Mimpi Bolong (Bagian Akhir)

the time ripens by menekse cam, http://www.toonpool.com

Hari itu aku diam. Masih berdiri melihat Lani dari kejauhan. Lengan mungilnya memencet hp, mungkin membalas sms yang barusan masuk.

Aku masih merasakan denyut-denyut di pelipis kanan dan kiri. Siku tangan kanan dan kiri agak ngilu. Yakin ini pasti gara-gara tegang. Aku semakin dekat dengan Lani. Dia memasukkan hp-nya ke saku. Ia senyam-senyum sendiri, wajahnya mengarah ke lapang basket di bawah, aku lihat juga ke bawah. Tak ada anak-anak basket bermain. Ku lihat sekali lagi, hanya ku lihat anak-anak kelas 3 yang berseliweran pulang setelah hujan reda. Di lantai 2, tempat aku berdiri, lorong-lorong sudah agak sepi. Sudah banyak yang pulang. Aku berpapasan dengan Asep Hendrawan, kiper tim SMA kami. Ia mau pulang. Menuju ke arah ku, di belakang ku ada tangga menuju ke bawah.

“Jat, belum pulang ?”

“Eh, sep…”

” Oia Jat, latihan hari kamis katanya dipending. Lapang tempat kita biasa latihan dipake Persikabo.”

”Terus jadinya kapan?”

”Belum tau, mungkin nanti dikabarin lagi. Saya duluan ya Jat…yu akh..!”

Yo..”

Ia turun buru-buru lewat tangga.

Aku kembali melihat Lani. Ia masih senyum-senyum. Adakah dia tahu aku mau ke situ? Jatungku semakin berdebaran. Ah… tapi sudah kepalang tanggung. Aku paksakan lutut ku yang agak letoy. Ku coba bayangkan lagi akhir sebuah keberhasilan, ketika aku dan Lani ngobrol begitu dekat; sebuah sugesti positif yang ku cari-cari.

Aku jalan lagi, sudah agak dekat, tapi belum sangat dekat karena aku belum bisa melihat lesung pipinya dengan begitu jelas. Rasa tegangku naik turun: cemas-optimis, optimis cemas, cemas-cemas, optimis-optimis, cemas-optimis. Begitu terus silih berganti.

Ketika aku sibuk dengan emosiku sendiri, ku lihat Lani berjinjit, wajahnya tertuju ke bawah sambil melambai. Aku tak mendengar suaranya, hanya bisa ku tanggkap gerak mulutnya: ”hai..!”

Celaka, mungkin dia sudah mau pulang. Sedari tadi dia mungkin menunggu temannya, Astrid, yang lebih sering nongkrong di kantin.

Aku harus buru-buru. Apa ku urungkan saja niat ? aku bingung luar biasa. Sekilas ku ingat semua omongan Beny, aku ingat celetukannya: ” Hari ini atau besok-besok Jat ? aku Cuma ingin kamu segera lega. Segera lepas dari kecemasan.”

Celetukan itu sekarang nempel. Aku coba bayangkan harapanku, impianku, setelah semuanya berjalan baik. Sekali lagi ku ingat-ingat keinginan itu: Aku dan Lani akan ngobrol hari ini, sampai kami lelah bicara, sampai hari sore dan hujan berhenti. Hingga Pak Rosyid menutup gerbang sekolah. Kami akan pulang. Ya, kami akan pulang, tapi tidak sendiri-sendiri. Kami akan pulang bersama. Duduk dalam sebuah bis, bersebelahan. Bicara tentang hal-hal menarik hingga lupa kita telah sampai.

Aku ingat itu. Coba perkuat pondasi keyakinan. Ini pasti berhasil. Pasti bisa kali ini. Aku berjalan selangkah dua langkah. Lani tampak ngobrol dengan seseorang di bawah. Aku pikir Astrid macam-macam saja, kenapa gak naik ke atas dan ngobrol di kelas. Di buat ribet. Aku tak menangkap apa saja yang diucapkan Lani. Aku berdiri tidak terlampau jauh, meski kurang tepat pula jika disebut dekat. Masih ku tunda untuk melangkah. Aku menggerutui Astrid. Mengganggu saja pikirku. Ku mendekat ke arah tembok pembatas, sekedar ingin melihat Astrid dan mencoba memberi sinyal barangkali. Aku harap dia segera menyingkir dari bawah sana. Ku tengok sekejap.

Setelah kurenungkan selama ini, barangkali aku agak sulit mengingat detik-detik itu. Semua berlangsung cepat. Semua ide, logika, berbagai alasan, serta obrolan-obrolan dengan Beny, berkelebatan seketika seperti semburan cahaya yang berkejapan. Agak sulit kurekonstruksi momen itu. Persisnya aku lupa, tetapi sensasinya, nuansanya masih bisa kubayangkan hingga kini. Nuansa ketika semua keluar dari waktu. Semua yang nampak di pelupuk mata terpasung. Aku seolah terpisah dengan dunia di sekitarku, terjebak, terkunci dalam pikiran. Hanya ada prasangka yang akar-akar logikanya sudah tercerabut, sudah tanggal dalam benakku sendiri.

Sungguh, betul, aku serius, peristiwa itu terlalu sulit ku konstruksi. Yang kutahu kedua kaki ku agak kesemutan. Mungkin darah di kaki kurang mengalir lancar atau entah apa tak jelas. Aku lemah, selemah-lemahnya. Jika ku konstruksi ulang semaksimal mungkin, kurang lebih kejadiannya seperti ini:

  • Dari lantai 2 aku menengok ke bawah
  • Ternyata di bawah bukan Astrid
  • Di bawah hanya ada seorang lelaki
  • Berambut lurus, dengan jaket kulit hitam, tampangnya lumayan
  • Kemungkinan besar anak kelas 3
  • Kejadiannya begitu cepat
  • Lani dan lelaki itu saling tersenyum, sangat manis, bahkan terlalu manis
  • Lani Turun melewati tangga
  • Ia tak melihatku di dekat sana, ia buru-buru, dan sangat antusias
  • Keduanya jalan bersama. Sangat cocok. Lelakinya lebih tinggi
  • Sambil berjalan keduanya saling tertawa
  • Sungguh manis dan serasi, seperti pengantin
  • Keduanya jalan menuju parkiran
  • Tanganku pegal-pegal
  • Mereka tampak bahagia, aku lunglai
  • Si lelaki mengeluarkan motor, tak tahu merknya apa. Warnanya hitam
  • Lani dibonceng. Duduknya sangat feminim
  • Sungguh, Lani terlihat manis dan ayu
  • Mereka duduk di atas motor
  • Tangan Lani melingkar erat di pinggang si lelaki
  • Wajahnya ia senderkan pada punggung lelaki berambut lurus itu
  • Mungkin Bogor terlalu dingin bagi Lani. Dan punggung lelaki itu hangat
  • Mereka melaju
  • Masih sempat ku lihat pipi merona itu. Kali ini sungguh dingin, teramat dingin, Aku menggigil
  • Aku tak mungkir, mereka serasi
  • Ingin rasanya mengganti posisi lelaki itu, tapi aku tak bisa naik motor
  • Dia menggondol Lani
  • Aku batuk-batuk
  • Batuk lagi
  • Perutku mulai tak enak, agak kembung
  • Asam lambungku naik lagi. Beny habiskan bekal siang tadi
  • Aku batuk lagi, sedikit mual.

Yang ku ingat dengan cukup baik bahwa aku ada di pelataran sekolah. Berdiri mematung sebelum gerbang ke luar. Aku melihat ke jalan, sejoli itu melaju. Ku dengar suara langkah cepat, berlari dari arah belakang. Saat itu semuanya berseliweran di benakku. Hujan menetes netes kecil, Pak Rosyid duduk di pos, suara kodok di taman pelataran sekolah samar-samar, puisi Chairil yang tadi ku baca kini gentayangan di kepala: Aku hilang bentuk remuk.

Aku rasakan sebuah tangan menyentuh pundakku, itu Beny di belakang. Dia juga melihat ke jalan. Beny menepuk-nepuk pundakku dua kali seperti seorang kakak pada adiknya. Ku lirik Beny ke belakang.

”Kamu tahu ini sebelumnya Ben…?”

Beny menggeleng.

”Jati, kamu belum makan dari tadi. Wajahmu pucat. Aku belikan mie ayam ya…?” datar. Aku diam, mematung tak bersuara. Aku hanya menelan ludah, lalu batuk-batuk lagi dua kali. Saat itu aku hanya ingin memeluk Beny erat-erat, sangat erat.

***

Setelah kejadian itu, aku lebih banyak diam. Beny tidak seribut dulu lagi, mungkin dia merasa ada yang salah. Aku beruntung bisa naik kelas 3. Aku masuk IPS, Beny masuk IPA. Nilai raportku cukup berantakan. Di kelas 3, aku lebih pendiam dari sebelumnya. Aku sudah keluar dari tim bola SMA. Aku dan Beny jadi jarang bertemu. Dia agak sibuk ingin masuk ITB. Aku sibuk dengan bolos dan sakit maag yang lebih sering kambuh. Sejak kelas 3, ayah selalu mengingatkanku untuk selalu membawa nasi, bukan lagi roti lapis.

Aku bertemu Lani dan Beny di acara perpisahan. Saat itu aku mengenakan jas hitam dan dasi hitam, kemeja warna biru gelap. Aku melihat Lani memakai kebaya coklat. Ia nampak anggun. Ia bergandengan dengan lelaki yang berbeda. Aku tak menggandeng siapa-siapa. Hanya sendiri. Terakhir aku bersalaman dengan Lani. Dia Cuma bilang: “hai..Jat, apa kabar?” aku hanya menjawab dengan senyum.

Aku temui pula Beny. Ia mengenakan jeans, jas abu-abu, dan kemeja putih tanpa dasi. Beny bersama Wiwid, pacarnya. Aku mengulurkan tanganku. Kami saling menatap. Mata kami berlinangan. Beny tidak menjabat tanganku, Ia buru-buru memeluk. “Sukses sahabat..sukses..” kata-katanya sungguh hemat, tapi air mataku meleleh begitu saja. Aku hanya bilang: “ Terima kasih banyak Ben….” Beny sesegukkan, matanya agak basah.

Merasa kehilangan Beny. Itu terakhir kali kami bertemu. Beny gagal ke ITB, tapi masuk Paramadina, mengambil Desain Komunikasi Visual. Aku tersungkruk di Unpad, fakultas Sastra.

***

Rokok hanya bersisa satu batang ketika lamunanku selesai. 5 batang sudah habis tidak terasa; tidak terasa seiring ku buka peti memori beserta gembok-gemboknya. Ya, beserta gembok-gemboknya yang sejatinya sudah lama tak ingin ku buka-buka lagi. Harusnya kuncinya ku tenggelamkan saja. Sayang, mimpi tadi, mimpi yang membangunkan ku jam 1 malam itu, yang mengantarkan kunci-kuncinya kembali. Terpaksa harus ku buka, atau lebih tepatnya memaksa untuk kembali pada ingatan 4 tahun silam.

Sekarang aku di sini, bersama asap rokok, lampu jalan, trotoar yang basah, dan hawa dingin Jatinangor. Malam ini mimpi itu membawaku duduk dan kecewa. Agak susah mendeskripsikan sensasi dari mimpi itu. Yang ku tahu mimpi itu sebetulnya indah, bahkan terlampau indah, hanya saja itu tetap mimpi. Ketika mimpi itu melekat dan dibawa pada realitas nyata, mimpi itu hanya menyisakan lubang hitam yang dalam. Lubang sebuah kekecewaan barangkali, karena aku begitu yakin mimpi itu hanya semu, tidak akan pernah terwujud di saat ini atau besok-besok hari. Orang Sunda di sini mungkin lebih senang menggunakan kata “handeueul” untuk mendeskripsikan sensasi mimpi itu. Seperti seorang anak yang dijanjikan kado Natal; kado Natal yang begitu di idam-idamkan. Anak itu mungkin akan menunggu datangnya Santa Claus walau sampai tengah malam. Ketika Santa Claus datang, si anak riang gembira bukan kepalang. Dia mendapatkan kadonya, kemudian Santa Claus pun pergi bersama rusa-rusanya. Si anak antusias membuka kadonya. Pitanya ia buka perlahan. Lalu, apa yang dia dapat?? Yang dia dapat Cuma bungkusan kosong tanpa isi. Melompong. Mungkin Santa Claus terburu-buru dan lupa memasukan kadonya. Si anak tentu menangis sekuat-kuatnya, tapi toh Santa Claus sudah terbang melaju. Mungkin si anak hanya bisa tersedu sedan hingga pagi menjelang.

Sayangnya aku bukan seorang anak yang bisa nangis sejadi-jadinya. Aku hanya bisa mengumpat dan berteriak ”anjing”. Hatiku bolong mendapati mimpi itu. Malam menjadi runyam, kepalaku berantakan. Aku tahu mimpi itu tak akan pernah terjadi, tak akan pernah terjadi. Lebih sialnya, mimpi itu datang begitu saja, tanpa ada terbayang sebelumnya, bahkan sudah kelewat lupa. Datangnya seperti anak panah yang langsung meluncur ke jantung. Menghenyakkan, sekejap.

Mimpi itu menghadirkan keindahan yang semu: Aku melihat diriku sendiri, memakai kaos putih dan celana jeans. Terlihat sangat santai. Aku melihat diriku dan Lani duduk berdua dalam sebuah bangku taman; bangku taman dari kayu. Kami ngobrol berdua tertawa-tawa. Aku sentuh ujung hidung mancung Lani dengan telunjuk. Kemudian kami cekikikan. Mimpi itu bisu, tapi aku tahu kami tampak sangat bahagia. Tangan kami saling bertumpuk, dan jatuh di panggkuan paha Lani. Aku lihat ada beberapa anak berlarian di sekitar taman. Entah anak siapa. Tamannya tidak banyak bunga, tidak ada kupu-kupu, hanya hijau-hijau saja tapi asri, bersih. Kemudian kulihat Beny dari kejauhan, ia berjalan cepat sambil tersenyum; tersenyum sangat damai. Tanggannya menggenggam sebuah koran. Beny menghampiri kami dari belakang bangku. Aku dan Lani kemudian  meliriknya. Kami bertiga ngobrol saling tersenyum sumringah. Tak tahu ngobrol apa. Mimpi itu bisu. Lalu, Beny merangkul aku dan Lani seperti seorang ayah yang menyayangi kedua anaknya dengan gemas. Kami nampak tertawa, meski mimpi itu bisu.

Mimpi itu berakhir ketika aku berteriak ”anjing !”

Mimpi indah yang menyakitkan. Aku lebih takut ketimbang mimpi hantu atau wewe gombel.

”Ker naon atuh yehh…?” Logat aneh itu membuyarkanku dari lamunan tentang mimpi tadi. Oh, ternyata Bung Refki, sahabatku si orang Bukit Tinggi yang sok nyunda.

”Ngapain Jat, malem-malem gini duduk sendiri ?”

”Lu sendiri ngapain malem-malem gentayangan ?”

Gue habis diskusi ma anak-anak di Nalar.” Jawab manusia ceking kribo ini.

“Alaaah…. hidupmu Ki… hanya diskusi dengan diskusi. Ga cukup diskusi tadi siang?”

“Diskusi itu suplemen otak Bung !! biar pikiran kita tajam, ga pikun.” Refki cengengesan.

Aku diam. Meghisap rokokku yang tinggal setengah batang. Asapnya mengepul-ngepul lagi terkena lampu jalan. Ku perhatikan gerak asap itu terbang.

”Ki, tau ga? Ternyata Freud itu memang benar. Aku membuktikannya langsung. Sesuatu yang ingin kita pendam dalam-dalam, atau sesuatu yang kita takutkan atau cemaskan akan muncul di alam bawah sadar kita, akan muncul dalam mimpi-mimpi yang kita alami.”

“Hahaha… sejak kapan lu tertarik dengan Psikoanalisis? Bukannya lu lebih suka Post-Strukturalis ?? macam …sapa tuh.. si botak itu ?!”

”Foucault…!”

”Nah itu… Macam Foucault, Barthes, dan kawan-kawannya yang aneh-aneh.”

Aku diam saja. Aku kira percuma curhat dengan orang yang satu ini.

”Itu kertas apaan Ki..?” Ku tunjuk sebuah gulungan kertas yang dipegang Bung Refki.

”Oh..ini? ini puisi anak-anak. Puisi lu juga ada. Rencananya sih mau dikirim ke koran Tempo buat sabtu besok.”

”Semuanya Ki..?”

”Ya enggak lah… yang bagus-bagusnya aja, nanti Wawan yang milih.”

”Coba liat bentar dong…”

Aku lihat kertas-kertas itu. Penasaran puisi sendiri, sudah lama rasanya, lupa kapan dibuatnya

 

“Gembel”

lampu-lampu sendu

jejeri malam muram

tawa terbang ke sarang

pundak-pundak rebah diri

manusia lelah berselimut gelap sunyi

 

ku gembel setubuhi jalanan

tak ada bising mesin ku punyai

melulu tumpangi aus sandal berbau sepi

nyalang anjing separuh bulan pertanda hari ini

sedikit warna terang pada remang-remang para penjaja

 

ku gembel jamahi semak berduri

berlembar tahun terisi: pohon, aspal,

trotar yang itu-itu. juga hafal bau panas debu

gegas langkah jumlah daun-daun lepas dari induknya

dongeng kaum-kaum papa di hari mendung tiada bertanya

Waringin Jati

11 April 2007

 

”Lapar Ki ?”

”Mau neraktir nih…?”

”Kayanya aku maag lagi…” Sambil menepuk-nepuk perut.

”O…ayo..ayo..cepet”

”Bubur kacang mau ?” Tawar ku pada Refki.

”Boleh boleh lah… yang penting gratis. Hehe..”

”Sambil nonton bola?”

”Okeh..terserah yang neraktir.”

Kami berdua pergi. Meninggalkan lampu jalan, trotoar, beceknya aspal, dan puntung-puntung rokok yang berserakan. Jatinangor semakin gelap. Pekat. Tidak ada bintang.

***

H.G. Budiman

Bandung, 30 November 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: