Mimpi Bolong (Bagian II)

Feeling by Krinisty, http://www.toonpool.com

”Ben, tolong… jangan mulai lagi.”

” Ckckck… aku ngomong bukan tanpa perhitungan. Aku ngerti karaktermu, kamu terlalu sulit bicara, terlalu rigid dengan emosi, bahkan masih kaku ketika itu berhubungan dengan fitrah manusia: suka dengan lawan jenis. Jat, pacaran bukan melulu berpaut mulut dengan mulut. Tidak seburuk yang kamu pikirkan. Tidak harus dan tidak mesti seperti itu. Iya..kamu lihat aku kan ?! kamu mungkin membayangkan dari apa yang ku perbuat. Memang bagi sebagian orang menjalin hubungan adalah pemenuhan birahi. Dan aku tak mungkir itu. Barangkali aku termasuk di dalamnya. Ya, dalam hal lebih ekstrem hubungan pria-wanita tujuannya adalah kasur. Masalah sperma dan sel telur.”

Beny bicara serius dan emosional. Kalau sudah bengini Beny lebih mirip ayahnya, Pak Iskandar, seorang Dosen Arsitektur di UI. Mereka sering bicara aneh-aneh kalau aku berkunjung.

“ Dalam sudut pandang yang lebih ilmiah, kecocokan atau daya tarik pria-wanita, semata kecocokan unsur Pheromon; Sebangsa bebauan di ketiak atau tengkuk. Percaya?? Itu menurut para ahli, mereka-mereka yang mengerti. Tapi ada kalanya masalah suka antara pria-wanita tidak bisa hanya dijelaskan dengan sudut pandang syahwati, biologis, atau kimiawi. Ini masalah kodrat. Suatu anugerah dari tuhan. Ketika kamu berusaha menampik, boleh jadi kamu lalai menginsyafi anugerah Tuhan, memang ada batasan dan norma, tapi apakah suka itu dilarang? Dosa ? apakah saling suka itu hina ? aku pribadi tak mau ambil pusing, terserah keyakinan dan kepercayaan tiap orang.” Beny yang meledak. Mungkin kesal karena aku kuyu sebelum berperang.

“Jangan bilanga kamu malu Jat..! itu terlalu rendah untuk orang secerdas kamu.”

Bu Yuli yang duduk di pojokan sedikit melirik pada Beny. Beny tidak peduli, ia melanjutkan bicara.

Okeh..okeh.. kita buat sederhana. Aku selalu ngomong karena aku yakin progressmu belakangan ini lumayan. Kita lihat situasi rilnya, kita timbang keunggulan dan konsekuensi terburuk yang mungkin menimpa mu.”

Hujan di luar telah deras, kawanannya tidak malu-malu lagi berselimut di balik awan. Sensasi bau tanah basah dan debu yang tersapu. Aku fokus pada Beny.

”Pertama, sebulan lalu kamu dapat nomernya, lebih tepatnya Lani tulis sendiri nomernya di buku mu. Ini satu poin plus. Kedua, kamu sudah coba konfirmasi. Sok tanya-tanya dengan terbata-bata, ditambah kamu sudah coba telepon langsung walau bicara mu ngelantur dengan ngomong masalah film untuk tugas PPkn. Okeh that’s finegak apa-apa. Paling tidak ia tahu kamu ada perhatian. Ketiga, kamu sudah coba pdkt waktu kita studi tour ke Museum Gajah. Hasilnya ga terlalu bagus tapi kamu berhasil duduk 3 menit di sampingnya dan bertanya ‘pulang ke mana Lan..?’ terlampau konyol memang pertanyaan kaya gitu. Tapi untuk kasus kamu, aku bisa memaklumi. Keempat, seperti yang selalu kamu bilang, kamu selalu memandangnya dan ketika dia tau, pipinya kadang memerah. Lani sudah tersipu Jat… satu lagi poin plus yang kamu punya. Sudah cukup modal sampai di situ pun. Keempat…”

”Kelima Ben…”

“O..iya, kelima, dan ini yang paling penting. Bukankah selasa minggu lalu dia bilang sendiri suka kamu? Ya..ya… kita tahu dia gadis yang periang dan mudah akrab dengan siapa saja, sehingga semu apakah pernyataan-pernyataannya main-main atau serius. Mungkin saja dia kesal melihat kamu yang terlalu pasif, lebih banyak tidur di pojok kelas. Itu sinyal Jat… sinyal..!! ayo ada faktor lain yang luput aku sebut ?”

“Sms..”

“Betul, itu dia. Kamu sudah coba sms meski hp-nya minjem dan kata-katanya minjem pula dari ku. Biar begitu, aku yakin dia pasti tahu kamu ada perhatian. Coba kurang yakin apa lagi?

”Aku takut Ben…”

” Takut apa lagi sahabat ku Jati yang baik?” Beny menahan rasa gemas.

”Takut salah tingkah dan terlihat buruk di depannya, nervous ku pasti kambuh.”

”Kamu krisis kpercayaan diri Jat.” Beny mulai santai dan  lebih serius. ”Kamu bukan bajingan, bukan penjahat, hanya ordinary boy yang kebanyakan diam. Aku pikir ga ada yang salah. Ketika orang lain lebih banyak bicara, kamu berhemat kata. Aku yakin anak-anak satu kelas pun setuju bahwa kamu pendengar yang baik. Sebagai seorang cowo sebetulnya aku benci mengatakan hal ini, muak juga sih, tapi honestly, penampilanmu lumayan okeh..”

Beny diam sejenak. Lalu sontak berkata: ”Damn… maksudku, oke lah kamu punya daya tarik. Ya sedikit lumayan lah… tapi ga lebih ganteng daripada aku sih.. hahahaha..” tawa Beny memecah di ruang perpus yang melompong. Hanya ada aku, Beny, dan Bu Yuli di pojok.

Hujan di luar sudah agak deras. Aku lihat jendela, kaca jendela sudah dikerubuti titik-titik air yang menempel. Rasanya titik-titik air itu menyegarkan, menempel pada kaca jendela yang berdebu, ada paduan antara debu dan air yang melekat, lama-lama air itu pun akan mengering dan debu yang dominan. Besok-besok tentu akan hujan lagi dan air bergumul lagi dengan debu di kaca, tapi air akan selalu kalah karena nanti matahari mengeringkannya. Begitu seterusnya, dan air hujan tak akan pernah bosan. Aku suka melihat hujan.

Ruangan hening, hanya hp-radio Beny yang berbunyi. Ku dengar intro Hoobastank, The Reason. Terdengar suara basah Doug Robb. Suaranya tubrukan dengan hujan di luar. Entahlah tubrukan atau berharmoni, yang ku tahu lagu itu dan hujan seperti tidak saling mengganggu, keduanya berjalan masing-masing. Telinga dan mata ku nyaman dengan suasana ini. Rasanya ingin tidur dan berselimut diri. Suasana dingin kota Bogor selalu membuat ku melankolis. Suara Doug Robb begitu bening dan basah waktu itu.

”But I continue learning. I never meant to do those thing to you… and so I have to say before I go…”

Bukan lagu yang terlalu bagus memang, tapi mungkin aku terbawa sendu suasana hujan saat itu. Ya, seperti kebanyakan anak muda yang kasmaran atau wanita yang biasanya begitu rentan terharu. Aku dan Beny terdiam, sepertinya kami sama-sama menikmati hujan. Radio terus bunyi dan terdengar. Hujan telah deras tapi tidak terlalu besar. Cas cis cus penyiar di radio, bicara seputar khasiat tidur siang, lalu menyampaikan salam-salam ala remaja. Tidak lama dan lagu telah berganti, Harder to Breath-nya Maroon Five yang diputar. Temponya cepat, mood ku surut. Aku buka kembali buku puisi yang dipinjamkan Bu Yuli. Beny anteng memainkan misting plastik, Aquanya sudah habis.

”Masih suka tahajud?” Beny memulai.

”Masih, kadang-kadang… kalau gak telat bangun.”

”Kalau sholat Tahajud, kamu dapat apa ?” Aku diam menunggu. Beny meneruskan.

”Maksud ku apa yang kamu doakan kalau sholat tahajud?”

”Perlu kamu tahu..??”

”Ya… kalau gak keberatan sih…”

”Aku selalu berdoa untuk almarhum ibu, lalu berdoa agar selalu diberi jalan terbaik oleh Alloh”

”Jalan terbaik bagaimana maksudnya?”

”Aku selalu minta dimudahkan dalam setiap hal.”

”Termasuk dalam masalah asmara? Cinta?”

“Termasuk masalah pelajaran, nilai, hubungan dengan teman, mungkin dengan yang satu itu juga.” Aku jawab tak mau bertele-tele.

“Kamu yakin Lani jodoh kamu?”

Gak sejauh itu lah…Ben..”

”Bohong. Kamu pasti berdoa…’ ya Alloh jadikanlah Lani jodohku, mudahkan lah aku untuk bicara dengannya’ Pasti seperti itu !??” Beny sedikit memperolok dan tertawa ringan.

Gak juga ah..”

Alaah…. jangan bohong Jat, hampir setahun kita sebangku. Aku selalu lihat cara kamu curi-curi pandang. Ingat kawan, aku lebih pengalaman dalam masalah begini.”

Sok playboy kau Ben…”

”Jat, 2 minggu lagi kita ulangan umum, aku kira waktu mu gak banyak. Mau nunggu kelas 3 ? Mungkin dia ke IPA, sedangkan kamu ke IPS. Aku tahu, matematika dan fisika musuh mu.” Beny bicara dengan pelan dan santai, lebih santai daripada tadi

”Ketika kalian beda kelas, aku yakin, itu bakal terlalu sulit untuk orang seperti kamu Jat.”

Beny  masih lanjut bicara.

”Satu kelas saja kamu masih sulit untuk ngobrol, apalagi beda kelas… belum lagi dia bisa-bisa keburu digebet orang. Mau ??”

Beny yang masih bicara.

”Aku tahu usaha mu, jangan sampai ini jadi sia-sia, ah… toh kamu koq yang suka sama dia. Up to you ! Cuma aku kira sekarang momennya lumayan pas, di luar hujan dan dia pasti belum pulang. Sekarang atau tidak Jat…”

Omongan Beny, intonasinya, gaya dia bicara, dan bahasa tubuhnya memang selalu nampak meyakinkan. Tidak heran banyak gadis yang menyukainya. Aku kadang merasa terhipnotis. Beny memang cerdas, omongannya tadi terlalu logis untuk diabaikan. Dia mengambil kesimpulan dari premis-premis, mayor-minor; Sebuah hipnotis silogisme Aristoteles. Kalimatnya seperti vonis hakim pada terdakwa. Ia tidak menyediakan banyak pilihan kali ini. Kalimatnya mendorong sekaligus menekan. Aku kehabisan kata.

Perasaan cemas mengepung lagi. Jantungku loncat-loncat setiap aku memikirkan kemungkinan ngobrol dengan dia, dengan Lani. Sial… apakah harus dibuktikan sekarang.

“Hujannya sudah agak reda tuh.. kalau berhenti, mungkin Lani keburu pulang.”

Beny ngomong dengan santainya, tapi sejatinya itu adalah tekanan pada pikiran ku yang timpang, antara yakin dan tak yakin. Antara mau dan takut. Bimbang seperti ombak di pantai, pasang dan surutnya silih berganti. Emosi seperti kapal yang tidak kunjung menepi, tidak pula menurunkan jangkar.

” Ah… Barangkali memang menunggu kamu Jat. Mungkin dia tahu kamu sering gak langsung pulang dan diam di sini.”

Sial, bicara Beny tambah mengganggu. Ketakutan ku belum goyah layaknya benteng pertahanan menancap di tanah dengan kokoh, tapi dorongan untuk melawan semakin besar pula seiring lontaran-lontaran kata yang diucapkan Beny. Mulai ku susun segala alasan dan dorongan yang dikemukakan Beny sedari tadi. Kutumpuk satu persatu dalam pikiran seperti menyusun bata, seperti menyusun keyakinan baru. Sementara itu, jantungku lagi-lagi semakin dag dig dug memburu. Rasanya terhimpit kecemasan dan pertimbangan sekaligus. Segala pertimbangan yang dikemukakan Beny sekali lagi ku susun. Pertimbangan ku yang ruwet macam benang kusut, ku coba urai satu per satu.  Satu alasan aku urai, dua alasan aku urai lagi, tiga, empat, lima, enam. Segala macam alasan yang kusut kini jelas helai per helainya. Kemudian ku coba tapaki kabut imaji; kabut imaji akan sebuah keindahan, kabut imaji yang menutupi hasil akhir. Aku tahu kabutnya masih gelap, Hasil akhirnya belum terbayang. Ku coba singkirkan.

”Hari ini atau besok-besok Jat ? aku Cuma ingin kamu segera lega, segera lepas dari kecemasan.”

Omongan Beny yang tadi seolah menghentak kebimbanganku. Kata-katanya itu menyemburkan terang, menyingkirkan kabut-kabut imaji yang menghalangi pikiran ku. Kabut itu lenyap, hanya hangat dan terang. Kabut menyingkir dan aku yakin, yang nampak adalah keberhasilan: Aku dan Lani akan ngobrol hari ini. Sampai kami lelah bicara, sampai hari sore dan hujan berhenti. Hingga Pak Rosyid menutup gerbang sekolah. Kami akan pulang. Ya, kami akan pulang, tapi tidak sendiri-sendiri. Kami akan pulang bersama. Duduk dalam sebuah bis, bersebelahan. Kemudian, bicara tentang hal-hal menarik hingga lupa kita telah sampai. Aku bayangkan senyumnya, lesung pipinya dan obrolan berhenti ketika ia berucap: Dadah…Jati…

Saat itu terjadi, hati ku akan begitu hangat dan sempurna. Betul kata Beny, saat itu bisa terjadi, aku akan lepas segala cemas, lalu tidur dengan bahagia. Pulas, lelap.

“Ben, Aku akan coba.”

Beny diam. Sedikit lama. Dia seolah ingin memancing reaksi ku, memaksa ku menunggu responsnya. Dia lirik sana lirik sini. Bibirnya mingkem menahan senyum. Sorot mata dan mulut mingkemnya menandakan kepuasan. Aku masih menunggu reaksi Beny. Ku lihat profil mukanya dari sebelah kiri. Ia masih memandangnya ke arah jendela dan mingkem masih menahan senyum. Lalu Beny menghentak.

Why you just sitting here and wasting time….” Sok Inggris dia, sambil memukul lemah ke dada kiri ku.

“ Ben…?”

“Sana-sana pergi..! cepet, keburu dia pulang.” Beny mengusir seperti tuan rumah yang malas menerima salesman di jam tidur siang.

”Sudah, sudah… sana pergi.” Beny keukeuh mengusir. Aku tahu ini dorongan terakhirnya untuk menyuruh ku ngobrol dengan Lani. Beny setia kawan, aku pasrah.

Aku mengambil buku puisi yang tadi ku baca, ku ambil misting dan botol Aqua bekas Beny. Sambil gopah gapah, aku pamitan ke Bu Yuli. Ku buka loker di dekat pintu keluar, ku masukan misting, botol, dan buku ke dalam tas, ku kunci kembali loker dan tas ku gendong. Jantungku memburu, berderap seperti kuda, tapi ku coba optimis.

Ku tengok ke belakang, ke arah Beny. Ia mengangguk-ngangguk. Menatap ku penuh keyakinan. Tanpa bicara pun aku tahu, tekad Beny untuk mendorong ku lebih bulat dari kepercayaan diriku sendiri.

Masih ku dengar sayup sayup suara radio dari hp Beny: I won’t put my hands up and surrender… There will be no white flag above my door .. I’m in love and always will be. Ku dengar suara halus Dido dengan lagunya White flag. Sedang jadi top chart waktu itu. Lagunya di putar-putar ulang di berbagai stasiun radio, sedang hits. Aku jalan ke arah pintu. Hujan deras sudah jadi gerimis tapi belum berhenti, hanya kecil-kecil saja. Siklus hujan selalu seperti itu, gerimis, deras, besar, lalu gerimis kecil lagi, sebelum akhirnya berhenti sama sekali.

Saat udara terasa dingin seperti ini, saat jantungku loncat-loncat tak karuan, aku sudah bisa memastikan bahwa rasa ini adalah buah dari kecemasan. Aku menghela napas, menenangkan diri dengan melihat langit. Langit sehabis hujan selalu putih bersih, tanpa noda. Awannya habis dilepehkan bersama air hujan. Aku pun ingin melepehkan kecemasan seperti langit yang melepehkan awan hitam bersama hujan.

Aku jalan di koridor. Tangan agak dingin, mungkin karena gugup.

Jalan ke kelas tidak jauh. Kelas itu ada di lantai 2, di lantai yang sama dengan perpustakaan. SMA B dibangun melingkar dengan lapang basket di tengahnya, maka  sudut pandang di lantai 2 cukup luas.

Dari arah perpus sebetulnya aku sudah bisa melihat Lani. Ia meletakkan tangannya di atas tembok pembatas. Ia tampak melamun. Menopang dagu dan wajahnya tertuju ke bawah, ke arah lapang basket. Ia tampak lucu, seperti anak balita yang menunggu permen, hanya saja mulutnya tidak manyun. Ia memikirkan sesuatu. Aku terpaku dari kejauhan, gemetaran. Kedua tangan rasa-rasanya agak lemas, aku linglung, apakah maju ke sana atau menunggu. Ku putuskan untuk melangkah.

Urat kepala ku di pelipis berdenyut-denyut. Pusing, tegang. Diam, lalu ku tatap dia di kejauhan. Profil tubuhnya terlihat dari samping. Ia mungil, proporsi tubuh yang energik, dan semua tahu, ia gadis yang periang.

Apakah cukup ku tatap dari jauh seperti yang sudah-sudah? Memang, dengan melihatnya saja aku sudah puas, hanya konsekuensinya sudah jelas: saat aku pulang ke rumah, lamunan akan menggantung, menunggu lamunan lain yang tak pasti, hanya fatamorgana. Hal yang demikian hanya bisa mencubit-cubit hatiku tanpa mampu menghangatkannya, atau pun untuk sekedar berdentum dengan teratur. Hari ini aku harus mengakhiri segala yang menggantung, segala yang tak mengenakkan.

Dari jauh ku lihat Lani mengeluarkan hp-nya. Mungkin ada sms masuk. Dia pencat-pencet hp itu. Wajahnya nampak sok serius, alisnya bertemu pertanda berpikir, mulutnya sedikit manyun; manyun seorang bocah. Dengan ekspresinya yang seperti itu pun aku senang. Bagiku wajahnya selalu nampak damai kekanakan, tenang seperti ombak di lautan Pasifik.

Aku tak tahu kapan pastinya mulai suka Lani. Yang jelas, bukan rasa suka yang datang seketika, tapi rasa suka yang menimbun. Rasa suka yang menumpuk lembar per lembar di setiap harinya. Aku senang melihat keriangannya, bahasa tubuhnya ketika ia sedikit menaikkan kemeja lengan panjangnya ke atas, tangannya nampak, ada jam di lengan kirinya. Tangan itu putih, mungkin juga halus. Aku selalu suka gestur tubuhnya ketika ia berkaca dan membetulkan letak kerudungnya, merapikan rambutnya yang keluar.

Aku biasa memerhatikannya dari pojok kelas, dari bangku biasa aku tertidur. Keriangan Lani yang sedikit kekanakan selalu mewarnai riuhnya kelas kami. Ia sering rusuh kalau PR belum beres, sering sibuk dengan teman-teman lain yang mengerjakkan PR. Tiap pagi hampir pasti selalu ada kesibukan di kelas kami. Aku lebih banyak diam di pojok. Bisa kurasakan teriakkan Doni, Rina, Arisa, Yuda, juga si Ucok. Beny kadang kala sama sibuknya dengan yang lain. Semua suara bercampur, riuh, ramai, walau begitu, aku masih bisa membedakan sedikit nyaring suara Lani. Volumenya medium antara lembut dan manja. Aku tahu walaupun agak tidur di pojokan. Aku selalu ingat gerutuan manjanya ketika yang lain mengambil contekannya. Aku ingat rengekan itu ” iih… Yuda..!! Lani belum beres… siniin contekannya..” Aku merekam suara itu di kepala, suara rengekan manja yang membuat hatiku pegal.

Tapi yang paling ku suka dari Lani adalah senyumnya. Ketika ia memiringkan kepala dan bertanya, senyumnya begitu jelas. Lesung pipinya begitu nampak, yang kanan lebih dominan daripada yang kiri, aku bisa lihat sedikit gigi taringnya. Sebuah raut wajah kenakalan yang polos, seperti anak-anak. Aku selalu tak tahan melihat senyum dan lesung pipinya.

Ah, rasanya terlalu banyak sensasi yang ku rekam. Sering aku curi-curi pandang dengannya. Ketika kebetulan mata kami saling bertemu, aku juga Lani sering pura-pura tak tahu. Pura-pura sibuk masing-masing, buru-buru melakukan aktivitas lain, menutupi gelagapan kami. Aku kira Lani pun tahu. Ketika kejadiannya begitu, aku selalu coba melihatnya lagi. Pipinya agak merah, pipinya itu seperti bakpau hangat yang diangkat di pagi hari; mengepul-ngepul dan hangat. Seperti pula hangat yang kurasakan setiap pagi, setiap menatapnya.

Aku tak ingin banyak hal dari Lani. Dengan melihatnya saja aku sudah senang, tapi rasanya jauh lebih menyenangkan ketika kami bisa sekedar ngobrol. Bicara tentang hobi atau sesuatu yang senang-senang. Aku ingin merasakan keriangannya. Melihat lesung pipi, senyum, dan gigi taringnya lebih jelas, lebih dekat. Mungkinkah itu? Rasanya keriangan Lani, keceriaannya, mampu menutupi ku yang lebih banyak diam dan sunyi, cenderung agak gelap dan pengap. Aku Cuma ingin obor, semacam pelita yang menerangi ruang-ruang gelapku. Aku kira itu kamu Lan… kamu yang punya obor beserta pelitanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: