Antara Tsubasa dan Suchao


Entah apa yang terlitas pada benak Herman Batak selepas merasakan pahitnya 6 gol bersarang pada gawangnya. Sungguh menohok bukan kepalang. Kiper yang pada beberapa pertandingan sebelumnya selalu mencatat rekor bagus ini harus pula dihajar pasukan maung yang lapar. Finishing brilliant Gonzales dan Hilton di babak pertama seolah membakar daya juang anak-anak asuhan Jaya Hartono. Pada babak kedua rasa rindu Nova berngesot-ngesot di rumput Jalak Harupat segera terpenuhi. Memanfaatkan umpan Atep, sundulan khas Nova merobek jala Herman Batak. 3-0 untuk Persib. Sempat dikejutkan gol Amarildo, pasukan maung kembali menggila. Si pemain jenius, Suchao Nutnum membuat publik Bandung melongo terpukau. Sebuah tendangan sudut sekelas Fabregas langsung melesak ke gawang Persik. Publik Bandung terperana dan skor bergeser, 4-1 untuk persib dan dua jempol untuk Suchao. Belum reda shock para pemain Persik, Budi Sudarsono yang masuk menggantikan Hilton di menit 70, membawa Persib mengangkasa. Sebuah tendangan jarak jauh dan bola lob tendangan Budi kembali mengoyak jala Persik. Budi is back ! Skor akhir 6-1 untuk Persib.

Bukan berlebihan kiranya, apabila kita katakan pertandingan Persib kali ini merupakan salah satu yang terbaik di putaran petama ini. Lini tengah berdeterminasi tinggi, tiga striker kita, Gonzales, Hilton dan Budi telah menemukan kembali touch-nya, sementara lini belakang relatif bermain baik karena lini tengah yang optimal. Tidak salah pula kita katakan Persib telah mencapai pick performance-nya.

Terlepas dari permainan Persib yang tertatih-tatih di awal musim dan labilnya tim, secara objektif kita harus memberi apresiasi lebih pada jajaran manajemen, pelatih dan tentu saja para pemain selaku ujung tombak yang menopang reputasi dan prestasi Persib. Mau tidak mau kita pun harus mengakui bahwa Jaya Hartono masih memiliki kapsitas untuk menangani Persib. Setidaknya dengan posisi 3 atau 4 di putaran pertama tidaklah terlampau mengecewakan. Persib masih lebih baik jika dibandingkan dengan tim-tim semisal Sriwijaya, Persisam, atau Persipura yang notabene memiliki pemain-pemain berkelas tim nasional. Persib masih bias sedikit tersenyum meski tidak terlampau jumawa. Tapi sayang, meski demikian, bobotoh yang baru saja melepas rindu dengan permainan cantik harus sedikit kecewa. “Tsubasa-nya” Persib dengan sentuhan ajaibnya ternyata hanya singgah sebentar. Baru saja menjadi idola Bandung tapi harus pula segera pergi.

Adakah saya berlebihan mengatakan Tsubasa?  Saya kira kita semua tahu siapa yang dimaksud. Ya, Suchao Nutnum. Pemain yang satu ini mengingatkan saya pada Tsubasa, seorang tokoh dalam anime Jepang. Tsubasa beberapa tahun kebelakang cukup booming di kalangam anak-anak Indonesia, karakter ini mereprensentasikan semangat dan kultur Jepang dalam membangun sepak bola. Memang tokoh cartoon yang satu ini terlampau berlebihan. Tendangan yang superior, skill yang mustahil, dan jurus-jurus aneh yang tak lazim dalam sepak bola. Namun, jauh lebih penting dari semua itu, Tsubasa membawa pesan-pesan penting dalam sepak bola: bermain dengan hati. Sebuah permainan yang cantik dan skill yang mumpuni tidak lahir begitu saja, tapi ada proses batiniah yang sulit terdeskripsikan, dan sentuhan-sentuhan ajaib pun bermunculan.

Saya sendiri kehabisan kata-kata untuk menggambarkan Suchao, tapi melihat dia berlari, mengumpan, dan menendang, seolah memperlihatkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Inilah permainan dari hati. Seperti Tsubasa, Suchao nampaknya memberi semangat baru dalam skuad Persib, bahkan lebih jauh lagi memberi warna dalam sepak bola Nasional. Gambaran pemain asing ideal yang diharapkan memberi aura positif dalam perkembangan sepak bola nasional: tidak banyak tingkah, skill di atas rata-rata, dan memberi ilmu bermanfaat pada pemain lokal. Jika boleh sedikit berlebihan, saya selaku pecinta bola dan bobotoh Persib yang sejak kecil mengamati perkembangan bola Nasional,  berani menjamin untuk ISL saat ini belum ada pemain yang memiliki kapasitas seperti Sucaho. Adapun dalam perkembangan dan sejarah Persib, Suchao layak masuk dalam deretan playmaker-playmeker terbaik Persib seperti: Yusuf Bachtiar, Yaris Riyadi, Alejandro Tobar, Lorenzo Cabanas, dan tentu saja Eka Ramdani. Mengutip perkataan Jaya Hartono selepas laga Persib vs Persik, “Saya melihat gelandang persib merupakan yang terbaik di Indonesia…” (sumber: simamaung.com)

Sayang memang, pemain sekelas Sucaho hanya mampu dikontrak untuk setengah musim. Harapan besar bobotoh tentunya menginginkan Suchao berseragam biru kembali. Tidak kali ini, tapi mungkin tahun depan. Semoga saja.

Selamat jalan Suchao, Selamat tinggal “Tsubasa-nya” Persib. Kita yakin Bandung akan selalu terbuka untuk pemain-pemain berkelas macam Suchao Nutnum.

Hary G. Budiman (Bobotoh Persib & Pengamat Bola Nasional)

Iklan

2 thoughts on “Antara Tsubasa dan Suchao

  1. cupZ berkata:

    Suchao si Tsubasa!!
    Like this kang,, setelah terpesona baca tulisanmu di Arena Bobotoh Simamaung,, sekarang saya terpesona lagi.

    Bobotoh juga kangen Suchao. Kasian dia di kampungnya masih nggak kondusif,, mending di Bandung bisa berprestasi dan banyak fans,, hehe

    GO PERSIB GO!!
    Hayu urang jadi Bobotoh santun =)

    • Serigala Tropis berkata:

      hatur nuhun comment na kang…

      sama, kita semua pasti rindu sama Suchao. Rindu dengan gaya maennya yang atraktif. ya..mudah2 aja ada sedikit celah untuk memboyong Suchao kembali ke Bandung, drpd prestasinya terhenti di Thailand sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: