Istana Khayalan; Wanita, Cinta dan Religiusitas

Adakah Arjuna segagah Achiles-nya Homerus? Miripkah peperangan di Kurushetra dengan pertempuran Troya? Mahabhrata dan Illiad-Odysseus. Demikian lintasan-lintasan pertanyaan dan pernyataan yang bermunculan selama saya membaca novel Istana Khayalan (The Palace of Illusions) karya Chitra Banerjee Divakaruni. Pertanyaan itu membayang. Seolah mengingatkan, bahwa selain Yunani dan Romawi yang kaya akan mitologi, di belahan bumi lainnya, di tanah India, mitologi begitu merasuk, bahkan sudah berada pada ranah filsafat dan agama. Setidaknya hal tersebut yang dapat ditangkap dalam novel Istana Khayalan, selain kisah cinta dan ironi tentunya.

Melalui sudut pandang Dropadi, sang pengarang mencoba menggambarkan  kembali dunia Mahabhrata. Kejayaan, kehormatan, kekuasaan, serta peperangan yang identik dengan pergulatan para lelaki seolah diinterpretasikan kembali oleh Dropadi. Dropadi putri dari Dropada dan adik Drestadyumna adalah putri yang dilahirkan dari kobaran api, putri yang memikul dendam sang ayah pada Drona, sahabat seperguruan yang murka karena ia ingkar janji usai menduduki tahta. Bukan hanya itu, Dropadi seorang wanita yang ikut menentukan jalannya sejarah, wanita yang menikahi lima satria besar dalam sejarah, Pandawa. Dari titik inilah, kemudian posisi Dropadi mejadi begitu penting. Menentukan bukan pada poliandri yang terjadi, tetapi menentukan pada gerak langkah Pandawa.

Kisah Dropadi dengan Pandawa, disuguhkan dengan  sisi kemanusiawian seorang wanita. Pertempuran batin akan cinta dan kesetiaan. Jauh sebelum Arjuna memenangkan sayembara untuk meminang Dropadi, ternyata Dropadi sendiri telah terpikat oleh Karna si satria kesepian, yang selalu telihat sendu namun teguh menatap takdirnya yang kelam. Karna lah cinta sejati Dropadi.  Karena kasta, serta tanggungan dendam sang ayah pada Drona yang mengharuskan Dropadi mengikatkan takdirnya pada Pandawa. Sementara Karna, rival terberat Arjuna, mengikatkan persahabatannya dengan Duryodana, si sepupu sekaligus musuh utama Pandawa. Inilah kisah yang disuguhkan dengan kecermatan tingkat tinggi dalam membangun kedalaman tiap-tiap karakternya. Lewat penuturan Dropadi atau sering disebut Panchali, kita dapat membayangkan terpecah-pecahnya cinta Dropadi antara antara Pandawa dan Karna. Hasratnya pada Karna serta tuntutan kesetiaan pada Pandawa.

Lewat Dropadi pula, nampak sisi-sisi kemanusiaan Pandawa yang merupakan anak-anak para dewa dari ibunya Kunti. Bima yang gemar memasak dan makan, Sadewa yang teramat cinta ilmu pengetahuam, Nakula yang menggemari berbagai binatang, Yudistira yang terlampau naif dalam memandang keadilan, dan Arjuna yang terlalu mengagung-agungkan jiwa kepahlawanan. Novel ini jelas menempatkan wanita pada posisi yang teramat penting. Dropadi adalah rantai yang menjalinkan Pandawa dalam gerak sejarah. Ia yang mengobarkan api peperangan antara Pandawa dengan Kurawa, setelah dipermalukan habis-habisan oleh Duryodana di Hasthinapura. Ia pula yang tetap merekatkan tali persaudaraan Pandawa semala masa pengasingannya di hutan, ia pula yang secara tidak langsung menyebabkan perang paling besar di medan Kurusethra, menyebabkan banyak istri menjanda, dan para ibu kehilangan anaknya.

Adapun yang jauh lebih menarik adalah kepandaiaan Divakaruni dalam menyampaikan sisi-sisi religiusitas, dibangun lewat kecintaan Dropadi pada Krishna, sahabat sekaligus sandarannya di masa-masa sulit, maupun di saat-saat mengalami kebingungan. Keduanya akrab sedari Dropadi masih kecil. Krishna selalu muncul secara tak terduga, tepat di saat Dropadi memerlukan penjelasan bijak pada kebingungannya. Krishna yang konon titisan Dewa Wisnu, selalu muncul di saat penting. Ia bisa dekat dengan berbagai orang, ia sahabat dekat Drestadyumna kakak Dropadi, penasihat Raja Dropada, sangat dekat dengan Arjuna, bahkan selalu dianggap penting oleh Duryodana sekalipun. Sewaktu-waktu Krishna mampu tampil selayaknya teman yang periang, tak menunjukkan sisi kedewaannya, sekali waktu ia seolah mampu menjadi seniman handal dengan kepandaiannya memainkan seruling serta kelembutan suaranya, ia juga mampu menjadi pengatur strategi ulung, ia mampu pula menjadi satria yang ganas ketika memenggal kepala Sisupala, di sisi lain ketika perang berkecamuk, Krishna dapat membuat Arjuna menangis. Ia selalu muncul pada momen-momen bersejarah yang teramat pentig. Krishna seolah merekatkan kisah, dari “potongan-potongan” tokoh-tokoh yang ada. Keberadaan Krishna seolah memastikan agar sejarah berjalan pada jalurnya, sementara ia menjaga waktu agar mengatarkan kisah pada akhir.

Karena begitu berartinya kehadiran Krishna dalam saat-saat penting kehidupan Dropadi, ia pun sepenuhnya sadar bahwa ia memiliki rasa cinta pada Krishna, cinta yang rasanya berbeda dengan cintanya pada Karna, atau mungkin Pandawa.

Cinta ini menyembuhkanku. Kalau apa yang kurasakan bagi Karna adalah api yang membakar, cinta Krishna memberikan kesejukan, ibarat cahaya bulan di atas daratan gersang. Betapa butanya aku karena tidak mengenalinya sebagai karunia yang sangat berharga!” Demikian ungkapan hati Dropadi di akhir-akhir kisah. Lalu cinta macam apakah yang seolah melampaui cinta seorang kekasih? Cinta seperti apakah yang dianggap sebagai karunia? Saya kira, Divakaruni mengemas Krishna sebagai unsur “illaiah” (religius) dalam novel ini. Lontaran-lontaran bernada filsafat sering kali muncul dari mulut Krishna.

Waktu Arjuna bertanya mengapa manusia mendapati dirinya terdorong melakukan perbuatan buruk meskipun niatnya baik, Krishna menjawab “Karena amarah dan nafsu, dua musuh paling besar kita. Aku sangat mengenal mereka, pendampingku sejak lama…Dan betapa setianya mereka! Waktu aku ingin menyingkirkan mereka, mereka malah berpegang erat kepada diriku.”

Novel Istana Khayalan menyuguhkan pesan yang begitu padat, sehingga tiap pembacanya akan tertarik pada sudut-sudut yang berlainan. Adapun pesan cinta kiranya sudah umum, namun Divakaruni mampu mengemasnya menjadi sesuatu yang lebih mulia, bukan sabatas hasrat, namun mengingatkan pada keangungan-Nya, pada keseimbangan makhluk dalam kosmos, sebagaiamana kecintaan Dropadi akan eksistensi Krishna, tentunya dalam sudut pandang budaya Hindu.

Kesetaraan gender tersiratkan dalam novel ini, bahkan dalam novel ini dikemukakan bahwa ada kalanya, dan pada aspek-aspek tertentu, pria jauh lebih lemah dari wanita. Bagi para wanita sangat direkomendasikan membaca novel ini, bagi para pria sangat baik dalam membuka cakrawala tentang dunia wanita, dan bagi penggemar Mahabhrata selamat terlarut dalam lantunan kisah Dropadi alias Panchali, putri berkulit hitam dari Panchala.

H.G. Budiman (penikmat kisah-kisah mitologi)

One thought on “Istana Khayalan; Wanita, Cinta dan Religiusitas

  1. kanya mengatakan:

    saya suka sekali buku ini…menambah wawasan untuk introspeksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: