Siapa Pahlawan Menurut-mu?

Sungguh ini bukan pertannyaan mudah, apalagi bila dikaitkan dengan pilihan hati. Saya justru terjebak antara idola atau pahlawan yang “benar-benar” pahlawan. Tentu jika itu pahlawan, dengan asumsi memiliki jasa besar bagi negara, saya tak akan ragu menyebutkan Sjahrir, Tan Malaka, Hatta, dan Soekarno, tapi tak sampai hati saya untuk mengarahkan pada founding fathers itu. Lalu, manakala pilihan itu adalah idola, maka saya akan lebih senang menyebutkan John Lennon atau mungkin Dylan, atau mungkin Chairil.

Jika lah demikian adanya, maka saya akan menjatuhkan pilihan saya pada Soe Hok Gie. Dia mampu mengakomodasi keinginan saya akan sosok pahlawan dan idola. Entahlah apakah sosok ini saya pilih karena mitologisasinya, romantisme angkatan ’66, atau mungkin karena memesonanya Nickholas Saputra memerankan Soe Hok Gie dalam film. Tapi satu hal yang pasti,  ia adalah pahlawan kaum muda, karena ia muda abadi dengan segala idealismenya yang abadi pula. Tak sampai usia 27 tahun,  kejamnya Semeru mencabut nyawanya.

Mungkin tidaklah seberapa jasa Gie terhadap negara ini, bumi dan langit jika dengan Sjahrir, Hatta, atau Soekarno. Namun ia adalah ”Manusia Baru” yang dilahirkan setelah kemerdekaan 1945, ia memiliki arah perjuangan yang berbeda pula dengan generasi sebelumnya. Manusia-manusia baru ini, dilahirkan dalam suasana yang penuh optimisme, penuh keterbukaan pada dunia Barat, mewarisi semangat progresif-revolusionernya Soekarno, namun sayang mereka besar dalam demoralisasi di segala bidang dan kehilangan kepercayaan terhadap generasi-generasi terdahulu. Sungguh serba paradoksal.

Lalu kenapa pula ia layak disebut pahlawan? Menurut saya, dalam kondisi yang paradoksal tadi, ia selalu mencari kemungkinan dari ruang-ruang ketidakmungkinan agar kemungkinan untuk perubahan itu dapat terbuka. Gie bukan aktivis musiman, bukan intelektual bermental teknokrat yang selalu mencari solusi atas masalah politik-ekonomi lalu berdamai dengan pengusa, bukan pula sok mewakili rakyat tapi rebat-rebut kuasa. Ia adalah cendikiawan. mengutip perkataan Daniel Dhakidae, Gie merupakan profesional rebel dan enternal oppositionist. Ia menempatkan diri diseberang penguasa, maka tak ragu menelanjangi penguasa atas kesalahan-kesalahannya, membongkar masalah-masalah sosial, politik, dan ekonomi. Hal ini menjadi luar biasa, karena ia hidup dalam zaman yang penuh tirani, banyak bicara mungkin tembak mati.

Lalu hal macam apa yang ia buat? Gie bergerak di bawah tanah, sempat ia tergabung dalam Gerakan Pembaharuan Indonesia di bawah pimpinan Sumitro. Gerakan ini bertujuan menggantikan pemerintahan Soekarno secara radikal. Maka gerakannya fokus pada infiltrasi dan penetrasi ke dalam kaum cendikiawan, juga penyebaran pamfelt-pamflet gelap yang provokatif.

Soe Hok Gie adalah salah satu dari mereka yang menjadi arsitek gerakan-gerakan mahasiswa pada awal tahun 1966. Dia yang mengotaki semacam long march untuk gerak jalan yang menuntut penurunan harga bensin, penurunan harga karcis bis kota. Dia juga, ketika berhadapan dengan tentara yang masih membela Soekarno dengan panser-panser, yang mengambil tindakan nekad merebahkan diri di depan panser, sehingga panser-panser dipaksa menghentikan gerakannya. Soe Hok Gie sendiri bukan ahli memimpin gerakan lapangan, tetapi dia sering menjadi auctor intellectualis di baliknya. Maka semua gerakan itu ber “crescendo” dan mencapai puncak ketika runtuh seluruh rezim Soekarno de facto pada tanggal 11 Maret 1966 (Dhakidae, 2005:12). Setelah Soekarno runtuh, perjuangan tampaknya belum berakhir bagi Gie, ia bagaimanapun adanya, telah mencium benih-benih kebatilan baru diantara renyahnya masa pembangunan. Dan tulisan selalu menjadi senjata bagi Gie. Maka tepatlah pula perkataan Bung Hatta dalam Daulat Ra’jat 10 Desember 1933: “Janganlah mencita-cita adanya pemimpin-pahlawan bagi Indonesia, melainkan kehendakilah adanya pahlawan-pahlawan yang tak punya nama.’’ (Mohamad, 1997: 58)

Seperti Robert Wolter Monginsidi, Soe Hok Gie muda abadi, idealisme ia bawa sampai mati. Mungkin beruntung pula ia mati muda, Gie tak sempat berbuat kebodohan macam pendahulu-pendahulunya: Tan Malaka mati karena dituduh memberontak, Soekarno runtuh karena diktator, Hatta lebih banyak diam di akhir-akhir, dan nuansa korupsi di era Soeharto tentu tidak ia cicipi, sebagaimana teman-temannya rasakan. Soe Hok Gie tentulah manusia biasa, sisi manusiawinya dekat dengan keseharian kita. Kegemaran Gie pada film, lagu-lagu Joan Baez, dan mendaki gunung (penuh romantisme masa mahasiswa), mungkin hal ini bisa sedikit menyetir kita untuk bersimpati padanya. Ah..adakah saya terjebak dengan image Gie dari filmnya Riri Riza? Entahlah. Tapi, saya kira catatan hariannya memberikan gambaran akan sosoknya. Dan menginspirasi tentunya.

***

H.G. Budiman

Iklan

2 thoughts on “Siapa Pahlawan Menurut-mu?

  1. yogi berkata:

    setuju bos. kalo kata The Dark Knight mah, “either you die a hero or you live long enough to see yourself become the villain”. dan Gie adalah satu dari mereka yang “beruntung” mati muda, die as a hero. karena yah siapa tahu kalau dia panjang umur dia jadi anggota dewan dan terlibat korupsi.yah, who knows.

    good writing boi, as always.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: