Timnas Multietnis, Multi Atraktif

Menyesakkan. Paling tidak itu kata yang bisa mewakili Timnas Malaysia. Harapan rakyat Malaysia di seberang sana pastilah meleleh. Sori bos, kali ini kami yang menang. Dan telak pula. Jadi, kali ini silahkan nikmati saja kekalahan kalian.

Betapa tidak mereka kecewa, asa untuk menjungkalkan Indonesia di Gelora Bung Karno sempat mengambang di depan mata. Indonesia sempat nervous, gugup dan terburu-buru dengan direct passing yang intens. Kita kecolongan setelah Hamka Hamzah yang terlalu rusuh, mampu dikecoh pemain depan Malaysia. Alhasil Idlan Talaha menjebol gawang Markus di menit ke-18.

Kita beruntung, kegugupan pemain tidak berlangsung lama. Lewat aksi individu Nasuha dan crossing tajam yang menusuk dari sayap kanan pertahanan Malaysia, Bachdim mampu mengecoh Asrarudin. Dengan cerdik pemain berdarah Belanda ini melakukan dummy untuk membiarkan gol bunuh diri terjadi bagi pemain Malaysia. Dan boommm…! Satu sama. Momentum bagi Indonesia. Gol lanjutan terjadi dari buah kerja keras Utina. Umpan matangnya pada Gonzales mampu diselesaikan dengan brilliant. 2-1, Indonesia di atas angin.

Babak kedua berlangsung dengan lebih rileks, Bachdim lebih banyak membuka ruang bagi lini penyerangan Indonesia. Lewat one-two toch dengan Ridwan, bek Malaysia kalang kabut dan Ridwan melakukan finishing mematikan dengan kaki kanan. 3-1. kondisi lebih mudah bagi Indonesia. Gol selanjutnya lahir dari si pemain ceking nan cerdas: Arif Suyono. Memanfaatkan ketololan bek Malaysia, Arif menghukum lewat sebuah ekseskusi yang dingin. Lalu pesta ditutup oleh gol Bachdim sang maestro lini depan. Bachdim menyocor umpan crossing Okto untuk membuat kiper Malaysia, Allawee Ramli sekali lagi tertunduk. 5-1 untuk Indonesia. Pemain lega, rakyat puas bersama sentimen-sentimen yang membuncah.

Terlepas dari kelemahan yang masih klasik, seperti kesulitan mengantisipasi bola serangan balik, dan terlalu cepat membuang bola, sejatinya Timnas Indonesia kini memiliki rasa baru. Rasa baru racikan Alfred Riedl: sebuah gaya multietnis yang multi aktraktif. Bukan dalam maksud terlalu memuji-muji Timnas, hanya saja kehadiran beberapa pemain telah menghadirkan atmosfir baru yang tidak monoton.

Di lini belakang ada Nasuha dan Zulkifli. Dua bek yang cukup prosfektif dalam sepak bola Indonesia. Baik Nasuha, maupun Zulkifli punya crossing-crossing yang bagus. Malam tadi, Nasuha mampu bermain baik, sedang Zulkifli masih terlihat nervous. Belum kita lihat crossing-crossing tajamnya seperti di Arema. Mungkin hanya perlu sedikit waktu bagi Zul untuk tune in ke dalam tim.

Lini tengah masih di huni muka lama dan baru. Ada Utina dan Ridwan. Tetapi kali ini kemampuan Ridwan dalam hal finishing lebih bisa tereksplor. Jika dulu ia ditempatkan di bek sayap kanan, kini ia memenpati pos gelandang sayap kanan. Ada pula dua pemain muda yang determinatif: Bustomi dan Okto. Bustomi mampu tampil baik, menjaga kedalaman dan mengcover Utina. Adapun Okto adalah warna baru dari tanah Papua yang notabene hampir selalu menempati pos kiri di Timnas. Ia suksesor Boas, walau belum sehebat Boaz, kecepatannya merepotkan lawan. Okto bercokol di kiri sebagaimana senior-seniornya macam Ortizan dan Erol Iba.

Sementara itu, di lini depan duet Bachdim-Gonzales benar-benar  menjadi warna baru bagi gaya serangan timnas. Ada khas Eropa yang cerdas, skematis dan efisien, ada nuansa latin dengan sentuhan skill serta finishing yang dingin. Duet ini, saya kira menjanjikan untuk menutupi kelemahan timnas selama ini, yaitu finishing yang terburu-buru dan borosnya peluang. Gonzales mampu menjawab itu, sementara itu Bachdim mampu membuka ruang dan membuat bek lawan kalang kabut. Duet unik yang menarik. Satu poin plus lainnya adalah kemampuan keduannya untuk menjadi wall, menjadi tembok pemantul bagi lini kedua untuk melakukan tusukan. Tanpa niat merendahkan striker lain, Gonzales dan Bachdim punya visi dan intelegensia di atas rata-rata. Dan keduannya cocok.

Dengan amunisi yang demikian, rasanya Indonesia punya modal cukup untuk menggondol gelar juara. Belum lagi banyak opsi fresh di bangku cadangan. Ada Dendi Santoso yang cepat dan efektif menyisir sisi sayap, ada Arif Suyono yang skillful juga pandai mencari posisi, juga ada nama Yongki Aribowo yang eksplosif dan cepat di kotak penalti macam Inzaghi. Jangan lupakan pula Eka dan Tony yang sudah mulai matang untuk menempati lini tengah Indonesia. Dan kematangan BP kini bisa menjadi opsi terdepan.Dengan skuad yang ada rasanya tidak ada gap yang terlalu jauh antara inti dan cadangan.

Itu semua adalah warna Indonesia dengan berbagai gayanya yang khas. Sebuah representasi dari gaya multikulturalisme Indonesia. Sebuah warna khas Nusantara yang  beranekaragam. Kayanya keberagaman ini belum tentu dimiliki Thailand, Singapura, atau Vietnam. Keanekaragaman ini milik Indonesia. Multietnis yang dimiliki Indonesia mengingatkan saya pada skuad Prancis. Kini kita tidak perlu sok malu-malu lagi ketika pemain berdarah Belanda atau Uruguay menerapkan Garuda di dada, toh mereka membuktikannya dengan integritas yang tinggi di lapangan. Dengan keragaman ini, adakah kita masih menunda untuk segera menggondol Piala AFF ke Nusantara?? Mr. Riedl kami menunggu !!

***

H.G. Budiman (Penggila Bola)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: