Menjauh dari TV Mu

Semenjak saksikan pariwara TV dan kami frustasi (frustasi !!)

Frustasi…ya..ya..ya..ya..

Kami ingin nampak ramping dapatkan fisik yang lebih cling

Seperti standar cantik di televisi, hingga frustasi (frustasi !!)

— The Upstairs —

Fenomena yang kian menjemukan akhir-akhir ini mengingatkan saya pada sepenggal lirik lagu  lama The Upstairs dengan titel Frustasi. Tak salah jika Jimmy Multazam –sang vokalis— berteriak-teriak frsustasi, karena memang demikianlah adanya apa yang disuguhkan televisi selama ini. Entahlah apa kata frustasi sudah mampu mewakili rasa jemu akibat televisi, atau  terlampau berlebihan? Yang pasti keberadaan televisi telah bergeser dari hakikat keberadaannya. Memang apa yang kita harapankan dari televisi adalah hiburan, yang tentunya disertai edukasi dan informasi. Namun apa jadinya jika sebagian besar station televisi yang ada tidak lagi menyajikan apa yang kita harapkan itu secara proporsional? Televisi akhirnya menjadi media pembodohan. Sebagian besar station televisi lagi-lagi berkutat dengan acara-acara yang kian hari kian merenggut identitas, tanpa disadari mengubah pola pikir, menimbulkan pencitraan yang salah, serta penyuguhan harapan serta realitas semu bagi penontonnya.

Seperti yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard bahwa penciptaan dunia kebudayaan dewasa ini mengikuti suatu model produksi yang disebut dengan ‘simulasi’, yakni penciptaan model-model nyata yang tanpa asal usul atau realitas. Melalui model simulasi ini, manusia dijebak dalam satu ruang yang disadarinya sebagai nyata meskipun sesungguhnya semu atau khayalan belaka (Idi Subandi,1997:172). Realitas semu ini merupakan satu ruang antitesis dari representasi. Bahkan bisa dikatakan bahwa manusia mendiami suatu ruang realitas, di mana perbedaan antara yang nyata dan maya atau yang benar dan yang palsu menjadi sangat tipis.

Kondisi seperti itu menjadi “makanan” sehari-hari yang kita temui dalam televisi. Seperti sinetron yang jumlahnya sudah di luar kendali dan semakin menunjukan kekonyolan yang terlalu berlebihan. Kita bisa menerima manakala sinetron disajikan sebagai suatu hiburan. Tetapi bukan berarti mengeliminasi unsur-unsur lainnya demi tercapainya sebuah hiburan. Misalnya sebuah sinetron, kadang mengabaikan sama sekali amanat yang hendak disampaikan, bahkan hanya menghadirkan lika-liku konflik yang mengaduk-ngaduk emosi.

Keadaan ini diperparah lagi, saat tayangan-tayangan yang muncul dikonsumsi oleh masyarakat dengan pola saring yang buruk. Setidaknya ada dua masalah besar yang di timbulkan tayangan televisi. Tak usah mengaitkan jauh-jauh dengan kapitalisme,  yang paling terasa adalah masalah pencitraan yang salah. Kebanyakan remaja –khususnya—akan tercuci pola pikirnya saat menyaksikan tayangan di televisi, terutama sinetron yang mempertontonkan gaya dan perilaku yang pada dasarnya bukan panutan yang baik. Secara tidak sadar mereka akan terjebak dengan pencitraan yang mereka bayangkan sendiri. Masuk dalam labirinnya sendiri yang terbentuk atas berbagai tayangan yang ia saksikan. Misalnya, gaya Cinta Laura yang  berlengak-lenggok dan cara bicara serta fashionnya akan lebih ampuh untuk ditiru dalam membentuk citra diri dan makna hidup daripada mempelajari filsafat dan etika yang ada untuk mengkonstruksi dua hal tersebut. Buntutnya adalah penggerogotan identitas kita sebagai individu menjadi manusia yang penuh dengan keseragaman yang salah.

Masalah kedua adalah suatu bentuk pelarian dari kondisi yang ril. Tayangan di televisi yang menawarkan mimpi-mimpi ditengah kondis sosial yang cenderung menghimpit, bukan hadir untuk memberikan enlightment atau solusi, justru menawarkan suatu kontradiksi. Kehidupan mewah, budaya yang serba instant, popularitas, uang yang melimpah. Tidaklah mengherankan jika suatu acara, kadang begitu dinanti karena keberadaannya sebagai wujud eskapisme.

Mimpi yang ditawarkan melalui tayangan-tayangan yang ada berfungsi sebagai pelarian sejenak bagi penontonya, muncul dari kenyataan yang ada. Karenanya, kita bisa mengatakan bahwa kenyataan paling buruk akan menghadirkan impian paling indah (Idi Subandi,1997:174). Sehingga jika kita sedikit berspekulasi, bisa jadi tingginya rating sinetron karena keberadaannya bukan semata-mata sebagai hiburan saja, justru menjadi “penawar semu” atas kondisi ril yang saat ini cenderung semakin menghimpit. Orang yang kurang secara materi akan nyaman nongkrong di depan TV menyaksikan Deal or No Deal, sementara orang yang menginginkan popularitas akan nyaman berkhayal sambil menonton Indonesian Idol, lalu remaja yang memasuki masa pubernya tentu akan asyik mengikuti sinetron percintaan remaja. Akibatnya kita bukan keluar mencari solusi justru terlarut dengan mimpi-mimpi.

Sikap kritis mutlak diperluakan. Tapi apakah masyarakat sudah mampu melakukan itu? Saya kira, alangkah lebih baiknya apabila kita secara sadar mampu menempatkan diri pada realitas sosial yang terjadi, bukan termangu di depan televisi dan terlarut dengan mimipi-mimpi. Apalagi bagi anak-anak dan remaja yang notabene sedang dalam proses pencarian jati diri, memperlihatkan kegetiran masyarakat secara ril mungkin lebih berharga daripada terjebak dengan kepalsuan-kepalsuan yang disuguhkan televisi. Soslusi yang lebih sederhana, menjauh dari TV atau matikan TV itu sekalian, lebih konkrit dan mudah dilakukan.

Iklan

One thought on “Menjauh dari TV Mu

  1. F Haris berkata:

    Keluarga adalah lembaga primer yg punya peran fundamental dalam penanaman nilai2. Lembaga pendidikan dan lingkungan adalah lembaga kedua yg berperan menjaga nilai2 dan norma2. Selanjutnya adalah pemerintah / negara yg memiliki kekuatan dan kewenangan utk menegakkan nilai2 dan norma2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: