Taman dan Rekonstruksi Citra Kota

Citra sebuah kota terbentuk dari masyarakat yang mengisinya, ada yang condong pada aspek ekonomi, pendidikan, industri, budaya, dan lain sebagainya. Selain terbentuk secara alamiah melalui aktifitas masyarakatnya, dewasa ini, citra kota sengaja dibentuk, atau paling tidak diarahkan oleh pemerintah setempat. Pada kota-kota di Indonesia, citra sebuah kota juga terbentuk dengan menyertakan aspek historis. Sebut saja Semarang, Jakarta, dan Bandung. Kendati aspek historis tersebut ditonjolkan dalam porsi yang beragam, namun nilai-nilai historis selalu berusaha dimunculkan. Lalu, dalam konteks pembentukan citra kota, sudahkah aspek historis ini disuguhkan secara tepat?

Khusus berkenaan dengan kota Bandung, nampaknya pemerintah kota belum sepenuhnya menggali lebih dalam jejak-jejak sejarah kota. Citra kota Bandung yang sudah kadung melekat dengan Parij van Java, nampaknya hanya terakomodasi melalui kawasan jalan Braga dan sekitar jalan Asia-Afrika yang memakan biaya besar untuk pemeliharaannya. Adapun kawasan lain, seolah terlupakan jejak historisnya. Padahal, pada ruang-ruang perkotaan yang lain, citra Bandung sebagai sebuah personalitas kota di masa lampau ikut terbentuk, sebagaimana jelasnya jalan Braga dan Gedong Sate sebagai landmark kota. Seidaknya, hal ini ditunjukkan oleh keberadaan taman-taman kota seperti dikemukakan Haryoto Kunto dalam bukunya, “Semerbak Bunga di Bandung Raya”.

Dalam studinya tentang kota, D.C.D. Pocock berpendapat bahwa sifat cair ruang memang terkait dengan keterbukaannya terhadap pembacaan subjektif: Berjenis-jenis makna yang mungkin dibubuhkan pada sebuah bangunan atau gambar sebuah kota diantaranya bersifat konkret, fungsional, emosional, dan simbolik, yang kesemuanya penting dalam personalitas kota. Demikian halnya dengan taman kota sebagai sebuah ruang, memiliki makna penting dalam pembentukan personalitas kota, baik itu secara fungsional, emosional, ataupun simbolik.

Secara fungsional taman kota memiliki kedudukan penting dalam rencana perpindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung pada 1917 hingga 1925. Sepanjang tahun tersebut, setidaknya tujuh taman kota telah dibangun berdekatan dengan fasilitas-fasiltas masyarakat Eropa. Taman-taman tersebut antara lain, Ijzerman Park (Taman Ganesha sekarang) dibangun pada 1919 berdekatan dengan Technische Hoogeschool (ITB sekarang). Molukken Park, Tjitaroemplein, Tjilakiplein, dan Oranjeplein dibangun pada 1920 berdekatan dengan perumahan Kapiteinhill di sekitar Riouwstraat (Jalan Riau sekarang). Pada tahun 1923 dibangun Jubileum Park (sekarang Kebun Binatang Bandung), dan pada 1925 rampung dibangun Insulinde Park (sekarang Taman Lalu Lintas) yang berdekatan dengan Departement van Orloog (Kodam Siliwangi sekarang). Adapun jauh sebelum itu semua, pada 1885 telah dibangun taman kota pertama, yaitu Pieter Sijhoff Park (Taman Merdeka sekarang). Kedudukan taman yang berdekatan dengan berbagai fasilitas masyarakat Eropa, menguatkan arti taman sebagai komponen pendukung dalam rencana perpindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung.

Berbagai taman kota merupakan perwujudan Indische Kolonial Stad (Kota Kolonial), sekaligus mengutkan konsep kota Bandung sebagai Tuinstad (Kota Taman) yang berusaha dirancang oleh Ir. Thomas Karsten sejak 1930.

Melihat dari sudut pandang emosional dan simbolik, taman kota mampu mengakomodasi jejak-jejak budaya kolonial. Hal ini terlihat dari usaha pengekalan kenangan kolektif masyarakat kala itu.
Dalam sebuah esasi tentang ekologi simbolis, Peter J.M. Nas mengemukakan bahwa kenangan kolektif berisi kenangan tentang komunitas perkotaan, berkaitan dengan orang atau badan sosial, yang telah menetap di tempat tertentu, yang dipakai sebagai nama daerah atau jalan. Sebagai contoh, tuan tanah atau orang yang telah memainkan peran besar dalam wilayah itu. Pendapat tersebut cocok dengan apa yang terjadi pada taman-taman kota di Bandung.

Pieter Sijhoff Park dibangun pada 1885 sebagai wujud penghormatan atas jasa Asisten Residen Pieter Sijhoff yang telah banyak memberikan sumbangan dalam pembangunan kota Bandung, antara lain ditunjukan melalui keaktifannya dalam membina organisasi sosial kemasyarakatan seperti Vereeniging Tot Nut van Bandoeng en Omstreken, juga lewat keaktifannya dalam mendirikan Toneelvereeniging Braga (semacam perkumpulan pertunjukan komedi).

Adapun Ijzerman Park dibangun sebagai wujud penghargaan atas jasa-jasa Dr. Ir. J. W. Ijzerman yang telah memberikan andil dalam memimpin pemasangan rel kereta api, dari Bogor ke Bandung. Selain itu, Dr. Ir. J. W. Ijzerman pun telah berjasa dalam mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan Technische Hoogeschool pada tahun 1917. Nama taman, patung dada dalam taman, dan letak taman, yang berdekatan dengan Technische Hoogeschool (ITB sekarang) sudah cukup menunjukan kuatnya usaha pengekalan kenangan kolektif terhadap Dr. Ir. J. W. Ijzerman.

Suatu bentuk monumen dalam sebuah taman, terdapat pula di Tjitaroem Plein. Taman yang dibangun pada tahun 1920-an ini memiliki sebuah monumen berbentuk bola dunia dengan dua patung pria tanpa busana, berhadapan pada masing-masing sisinya. Monumen di Tjitaroem Plein lebih mengacu pada pengabadiaan suatu peristiwa bersejarah. Peristiwa bersejarah yang dimaksud adalah pembicaraan pertama yang dilakukan melalui Radio-Telefoni, Holland Nusantara yang diselenggarakan pada tanggal 5 Mei 1923.

Jejak-jejak kolonial dapat dilihat pula dari keberadaan Molukken Park dengan patung Pastor Verbraak di dalamnya. Pastor H.O. Verbraak S. J. (1835-1918) adalah seorang imam Tentara Belanda yang bertugas dalam Perang Aceh. Letak taman yang berdekatan dengan lingkungan kemiliteran, yaitu kawasan Departemen van Orloog/ Kementerian Peperangan (Kodam III Siliwangi sekarang), boleh jadi sengaja dibangun untuk mengingatkan akan jasa Pastor H.O. Verbraak S. J. selama Perang Aceh.
Selain menunjukan kenangan kolektif, taman kota pun memperlihatkan suatu bentuk simbolisme perkotaan. Simbolisme dalam hal ini mengacu pada peletakan makna, sebuah lambang, suatu koneksi ide yang non eksplisit. Taman kota merupakan pembawa simbol. Setidaknya hal itu ditunjukan oleh keberadaan Insulinde Park. Lokasi Insulinde Park dan lingkungan di sekitarnya, jika dikaitkan dengan masalah simbol, akan mengarahkan pada penafsiranatau makna yang cukup menarik. Insulinde Park yang dibangun sejak 1920 dan diberi nama serta diresmikan pada 1925 adalah taman yang terletak di tengah-tengah/ pusat lingkungan kemiliteran atau biasa disebut dengan kawasan Europeesche Zakenwijk. Insulinde Park sebagai pusat lingkungan militer—antara lain nampak dari keberadaan Departement van Oorlog—dikelilingi oleh jalan-jalan dengan nama-nama kepulauan di Nusantara. Nama-nama jalan tersebut, antara lain: Riaou Straat, Menado Straat, Java Straat, Borneo Straat, Bali Straat, Atjeh Straat, Celebes Straat dan lain sebagainya.

Jika dihubungkan antara keberadaan Insulinde Park sebagai pusat pemukiman, lingkungan kemiliteran, dan nama-nama jalan kepulauan Nusantara di sekeliling Insulinde Park, akan memunculkan sebuah makna simbolis. Boleh jadi, unsur-unsur tersebut di atas menyimbolkan suatu hegemoni Belanda atas Nusantara. Nama-nama jalan dengan nama kepulauan Nusantara dan lingkungan kemiliteran disekelilingnya menunjukan suatu bentuk kekuasaan, apalagi hal ini dikuatkan oleh keberadaan Insulinde Park yang tepat berhadap-hadapan dengan Departement van Oorlog.
Nama Insulinde Park yang berarti Taman Nusantara seolah menegaskan bahwa Nusantara telah penuh berada dalam kekuasaan Hindia Belanda, khususnya dikaitkan dengan lingkungan kemiliteran di sekitarnya. kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Insulinde Park merupakan salah satu bentuk simbol yang mencoba memberi kesan sebuah legitimasi kekuasaan—bisa dilihat dari unsur militer di sekeliling Insulinde Park—Hindia Belanda atas Nusantara, terrefleksikan dari nama-nama jalan kepulauaan Nusantara dan Insulinde Park sendiri sebagai pusatnya.

Lalu, dalam konteks kekiniaan, adakah jejak kolonial itu masih nampak? Memang, selepas kedatangan Jepang pada 1942, praktis sebagaian besar monumen dan patung-patung telah hilang atau dihilangkan, hingga kini hanya tersisa patung Pastor Verbraak di Molukken Park. Namun keberadaan taman-taman tersebut sampai kini masih nampak walaupun dalam kondisi yang tidak sepenuhnya layak. Seiring waktu pula, telah terjadi transformasi makna pada keberadaan taman. Taman, kini cenderung dibayangi kesan negatif. Entah memang karena penggunaannya oleh masyarakat, atau mungkin karena kekurang pandaian pemerintah kota dalam “menyakralkan” ruang historis. Berbeda dengan yang kita lihat pada Gedung Sate atau Gedung Merdeka yang nuansa sejarahnya masih cukup kuat. Mungkin pemerintah kota sedikit lupa bahwa peninggalan sejarah bukan semata bangunan-bangunan tua, namun ruang terbuka macam taman pun memiliki kapasitas yang sama.

Sayang kiranya, apabila taman-taman yang ada kehilangan aspek historisnya, padahal pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, taman ikut membentuk citra kota Bandung sebagai tuinstad (kota taman). Kini, citra tersebut perlahan luntur, bahkan nyaris lenyap sama sekali. Perubahan nama taman, penggantian nama jalan di sekitar taman seolah dengan mudah menenggelamkan peninggalan budaya masa lampau.

Berkaca pada Negeri Sakura, mereka memiliki Taman Ueno di Tokyo, yang didirikan sejak 1870, pembangunan taman digagas oleh seorang dokter Belanda bernama Anthonius Bauduin. Pada taman tersebut, terdapat patung Anthonius Bauduin yang sengaja dibangun untuk memperingati 100 tahun taman Ueno pada 1973. Hingga kini taman tersebut masih terjaga keberadaannya, bahkan pada 2006 lalu patung Anthonius Bauduin baru rampung diperbaiki kembali.

Tidak ada salahnya kita mencotoh pada Jepang. Sekalipun sebagian besar taman-taman kota di Bandung merupakan peninggalan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, nampaknya terlalu naif jika taman-taman kota dibiarkan terbengkalai begitu saja, apalagi sampai hilang unsur historinya. Minimal, dengan terawat dan terjaganya nilai-nilai historis dari taman kota, masyarakat akan terstimulus untuk sadar akan sejarah kotanya sendiri, tahu latarbelakang terbentuknya sebuah kota, dan bagaimana citra Bandung di masa lampau terbentuk. Akan lebih baik lagi jika taman-taman berkonsep modern dapat terbentuk dari taman-taman kota yang sudah ada. Dengan demikian, nilai historis tetap terpelihara dan ruang-ruang untuk aktifitas masyarakat termaksimalkan.

H.G. Budiman (Penikmat Taman)

3 thoughts on “Taman dan Rekonstruksi Citra Kota

  1. @gan2bookmood mengatakan:

    leres kang, taman2 kota di bandung memang harus dilestarikan…salam

  2. @gan2bookmood mengatakan:

    leres kang..taman2 dikota Bandung memang harus dilestarikan…salam ( ijin share di FB )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: