Persib Butuh Pemain Juara !!

Rasanya masih basah dalam kepala kita bagaimana gol Andreas Iniesta menandai sebuah era baru bagi skuad La Furia Roja. Sebuah gol yang amat menentukan dan tercipta di saat yang krusial. Bukan sebatas keberuntung, tapi berasal dari kematangan individu saya kira.

Kalau kita masih ingat dua tahun silam, Iniesta menciptakan gol serupa kala Barca bentrok dengan The Blues di Stamford Bridge. Kalau tidak salah, ketika itu skuad Catalan hanya membutuhkan tambahan satu gol untuk memastikan langkahnya ke partai puncak, sementara Chelsea yang masih diarsiteki Guus Hiddink hanya cukup mempertahankan hasil seri untuk memastikan langkahnya ke final. Sadar kan kekuatan Lionel Messi cs, Chelsea lebih memilih pragmatis. Menjaga kedalaman, menumpuk pemain, dan bermain bertahan. Cukup dan terbukti ampuh. Lalu deadlock bagi Barcelona. Rasanya butuh keberuntungan dan sentuhan ajaib kala itu. Tepat menjelang akhir laga, memasuki menit ke-89, kebuntuan itu berakhir. Sepakan kaki kanan Iniesta meluncur deras ke pojok kiri gawang Peter Cehc. Barca melaju sampai final dan Chelsea kalah dengan menyakitkan.

Peristiwa serupa pernah terjadi di tahun 1999, lebih dramatis dan lebih menyakitkan. Final Champions antara United dengan Bayern Munich. Mungkin kita masih ingat begitu menentukannya 2 sosok pemain pengganti di kubu United. Gol Tedi Sheringham dan Ole Gunar Solkjaer di menit-menit akhir telah meruntuhkan mimpi Bayern menggenggam gelar juara.

Lalu, hikmah apa yang bisa diambil dari peristiwa-peristiwa tersebut ? tentu tiap orang punya beragam pandangan. Mungkin ada yang bilang bahwa hasil gemilang adalah buah kejeniusan para pelatihnya. Atau mungkin keberuntungan? Bisa juga karena mental!?. Semua itu benar. Tapi ada satu hal lagi yang berpengaruh dan boleh jadi disepakati pula oleh para pengamat. Faktor apakah itu?? Faktor tersebut tidak lain adalah kematangan individu yang mengeksekusi bola. Kematangan secara mental maupun teknik. Maka muncullah istilah yang menyebutkan: righ man, on the righ place, at the right time !! jadi yakinlah bahwa bukan tidak mungkin sebuah gelar juara direbut atas atas andil seorang individu. Kecermatan memanfaatkan kematangan individu inilah yang diperlukan untuk menjadi tim juara, terutama di saat-saat menentukan.

Andreas Iniesta adalah sebuah contoh nyata di mana sebuah tim memiliki individu penentu kemenangan. Inilah representasi dari pemain bermental juara. Menurut hemat saya, pemain bermental juara, belum tentu bisa ditemui pada sosok-sosok pemain bintang. Messi mungkin bisa mencetak gol-gol indah, banyak, dan fenomenal. Tapi pemain sekelas Messi atau Ronaldo belum tentu dapat mencetak gol dalam sebuah tekanan yang sangat besar. Tekanan ketika kekalahan itu akan menjadi sebuah pukulan telak dan kemenangan akan menjadi obat nyenyak tidur bagi para pemain dan kemenangan menjadi hadiah besar bagi fans atau mungkin kebanggaan bagi negaranya. Dengan asumsi ini tentu kita bisa menyimpulkan, misalnya, berkaca pada kasus Ghana vs Uruguay, Asamoah Gyan tentu bukanlah pemain bermental juara. Singkatnya, untuk bisa mencapai tangga juara, setidaknya sebuah tim harus memiliki beberapa pemain bermental juara dan semata pemain bintang tidaklah cukup. Karena ketika teamwork mencapai kebuntuaan, maka individu-individu bermental juaralah yang menentukan.

Nah, berkaca pada tingkat kelokalan, khususnya untuk tim kebanggaan kita: Persib, nampaknya masih perlu belajar dalam membentuk atau mendatangkan pemain bermental juara. Laga melawan Arema minggu kemarin (18/7) salah satunya merupakan bukti kurang terdapatnya pemain bermental juara, di samping tentunya kelalaian pelatih memberikan otoritas alternatif di lapangan. Gonzales saya kira adalah pemain bagus, bahkan termasuk salah satu striker yang terbaik di sepakbola Indonesia, tapi sayangnya Gonzales belum cukup mumpuni untuk membuktikan sebagai pemain bermental juara. Berkaca pada laga kemarin, nampaknya Persib harus segera berbenah diri untuk kompetisi selanjutnya. Jika manajemen jeli, sudah seyogyanya untuk tahun depan, Persib bukan hanya butuh pelatih cerdas tapi juga butuh pemain bermental juara. Pemain yang mampu diandalkan saat tekanan mental itu begitu besar.

Jika kita menengok pada klub-klub lain sebagai kampiun liga, ada fenomena menarik. Hampir setiap tim, sebut saja Sriwijaya FC, Persipura, dan Arema selalu memiliki pemain kunci, memiliki jam terbang yang baik, serta tentunya bermental juara. Sriwijaya punya Keith Kayamba Gumbs. Pemain ini termasuk tua tapi memiliki kematangan eksekusi dan leader dilapangan. Bola-bola mati dikontak penalti hampir pasti menjadi milik Gumbs. Dan Ia sukses.  Persipura lebih punya alternatif dalam hal pemain kunci dan bermental juara. Persipura punya Edward Ivak Dalam dan Beto Goncalves. Edu mampu menjadi panutan. Ia selalu tampil tenang, konsisten, dan mampu menaungi lapangan tengah Persipura. Tidak jarang bola-bola mati, termasuk tendangan penalti menjadi santapan Edu. Di lini depan, Persipura dulu boleh berlega hati dengan kehadiran Goncalves. Kehadiran Goncalves kadang kala mampu mengubah jalannya pertandingan. Bukti nyatanya ketika melawan Persib di Jayapura beberapa bulan yang lalu. Aksi individu Goncalves mampu membuahkan gol semata wayang.

Kemudian satu lagi nama yang tidak bisa dihilangkan dari daftar pemain bermental Juara, ia adalah Pierre Njanka. Tak perlu banyak kata untuk pemain yang satu ini, yang jelas, semua tendangan Penalti Arema sepanjang kompetisi diambil oleh Njanka. Hebatnya, tidak ada yang meleset.

Adakah Persib sudah punya sosok-sosok seperti itu ? saya berani jawab “ya”, tapi itu dulu di tahun 1994 ketika Persib masih dinanungi sang kapten: Robby Darwis. Kini sulit menemukan pemain kunci dan bermental juara. Eka belum dapat dan belum waktunya barangkali. Nova ?? atau Maman ?  dua sosok ini mungkin cocok tapi kita perlu lihat polesan pelatih nanti. Yang pasti sejauh ini Persib masih bergantung pada Gonzales dan sayangnya, khusus dalam tekanan besar seperti tendangan penalti, Gonzales masih banyak celah. Di tahun ini ia memang sering mengambil eksekusi, sedikit catatan, bahwa ia lebih banyak menunaikannya di laga kandang. Ditambah laga kemarin, paling tidak (kalau tidak salah) Gonzales telah gagal melakukan 4 kali eksekusi penalti.

Adakah sosok lain?? Hilton boleh jadi bisa jadi alternatif, ia kadang bisa memecah kebuntuan. Nampak cukup berperan vital bagi Persib dan mampu bermain baik dalam laga-laga big match. Tapi sayangnya, seperti kita tahu ia dilanda cedera di tengah kompetisi. Artinya ini menjadi salah satu “PR” bagi jajaran manajemen. Saya kira memiliki pemain bermental juara adalah salah satu syarat untuk bisa mengecap gelar juara liga. Sekali lagi, tidak cukup dengan Gonzales!! Seditaknya kita punya alternatif sosok yang mampu memikul tekanan besar di laga-laga yang menentukan. Entahlah itu dengan memoles pemain yang sudah ada atau dengan mendatangkan pemain baru sekaliber Gumbs atau Njanka misalnya. Syukur-syukur bisa sekelas Iniesta. Akhir kata, selamat berjuang di transfer windows buat Pa Umuh.

H.G. Budiman (Penggila Bola & Bobotoh Persib)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: