Salju Kilimanjaro*

kumpulan cerpen ernest hemingway

Gertrude Stein, seorang modernis terkemuka asal Amerika, memperkenalkan istilah The Lost Generation. Istilah ini mengacu pada para pengarang muda Amerika yang hijrah ke Prancis sehabis Perang Dunia I, termasuk pada dua pengarang kawakan saat itu: Scott Fitzgerald, pengarang The Great Gatsby dan Ernest Hemingway, pengarang The Old Man and The Sea.

Istilah The Lost Generation ini menggambarkan pahit getirnya para pengarang yang dibesarkan selepas goncangan-goncangan Perang Dunia I. Kenyataan di medan perang yang penuh borok membusuk dan kekonyolan membuka mata para pengarang ini pada hal-hal yang tidak tersentuh oleh konsep-konsep heroik dan romantik seperti patriotisme, kepahlawanan, dan pengorbanan (Budianta, 2008: xxvi). Dan Ernest Hemingway kiranya tahu betul nuansa dan rasa kelamnya perang karena ia mengalami langsung beratnya pertempuran dalam Perang Dunia I.

Baca lebih lanjut

Iklan

Ubek Taktik dan Statistik; Menakar Daya Serang Winger dan Fullbek PERSIB*

foto-persib-vs-martapura-fc-piala-presiden-2015-jajang-sukmara_8372

Foto: Simamaung, 28 Februari 2016.

Berakhir sudah liga kopi yang penuh anomali. Di penghujung 2016, Persib menegaskan statusnya sebagai tim jago kandang sekaligus ambil posisi lima dalam klasemen akhir. Tentu bukan posisi yang terlampau membanggakan bagi tim penyadang status juara bertahan ISL. Meski demikian, posisi ini cukup untuk tak bikin malu bobotoh. Dua kali sukses menggulung Persipura di kandang dan tandang, serta gol perdana Mas Har menjadi catatan tersendiri yang patut dikenang. Catatan yang bisa menjadi secuil bukti betapa Djanur sukses merapikan beberapa kekacauan hasil tingkah polah Dejan di awal musim. Cara Djanur menata ulang skuad inilah yang lumayan menarik untuk ditelisik. Lewat data statistik yang dicatatkan oleh stadionsiliwang.com, sedikit banyak kita diberi jalan terang untuk dapat menerka pendekatan macam apa yang telah dilakukan Djanur dalam merancang ulang permainan Persib selama liga kopi.

Lupakan gegenpresing bringka bringka ala Dejan. Rudet.

Baca lebih lanjut

Menakar Potensi Persib Menerapkan Skema 3 bek ala Conte*

foto-persib-latihan-di-lapangan-karebosi-makassar-jajang-nurjaman_8153

sumber: simamaung.com

Pernyataan Ali Buschen dari stadionsiliwangi.com dalam vlog Simamaung #6 beberapa waktu lalu cukup menggelitik rasa ingin tahu saya. Kalau (Djanur) bisa me-master-kan bagaimana cara main 3-5-2 yang baik, Persib bisa menghajar tim-tim di TSC yang di dominasi skema 4-2-3-1. Menurut Ali, 3-5-2 secara teori menganulir keunggulan 4-2-3-1. Lantas apa yang membuat 3-5-2 menjadi istimewa? kalau kita menengok 1-2 dekade ke belakang, tim-tim di Indonesia pun banyak mengadopsi skema ini. Baca lebih lanjut

Dengan atau Tanpa Konate; Sebuah Pertimbangan Lain

084152900_1447669079-makan_konate__persib__zaidan_nazarul__1_

Ada suatu masa di mana lini tengah Persib diisi oleh Enjang Rohiman dan Ayouck Berty. Suatu periode yang mungkin masih begitu lekat dalam ingatan bobotoh, periode yang selalu kita ingat sebagai salah satu catatan sejarah buruk Persib di Liga Indonesia. Tahun itu, Persib lolos dari jerat degradasi karena gempa Jogja. Tentu, bukan hanya itu periode kelam dalam sejarah Persib. Era Marek Andrez Sladzianowsky adalah cerita suram lainnya yang tak bisa kita tendang keluar dari memori. Selama periode 2000-an sampai kini, pemain-pemain berdatangan, bersamaan dengan itu pula banyak yang gagal memenuhi ekspektasi. Meski demikian, toh kita tak bisa menampik, ada pula pemain-pemain hebat yang pernah singgah di lini tengah Persib, sebut saja misalnya Yaris Riyadi, Alejandro Tobar, Eka Ramdani, Suchao Nutnum, Cabanas, dan Miljan Radovic. Baca lebih lanjut

Pasang Surut Hubungan Sipil Militer*

*Tulisan tahun 2009.

Apakah kunci dari penggulingan kekuasaan selalu berada pada pihak yang bersenjata? Menjadi wajar dan lumrah ketika momentum itu –penggulingan kekuasaan– datang, militer ada di garda terdepan. Adakah ini pula selalu terjadi dalam ketidakstabilan politik setiap negara? Belum kering dalam kepala, bagaimana pemerintahan di Madagaskar digulingkan militer tiga minggu silam (17 Maret 2009). Istana negara dikepung tentara bersenjata serta moncong-moncong tank mengarah tanda siaga. Presiden Madgaskar, Marc Ravalomanana dengan terpaksa menyerah pada Andre Andriariajoana sang Kepala Staf Angkatan Darat. Adapun demikian, penggulingan ini tidak lepas dari tindak tanduk sang Presiden yang dinilai diktator hingga menewaskan 28 orang serta perintah represif pada oposisi. Tak mau disetir, tentara berontak dan berpihak pada oposisi. Peristiwa ini sungguh merupakan kasus yang banyak ditemui di berbagai belahan bumi ini. Thailand, Ghana, Mesir, adalah beberapa yang telah mencicipi hal yang serupa. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Memang tak perlu ditanyakan lagi, Indonesia telah lebih dari cukup merasakan asam garamnya kudeta. Bukankah hampir dalam setiap pergantian kekuasaan yang disertai instabilitas politik selalu dibarengi dengan andil militer? sebutlah dari sejak perang kemerdekaan, tahun-tahun awal kemerdekaan seperti tahun 1952, tahun 1965 setelah G30S, dan tentu pada peristiwa 1998. Tapi di sini kita bukan membicarakan sederet ‘kudeta’ tersebut, melainkan ketegangan yang sempat terjadi antara sipil dengan militer dalam sejarah Indonesia.

sudirman_resting_with_guerillas_kota_jogjakarta_200_tahun_plate_before_page_65

Baca lebih lanjut