Fantasista Baru Pangeran Biru

Istilah fantasista muncul pertama kali di Itali. Istilah ini digunakan untuk para pemain bola yang mampu “melihat yang tak terlihat”. Mungkin bukan kemampuan yang sembarangan, dari beberapa literatur yang ada, atau dalam beberapa komik yang membahas hal ini, seorang fantasista digambarkan sebagai seorang yang mampu melihat permainan secara menyeluruh, mengetahui pergerakan para pemain—baik kawan atau lawan—tanpa banyak melihat, dapat membagi bola dengan satu-dua sentuhan, namun tidak jarang dapat mengubah jalannya pertandingan. Singkatnya, seorang fantasista mampu melihat layaknya menonton pertandingan dari atas.

Di Itali sendiri tidak banyak pemain yang memiliki kompetensi seperti ini. Hingga kini, setidaknya ada dua legenda hidup yang dianggap sebagai fantasista di era modern, mereka adalah Roberto Baggio dan Zinedine Zidane.

Lalu kini bermunculan fantasista-fantasista generasi baru. Walau bagaimana pun tidak banyak pemain dapat dimasukan pada kategori ini. Namun pada umumnya tipe-tipe pemain fantasista lebih banyak ditemui pada liga-liga yang mengusung permainan cantik atau formasi-formasi yang beraneka ragam. Sebut saja Itali, Brazil, dan Spanyol. Adapun Inggris dan Jerman cenderung mengusung sepakbola speed & power, yang umumnya memasang dua gelandang bertahan di tengah dalam formasi 4-4-2, sedikit sulit menemukan tipe-tipe pemain fantasista di negeri itu. Seorang fantasista jelas merupakan seorang gelandang tengah yang dapat mengatur jalannya pertandingan, mengalirkan bola dalam mengkonstruk penyerangan atau memainkan bola untuk bertahan.

Di era modern ini, paling tidak sosok fantasista nampak pada diri Kaka di Brazil, Fabregas, Iniesta dan Xavi di Spanyol, Totti dan Pirlo di Itali. Tapi Messi dan Ronaldo bukan Fantasista, bukan pembagi bola layaknya Kaka. Dari sekian nama tersebut, tidak banyak pula yang memiliki kemampuan lengkap. Pirlo dan Fabregas adalah talenta yang langka di Eropa atau mungkin dunia saat ini. Mereka memiliki kemampuan seorang gelandang bertahan tapi memiliki visi gelandang menyerang, bertahan dan menyerang sama baiknya, ditambah kemampuan tendangan jarak jauh yang mumpuni. Inilah the real fantasista !

Kemudian, apa hubungannya dengan judul di atas? Saya pikir, dalam konteks Indonesia atau Indonesian Super League, sama sulitnya untuk menemukan fantasista sejati, seperti halnya di Negara-negara yang maju sepakbolanya. Setidaknya fantasista dalam batasan-batasan sepakbola nasional yang memang sedang dalam tahap membangun. Sejauh ini, menurut hemat saya, hanya ada dua orang di Indonesia yang memiliki karakteristik seorang fantasista, sebut saja Ponaryo Astaman dan Firman Utina. Walaupun mungkin terlalu berlebihan jika disandingkan dengan Pirlo atau Fabregas, tapi mereka memiliki karakteristik serupa. Paling tidak, diperlihatkan lewat porsi mereka di tim nasional. Demikian pun banyak kekurangannya, cukup beruntunglah klub yang memiliki dua pemain ini.

Adakah Persib bisa seberuntung itu? Nampaknya ada sedikit harapan untuk tahun ini. Hari sabtu lalu  ketika menghadapi Pelita, nuansa seorang fantasista tidaklah terlalu nampak, namun tadi sore (24/11) ketika melawan Persitara, sepertinya Persib telah memiliki fantasista baru, ia tidak lain ialah Suchao Nutnum. Selama ini kita terkesan menyerahkan bentuk permainan kepada Eka atau Cabanas dalam membangun sebuah serangan, kini Persib telah menemukan apa yang selama ini diperlukan. Seorang fantasista. Suchao dapat bertahan dan menyerang sama baiknya, agresif dalam bertahan, dan efektif dalam menyerang. Sore tadi ia ada di mana-mana. Hariono atau Eka nampaknya besok-besok hari tidak menanggung lapangan tengah dengan terlalu berat. Suchao berbeda dengan Cabanas, ia mampu menopang lapangan tengah secara berimbang, ditambah stamina yang tak terlihat kendur. Jika Jaya konsisten menerapkan pola menyerang, sepertinya posisi Suchao memiliki peranan penting. Sedikit mengingatkan kita pada Xavi di Barcelona.

Untuk ukuran LSI sepertinya tidak banyak pemain yang memiliki talenta atau tipikal permainan seperti Suchao, tidak pada Fagundez, juga tidak pada Zah Rahan. Ada keseimbangan yang sulit ditemukan pada pemain lainnya di LSI. Passing yang bagus, tendangan yang mantap, serta yang lebih penting: visi yang cerdas, ditambah kemampuan bertahan yang sangat baik. Jika Persib mampu tampil konsisten, bukan tidak mungkin Suchao menjadi bintang LSI tahun ini. Adakah saya berlebihan jika menghayalkan sosok Pirlo pada diri Suchao Nutnum?? Beginilah subjektivitas seorang bobotoh. Mudah-mudahan bukan sekedar angan.

H.G. Budiman (bobotoh Persib)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: