Membongkar Relasi Konsep dalam Live Show Musik di TV

Hari minggu lalu karena kejenuhan rutinitas, jenuh dengan keluntang-lantungan dan bosan menyuntuki kegiatan di rumah,  saya sengaja mengemas sedikit waktu dan mengolahragakan kaki. Lalu, jatuhlah kaki saya pada sebuah event di ITB, sebuah gelaran akbar anak-anak ITB yang akrab dinamai dengan Pasar Seni ITB. Saya kira ini bukan sekedar pasar tapi pasar yang menyuguhkan kreatifitas, refleksi diri, kritik, dan pilihan bagi pengunjung. Memang ramai selayak pasar tapi cukup mencerahkan. Selain kaya akan nilai seni yang artistik, sejatinya berbagai karya yang disuguhkan memaksa para pengunjung untuk merenung. Paling tidak hal itu yang bisa saya dapat.

Mengutip sedikit ide Roland Barthes, bahwa sebuah fenomena atau sebutlah karya-karya seni kontemporer dalam konteks ini, memiliki lapis makna yang bisa ditafsirkan. Makna denotatif: makna yang nampak di permukaan, dan makna konotatif: makna yang ada di balik sebuah karya atau fenomena. Ada relasi di antara keduanya yang bisa ditafsirkan. Ah…mudah-mudahan saya tidak terlampau bergenit-genit kata. Yang ingin saya utarakan di sini, banyak karya seni yang ditampilkan di pasar seni ITB merupakan gambaran realitas dewasa ini. Banyak karya seni yang mencoba berbicara dan menyampaikan realitas sosial, semisal tabung gas 5 kilo yang digantung berjejer setinggi 5 meter, photo-photo yang mencerminkan ekspresi maskulinitas berbagai profesi mulai dari tukang parkir, satpol pp, polisi, pemuda pancasila, dan anggota Viking yang digambarkan lebih garang daripada polisi. Ada pula beragam karikatur yang mengangkat tema kesadaran lingkungan. Sedikit yang saya tanggkap karena terlampau ramainya suasana, namun ada satu hal yang membuat saya sejenak merenung selepas melihat sebuah pertunjukan.

Dalam sebuah kompleks taman yang dirancang begitu natural, semirip persawahan dengan pot-pot plastik padi, pohon-pohon rindang, rerumputan yang cukup lebat, dan diaksesorisi dengan alat-alat pertanian tradisional serta beberapa gubuk yang teduh, saya mendapati sebuah band keroncong dipentaskan di sana. Band dengan personil orang-orang tua renta yang masih mahir memainkan alat.

Adapula permainan musik karinding (kalau tidak salah), sebuh musik tradisional Sunda, yang juga dipertunjukkan. Lalu, saya dapati sekelompok penonton, tua dan banyak pula yang muda, dengan khusyuknya mengapresiasi. Entah terbawa suasana pedesaan, entah karena kesyahduan musik, hari itu dengan spontan saya terhanyut untuk turut menikmati. Selepas pertunjukan selesai, para penonton bertepuk tangan sewajarnya.

Manakala orang-orang berdatangan dipadukan dengan suasana pedasaan (plus Pak tani dan Bu tani, pare serta penggilingannya) yang menyejukkan, Rasanya ada kesakralan yang muncul begitu saja. Sejatinya dekorasi di sana adalah rekaan, tapi toh apresiasi penonton terhadap musik dan suasana adalah spontanitas yang lahir atas ketertarikan dan sensasi yang dirindukan (barangkali). Apresiasi yang bukan semata manipulasi dan perayaan keriangan, melainkan apresiasi akan tingginya pesan budaya di masa lampau, di mana saat ini begitu langka untuk didapat kembali..

Sekedar berganti menu saya pikir, jika dalam keseharian kita lebih banyak dibesarkan dan dibangun oleh sensasi citra musik pop, ada masanya kita rindu sesuatu yang lain, sesuatu yang terkadang menunjukan ontentisitas budaya serta sejarah di dalamnya. Sederhananya kita rindu sesuatu yang segar di telinga tetapi bukan sesuatu yang seragam, menjenuhkan, dan sebatas modifikasi tema.

Adakah saya sok elitis? saya harap tidak. Melihat cukup banyaknya anak muda yang mengapresiasi musik keroncong pada hari itu, rasanya tidak terlampau salah jika saya berargumen bahwa generasi kita, generasi yang dibesarkan oleh media, akan (dan sudah barangkali) mengalami titik jenuh terhadap pertunjukan. Sebutlah pertunjukkan musik yang cenderung mereproduksi ulang atau sekedar merayakan keriangan sebuah pertunjukan lalu kehilangan seni sebagai objek itu sendiri,  yang merupakan hasil cipta karsa manusia. Kita kehilangan makna karena kita lebih banyak disuguhi kemasan yang menggairahkan, serta cenderung industrialistik.

Berrefleksi pada live musik keroncong  yang ditampilkan di pasar seni ITB dengan kesederhanaan pengemasan, sedikit menggelitik saya untuk membandingkan dengan live show musik yang biasa kita lihat di depan TV. Ya, barangkali  untuk sekedar menginterpretasikan realitas budaya kontemporer, di mana kita dibesarkan dan dibentuk.

Dua sampai tiga tahun ke belakang acara live show musik di TV mulai menjadi trend, booming, lalu menghasilkan banyak seniman-seniman baru, baik itu band, duo, atau solo. Sungguh positif dalam menghasilkan kuantitas karya, namun yang menarik di sini adalah bagaimana sebuah pertujukan live show musik TV dikemas dan dikonsepkan. Ada beberapa tanda, konsep yang bisa kita bongkar. Saya sendiri berpendapat, live show musik di TV lebih banyak menawarkan ecstasy keriangan pada penontonya. Ecstasy yang dibentuk dan dikonsepkan. Mari kita bongkar konsep-konsep tersebut.

Masa kini, masa kita berada sekarang adalah masanya media, media mampu memanipulasi realitas, termasuk dalam memproduksi live show musik. Media tersebut menampilkan beragam permainan konsep. Paling tidak ada lima komponen konsep yang bisa dikombinasikan.

Pertama, konsep yang ditawarkan adalah kebaruan. Pada aspek ini, media selalu menyenangi hal-hal yang terbaru: band baru, gaya baru, lagu baru, ring back tone terbaru, tangga musik terbaru. Pergantian akan selalu dinamis dan cepat, maka para performer baru semisal band akan selalu muncul dalam rentang waktu yang cepat, begitu pun lagu baru akan bermunculan sama cepatnya walaupun dengan tema yang kebanyakan sama: cinta dengan berbagai variasinya.

Kedua, kesuksesan sebuah live show musik di TV kemungkinan terletak pada pembawa acara dan penonton yang datang langsung ke studio. Dua komponen ini yang membentuk konsep keriangan rekaan. Itu sebabnya para pembawa acara, yang kebanyakan terdiri dari 3 sampai 4 orang, selalu berusaha membawa suasana riang dengan candaan, guyonan, terkadang menjurus urakan dan rasistis demi membentuk suasana riuh penonton, meski terkadang cenderung dipaksakan.

Adapun komponen penonton dalam jumlah banyak memang sengaja ditampilkan, direka, diarahkan untuk selalu riuh, antusias, seolah apresiatif tapi berlebih. Akhirnya bagi para penonton yang hadir di studio, keriuhan adalah tuntutan dalam mengemas suatu pertunjukan yang menarik. Penonton hampir selalu berteriak dengan segala gerak-geriknya.

Ketiga, objek yang dinikmati adalah performer. Komponen ini adalah hidangan utama. Ketika performer datang, entah itu band atau solo yang membawakan lagu, penonton akan berteriak (seolah) girang, bahkan kadang ikut bernyanyi. Konsep yang ditawarkan adalah semata fetisisme performer. Dengan kata lain, lebih banyak ditentukan oleh daya tarik atau tampilan performer-nya. Boleh jadi musik yang dibawakan tidak lagi menjadi objek apresiasi utama, tetapi bagaimana ketampanan atau kecantikan performer yang menjadi daya pikat utama. Kadang kala menjual maskulinitas, terlihat gagah-gagah dan modisnya para personil band. Kadang pula menjual seksualitas, dengan menampilkan penyanyi-penyanyi dengan dandanam yang tidak jarang menggoda. Belakangan aspek maskulinitas lebih banyak ditemui karena lebih banyak menampilkan pria-pria modis dalam sebuah band.

Konsep keempat yang berusaha dibentuk dari sebuah live show musik di TV adalah konsep kepalsuan. Konsep kepalsuan ini berkenaan dengan tingkah laku penonton yang diatur, kurang alamiah. Begitu pun kepalsuaan dalam penampilan para performer-nya. Bukan rahasia lagi bahwa kebanyakan band atau penyanyi lebih senang menyembunyikan keterampilannya dengan lips sing atau sebatas karaoke dengan musik yang diputar oleh mesin. Akibatnya, esensi pertunjukan yang memperlihatkan kemahiran dan kreasi menjadi sirna.

Konsep terakhir yang ditawarkan oleh live show musik di TV adalah tata panggung. Saya lebih senang menyebutnya dengan tata panggung manusia. Mengapa demikian? Karena keindahan tata panggung tidak lagi difokuskan pada artistiknya dekorasi tapi daya tarik panggung terletak pada jumlah penonton atau jumlah manusia yang dipajang sebagai salah satu atribut dekorasi. Akibatnya, jumlah penonton dan panggung menjadi satu kesatuan. Semakin banyak penonton berbaur di panggung, semakin tampak heboh suatu live performance, tampak dinamis dan lebih hidup. Adapun fokus bidikan kamera memang menjadikan satu paket antara panggung, penonton, dan si artis selaku performer. Dari sinilah keriangan itu terbentuk.

Rangkaian konsep-konsep dan tanda yang terdiri atas: konsep kebaruan, keriangan rekaan, fetisisme performer, konsep kepalsuan, dan tata panggung manusia. Kesemuanya menjalin sebuah relasi yang berusaha dibentuk untuk disuguhkan kepada penonton di depan tv. Menawarkan suatu ecstasy keriangan rekaan, yang sedikit banyak mulai mengikis nuansa penikmatan musik itu sendiri sebagai sebuah karya seni hasil cipta karsa manusia. Yang ditonjolkan adalah daya tarik kemasan pertunjukan.

Satu poin penting yang mungkin layak jadi catatan adalah kejujuran dalam mengapresiasi. Manakala suatu karya seni disuguhkan dengan rekaan alias kepalsuan realitas, maka apresiasi atas karya seni yang muncul pun hanya sebuah kelatahan yang distimulus oleh produksi pertunjukan, lalu berbuah menjadi trend. Dari titik ini maka kita telah kehilangan makna apresiasi.

Demikian kiranya sedikit corat-coret mengenai relasi konsep-konsep dalam live show musik di TV. Memang bukan merupakan kajian yang komperhensif, sebatas kajian interpretatif yang sangat terbuka bagi ruang diskusi. Menurut hemat saya, pada dasarnya mengapresiasi seni seperti musik dan pertunjukan di media, bukan terletak pada baik dan buruk tetapi bagaiman kita disediakan pilihan untuk mengapresiasi. Di dunia yang semakin dibentuk oleh industrialisasi budaya dan budaya komsumsi, sudah menjadi kewajaran ketika kita mengkritisi, memilah, untuk sadar di mana posisi kita dalam perkembangan budaya yang begitu pesat dewasa ini.

 

H.G. Budiman (tertarik dengan budaya pop)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: