ibu Rengki biologi, Ibu Mala, Pak Dedi, Bu Neulis, Bu Haniah, Bu Enok Fisika, Bu Etin sejarah, Bu Titi kimia, Bu Rina PPkn, Bu Endah Surtika, Alm. Bu Inu Yusmaniar ekonomi, Bu Nina Lubis, Pak Sobana, Pak Mumuh, Pak Reiza, Pak Mas Anto, Pak Awal, Pak Rahmat, Pak Lucky, Bu Tanti, Bu Tika, Pak Fadli, Pak Gani, Pak Agusmanon, Bu Ani bahasa Belanda, Pak Miftah, Pak Bambang, Bu Ety, alm. Pak Benjamin Batubara, Pak Dade, Bu Diena, Bu Ietje, Pak Taufik Hanafi, Pak Fahmi, Pak Kunto, Pak Mamat Ruhimat, Bu Nani, Bu Teti. Bu Susi, Bu Ida, Bu Rini, Alm. Pak Jodi, Pa Widi,dll yang berkontribusi secar formal dan informal, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

 

 

~ Hary G. Budiman

Wartawan di Konferensi Asia-Afrika

Wartawan, ia ada dan selalu ada untuk menyampaikan berita. Dari berita baik hingga kabar buruk, dari berita lokal hingga internasional, dari yang sifatnya remeh temeh sampai yang menggemparkan macam gejolak politik dan tindak korupsi.

Pekerjaan wartawan memang menghimpun informasi dan menyampaikan berita, namun kadang tidak kita sadari, bahwa wartawan juga berperan sebagai saksi sejarah. Untuk membuktikannya, tak perlu melihat jauh pada sepak terjang wartawan hebat di Perang Vietnam atau Perang Teluk, cukup melihat kembali Kota Bandung di 60 tahun yang silam. Kala itu, Kota Bandung menjadi magnet bagi para wartawan dari berbagai penjuru dunia. Tahun 1955 Kota Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang berlangsung dari tanggal 18 hingga 24 April. Tentu saja, ketika itu banyak wartawan handal nimbrung di Bandung.

Salah satu wartawan legendaris Indonesia, Rosihan Anwar (alm) menuliskan pengalamannya meliput KAA pada 1955 dalam bukunya Petite Histoire Indonesia (2004). Dalam tulisannya itu, ia mengungkapkan: “Di Bandungnya Indonesia, di situlah bertemu untuk pertama kalinya begitu banyak pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, membicarakan perihal perjuangan kemerdekaan dan perdamaian dunia. Di situlah bertemu tokoh-tokoh penting seperti Sukarno, Nehru, Ali Khan, Zhou En-lai, U Nu, Kotelawala, Nasser dll.” Wartawan tiga zaman itu pun bercerita bukan sekedar bagaimana KAA berlangsung, namun juga menuturkan pengalaman pribadinya selama peliputan. Dan ini menjadi menarik, karena tulisan itu pulalah kita bisa tahu peran wartawan sebagai saksi sejarah, juga bagaimana wartawan melakukan pekerjaannya di tengah sebuah peristiwa besar macam KAA.

Pada peristiwa KAA itu, wartawan-wartawan terkemuka di Indonesia datang dan meliput. Rosihan Anwar saat itu menjadi Editor harian Pedoman yang cukup banyak pembacanya. Ada pula Mochtar Lubis dari harian Indonesia Raya, B.M. Diah dari harian Merdeka, Suardi Tasrif dari Abadi, Adam Malik dari Antara, Djamaluddin Adinegoro dari PIA, Mohamad Isnaini dari Suluh Indonesia, Mahbub Djunaidi dari Duta Masyarakat. Ada pula Umar Said dari Harian Rakyat. Orang-orang media massa terdiri dari wartawan surat kabar, wartawan radio, wartawan foto, kolumnis dalam negeri dan luar negeri, seluruhnya berjumlah 500 orang. Meski demikian, yang tercatat hanya berjumlah 377 wartawan, terdiri dari 214 wartawan luar negeri dan 163 wartawan dari Indonesia.

Ketika itu, wartawan-wartawan Indonesia datang dengan perlengkapan yang seadanya, kamera pun belum banyak dipakai. Tidak ada barisan kamera yang bersifat dominan karena televisi belum lazim sebagai peliput. Yang ada hanya kamera untuk membuat film dokumenter atau jurnal berita.

Markas Para Wartawan di Swarha
Menurut keterangan Rosihan Anwar dari bukunya Petite Histoire Indonesia, para wartawan menginap di sebuah hotel bertingkat yang terletak di depan kantor pos. Hotel tersebut bernama Swarha. Kala itu, para wartawan memang menginap di Hotel Swarha karena Hotel Savoy Homman dan Hotel Preanger seluruh kamarnya sudah penuh dipakai para delegasi peserta KAA. Panitia KAA saat itu memang secara khusus menyediakan Hotel Swarha sebagai tempat menginapnya para wartawan. Pertimbangannya, Hotel Swarha yang terletak di di Jalan Raya Timur (sekarang Jalan Asia Afrika/samping Mesjid Agung) itu berada di seberang kantor pos besar, sehingga memudahkan para wartawan mengirimkan berita lewat telegram.

Lokasi Hotel Swarha cukup menguntungkan bagi para wartawan, karena terletak tidak jauh dari dari Gedung Merdeka. Jadi, tidak diperlukan ongkos khusus untuk mencapai lokasi konferensi, cukup dengan berjalan kaki. Rosihan dalam catatannya menyebutkan bahwa Hotel Swarha sebagai hotel yang serba sederhana. Hotel ini berlantai empat; lantai pertama tidak memiliki kamar, sementara di lantai kedua hingga keempat, masing-masing memiliki delapan kamar.

swarha

Hotel Swarha sebetulnya merupakan sebuah gedung peninggalan Belanda yang dibangun pada 1930-1950 hasil rancangan Wolf Schoemaker dengan gaya arsitektur eklektik beratap tumpuk seperti gaya Cina. Pada tahun 1950-an gedung ini sengaja diperluas untuk kepentingan KAA. Nama Swarha sendiri diambil dari nama sang pemilik gedung itu.
Hotel Swarha benar-benar menjadi markas besar bagi para wartawan peliput KAA, baik dalam dan luar negeri. Selain Rosihan Anwar yang menginap di hotel tersebut, ada pula Mochtar Lubis wartawan yang pernah dipenjara oleh Pemerintah Orde Lama. Mochtar pernah bekerja di Kantor Berita Antara, lalu mendirikan surat kabar Indonesia Raya tahun 1949. Ia juga terkenal sebagai koresponden perang ketika pecah pertempuran Korea Utara dan Korea Selatan pada 1950. Di Hotel ini pula sastrawan penulis novel Layar Terkembang, Sutan Takdir Alisjahbana menginap, bersama Sudjatmoko, dan juga Syahrir.

Selain tokoh-tokoh pers nasional, beberapa tokoh pers terkemuka di dunia pun turut menginap di Hotel Swarha. Ada Arthur Conte, seorang wartwan terkemuka asal Prancis. Conte begitu dikenal karena sempat menjabat sebagai Presiden Majelis Uni-Eropa tentang Peradaban Barat. Tak kalah dengan Rosihan Anwar, Conte pun menuliskan pengalamannya selama meliput KAA dalam sebuah buku yang berjudul Bandoeng, Tournat de l’Histoire (Bandung, Titik Balik dalam Sejarah). Conte mengisahkan, para wartawan tinggal di sebuah markas yang sangat sempit. Markas yang dimaksud itu tidak lain adalah Hotel Swarha.

Ada pula wartawan berdarah Afrika-Amerika yang turut bermarkas di Hotel Swarha, ia adalah Richard Wright. Selain sebagai wartawan, Wright justru dikenal sebagai penulis kawakan asal Amerika yang beberapa kali dicalonkan sebagai pemenang Nobel Sastra. Ia merupakan salah satu penulis yang concern dengan masalah rasialisme. Lewat novelnya yang berjudul Uncle Tom’s Cabin dan Native Son, Wright mencoba menggambarkan realitas sosial dan diskriminasi yang terjadi di Amerika. Isu-isu ini tentu saja sejalan dengan visi KAA yang mencoba menegakkan nilai-nilai kemerdekaan secara universal. Seperti pula Rosihan Anwar dan Arthur Conte, Richard Wright pun menuliskan pengalamannya selama meliput KAA dalam bukunya yang berjudul The Color Curtain, A Report on The Bandung Conference yang terbit pada 1956. Buku-buku yang ditulis oleh para wartawan itu, menggambarkan betapa mereka, para wartawan, bukan sekedar menjalankan tugas, namun mereka pun memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pendokumentasian sejarah; sejarah yang boleh jadi turut membentuk dan mempengaruhi perkembangan negara-negara di dunia.

Kisah seputar Peliputan

wartawan dalam dan luar negeri

Dalam hal peliputan KAA, para wartawan ini punya kisah tersendiri. Misalnya tentang dinamika peliputan di Gedung Merdeka, seperti yang dikemukakan oleh Rosihan Anwar. Awak media yang jumlanya banyak, ternyata bisa ditampung di dalam ruangan gedung karena mereka tidak menumpuk pada saat yang sama, namun memencar mencari berita, pergi ke bungalo-bungalo di Cimbuleuit, Cipaganti, dan Lembang, di mana para delegasi menginap. Di dalam Gedung Merdeka, untuk menciptakan hubungan lancar antara sekretariat dan pers seperti penyiapan dan penyebaran press release, pemerintah sengaja memanggil pulang tenaga-tenaga diplomat di kedutaan besar RI untuk ditugaskan dalam pekerjaan Public Relations.

Kerja keras wartawan dalam meliput dikemukakan pula dalam Harian Merdeka (20 April 1955) disebutkan bahwa Wartawan bekerja berdesak-desakan padahal sudah kelelahan. Dapat kita bayangkan, pada saat itu sekian ratus wartawan bekerja pada beragam media yang berbeda, dari negara dan suku bangsa yang berdeba-beda pula, dan dengan beragam kesibukan. Mulai dari hilir-mudik meliput di Gedung Merdeka hingga ke penginapan-penginapan para delegasi, menghimpun informasi dan mengolahnya di Gedung Swarha. Tak sampai di situ, informasi yang didapat tentu harus dikirim pada kantor berita masing-masing, maka kantor pos pun ketika itu boleh jadi selalu dipadati oleh sekian banyak wartawan yang akan mengirimkan telegram. Untuk kepentingan peliputan, saat itu kantor pos Bandung sengaja menambah kapasitas pengiriman telegram dari 100 kata menjadi 200 kata.

Tentu kondisi saat itu sangat jauh berbeda dengan kondisi masa kini ketika semuanya dipermudah dengan internet. Dahulu sistem kerja peliputan serba manual. Wartawan lazim memiliki kemampuan stenografi karena alat rekam tentulah belum begitu populer ketika itu, mesin tik pun menjadi teman akrab, dan kamera manual menjadi barang yang cukup mewah, ditambah lagi dengan proses pengiriman berita yang harus melalui telegram atau pos. Ada keterangan menarik yang dikemukakan oleh Paul Tedjasurja, salah satu fotografer KAA yang masih hidup hingga saat ini. Ketika KAA berlangsung, Paul masih berusia 25 tahun. Menurutnya, saat itu Harian atau Koran yang mengutus para wartawan belum memiliki fotografer sendiri, sehingga para wartawan memperoleh photo dari para press agency. Press agency inilah yang dilakoni Paul, dan ia menjual hasil jepretannya yang diperoleh dari pagi hingga malam pada Koran-koran lokal. Tentu saja kamera yang digunakannya pun masih sederhana, yaitu kamera selica tipe lama.
Terbayang sudah, kerja wartawan di masa itu sangatlah berat. Pantaslah kita semua angkat topi untuk kerja para wartawan di masa itu. (H.G. Budiman, dari berbagai sumber)

Refleksi Sederhana Tentang Bandung

Hana nguni hana mangke/ tan hana nguni tan hana mangke/ aya na baheula aya tu ayeuna/ hanteu ma baheula hanteu tu ayeuna

Ada dahulu ada sekarang/ bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang/ karena ada masa silam maka ada masa kini/ bila tiada masa silam tak akan ada masa kini

Demikian beberapa baris kalimat yang termuat dalam Amanat Galunggung (Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy) hasil terjemahan Saleh Danasasmita. Kalimat itu pula dikutip oleh Haryoto Kunto dalam pengantar bukunya yang terkemuka itu; Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986). Betapa potongan kalimat di atas terdengar sederhana di masa ini, tapi adakah kita tahu bahwa kalimat sederhana itu, dibuat sekian abad silam, ketika kertas dan tinta pun entah ada di mana, apalagi mesin cetak. Kalimat sederhana itu merupakan representasi pandangan hidup moyang kita; moyang yang hidup di tanah Priangan ini. Melalui kalimat tersebut, kita melihat bahwa sudah ada kesadaran pada konsep ruang dan waktu, bahkan jauh-jauh hari sebelum Einstein mengemukakan teorinya tentang waktu. Poin intinya, moyang kita begitu punya kesadaran bahwa apa yang terjadi saat ini selalu memiliki hubung kait dengan masa lampau, dan apa yang terjadi di masa lampau, turut membentuk kita saat ini. Kesadaran akan waktu, juga bagian dari kesadaran akan identitas. Lantas, haruskah kita melupakan masa lalu dan melenyapkan identitas begitu saja?

Tanggal 25 September ini Kota Bandung menginjakkan usianya di angka 204 tahun. Sungguh angka 204 menunjukkan betapa tuanya kota ini. Di tengah kota yang semakin tua ini, kita pun sadar Kota Bandung bertransformasi dengan begitu cepat. Masyarakat kota ini semakin heterogen, beragam budaya ada di Bandung, beragam hiburan ada di Bandung, dan bergam komunitas kreatif dan industri kreatif membanjir di Bandung. Jadilah Bandung, kota kreatif yang punya potensi ekonomi begitu tinggi. Dan Barangkali, satu atau dua dekade ke depan Bandung pun akan menjadi megapolitan macam Jakarta. Siapa yang tahu? Namun, apapun jadinya Kota Bandung hari ini dan kelak–seperti yang dikemukakan dalam Amanat Galunggung di atas– dibentuk dari masa lalu. Wajar kiranya jika kita selaku penghuni kota ini, mulai ingin tahu dan mau tahu tentang riwayat kota ini. Bahwa Bandung berdiri secara formal pada 25 September 1810, bahwa Bandung dahulu berpusat di Dayeuh Kolot sebelum pindah ke pusat kota dekat sungai Cikapundung, bahwa Bandung dibangun berkait pula dengan pembangunan Jalan Raya Pos gagasan Daendels, bahwa Bandung dahulu bisa menjadi sebuah kota atas jasa Wiranatakusumah IIyang kini makamnya nyaris terlupa dan tak terurus di jalan Dalam Kaum, bahwa Bandung sempat menjadi episentrum pergerakan Nasional. Agaknya fakta-fakta tersebut sudah sewajarnya mau kita ketahui, dan kita cari tahu. Maukah kiranya kita disebut sebagai masyarakat yang amnesia masa lampau? Agaknya tidak.

Marilah kita mencintai kota ini dengan cara kita; tetap membangun dan mengembangkan kota ini, tapi tidak lantas melupakan budaya dan sejarahnya. Layaknya pohon beringin yang kokoh, ia akan tumbuh dan menjulang dengan akar dan batang yang besar-besar, tapi ia menancap pada akar yang kuat. Pada akar itu pulalah sejarah dan budaya menancap kuat, dengan begitu, apapun perubahan yang terjadi, ia tak goyah.