Menengok Kembali Pangeran Biru di Tahun 1995

Stadion Gelora Bung Karno. 30 Juli 1995. Puluhan ribu penonton menyesaki stadion terbesar se-Asia tersebut, tanpa ada pelemparan, tanpa ada pembakaran, tanpa anarki dan juga ga pake wasit goblog. Di pinggir lapangan tampak berdiri seorang bapak tua sambil mengepulkan asap rokoknya, tampak tegang namun tenang. Gemuruh sorak sorai penonton semakin membahana. Si bapa tua yang tak lain dan tak bukan adalah Indra Tohir—si aki-aki ajaib yang bertangan dingin— beranjak dari bench dan mendekati sisi lapangan untuk memberikan instruksi pada anak asuhannya. “ 5 menit..! tahan..tahan” teriak si aki yang satu ini. Ketatnya pertandingan membuat suasana semakin tegang. Pemain bekerja keras, bobotoh terhenyak menahan napas menjelang detik-detik pertandingan. 5 menit berlalu, peluit panjang melengking di tengah lapangan. Persib Bandung bersuka cita, Pertokimia tertunduk lesu bersama trio pemain asingnya: Jackson F. Tiago, Carlos de Mello, dan Darryl Sinerine. Tertorehkan sejarah baru dalam persepakbolaan Indonesia sekaligus menjadi catatan gemilang masyarakat Bandung.

Final Liga Indonesia yang pertama merupakan pencapaian yang luar biasa, bukan hanya bagi publik Bandung tetapi juga bagi persepakbolaan Indonesia di mata internasional. Partai final saat itu adalah rekor dengan jumlah penonton terbanyak dan  berakhir tanpa kerusauhan. Euforia kegembiraan menyelimuti masyarakat Bandung, bahkan Jawa Barat. Hal ini tidaklah mengherankan karena apa yang dicapai Persib mencerminkan kualitas pembinaan yang baik karena semua pemain adalah pemain lokal dan bertolak dari kompetisi Perserikatan yang notabene lebih rendah derajatnya dari Galatama. Namun mampu berjaya.

Gol Sutiono Lamso di menit ke-76 mungkin menjadi momen tak terlupakan bagi sebagian besar masyarakat Bandung yang turut menjadi saksi kesuksesan Persib Bandung. Melawan Petrokimia di partai final, Indra Thohir menurunkan skuad terbaiknya antara lain: Anwar Sanusi (kiper), Mulyana, Robby Darwis, Yadi Mulyadi, Dede Iskandar, Nandang Kurnaedi, Yudi Guntara, Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, Kekey Zakaria, dan Sutiono Lamso. Dengan bermaterikan pemain lokal, Persib mampu membawa Piala Presiden ke tanah Priangan. Perjuangan Persib menuju tangga juara jelaslah bukan perkara mudah. Sempat kalah 0-1 oleh Pelita Jaya di laga pembuka liga, Persib mampu bangkit pada partai-partai berikutnya.

Mengakhiri babak penyisihan Wilayah Barat, Persib berada di peringkat kedua dengan mengumpulkan nlai 69, hasil 20 kali menang, 9 seri, dan hanya 3 kali kalah. Bersama juara Wilayah Barat, Pelita Jaya (nilai 77), peringkat ketiga Bandung Raya (67), dan peringkat empat Medan Jaya (56), Persib mewakili Wilayah Barat lolos ke babak “8 Besar”.

Di babak “8 Besar” yang digelar di Stadion Utama Senayan, Persib bergabung di Grup B bersama Medan Jaya, Petrokimia Putra. Dengan mencatat hasil imbang tanpa gol dengan (ASGS), Persib lolos ke semifinal sebagai juara Grup B. Di semifinal, Persib akhirnya bisa mematahkan perlawanan keras Barito Putra, ketika Kekey Zakaria mencetak gol satu-satunya dalam partai tersebut. Di partai final Persib semakin tak terbendung dan mampu menekuk Petrokimia 0-1. Kegemilangan Persib terus berlanjut ketika mampu mencapai babak perempat final Piala Champipns Asia. Sayang Persib harus mengakuai kehebatan Jepang Verdy (1-3), dan berhasil pula ditaklukkan oleh Thai Farmers Bank (2-3) dan menyerah 1-4 dari Chunwa. Sekalipun gagal melaju, Indra Thohir memperoleh penghargaan Pelatih Terbaik se-Asia. Itulah masa-masa kejayaan Persib baik di tingkat nasional maupun internasional, bahkan kesuksesan Persib ini telah mendorong The Dream Team – AC Milan untuk melakukan pertandingan persahabatan. Walau kalah 0-8, pertandingan tersebut menjadi catatan tersendiri dalam sejarah Persib.

Kesuksesan Persib tentunya tidak terlepas dari kemampuan Indra Tohir meracik timnya. Taktik yang konservatif alias kuno namun terbukti efektif dalam setiap pertandingan. Tidak mengistimewakan salah satu pemain merupakan kunci sukses Tohir di samping konsistensinya mempertahankan materi lama yang kesemuanya adalah pemain lokal. Setelah masa-masa keemasan di bawah pelatih Indra Tohir, prestasi Persib kian hari, kian tidak konsisten dan cenderung mengalami penurunan yang cukup drastis. Kini tantangan berat berada di hadapan Jaya Hartono selaku pelatih kepala. Harapan masyarakat Bandung tentunya menginginkan piala Presiden kembali ke tanah Priangan sebagaimana yang terjadi pada LI I. Mampukah mahkota juara itu kembali pada Liga Super Indonesia I ?  Kita tunggu sepak terjang Jaya Hartono. Terakhir, ungkapan ini mungkin cocok bagi Persib: maybe we are not the best but we are always the first. Jadi, buktikanlah !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: