Mimpi Bolong (Bagian I)

Morning After (by Krinisty, http://www.toonpool.com)

“Anjing.”

Kamu tahu mimpi itu tidak melulu berada pada kategori indah dan buruk. Mimpi kadang menyungkruk pada rasa kecewa. Lebih buruk dari sekedar mimpi buruk aku kira, meskipun mungkin kekecewaan bisa golongkan pada suatu hal yang buruk. Ah, tidak sesederhana itu.

 

Malam itu aku bangun, mengumpat, dan kesal; aku kutuki mimpiku sendiri. Aku bangun lalu menyumpah serapah macam pengamen yang tak dibayar. Malam itu aku terhenyak dan mulut lebih dulu bereaksi ketimbang otak yang belum sempat ku rekonstruksi.

Kamar kosan masih berantakan. Selepas bangun, aku melirik sana-sini. Buku kuliahan masih tersimpan di raknya, tapi majalah, novel, buku-buku budaya, dan koran berserakan tanpa juntrungan, seperti tumpukan sampah habis dikorek-korek anjing lapar; berantakan di karpet, nyungsep di sela-sela bantal, beberapa tumpuk nyangkut di kusen jendela, beberapa masih numpuk di dekat komputer. Semua belum sempat ku bereskan. Aku bangun menghela napas, duduk di kasur yang sudah tidak empuk lagi. Cermin di pintu kamar memantulkan wajahku yang berantakan; sangat kacau.

Tiga hari tak bercukur, masih lebih baik ketimbang Tom Hanks di Cast Away. Buram. Kupakai kacamata dan lebih jelas. Kamar ini seperti sehabis kena goncangan gempa. Lebih banyak barang yang tidak pada tempatnya, seperti pikiranku yang belum beres aku susun kembali. Menghela napas lagi lebih panjang, pertanda banyak urusan belum selesai.

Masih kurasakan udara dingin sisa-sisa hujan deras tadi sore. Kutengok jam, kini sudah setengah satu malam. Ah sial. Bob Dylan di dinding masih merokok dengan kaku, mengingatkanku bahwa Classmild di tas sudah kandas tadi siang. Melamun di kamar aku urung, lebih baik keluar, merokok, dan sedikit menenangkan diri atas mimpi tadi.

Aku ingat khotbah Jum’at beberapa minggu lalu. Khotib bilang tidur di waktu Ashar lebih banyak kerugiaannya, tidak disunnahkan, dan tidak sehat untuk tubuh. Sensasi ini mungkin akibat tidur di waktu Ashar; sholat Ashar aku pun lewat, Magrib aku lewat pula, mau ku sholat Isya tapi sudah kepalang malas. Sekali lagi aku lewat sholat-sholat itu.

Apa mau di kata, toh sore tadi aku kepalang lelah. Otot-ototku dipaksa macam kuli beras. Resiko bergiat di kampus. O, bukan, aku bukan aktivis, hanya pelarian atas kehidupan normal yang tidak begitu sukses. Tapi memang, ada banyak hikmah dari kegiatan-kegiatan di kampus. Aku tahu banyak orang, tau ketololan dan kebodohan mahasiswa, banyak referensi aktual, dan paling tidak, aku kenal beberapa orang ”sakti” di antara mereka. Maksudku, sakti dalam hal ilmu pengetahuan serta wacana-wacana yang berkembang dewasa ini. Ah, sudahlah tidak terlalu penting untuk dibahas. Yang pasti acara diskusi tadi siang membuat aku dan kawan-kawan angkat-angkat kursi satu aula, dan kursi tidak terisi penuh seperti yang sudah-sudah. Kami sadar acara diskusi tidak punya daya tarik bagi sebagian orang, tapi aku senang punya kesibukan.

Kesibukan membuatku lupa akan sekrup-sekrup otak ku yang agak longgar. Alhasil, begitu diskusi selesai aku terkapar di kosan hingga terbangun di malam buta. Otot boleh cape tapi pada dasarnya otak lebih lesu daripada itu.

Ku putuskan keluar mencari angin. Suntuk di kamar yang runyam ini. Ku ambil dompet dan korek. Hp ditinggal saja, malas kiranya kalau harus membalas sms atau telpon yang masuk. Kulihat hp sejenak, ada sms dan beberapa telepon yang masuk. Alaaah… peduli setan, paling-paling orderan makalah dari teman-teman yang keliwat dungu tapi mereka punya uang. Ya, uang, itu yang biasanya. Tapi tidak untuk malam ini. Tidur dan mimpi tadi kelewat runyam dibandingkan uang. ”sori kawan, malam ini saya jaga nenek di Ujungberung. Libur dulu ya.. J ” dalih. Aku balas sms sekenanya. Mereka terlampau dungu untuk seorang kaya.

Aku ambil sweter lusuh di kursi. Masih sempat ku lirik Tribun Jabar hari ini tergeletak di meja, belum sempat aku baca. Sedikit kulihat, ada tulisan ”Partai Puncak…” Ada gambar John Tery dan Ronaldo. Lupa, malam ini Final Champions. Peduli amat, aku gusar kali ini, tak ada taruh-taruhan, Lagian aku bangun bukan untuk nonton. Gundah dengan rasa kecewa, rasa direnggut, rasa kehilangan yang mengepung mimpi tanpa diundang. Seperti tersambar petir.

Jatinangor sudah sepi, tapi tidak begitu sepi seperti hari-hari yang lalu. TV menyala di beberapa warung. Aku jalan pelan di sepanjang jalan Sayang. Udara sisa hujan cukup menusuk, dan jalan becek. Efek lampu memantul di jalan basah. Nuansa malam dingin tentu lebih kusuka ketimbang siang yang berdebu; bau kesibukan siang cenderung menghasilkan kepengapan. Malam ini tidak pengap, tapi aku gusar dengan mimpi tadi. Ah, gusar apa panik? Apa kesal? Apa dendam ? aku bingung.

Aku singgah di sebuah warung yang masih nyala. Beli Classmild yang boleh diketeng di warung ini. Kulihat TV menyala. RCTI. Tukang warung menyerahkan Classmild sambil basa-basi. Kami cukp kenal meski tidak akrab. Aku sering sambangi warung ini, cukup rutin barangkali. Tiap jam 11 atau 12 malam ketika rokok mulai habis.

“Pinal kang… pegang mana?”

“Ah.. henteu, jagoan saya mah tos eleh.”

”Barca nya..?” tebak si akang warung.

”Muhun..” mengiyakan. Malas kalau harus berlama-lama basa-basi.

”Ronaldinho sareng Xavi nuju awon Kang…”

”Iyah..” jawabku sambil sedikit senyum.

”Ada lagi kang..?”

”Kratingdaeng..”

”Jadi 8500 kang..”

Aku bayar dan kutinggalkan warung, lalu berjalan dan menikmati sendal terkena genangan air. Tak sengaja memang, namun ampuh mengembalikan kesadaran yang samar-samar akibat tidur tadi. Kuteruskan berjalan. Masih ku dapati beberapa motor terparkir di depan warnet. Warung kopi masih nampak sepi, hanya ada seorang pedagang dan seorang pengunjung menikmati mie rebus. Sekarang 12 lewat 50, Champions mulai 2.30. Indomaret di jalan Sayang sudah tutup namun terlihat tiga begundal mabok minuman murah. Aku acuh. Kuputuskan untuk nongkrong di depan Gerbang Unpad; Tempat paling nyaman tuk menikmati malam sambil makan nasi gila barangkali. Sayangnya, hari ini tak ada rasa lapar sama sekali. Aku pikir cukuplah sekedar duduk dan melamun. Jalan ke sana ambil waktu 10 menit.

Kutegak Kratingdaeng sambil jalan. Aku coba hilangkan mimpi yang tadi membekas. Masih sulit. Setegak-dua tegak aku minum macam begundal-begundal tadi yang mabok Topi Miring. Bukan mabok yang ku cari, hanya ingin mata lebih melek sehingga dapat kuatur memori-memori, ku defrag file-file di ingatanku seperti Pentium. Pentium yang masih II karena otakku berjalan sedikit agak lambat. Ku tegak lagi, dan sedikit lebih segar. Asamnya Kratingdaeng mengiringi ingatanku, ingatan lama yang ingin ku kubur. Kini ku coba gali, ku coba buka seperti membuka lapis-lapis peti harta karun yang digembok berlais-lapis pula. Sedikit-sedikit ku buka gembok itu.

Ingatanku jatuh pada peti besar pertama, peti memori ketika aku masih sekolah di Bogor 4 tahun silam. Ingatanku kembali pada VW butut itu, VW butut milik Beny. Aku ingat ketika kami ngobrol di pinggir jalan. VW kodok Beny diparkir. Kami ngobrol di kursi depan tanpa keluar. Di jalan banyak mobil berlalu-lalang dengan cepat. Radio butut dalam si kodok meraung-raung, kalau tak salah mengalun Transparent and Glasslike-nya Carparknorth. Sebuah band asal Copenhagen, Denmark, cukup oke di tahun 2004.

Aku tertunduk lesu di kursi depan, Beny berkar-koar di depan stir. Mulutnya terus nyeroscos layaknya seorang ibu yang sewot barang belanjaannya kurang. Mulut itu aku tak akan pernah lupa, mulut yang selalu setia memberi saran macam orang pintar saja.

”Eh.. Jat, aku kan sudah bilang prinsip layang-layang?! Tarik-ulur., tarik-ulur, terus seperti itu sampe bener-bener nyangkut.”

”Iya, saya sudah coba dan memang perkembangannya lumayan.”

”Nah, kenapa dong cemas-cemas kaya gini ?”

”emm..”

Hp Beny bunyi, bunyinya sangat mengganggu. Saat itu polyphonix belum ramai, dan suara hp lebih mirip paduan suara tikus-tikus. Beny punya yang seperti itu, aku tidak.

Cewenya nelpon. Dia bicara, aku diam. Beberapa saat dia bicara dengan cewenya dengan intonasi yang lebih halus. 3 sampai 5 menit, kemudian dia tutup. Dia bicara lagi. Padaku kali ini. Di bilang cewenya menyecap mulutnya selama lima menit. Bohong, aku kira keduanya memang saling ingin menyecap. Tapi itu bukan masalahku. Aku sudah tidak fokus pada omangan Beny. Hari sudah sore dan aku lelah, belum pulang ke rumah dan belum pula makan. Beny belum bosan dengan petuahnya, sementara radio sudah berganti lagu. Semusim lagunya Marcel. Artinya, segmen lagu Barat sudah ganti ke lagu lokal. Program sore di radio sudah berganti dan Beny masih menyemburkan kalimat-kalimatnya. Aku insyaf, Beny adalah teman yang baik.

“Ingat Jat, yang penting prinsip layang-layang”

”Iya, saya ingat, saya akan berusaha untuk…” kalimat belum selesai tapi Beny memotong seperti biasanya.

”Oia, kamu bagus sering tahajud, biar percaya diri, gitu toh ? haha… kalau dipikir-pikir kamu terlalu serius juga ya..!? sudah… dibawa nyantai saja seperti kebanyakan orang. Kalau terlalu serius, aku khawatir kamu malah jadi kaku dan hasilnya ga akan bagus.”

Obrolan 4 tahun silam itu masih ku ingat dengan samar. Seperti menapaki kaki gunung yang penuh kabut. Kita tidak tahu bagaimana puncaknya, kita baru tahu ketika sudah dekat.

Aku ingat Beny mengantarku pulang. Kala itu aku tak banyak berkata-kata, aku terlalu telat untuk paham dan merasai gejolak orang muda; gejolak muda yang harusnya aku cicipi pula dengan normal sebagaimana kebanyakan orang. Beny orang normal, aku merasa kurang normal walaupun berada pada usia yang sama dengannya, ataupun dengan yang lain. Pikiranku seperti orang tua yang penuh pertimbangan, bahkan keliwat ruwet. Tidak reaktif seperti kebanyakan anak muda di usia 16 atau 17. Ada yang berjalan tidak wajar. Ketika teman-temanku senang ngobrol, ngerumpi, atau pacaran, aku lebih banyak tidur di kelas. Aku kurang bisa melakukan hal serupa, aku tertinggal jauh dari teman-teman. Aku minder.

Walau begitu, aku kira aku masih cukup beruntung kala itu. Aku senang bola dan dapat bermain baik di lapangan, itu yang membuat aku dan Beny bisa akrab. Sepakbola membantuku untuk menjalin hubungan sosial dengan teman-teman. Sepakbola mampu menutupi kekuranganku dalam bergaul. Dengan teman-teman lelaki, paling tidak aku bisa ngobrol banyak tentang bola. Tapi bola bukan sesuatu yang cukup akrab dengan lingkungan cewe. Di mata teman-teman cewe, aku kuper. Dan Beny mengerti betul akan hal itu.

Peti memori 4 tahun silam aku buka. Obrolan aku dan Beny masih ku ingat walau tidak secara lengkap. Malam ini, aku jalan menuju gerbang Unpad. Kratingdaeng yang ku beli di warung tadi sudah habis. Rokok saja ku cocor, lalu hisap dalam-dalam. Rumah makan Padang tempat biasa aku makan sudah lewat. Beberapa orang, tidak ramai, berkeliaran di sekitaran gerbang. Tukang nasgor, ayam goreng dan sejenisnya masih ada yang buka meski sepi pengunjung.

Ku hisap kembali rokok dalam-dalam sambil mencari tempat duduk yang nyaman. Kudapati tempat duduk dekat lampu jalan. Asap rokok mengepul-ngepul terkena sinar lampu. Aku senang mengamati asap rokok yang terkena sinar lampu. Aku hembuskan asap rokok lebih banyak, cahaya lampu semakin memperjelasnya. Kepulan asap, Lalu aku melamun sedikit tersenyum.

Aku ingat kepulan asap motor di parkiran sekolah SMA-ku dulu. Aku sering melihat kepulan asap motor dari perpustakaan di lantai 2, dan asap motor itu, pasti asap motor Vespa si Tito. Pak Rosyid sang satpam selalu uring-uringan ketika motor itu bunyi. Pekat asapnya bukan kepalang, belum lagi berisik suaranya. Pak Rosyid mencak-mencak, tapi Tito dengan dinginnya melajukan motornya ke jalan. Aku tertawa dari kaca jendela perpustakaan.

Aku masih cukup ingat hari itu, Bulan Oktober 2004. Dari jendela perpustakaan aku lihat langit sudah mulai mendung. Tito dan motornya sudah melaju entah ke mana, hanya asapnya saja tersisa di parkiran. Mungkin sekitar jam 2 siang. Siswa-siswa SMA B sebagian besar telah pulang. Beberapa masih nongkrong sehabis pelajaran olahraga. Beberapa berduaan di pelataran kelas, barangkali pacaran. Ada yang ngumpul di sana-sini tak jelas juntrungannya, anak-anak kelas tiga baru keluar istirahat dari pelajaran tambahan. O..ya, Beny salah satu yang pacaran sehabis pulang sekolah. Aku lebih senang di perpustakaan, tempat itu sunyi, hanya ada beberapa siswa mengerjakan tugas untuk besok; siswa rajin.

Di Perpus ini aku suka menemani Bu Yuli. Beliau guru Bahasa Indonesia. Beliau sering nongkrong di perpustakaan sehabis jam pulang, barang sejam atau dua jam Bu Yuli menyempatkan diri diam di perpustakaan. Entah untuk memeriksa ulangan atau sekedar membaca-baca buku. Nampaknya tidak betah diam di ruang guru.

Beliau guru yang ramah. Beliau yang memperkenalkanku pada sastra. Memang, di kelas 2, mata pelajaran bahasa Indonesia ada materi yang membahas angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru, tapi itu semata materi sekilas, tidak mendalam, seperti jatah berita lokal di koran nasional. Suatu hari ketika aku nongkrong di perpus, Bu Yuli menyodoriku, lebih tepatnya sedikit memaksa untuk membaca ”Di Bawah Lindungan Ka’bah” karya Hamka. Novel itu aku baca habis meski agak lama dan menjemukkan. Seminggu kemudian beliau sodori aku ”Layar Terkembang” buatan Sutan Takdir Alisyahbana. Lelahnya bukan main, aku tak biasa membaca novel yang berat-berat. Biar begitu, novel itu habis juga aku baca. Aku dan Bu Yuli lebih sering ngobrol di perpustakaan. Belakangan, Bu Yuli menyodoriku ”Atheis” karya Achdiat K. Miharja. Novel itu aku sikat habis lebih cepat. Bu Yuli bilang, Achdiat itu penulis Angkatan ’45, sezaman dengan Chairil Anwar. Saat itu aku bartanya-tanya tentang Chairil. Namanya terasa sering terdengar.

Di hari yang mendung itu, selepas ku lihat parkiran dengan kepulan asap Vespa Tito, aku temui Bu Yuli seperti biasa. Kali ini Bu Yuli meminjami ku sebuah buku tipis sudah usang, judulnya ”Deru Campur Debu” , tertulis nama Chairil Anwar.

”Jat, kemarin kan kamu bertanya tentang Chairil Anwar? Nih, ibu pinjamkan bukunya. Baca baik-baik ya, ati-ati bukunya sudah tua, kertasnya sudah pada mau lepas.”

Aku buka selembar dua lembar, sebalik dua balik. Sekilas ku baca.

“Bu, ini bukan novel, ini puisi. Saya ga ngerti puisi bu…”

“Sudah, baca saja dulu. Nanti kamu pasti suka.”

”Baik Bu, saya coba baca.” jawaban yang biasa aku lontarkan.

”Jangan lupa, setelah selesai ibu ingin tahu pendapatmu.”

Aku mengangguk dan meleos ke meja kosong. Bu Yuli meneruskan memeriksa pekerjaannya, mungkin jawaban ulangan anak-anak 2-7.

Aku buka buku itu. Baunya usang, sungguh tak enak di hidung. Kupaksakan saja, toh buku yang sudah-sudah tidak kalah bau apeknya. Ku baca dengan pelan-pelan karena aku sadar, aku tidak mengerti betul apa itu puisi. Dulu aku bingung melihat puisi. Apa bagusnya kalimat-kalimat tidak tuntas macam begini. Cenderung menggantung, sepotong-sepotong, mungkin pembuatnya semacam orang linglung yang senang memelintirkan kata. Aku kira orang-orang yang membuat puisi adalah orang-orang yang senang dengan sesuatu yang pelik, atau sesuatu yang dibuat pelik oleh mereka sendiri. Pantaslah kiranya jika orang-orang seusiaku tidak suka hal-hal begini rumit. Aku baca secara acak, mencari-cari judul yang barangkali lebih mudah dimengerti, lebih mudah dipahami, lebih nyaman dikonsumsi sesederhana menyeduh Pop Mie dengan air hangat. Tak ada yang seinstan itu, tapi aku suka yang ini:

DOA

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

Cahayamu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Mataku berhenti pada kata remuk, ketika Beny memecah kesunyian, gelagatnya rusuh seperti biasa. Gapah gopoh membawa tas, Hp besarnya ia jinjing. Aku lirik dari meja, pura-pura konsen dengan bacaan sendiri. Bu Yuli di pojokan sudah maklum. Beny buru-buru memasukan tasnya ke dalam loker. Mengambil earphone dari saku, lalu memencet-mencet hp jumbonya. Hp itu multi fungsi, selain bunyinya yang mengganggu macam tikus-tikus, benda itu bisa pula menangkap gelombang radio; hp besar dengan fasilitas radio. Aku tak punya yang seperti itu.

Beny tak suka kesunyian., ia aktifkan loud speaker. Bu Yuli tidak sewot, toh perpus sudah sepi siang itu. Dan langit siang lebih banyak gelap.

Sebetulnya aku agak suntuk dan terlalu malas untuk ketemu Beny, bukan suntuk dengan senyumnya yang lebar, bukan pula masam dengan gayanya yang sok cool. Sejujurnya aku senang dengan tingkah lakunya yang sedikit urakan, tapi hari itu aku malas menanggapi semprotan motivasinya. Aku tahu dia pasti menyemburkan dorongan-dorongan itu. Beny tahu progressku kali ini lumayan. Kutegor dia lebih dulu, berusaha membelokkan niat kedatangannya.

Ga nganter Wiwid Ben..?”

Beny diam sambil mencet-mencet hp-nya. Ia asyik sendiri. Ia mengambil kursi dan duduk di samping.

”Jat, aku lapar.” Beny tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang besar-besar. Aku sudah hafal.

Kebiasaan kami menghabiskan bekal siang. Aku agak malas dengan keramaian kantin, dan Beny lebih sering memanfaatkan itu. Ketika uangnya habis, aku kira untuk pulsa, dia rutin merecoki bekal siangku.

Aku ambil misting dalam loker. Masih ada sisa Aqua. Aku ambil keduanya. Roti tersisa tiga lembar dalam misting. Tanpa basa-basi Beny caplok roti dan telur dadarnya.

Aku lanjut baca, sok fokus dengan puisi-puisi yang sebetulnya tak kumengerti. Cas cis cus, cas cis cus. Hp berbunyi radio itu mendendangkan Someday Will Know, penyanyinya Mandy Moore dan John Foreman. Ku lihat jendela dan gerimis mulai bergrilya, kecil-kecil tidak rata. Bau tanah basah belum sempurna kucium. Beny menegak Aqua setelah semua roti tumpas.

“Mau pulang jam berapa Jat..?”

Ga tau, mungkin jam 3-an, di luar juga hujan.”

”Itu novel apaan Jat..?”

”Chairil..”

« Oia.. Sabtu malam Roma-Juve, mau nonton bareng gak ? si Adi udah sedia snack katanya. »

«  hmm.. » aku jawab sok dingin. Beny banyak nanya, dia mencari celah untuk bahas hal itu lagi.

Aku sudah mulai dag dig dug tak jelas. Aku yakin di mana muara obrolan Beny. Aku sering kehilangan kata-kata dan salah laku. Berbagai logika dan pertimbangan sering kali lenyap seketika layaknya rumput yang dipangkas habis oleh tukang kebun. Aku selalu coba hindari obrolan itu. Tanganku sedikit basah pertanda gugup. Tolong Ben jangan obrolkan masalah itu. Harusnya Beny mengerti, aku terlampau tolol untuk mengekspresikan hasrat. Aku mencak-mencak dalam hati. Ceroscosan Beny berlintasan di kepala. Aku tahu di mana ujungnya. Aku tahu di mana ujungnya. Dalam hitungan detik dia pasti lontarkan pertanyaan itu. Aku mau meledak.

Pada kawan sendiri saja aku sulit mengungkapkan. Aku coba baca buku lebih serius. Terpikir untuk menghindar saja, keluar dari perpus dan pulang. Ceroscosan Beny mulai nyangkut. Aku masih pura-pura sok dingin. Sok tidak peduli padahal rasa sudah mendidih-didih. Kemudian, pertanyaan Beny menghenyakkan bacaanku yang sudah tidak fokus lagi.

“Masih suka gemetaran..? Parkinson seperti yang kamu bilang!? Hehe.. kaya Muhammad Ali ya..?? Jati, Jati… aku kira itu masalah kegugupan. Nervous !!”

“Sok tahu..”

“Tuh..! tangan mu yang bicara.” Beny lanjut berkoar “ Ya Alloh… parah betul sih ni anak. Eh, denger nih… kamu ga akan maju-maju kalau kalah dengan kegugupan mu sendiri”

Aku diam, darahku rasanya sudah surut di tangan dan kaki, keduanya dingin. Jantung dag dig dug lagi, sementara kepala panas. Aku nyaris meledak. Beny tinggal meng-KO, aku limbung. Beny sudah mulai senyam senyum jail, Aku pasti meledak. Senyum Beny yang selalu sama.

“Jat, tuh… Lani ada di depan kelas. Sendiri.” ia tekankan intonasi pada kata sendiri. Darah ku sudah sampai puncak. Ternyata aku tak meledak, tapi kempes. Kempes seperti balon dilepas ikatanya. Anginnya berhamburan, loncat-loncat, dan mengkerut. Aku ringkih dan mengkerut macam balon; Letoy.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: