Ada Apa dengan Babak Kedua?

Tentu saja kita menlongo kemarin sore (30/10). Terhenyak, kecewa, dan nafsu tak karuan. Betapa tidak, pertandingan yang digadang-gadang sebagai derby-nya Indonesia seolah pertarungan beda level, Adakah saya berlebihan? Jika melihat pertandingan sore tadi, Persib seperti ”diajari” kembali bermain bola.

3-0 lebih dari cukup untuk menggambarkan sebuah kekecewaan. Kita semua pasti tidak rela ketika The Jak yang congkak merasa jumawa, tapi itulah adanya. Kita tidak bisa apa-apa. Pasrah pada kehinaan. Kita ingin berbuat sesuatu, tapi toh kita bukan pemain yang berjuang di lapangan. Kita hanya bisa pasrah dan melongo. Ya… pasrah dan melongo macam maung dicabut gigi.

Tanpa bermaksud mengecilkan perjuangan pemain, kerja keras pelatih dan manajemen, rasanya harus ada proses refleksi dan mengkaji kesalahan masing-masing. Barangkali ini buah pemaksaan strategi atau mungkin buah dari pemaksaan di pre-season lalu. Ataukah mungkin ini buah “profesionalisme” yang digembor-gemborkan? Kita memang tidak tahu pasti kondisi apa yang menimpa skuad Persib, yang kita tahu apa yang nampak di lapangan. Persib kalah. Pemain kecewa, manajemen kecewa, pelatih kecewa. Kita semua menanggung kekecewaan.

Tulisan ini sengaja saya buat sekedar jalan untuk me-manage sebuah kekecewaan, sebelum kekecewaan itu menjelma menjadi cacian dan makian yang tanpa arah serta zonder intelektualitas. Ah…rasanya tidak terlalu baik bila kita terlalu banyak mengumpat.

Mari kita mulai pada intinya. Sekali lagi tanpa bermaksud menggurui, mengecilkan peran pemain, pelatih, dan manajemen, saya mencoba menganalisis pertandingan kemarin sore serta kekalahan-kekalahan sebelumnya. Tentu ini semata penilaian penonton bukan praktisi. Hanya eksperimen “kesoktauan”.

Pada pertandingan kemarin sore, pertandingan melawan PSM, dan juga Deltras, jika kita cermati, gol-gol yang bersarang di gawang Persib selalu terjadi di babak ke-2. Apa yang salah dengan babak ke-2 ?

Empat gol Deltras terjadi di babak kedua antara menit ke-50-an sampai menit 80. Gol kemenangan PSM di Siliwangi dicetak pada menit 70 (kurang lebih). Dan gol Persija di sore yang kelam itu, dicetak pada menit ke-51, 65, dan 77. Sejauh lima pertandingan yang telah dijalani, gawang Markus telah dibobol sebanyak 11 gol. Delapan dari sebelas gol terjadi di babak kedua. Artinya sekitar 79% kebobolan Persib terjadi di babak ke-2.

Jika ditilik dari angka-angka tersebut, sudah barang tentu ada sesuatu yang salah dengan skuad Persib di babak kedua. Hipotesis yang mungkin bisa dikemukakan, antara lai: 1) ketidak mampuan mengatur tempo, 2) fisik yang menurun, 3) atau hilangnya konsenterasi. Namun yang bisa merangkum kesemua itu, saya kira Persib telah kemilangan pragmatisme dalam bermain, termasuk dalam mengatur tempo dan penguasaan bola. Ketika era Jaya Hartono, meskipun tidak selalu tampil baik,  Persib mampu tampil sedikit “pragmatis” dengan penguasaan bola yang relatif terkontrol, tidak memaksa tempo cepat, serta organisasi pertahanan terhitung baik. Pola ini sering diterapkan ketika pertandingan tandang. Walaupun tidak melulu meraup poin, namun kadang kala ampuh meraih satu poin di kandang lawan.

Pragmatisme dalam bermain memang bukan sesuatu yang baik, tetapi di era sepak bola modern cara ini tidak bisa ditampik. Raihan Inter tahun lalu adalah contoh nyata. Kini, Persib di era kepelatihan Abah Jovo, barangkali lebih banyak berubah. Ya, mereka kehilangan unsur pragmatis, tapi toh pola umpan cepat dan menyerang pun belum terbukti efektif, kecuali ketika melawan Persiba, selebihnya mungkin masih ada yang kurang tepat. Hal yang paling layak disoroti di antaranya: lemahnya penguasaan bola dan tempo. Saat melawan Persija, kelemahan itu begitu nampak. Lini tengah Persib terbawa tempo lawan. Ketika lapangan tengah banyak kehilangan bola, maka lini belakang banyak digempur. Dari titik ini, seberapa kuatnya lini belakang akan runtuh juga. Kita harus memaklumi bahwa konsenterasi pemain belakang tidak bisa terus fokus.

Hal yang lebih disayangkan, Jovo nampaknya cenderung memaksakan kecepatan dan power ala Eropa Timur, akibatnya lini tengah Persib lebih banyak kehilangan bola. Masalahnya ini Indonesia, tidak semua pemain memiliki endurance yang bagus. Sayangnya (lagi), tidak semua pemain Persib bisa bermain seperti Hariono. Saya pribadi kadang merasa iba alias karunya melihat Hariono dan Maman pontang-panting menahan gempuran.

Saya pernah terkagum membaca sebuah tulisan tentang statement Xabi Alonso saat masih di Liverpool, kurang lebih begini: “Saya malu ketika tidak bisa bermain baik, saya malu ketika melihat kapten kami, Steven Gerrard bermain habis-habisan di lapangan…” Adakah pemain Persib dapat mencontoh Alonso atau Gerrard??

Kekalahan memang tidak harus selalu diratapi. Mari kita apresiasi perjuangan para pemain. Namun ketika kekalahan menjadi sering, saya khawatir kita akrab dengan kekalahan, lalu memakluminya. Kita khawatir ketika Persipura mampu menang di kandang maupun partai tandang, maka angan-angan kita untuk melihat trofi di Bandung seolah kian tertutup.

Saya, atau barangkali beberapa dari kita yang dilahirkan menjelang akhir tahun 90-an belum begitu tahu hingar-bingar penduduk Bandung merayakan sebuah kejayaan. Sebagian dari kita mungkin bukan pada taraf rindu, tapi kita ingin mencicipi apa yang dirasakan ayah, paman, atau kakek kita kala menyaksikan hegemoni Persib menancap di Indonesia. Apakah kita harus memupuk kesabaran kembali ??

***

H.G. Budiman (Bobotoh rieut)

p.s: sekedar sama-sama berbagi kekecewaan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: