Analisis Jerman vs Argentina; Teamwork Lebih Menentukan

Adakah yang salah dengan orang-orang bangsa Nordik? Bangsa yang dipersatukan oleh Biscmark ini memang terkenal dengan mentalitas dan kepercayaan dirinya yang tinggi. Hitler memang telah mati tapi tidak demikian dengan kedisiplinan, kepercayaan diri, dan karakter keras yang telah meresap pada diri orang-orang Jerman. Paling tidak hal tersebut terlihat dari bagaimana mereka bermain bola.

Masikah ingat dengan Stefen Effenberg? Gelandang bertahan Bayern Munich ini terkenal dengan kecongkakannya. Effenberg begitu pawai memancing emosi lawan. Ia temperament, tak ragu bermain keras, tapi ia juga seorang juara. Tentu kita belum begitu lupa, hampir di setiap menjelang laga timnya, Effenberg selalu melontarkan komentar-komentar pedas pada tim lawan. Tak jarang ia mencibir dengan entengnya. Ia penyombong sejati tapi kesombongannya berbalas Juara. Setidaknya di tahun 2001 ketika Bayern sukses menggondol trofi Champions. Hal serupa juga dilakukan oleh der Kaisser: Franz Beckenbauer. Si sesepuh para pemain Jerman ini bahkan dengan ringannya menyandingkan kata “bodoh” dengan tim Inggris. Ah.. pada akhirnya bagi para pemain Jerman perang urat syaraf telah menjadi hal lumrah.

Tingkah polah para senior ditiru pula oleh junior-juniornya. Bastian Schweinsteiger dan  Philipp Lahm adalah dua pemain kunci Jerman yang gemar menyampaikan statement pedas. Namun demikian, sejauh ini kesombongan para pemain Jerman ini bukan isapan jempol belaka. Lalu, adakah kesombongan itu masih berlaku selepas laga melawan Argentina??

Lahm: “Argentina impulsif dan temperamental… Kita lihat saja apa yang terjadi ketika kami mengalahkan mereka pekan ini,” demikian pernyataan Lahm menjelang laga melawan Argentina. Sungguh pernyataan yang amat jumawa, tetapi sejauh ini Jerman punya modal untuk melakukannya, begitu pun sebaliknya. Argentina bisa menjadi ancaman potensial bagi Jerman. Serunya lagi, Maradona tidak kalah percaya diri. Maradona: “…  kami akan bermain menyerang, dan menguasai permainan di hadapan muka mereka. Ini yang membuat mereka takut.”. Barangkali serunya perang urat syaraf yang terjadi akan mewakili bagaimana serunya laga nanti. Memang berkaca pada pertemuan-pertemuan sebelumnya laga Jerman vs Argentina bakal sulit untuk ditebak. Dari dua laga terakhir, Jerman berhasil menang satu kali di tahun 2006 lalu lewat adu penalti. Pertandingan lainnya dimenangkan Argentina 2-1 dalam laga uji coba beberapa bulan yang lalu.

Akan cukup sulit memprediksi pertandingan nanti. Yang pasti para pengamat tentu akan sepakat bahwa laga nanti akan berlangsung ketat. Melihat dari karakter permainan yang diterapkan Joachuim Loew dan Maradona nampaknya kedua tim bakal jual beli serangan. Jerman sekarang bukan Jerman yang telat panas seperti dulu, Jerman yang sekarang adalah Jerman yang energik dari awal dan selalu bermain dinamis sepanjang pertandingan. Adapun Argentina merupakan tim yang setia pada filosofi sepakbola indah dan menyerang. Alhasil laga nanti mungkin bukan uji pertahanan tapi uji ketajaman. Dilihat dari sudut pandang ini tentunya Argentina di atas angin. Tiga trisula maut: Tevez, Higuain, dan Messi adalah jaminan suburnya gol Argentina. Sekalipun masih sedikit bermasalah dengan mandulnya Messi, kontribusinya terhadap tim terasa begitu besar. Seandainya Khedira dan Bastian Schweinsteiger tak mampu meredam Messi, ini tentu akan menjadi mimpi buruk bagi Jerman. Bukan tidak mungkin Messi akan menjadi penentu dan mencetak gol pada pertandingan nanti.

Namun demikian, Argentina bukan tanpa celah. Kelemahan yang paling mencolok dari skuad Albiceleste adalah organisasi permainan. Kemenangan Argentina belakangan ini lebih banyak ditolong oleh kecemerlangan individu-individunya dan lawan yang terlihat kurang mumpuni. Jerman adalah sebuah tantangan nyata bagi anak asuhan Maradona. Tapi untungnya Maradona punya banyak opsi di lini depan. Millito dan sang menantu, Aguero akan menjadi alternaif ketika striker inti mengalami kebuntuan. Dengan kondisi demikian, Jerman akan susah payah menghadapi Argentina. Tapi bukan Jermna namanya jika mereka mudah dikalahkan. Jerman mungkin akan memanfaatkan celah dan kelengahan di menit-menit awal. Gaya ini terbukti ampuh saat melawan Inggris. Organisasi permainan yang lebih rapi dan pola serangan balik yang skematis akan menjadi senjata andalan Jerman. Satu hal lagi, Ozil dan Schweinsteiger akan menentukan jalannya skema serangan balik. Dua bek sayap, Heinze dan Gutierez sudah sepantasnya waspada karena Muller dan Podolski mampu memaksimalkan kecepatan. Sedikit kelengahan saja, Jerman akan menghukum dengan gol yang menyakitkan.

Ada satu faktor lagi yang mungkin mengurangi kekuatan Argentina, yaitu rentannya gelandang jangkar alias anchor man. Jika pada 2006 peran ini dipegang Cambiasso dan Mascherano. Kali ini peran tersebut menjadi beban Mascherano seorang diri. Sebetulnya hal serupa berlaku pula pada Jerman karena absennya Ballack, namun sejauh ini peran Ballack masih mampu ditutup dengan kehadiran Khedira yang ditopang oleh Schweinsteiger. Bagi Argentina pertarungan kali ini akan difokuskan pada penyerangan, jika dipaksa defensive, akan terlalu riskan bagi gelandang jangkarnya, sekalipun itu sekaliber Mascherano. Adanya Veron mungkin akan sia-sia mengingat usianya yang terlampau tua.

Walaupun demikian, Argentina unggul segalanya di lini depan. Higuain dan Messi merupakan duo El Pichichi di La Liga, belum lagi Tevez yang selalu tampil impresif bersama Man City. Sementara Diego Millito mungkin akan menjadi kartu truf bagi Maradona. Kesemua striker Argentina memiliki agility dan akselerasi yang baik. Ini akan menjadi sumber masalah bagi bek-bek Jerman yang cenderung lambat dan kaku. Friedrich dan Mertesacker pasti akan bekerja ekstra keras.

Memeprediksi secara tepat memang terlampau sulit, rasanya hasil seri lebih layak dikemukakan. Sayangnya ini babak knouck out dan harus ada yang menang. Jika harus memilih, mungkin Jerman bisa unggul mengingat keseimbangan di tiap lini dan teamwork yang berjalan apik. Seandainya Messi dapat dimatikan dan skema ketika melawan Inggris bisa berjalan selama 90 menit, maka 45:55 untuk Jerman. Bagi Jerman teamwork dan kejelian Loew (Maradona belum punya) adalah poin plusnya. Namun jika pertandingan berlanjut hingga adu penalti, maka Argentina akan unggul. Masalah bagi Jerman karena mereka telah kehilangan penendang-penendang bermental juara. Tak ada lagi Ballack, Borowski, dan Frings. Semoga tim terbaik yang layak menang. Let’s kick out negative football…!

H.G. Budiman (penggila bola)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: