Uruguay vs Korea; Si Anak Baru Melawan Sang Senior


Sungguh event sebesar Piala Dunia memang akan sulit untuk diprediksi secara tepat. Siapa sangka Republik Korea melegang ke Babak 16 besar, padahal di penyisihan grup mereka dipertemukan dengan Negara-negara yang cenderung sudah mapan sepakbolanya. Argentina, Yunani, dan Nigeria adalah jaminan mutu dalam kancah sepak bola dunia. Argentina 2 kali menjadi yang terbaik di piala dunia. Yunani juara Euro tahun 2004 lalu, dan Nigeria adalah salah satu poros kekuatan sepak bola di Benua Africa. Adakah Korea Beruntung ? menurut saya tidak. Argentina, Yunani, dan Nigeria memang punya tradisi bagus dalam piala dunia, tapi toh Korea dengan kerja kerasnya tetap melaju walau memang masih berada di bawa bayang-bayang Argentina.

Para Ksatria Teaguk ini menorehkan catatan tersendiri dalam kancah sepak bola dunia. Korea seolah merepresentasikan munculnya kekuatan baru dalam sepak bola dunia. Kekuatan yang mengandalkan ketekunan, kecepatan, stamina, motivasi tinggi serta faktor yang tak kalah penting adalah visi dalam bermain. Inilah ciri sepak bola Asia yang membuat Piala Dunia kini terasa begitu ketat. Lolosnya Korea (dan Jepang) ke babak 16 besar sudah cukup membuktikan bahwa Asia bukan lagi kekuatan terlemah yang selalu berada di bawah bayang-bayang Eropa, Amerika Latin, dan Afrika. Meski tidak terlampau jumawa, tetapi Asia bisa sedikit bangga.

Park Ji Sung dan kawan-kawan akhirnya melangkah ke babak 16 besar tapi lawan yang dihadapinya bukan sembarangan. Jika kita mengidentikan Korea sebagai seorang “anak baru”, maka Uruguay sudah sepantasnya disebut sebagai seorang “senior”. Uruguay may be not the best, but they are the first. Ya, Uruguay adalah negera pertama yang menjadi juara dunia. Lebih dulu dari Brazil, Itali, atau bahkan Jerman. Meski prestasinya tak secemerlang Negara-negara mapan sepakbola lainnya, Uruguay mampu konsisten tampil di gelaran Piala Dunia. Kadang terseok-seok kadang dengan mulus. Kini di 2010 kiprah Uruguay terhitung cemerlang. Dari tiga pertandingan gawang Uruguay yang dikawal Muslera belum pernah kebobolan. Uruguay merupakan salah satu dari 2 tim yang clen sheet sepanjang penyisihan grup. Diego Lugano cs mampu mengorganisir pertahanan dengan sangat rapi. Dan di lini depan, Forlan serta Suarez mampu menjadi finisher yang baik. Uruguay menampilkan organisasi permainan yang begitu rapi, meski terkadang terlihat monoton. Jika boleh sedikit membandingkan, justru nuansa Italy di tahun 2006 begitu terasa di skuad Uruguay kini. Akankah Uruguay melejit pada turnamen kali ini? Jawaban awalnya tentu malam nanti ketika berhadapan dengan Korea Selatan.

Malam nanti di Nelson Mandela Stadium akan tersaji duel yang sangat ditunggu-tunggu. Anak-anak asuhan Oscar Taberez memang memiliki rekor yang lebih baik dibanding Korea. Dari dua pertandingan menghadapi Korea, Uruguay mampu unggul dua kali. Pertama pada 1990, Uruguay menang 1-0 serta pada 2007 Uruguay menundukkan Korea 2-0. Tapi catatan bagaimanapun bagusnya akan menjadi hampa di atas lapangan. Bagi kedua tim, tentu ini akan menjadi laga final. Melihat pola permainan yang telah diperlihatkan oleh Uruguay dan Korea, nampaknya ini akan menjadi perlombaan rapinya organisasi pertahanan. Mungkin Uruguay akan cenderung menunggu, sadar akan kecepatan pemain-pemain Korea, tentu Gonzalez serta Arevalo sebagai pusat lini tengah Uruguay akan mengutamakan penguasaan bola dengan tempo lambat. Setidaknya Uruguay akan mengorganisir pertahanan lebih dulu. Akan terlalu riskan bermain agresif melawan Korea yang bermain cepat. Tentu Uruguay tak mau mati konyol macam Yunani. Mereka akan cenderung memainkan counter attack seperti ketika mengalahkan Mexico. Suarez dan Forlan akan menjadi ancaman lini belakang Korea.

Sementara itu, Korea dengan semangatnya yang sedang menggebu-gebu mungkin akan mengambil inisiatif penyerangan, bermain bola-bola pendek, dan berusaha mencetak gol di menit-menit awal. Kecepatan dua wing bek Korea bakal merepotkan. Cha Du Ri dan Lee Jung Soo akan banyak melakukan overlap ke depan, bahkan mungkin mencetak gol seperti pertandingan-pertandingan sebelumnnya. Jika Park mampu bermain baik serangan Korea akan berjalan lancar. Melihat karekter kedua tim, nampaknya bola-bola mati akan kan menentukan di samping kemampuan eksekusi di lini depan. Duel akan sengit dan ketat. Kecepatan pemain-pemain Korea akan diuji rapatnya pertahanan Uruguay yang dikomandoi Lugano dan Godin. Tim yang mencetak gol lebih dulu mungkin akan menang. Sebagai orang Asia, tentu sebagian dari kita akan lebih menjagokan Korea, namun secara objektif kita tidak bisa mengabaikan finisher-finisher mematikan yang dimiliki oleh sosok Forlan dan Suarez. Dua striker ini tentunya lebih teruji dari pada Park Chu Yong. Overall 45:55 untuk Uruguay, tapi bola-bola mati sewaktu-waktu bisa mengubah jalannya pertandingan. Bukan tidak mungkin pula Korea menggungguli Uruguay.

H.G. Budiman (Penggila Bola)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: