Obama Datang, Pemerintah koq Lebay

Ya… kita semua tahu Obama memang orang hebat. Kita tahu Obama merupakan presiden kulit hitam pertama di Amerika. Kita juga tidak mungkir bahwa ia orang cerdas. Paling tidak kita bisa melihat dari kemenangannya melawan McCain. Ia memang berjuang dari nol, menghimpun suara dari akar rumput, merangkul masyarakat Amerika secara personal melalui teknologi dan jaringan. Strateginya macam multi level marketing. Tapi bukan semata strategi politiknya yang menjadi daya tarik. Ia punya sesuatu yang barangkali menjadi faktor penarik yang kuat bagi pemilihnya di Amerika sana. Suka atau tidak suka, kita harus mengakui bahwa Obama punya kharisma. Usianya muda. Bagi masyarakat Amerika, Obama membawa rasa baru. Rasa sebuah perubahan. Ia juga cukup beruntung punya latar belakang sosial yang unik. Lahir dari seorang ibu campuran Inggris dan Jerman, bapaknya seorang Kenya, masa kecilnya mengecap pahit manisnya negara dunia ketiga: Indonesia.

Dari sini Indonesia turut terseret. Ketika berita di tv menggambarkan Obama, mengupas profilnya, Indonesia kecipratan. Ketika persaingan Obama vs McCain memuncak dalam pemilu, nama Indonesia ikut sering disebut karena toh biografi Obama semakin sering diputar di tv. Ketika itu media di Indonesia ikut latah. Obama dan Indonesia banyak diekspos. Buku biografinya menjamur, ulasan tentang dirinya di media lokal bak hujan di bulan Desember, bahkan pemilu Amerika ikut diliput media-media di Indonesia dengan semarak. Serasa sama pentingnya dengan pemilu di negeri sendiri. Media-media di Indonesia menjual sosok Obama. Masyarakat menonton, dan mereka senang-senang saja. Kita awam dan kita suka ketika Indonesia disebut.

Manakala Obama berjaya di negerinya, banyak masyarakat kita yang ikut-ikutan merayakan selayaknya orang-orang Amerika. Adakah itu suatu kebodohan ? atau semata ikut berbangga diri atas Obama yang pernah tinggal di Indonesia?

Selasa lalu Obama berkunjung ke Jakarta (9/10). Presiden kidal ini menghabiskan lebih dari 24 jam untuk jalan-jalan alias plesiran. Ya, plesiran, paling tidak itu yang bisa saya tangkap. Bukankah kedatangan Obama sebatas romantisme?  Ia melawat ke Istana Negara, istirhat di Shangrila, dijamu kembali di Istana Negara, sedikit melongok Istiqlal, dan kuliah umum di UI. Selama itu, media-media di Indonesia mengekspos Obama habis-habisan. Media mengulang-ngulang ucapan Obama: “Terima kasih… atas nasi goreng, bakso, the emping, the kerupuk…”. Kita tertawa saja. Sebagian dari kita mungkin tersenyum dan bangga karena ternyata eksistensi kita diakui oleh presiden negeri adidaya tersebut. Kita ingat wawancara Putra Nababan dengan Obama:”… Nasi goreng, bakso,… te..sate..(sambil tersenyum)”. Sebuah bahasa politik yang ringan. Sebuah pengakuan bahwa dirinya dibentuk pula oleh budaya Indonesia.

Sejauh itu memang tidak ada yang salah, tapi sayangnya ada yang tidak wajar dengan penerimaan Mr. Yudhoyono.  Ada kewajaran yang hilang. Rasanya pemerintah kita terlalu menempatkan diri bagai “bawahan”. Terlepas dari sebagian besar masyarakat yang cenderung yang mengelu-elukan Obama bak hero pulang kampung, nampaknya pemerintah kita menyiapkan segalanya dengan serba spesial. Pengamanan spesial, jamuan spesial, press conference spesial, mimbar spesial dengan logo elang Amerika menempel, lagu spesial, penghargaan spesial untuk sang bunda, ah.. nasi goreng dan bakso spesial. Semua serba ekslusif dan dimaklum. Jalan Medan-Merdeka dikosongkan sejauh 10 km, dimaklum. Para menteri yang notabene mayoritas muslim bersulang Wine, dimaklum. Hingar bingar perjamuan di tengah rakyat Yogya yang meringkuk di Maguwoharjo, dimaklum. Mesjid Istiqlal di pagi hari disterilkan, dimaklum.

Mr. Yudhoyono agaknya lupa bahwa Obama belum berkontribusi konkrit bagi Indonesia. Pemerintah mungkin lupa, kerjasama Indonesia-Amerika yang sudah-sudah lebih banyak berpijak pada ketidakseimbangan. Tidakkah Freeport lebih banyak menyisakan kekeroposan alam daripada keuntungan financial. Kita juga mungkin teledor mengingat bahwa serangan Israel ke Palestina kemarin hari tidak ditanggapi dengan statement pengutukan oleh Amerika. Adakah tindakan Israel tanpa dukungan Amerika?

Mr. Yudhoyono kiranya tahu bahwa hubungan diplomasi yang dipertunjukkan kemarin sore mungkin hanya semacam pameran kenaifan. Pemerintah agaknya menampik bahwa banyak kebijakan Amerika belum sejalan dengan visi masyarakat kita: menentang semua bentuk penjajahan di atas bumi.

Kita mahfum bahwa Barry dewasa lebih jago berdiplomasi, pandai memikat hati publik, punya senyum yang menawan, dan kecerdasan ala kaum muda yang dipertunjukkannya lumayan inspiratif. Cukup alasan untuk menaruh simpati pada Obama. Namun, saya kira kita harus memisahkan antara ketertarikan kita secara personal-emosional (kalau ada), dengan kebijakan politik Amerika. Menyukai Obama bukan serta merta menghamba pada Amerika atau mengiyakan semua kebijakan politik mereka.

Obama memang pernah berpidato, ia ingin Amerika bukan dikenal kuat secara militer, tetapi kuat secara moral. Adakah ini klise? Di lain kesempatan ia menyatakan ingin menjalin hubungan baik dengan Islam. Mungkinkah sekedar isapan jempol? Tentunya kita masih menanti sesuatu yang nyata. Jika pernyataannya memang terbukti, kita boleh sedikit apresiatif, dan itu wajar saya kira.  Minimal, pernyataannya  bisa  menjadi poin plus Obama dibandingkan Presiden Amerika yang sudah-sudah. Hanya saja, ada baiknya kedatangan Obama disambut dengan wajar sebagaimana penerimaan Presiden kita terhadap Presiden Austria, Heinz Fischer. Dengan sikap wajar, akan nampak kesetaraan. Tak ada istilah semacam melayani dan dilayani. Ketika pemerintah mampu bersikap sewajarnya, maka masyarakat akan melihat tanpa kecurigaan, tanpa defensivitas yang berlebihan. Lalu, kala itu bisa terjadi, kita bisa sama-sama menikmati nasi goreng, bakso, dan kerupuk dengan nyaman sebagaimana Obama menikmatinya kemarin malam.

***

H.G. Budiman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: