Centurion; Runtuhnya Mitos Tentara Romawi

Banyak sudah film yang mengangkat keperkasaan bangsa Romawi. Mereka, bangsa Romawi, adalah bangsa yang mengaplikasikan ilmu dengan sistematika yang cermat. Mulai dari sistem pemerintahan, seni bangunan, tata kota, dan yang menjadi ciri utama bangsa Romawi adalah sistematika dalam strategi militer. Berbagai keunggulan itu yang menyebabkan bangsa Romawi memiliki wilayah kekuasaan yang luas. Adakah luasnya kekuasaan itu selalu memberi keuntungan? Adakah kekuasaan itu selalu berjaya di tanah jajahan? Film Centurion karya Neil Marshal agaknya mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Kiranya sudah tak terhitung berapa banyak film yang menunjukkan kehebatan bangsa Romawi, namun film Centurion mampu meruntuhkan kehebatan dan mitos bangsa Romawi. Film ini nampaknya berusaha mengekspose ketidakberdayaan Romawi yang kebanyakan tidak diungkapkan dalam film-film lain. Selain itu, sang sutradara, Neil Marshal sepertinya ingin mencoba menyuguhkan kekejaman perang. Darah, jiwa, tangan terpenggal, kepala lepas, dan mayat adalah hal yang lazim, tetapi dalam perang, lebih menyakikan bagi prajurit yang bertahan ketika apa yang diperjuangkan menjadi sia-sia. Seorang prajurit akan kehilangan makna eksistensi diri… sisi lain dari kejamnya perang.

Kisah bermula dengan narasi tentang penaklukan kekaisaran Romawi pada 117 Masehi, dimulai dari Mesir, Spanyol, Laut Hitam, dan terus menyebar hingga Britania Utara (Skotlandia). Di wilayah yang disebut terakhir itulah penaklukan tentara Romawi mendapat hantaman keras: Perlawanan dan strategi grilya bangsa Picts. Peperangan tanpa akhir, tanpa kehormatan, dan bahkan alam pun tak menghendaki kedatangan Romawi, begitulah ucapan Quintus Dias (Fassbender) di awal kisah. Quintus adalah seorang wakil panglima di benteng perbatasan. Quintus berhasil selamat, bahkan satu-satunya orang yang selamat dari serangan membabi buta pasukan Picts. Benteng yang dijaganya takluk, ia menjadi tawanan dan berhasil lepas. Ia di buru.

Di sisi lain, Virilius (West) seorang Jenderal legendaris dari Legion Kesembilan, terpaksa membataklan kepulangannya ke Roma. Di bawah Perintah Gubernur Roma di Britain, Virilius dipaksa membantai habis pasukan Picts pimpinan Gorlacon. Dengan bantuan Etain (Kurylenko), sang pencari jejak, Virilius memipin 3000 pasukan untuk menyelesaikan pertempuran terakhir dan menghabisi Gorlacon. Di tengah perjalanan itu, pasukan Virilius menyelamatkan Quintus yang tengah diburu. Quintus akhirnya bergabung dengan rombangan Virilius.

Alih-alih berusaha membantai pasukan Picts, Legion Kesembilan pimpinan Virilius justru dijebak oleh Etain. Pasukan Picts menyerang tanpa ampun. Kapak berterbangan dan panah menghujam. Dari 3000 pasukan hanya bertahan tujuh orang: Quintus Dias sang Centurion, veteran perang Bothos dan Brick, Macros si pelari marathon, Leonidas seorang tentara junior, Thax manusia penuh tipu muslihat, dan Tarak si koki. Quintus mengambil alih pimpinan, misi terakhirnya adalah membawa pulang sisa legion yang selamat. Bukan perkara mudah karena ia kini berada di wilayah musuh. Ia dan kelompok kecilnya kembali diburu. Adalah Etain, pemburu kejam dan tanpa ampun. Romawi yang tangguh kini diburu. Mampukah Quintus selamat?

Centurion memang bukan film yang bisa disebut sepektakuler. Bukan film kolosal dengan megahnya pasukan dan peperangan yang mencengangkan. Centurion hanya sepenggal kisah dari usaha penaklukan dataran Inggris oleh tentara Romawi. Film ini mengkin mengingatkan kita pada film King Arthur yang diperankan Cliff Owen. Film yang lebih banyak menggambarkan perjuangan suku pedalaman di Britania dengan kekejaman dan nuansa barbar yang begitu kental. Menariknya film ini tidak lepas dari gambaran alam yang teramat indah. Lembah, hutan pinus yang lembab, padang rumput, serta sungai-sungai yang mengalir menyuguhkan suatu nuansa eksotis, seolah menggambarkan dataran Britania yang belum terjamah dan misterius di masa itu. Inilah nilai plus dari film ini. Selain itu, ketegangan di dalam film mampu dibangun karena kepiawaian Kurylenko dalam memerankan Etain sebagai seorang pemburu yang kejam dan tanpa ampun.

Centurion adalaha film yang menunjukan runtuhnya mitos-mitos tentara Romawi oleh sekelompok suku barbar di dataran Britania. Dari film ini kita tahu, bahwa penaklukan itu selalu ada titik batasnya. Hitler terhenti di Stanligrad, pasukan Napoleon tumbang di Waterloo, dan tentu saja Legion Kesembilan pimpinan Jenderal Titus Flavius Virilus dibantai di Britania Utara. Hegemoni Romawai tak menancap di sana.

 

H.G. Budiman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: