Barcelona – Inter; Antara Seni Tinggi dan Fungsional

Kita baru sadar ternyata ada juga orang Portugal yang lebih Italy dari orang Italy itu sendiri. Ya, Mourinho malam tadi (29/4) begitu fasih menafsirkan Catenaccio. Lebih fasih dari Dino Zoff, Cesare Maldini, bahkan Arigosachi. Sungguh inilah era dimana pragmatisme lebih berjaya daripada permainan cantik. Kita  tentu masih ingat, enam tahun lalu  Yunani berjaya dengan sepakbola yang cenderung negatif. Mereka—Yunanai dibawah asuhan Otto Rehagel—menyerahkan penyerangan pada dua aktor utama: Zagorakis dan Karagounis ditambah bola-bola mati yang menjadi senjata unggulan. Memang kadang kala kita disuguhi sepakbola memuakkan, tapi toh mereka juara juga. Cukup impresif  mengingat skuad yang tidak begitu istimewa. Adapun masih terniang tahun 2006 lalu manakala Italy mencapai tahta tertinggi sepakbola dunia dengan permainan kolektif dan organisasi pertahanan yang begitu rapi. Sungguh pragmatis tapi terbukti efektif (Minus provokasi Materazzi terhadap Zidane).

Lalu, belakangan ini atau paling tidak dua tahun terakhir ini, kita begitu terpukau dengan sepakbola offensive a’la Barcelona. Sepakbola indah, menghibur, dan atraktif. Permaianan yang menonjolkan kolektifitas, skill, dan daya serang total football Belanda. Messi sebagai garda terdepan  bak pemain dari planet lain, sementara Barcelona dibawanya menjadi Galacticos yang sesunguhnya. Adakah ini berlebihan? Mungkin iya, namun apa mau dikata, para penonton dibuat hampir mustahil untuk berfikir kekalahan menimpa Barcelona. Sebelum partai semifinal melawan Inter saja, setidaknya Barca hanya mengalami dua kali kekalahan: oleh Rubin Kazan di Liga Champion dan oleh Atletico Madrid di La Liga. Dan semunya dengan skor yang tipis.

Ada masanya ketika kita berpikir: “permainan seperti apa yang mampu menghentikan Barca?”. Banyak pula club-club besar yang bergelimpangan di tangan Barca, sebut saja Chelsea, United, Madrid, dan Arsenal. Tapi akhirnya pertanyaan yang mengganjal itu terjawab sudah.

Inter menunaikannya. Empat center back, lima gelandang bertahan, dan seorang gelandang menyerang betul-betul mempraktekkan Catenaccio alias grendel a’la Italy. Kita bahkan disuguhi tontonan yang benar-benar langka. Seorang Samuel Eto’o harus berperan sebagai gelandang bertahan dan Millito turun hingga kotak penalti. Hampir sepuluh pemain Inter lebih senang nongkrong di depan gawangnya. Semifinal kali ini sungguh memperlihatkan pertarungan dua mazhab besar sepakbola dunia. Ekstra offensive melawan ultra defensive, total football versus catenaccio.

Mourinho memang terlampau pragmatis. Demi kemenangan, ia bahkan sama sekali tak memasang striker menjelang akhir babak kedua. Mereka bermain untuk bertahan. Maicon, Chivu, Samuel, Lucio, dan Cordoba dipasang untuk memadat-madati kotak penalti. Sebegitu padatnya, hingga gawang Cesar harus dibobol oleh seorang center back macam Pique. Tidak cukup dengan satu gol, Barca akhirnya terjungkal juga. Penguasaan bola hampir 80 % tak ada guna, permainan indah seolah sia-sia belaka. Adapun Inter yang zonder penyerang ternyata yang berjaya. Wajarkah taktik yang diterapkan Mourinho?? Memang sah-sah saja, tapi toh akhirnya kita bicara tentang pilihan dalam seni bermain bola.

Dalam seni rupa kita mengenal dengan apa yang dinamakan Seni Tinggi dan Seni Fungsional. Nampaknya dalam sepakbola pun hal tersebut sama berlakunya. Jika Otto Rehagel bermain negatif bersama Yunani di tahun 2004, semata-mata dilatarbelakangi oleh keterbatasan sumber daya manusia, maka jadilah sepakbola bertahan dan serangan balik. Inilah sebuah contoh ketika sepakbola dimainkan secara fungsional. Ya, fungsional semata, hanya demi mencapai kemenangan bukan bermain indah kerana kapasitas yang terbatas. Di lain pihak, Barcelona memperlihatkan kasus yang berbeda. Gaya bermain Barcelona yang menyerang, indah, dan menghibur adalah representasi dari para pemain yang skillful. Sebuah bentuk seni tinggi yang didukung oleh sumber daya yang kompeten. Lalu, bagaimana dengan Inter? Menurut hemat saya, Mourinho terlampau mengerdilkan skuadnya. Dengan apa yang dimiliki seharusnya laga Barca vs Inter bisa berlangsung lebih menarik. Inter punya Eto’o, Snijder, Millito, Stankovic, Balotelli, dan Maicon yang notabene memiliki mental menyerang yang baik. Terlepas dari kartu merah Motta,  jika saja Mourinho tidak cenderung bertahan, barangkali laga malam tadi akan menjadi laga big match yang sesungguhnya bukan layaknya laga tim medioker melawan tim super.

Melihat hasil akhir, sudah sepantasnya The Special One ini mendapat apresiasi lebih. Harus kita akui kapsitasnya sebagai salah satu pelatih terbaik. Mungkin saja gara-gara taktik Mourinho, besok-besok hari di bursa transfer para pemain belakang akan lebih laku daripada seorang striker atau barangkali gara-gara laga tadi malam telah muncul trend baru a’la Mourinho: 10 beck nongkrong di depan gawang. Jadi, andai saja besok-besok hari tim-tim macam Mallorca, Zaragoza, Getafe, Alemria, Albacete menggunakan taktik yang sama ketika melawan Barca, tentunya kita hanya bisa tertawa dalam hati, lalu berpikir: ternyata sepakbola ultra defensive yang negatif bisa menjadi trend juga.

P.S: Tulisan ini semata-mata wadah subjektivitas penulis sebagai seorang Romanisti (yang disalip Inter minggu lalu) huehehehe….^0^

H. G. Budiman (Serigala Tropis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: