Cerita Emak

Pagi ini (10/12) saya membaca Koran Pikiran Rakyat, Headline-nya memuat tentang kebakaran yang terjadi di Pasar Andir, Bandung. Sambil menyuruput teh, dan menghabiskan beberapa batang rokok, saya pelototi berita utamanya. PR melansir bahwa sekitar 700 los di lantai 2 Pasar Andir Kota Bandung ludes terbakar. Penyebabnya diduga hubungan pendek arus listrik. Tidak ada korban jiwa, hanya saja kerugian diperkirakan mencapai puluhan miliar.

Sejujurnya, saya agak heran, rasanya masalah kebakaran di pasar adalah peristiwa yang biasa terjadi di Indonesia, mungkin dalam satu tahun bisa terjadi beberapa kebakaran pasar dalam suatu kota. Entahlah, apakah ini wujud kelalaian manusia atau ada main di belakangnya. Jika ini bentuk kelalaian manusia, rasanya sering betul manusia-manusia di pasar lalai dengan listrik. Tiap kebakaran terjadi, dalihnya adalah hubungan pendek arus listrik yang sering kumat. Tapi, ya sudahlah… toh di sini saya bukan ingin membahas masalah perlistrikkan atau kebakaran, namun peristiwa kebakaran di Pasar Andir itu mengingatkan saya pada hal lain; hal lain yang mungkin bisa memberi makna lebih daripada sekedar kebakaran.

Seorang kawan, ah, seorang sahabat lebih tepatnya, pernah bercerita tentang kios ibunya yang terbakar di Pasar Tanah Abang (kalau tidak salah). Peristiwanya mungkin sudah berlalu beberapa tahun, sudah lama mungkin, dan orang sudah lupa. Sahabatku ini seorang anak dari seorang ibu yang memiliki 6 atau 7 anak (saya agak lupa), dia paling kecil; si bontot begitu kakak-kakaknya memanggilnya. Dari mulutnya yang hobi nyeroscos, saya sering mendengar hal-hal basi terkadang seronok, tapi ketika ia berbicara masalah keluarga atau seputar curhatan hidupnya, saya selalu respek. Dari obrolannya, lama-lama saya sedikit paham betapa sulitnya hidup di Jakarta.

Agustus setahun yang lalu, saya sengaja wara-wiri ke Jakarta, maksudnya ingin menyelesaikan skripsi yang belum rampung; bahan yang ada sudah lumayan tapi belum cukup untuk menyelesaikannya. Saya tidak punya keluarga atau saudara di kota itu, hanya kawan saya itu yang saya tahu. Alhasil, saya sambangi rumahnya. Agak malu dan tak enak hati memang, tapi saya coba menyesuaikan dan berusaha akrab dengan keluarganya; ibu juga abang-abangnya. Mereka baik, juga punya keramahan yang khas Betawi, sekalipun kawan saya ini punya darah Padang, tapi toh gaya Betawi yang dominan, mungkin karena mereka sudah lama tinggal di Jakarta, tepatnya di daerah sekitar Prumpung; sebuah daerah yang bisa disebut sangat padat. Saya numpang di rumah itu hampir satu minggu lamanya.

Rumah itu sederhana dan tidak besar, biasa saja seperti kebanyakan keluarga di Jakarta, ada sebuah warung yang dikelola oleh anak tertua, abang pertama dari sahabatku. Rumah itu hangat, di dalamnya dihuni oleh seorang ibu –sahabat saya dan abang-abangnya memanggilnya Emak—didiami pula oleh empat orang anak laki-laki, satu yang tertua (yang saya sebut duluan di atas) sudah berkeluarga: punya anak yang masih kecil-kecil juga seorang istri, tinggal bersebelahan dengan rumah emak. Tiga orang anak emak yang lain, termasuk sahabat saya itu, tinggal rumah yang sama bersama emak. Anak-anak emak yang lainnya lagi sudah tidak tinggal di rumah itu. Anak-anaknya yang perempuan sudah menikah dan tinggal dengan suaminya, anak laki-laki emak yang kedua masih tinggal di Jakarta tapi jauh dari daerah Prumpung, bersama anak dan istrinya masih sering berkunjung di hari libur.

Saya merasakan betul kehangatan rumah itu, paling tidak, rumah itu lebih hangat dari rumah saya yang hanya ditinggali oleh ayah-ibu, dan adik. Di rumah sahabat saya itu, di rumah emak, tiap pagi selalu saya dengar bising-bising sedikit percekcokkan, tapi saya tahu percekcokkan itu semata wujud saling sayang sebuah keluarga. Sungguh khas Betawi, yang kadang bicara dengan urat-urat leher, agak kurang nyambung barangkali dengan telinga saya yang terlalu nyunda.

Emak kadang komplen pada sahabat saya yang sedikit bermasalah dengan kerapihan. Emak juga sering cas cis cus mengomeli anaknya –sahabat saya itu—tentang susahnya ia bangun di waktu subuh: Lu, ini susah bener kalo disuruh sholat, bangun siang mulu…. tuh, liat temen lu ! bangun subuh-subuh, sholat. Coba… lu bisa kaya gitu. Kira-kira begitu ucapan emak. Saya bisa merasakan di balik omelannya, emak adalah ibu yang tulus dan penuh cinta kasih pada anak-anaknya. Selain itu, emak punya kriteria lengkap seorang ibu: emak pintar masak. Masakannya enak, saya jadi lahap makan sebagaimana sahabat saya yang selalu bilang rindu masakan emak ketika ia di Jatinangor. Hari-hari itu saya membuktikan sendiri mengapa sahabat saya itu selalu bilang rindu masakan emak. Masakan emak agak pedas tapi kami berdua suka. Emak selalu ngomel kalau saya sok malu-malu makan. “ayo dek… makan dulu, emak ga mau anak orang kelaparan di sini, anggap aja rumah sendiri. Sana-sana..  makan gih ma Iman..!!” selama seminggu itu, rasa-rasanya saya ikut menjadi anaknya emak, dan saya suka saja. Saya justru agak insyaf, di Jakarta yang terkenal ganas, masih ada keramhan semacam ini.

Kini koq saya jadi melankolis mengingatnya, mungkin karena sedikit tahu riwayat emak beserta anak-anaknya. Saya tahu dari sahabat saya sendiri yang sering bercerita, juga langsung dari mulut emak ketika kami iseng ngobrol-ngobrol.

Suatu kali, suatu sore selepas kami –saya dan sahabat saya itu—pulang dari Perpusnas, kami duduk-duduk di sebuah lapang basket; meminum es kelapa sambil menghabiskan sebatang rokok. Ia bercerita tentang tuntutannya untuk cepat lulus, maksudnya keinginan ia sendiri untuk segera menyelesaikan kuliahnya. Emak dan abang-abangnya sebetulnya tidak menuntut macam-macam hanya menginginkannya lulus kuliah, tetapi ia sendiri merasakan tekanan yang berbeda; sebuah tekanan yang muncul dari tanggung jawab yang besar berangkali.

Gue ini bisa kuliah karena dibiayai abang-abang gue Be…” begitu katanya. Mungkin itu yang membuat ia –sahabat saya ini–, tak ambil pusing dengan tugas, tak ambil pusing dengan nilai skripsi nantinya, tak ambil pusing pula dengan teman-teman lain yang terkadang agak sinis-guyon dengan bacotnya yang melantur. Yang ia concern adalah bagaimana menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin.

Sahabatku yang berawak kecil dan berbacot liar ini, sering menceritakan pula tentang abang-abangnya juga kakak perempuannya. Nampaknya ia bangga punya kakak-kakak yang baik, dan saya kira itu sangat wajar.

Ia bercerita bahwa abangnya yang paling besar terpaksa menggugurkan pendidikannya. Abangnya yang sulung ini, yang mungkin paling tahu keprihatinan emak sejak kecil, paling merasakan barangkali, karena ia harus peras keringat lebih dulu, bersama emak berusaha menyekolahkan adik-adiknya, ikut berdagang dan bantu-bantu emak jualan di pasar, di kios yang dipunyai emak. Sahabatku bilang, mungkin abangnya yang satu ini yang kurang sukses secara materi, tapi ia punya hati yang lapang, begitu katanya. Kini abangnya punya sebuah warung bersebelahan dengan rumah emak, tidak terlalu besar memang warung tersebut, tapi warungnya selalu ramai, dan kadang sebuah obrolan yang seru dimulai di warung ini. Mengenai pendapat sahabat saya itu, mengenai sukses dan kurang sukses, saya kira ia keliru.

Abangnya yang kedua seorang lulusan STM, kini abangnya yang ini sudah kerja di sebuah perusahaan, hidup lumayan dan berkecukupan katanya, sudah punya anak dan istri. Mungkin jabatannya cukup lumayan di perusahaan yang ia tempati. Kadang sahabat saya ini tinggal di rumah abangnya yang kedua, sekedar menjaga keponakannya yang masih kecil-kecil.

Lalu, abangnya yang ketiga, kala itu masih bujangan. Abangnya yang ini mengecap bangku kuliah, walaupun kuliahnya asik sendiri, dalam artian ia tak membuat repot emak dan kedua kakaknya, bahkan saat wisuda pun tak ada yang tahu, tak ada photo-photo wisuda. Ia asik sendiri, termasuk pula ketika ia sudah kerja; tak ada yang tahu ia pernah kerja nguli, pernah kerja jauh di tengah laut, pernah kerja sebagai “bandul” penyeimbang barang dalam sebuah mesin pengangkut di tengah laut. Seorang sarjana yang bersedia berpayah-payah kerja demi keluarga dan adik-adiknya. Saat itu, abangnya yang ketiga nampaknya sudah menduduki posisi yang lumayan di sebuah perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia. Ia sudah punya motor sendiri, juga punya laptop sendiri. Dari obrolan-obrolan yang biasa dilontarkan, nampaknya abang sahabat saya ini punya mental dan prinsip yang keras: tipe orang lapangan yang mengerti perihnya hidup.

Sahabat saya ini juga punya kakak perempuan, ia sering bercerita tentang kakak perempuannya yang jenius dan religius. Kakak perempuannya itu sudah menikah dan tidak tinggal di Jakarta lagi, ikut dengan suaminya. Kakaknya yang ini lulusan ITB, pernah aktif di Salman kalau tidak salah. Sahabat saya itu pernah bercerita, katanya kakaknya sudah menulis diary sejak SMP; diary-nya rapi dan kadang-kadang berbahasa Inggris pula. Bayangkan betapa pintarnya kakaknya yang satu ini. Bahagia betul seorang ibu yang memiliki anak-anak yang pintar. Masih bisa kulihat tumpukkan buku di rumah emak, buku-buku milik kakak perempuan sahabat saya, kebanyakan buku-buku Islami. Apalagi yang kurang dari seorang anak yang pintar juga solehah ?

Saat itu, sahabat saya dan abangnya yang setingkat di atasnya masih sama-sama kuliah. Abangnya yang terakhir ini kuliah di UNJ, seorang aktivis dan ketua BEM. Masihkan ada yang kurang dibanggakan dari anak-anak macam demikian?

Sahabat saya itu selalu bercerita ingin kuliahnya bisa cepat selesai, dengan lulus kuliah, bebannya pada abang-abangnya terbayar, sekalipun memang abang-abangnya tidak banyak tuntutan, hanya minta ia kuliah yang bener, lulus, dan tak perlu pusing-pusing mikir biaya kuliah. Justru, katanya, dengan kondisi demikian, ia jadi merasa punya tanggung jawab besar untuk jadi orang yang lebih baik. “Gue pengen nanti, abis lulus kuliah, gue bisa cepet kerja, dapet gaji gede, dan nyekolahin keponakan-keponakan gue yang sekarang masih bocah-bocah…”

Selama seminggu numpang, saya semakin merasakan betapa nyamannya keluarga ini. Ada nuansa egaliter antara sahabatku dengan abang-abangnya, tak ada yang sok superior, tapi semua sama; yang tua mengayomi yang muda, yang muda menaruh hormat, meski tampak dengan cara tak lazim, penuh canda, dan banyak kelakar. Obrolan adik dan kakak-kakaknya macam obrolan orang-orang di warung kopi, dan batasan umur pun menjadi luntur; nyaman, hangat, dan bersahaja, ada kesan sederhana tetapi indah.

Suatu kali sempat saya menyempatkan diri ngobrol dengan emak, sambil menonton sinetron RCTI di malam hari. Saya bilang emak hebat, bisa menyekolahkan anak-anaknya yang banyak. Dua hampir lulus kuliah, sisanya sudah pada mandiri dan ada yang berkeluarga. Saya hampir tidak bisa membayangkan. Emak hanya bilang: ya… mungkin memang jalannya dari Alloh de.. emak juga bingung, padahal emak cuma lulusan SD. Emak juga bercerita, katanya dulu emak pernah punya kios kecil di pasar Tanah Abang, emak cukup lama berdagang di sana, cuma beberapa tahun yang lalu pasar Tanah Abang kebakaran, sejak itu emak tidak berjualan lagi. “Abang-abangnya Iman ngelarang emak jualan lagi sana. Ya, emak sih… terserah anak-anak” jawab emak sambil tersenyum ringan. Saya pikir mungkin sebagian besar anak-anak emak dibesarkan dari hasil berdagang di pasar Tanah Abang.

Saat itu saya masih bisa melihat raut ketangguhan di wajah emak, rambutnnya banyak beruban, matanya menyiratkan keyakinan juga nuansanya teduh; mata seorang ibu yang telah merasakan pahit manisnya hidup. Walau sudah tua, gestur tubuh emak nampak masih energik, dinamis, mungkin emak tipikal ibu yang tidak doyan berdiam diri. Kulit emak agak gelap, dan saya tahu, emak banyak menghabiskan waktu dengan bau debu Jakarta serta ganasnya matahari di kota ini. Dan saya pun sadar, mata emak mirip dengan mata Iman; anaknya yang juga sahabat saya itu.

“Sekarang sih emak lebih banyak di rumah, ngurus-ngurus cucu…, cucu emak sudah banyak”. Emak tersenyum ramah. Emak juga bilang, sekarang-sekarang emak cuma ingin cepet-cepet lihat Iman lulus kuliah; harapan sederhana seorang ibu.

Iman tak ada di ruangan itu, hanya kami berdua, kalau Iman ada di situ, saya kira dia hanya bisa cengengesan dan berkelakar barangkali, atau mungkin terharu. Ah, tak tahu lah saya bagaimana reaksi Iman seandainya ada di situ.

Saya tak numpang lama di rumah yang hangat itu. Setelah sumber skripsi saya dapat, saya segera pulang ke Bandung. Saya pulang, sebelumnya saya bersalaman dan pamit pada Bang Buyung, kakak Iman yang tertua; saat itu dia sedang sibuk di warungnya. Kemudian, saya pamitan pada emak. “Emak doain mudah-mudahan cepet lulus. Nanti, kalo udah sampe rumah, telepon Iman ya…. kabari”. Begitu ucapan emak di akhir perjumpaan kami. Saya jadi sedikit rindu kehangatan rumah itu

***

November kemarin, setelah hampir setahun lebih lewat, saya ke Jakarta lagi, kali ini untuk ikut tes CPNS, bukan mencari sumber skripsi lagi, tapi mencari sumber uang. Saya minta dijemput di Ampera Raya selepas tes selesai. Kebetulan hari Sabtu, dan Iman datang dengan sandal jepitnya dan celana selutut; bersahaja dia. Kami mengobrol sambil naik metro mini yang begitu kosong saat itu, kami menuju blok M. Seperti biasa, Iman membacot sana-sini, saya sudah maklum. Iman sekarang sudah kerja di salah satu perusahaan Asuransi terbesar di Indonesia, bahkan salah satu yang terbesar di dunia setelah Axa. Ia baru kerja sebulan, katanya cape, tapi uangnya lumayan.

“Gimana kabar emak ?”

“Alhamdulillah be… emak lagi ke Mekah. Desember baru pulang ke sini.”

“Wah..Hebat.”

“Ya… hasil tabungan abang-abang gue Be…”

Hari itu saya tidur di rumah Iman, di rumah emak yang dulu saya sambangi. Kali ini sepi, sangat sepi. Iman bilang abangnya yang ketiga sudah menikah dan tidak tinggal di rumah ini lagi, tapi rumahnya yang baru berlokasi di dekat-dekat situ. Abangnya yang terakhir lebih banyak sibuk di luar, maklum aktivis katanya. Kini Iman tinggal sendiri menunggu-nunggu emak yang akan pulang dari haji. Kami mengobrol hingga larut dan nonton bola. Rumah itu kini sepi, tapi masih bisa kucium samar-samar bau kehangatan sebuah keluarga yang setahun silam aku sambangi, kini bau kehangatan itu terasa semakin sedap dan gemilang. Emak dan anak-anaknya mungkin representasi orang sukses; orang sukses di dunia dan akhirat. Insya Alloh.

Saya jadi ingin bersalaman lagi dengan emak, juga bersilaturahmi dengan abang-abangnya Iman, siapa tahu saya kecipratan hal serupa.

***

 

Untuk Sahabatku: Ade “Iman” Irmansyah.

H.G. Budiman, 10 Desember 2010 ketika hujan rajin turun.

 

P.S: buat sodara Ade, maaf ..klo ada salah2 data dan fakta, ini hanya interpretasi dan perenungan…. ^.^  (sebuah cerpen ekperimetal !!)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: