Busuk (Kumpulan Puisi III)

“Pasir dan Asap Hitam Pekat”

hangus sudah
api berbalut keji luluh lantahkan
titian harap
patah tak sampai puncak
runtuh sebelum tersusun

saudaraku tabah kalian walau tangis menjadi karib
dalam terik, bersama pasir bermandi asap
berdarah-darah

selalu
habis tanahmu oleh kebiadaban
ceria kering kerontang
karna anak tergilas baja jalanan
yang muda dilahap mesiu busuk
di mana kapan benih-benih cerah kan muncul
selama dan selama…
anjing jalang terkutuk
gerogoti daging hingga tulang-tulang mu

habis tangis langit
bumi tersedu sedan
tapi idiot benar aku saudaru mu
jauh di sini
congor dan diam selayak senjata
bersungut-sungut, berbusa-busa tak guna
saudaramu yang lain sibuk dalam belenggu Jehova
jazirah hanya sisa benteng runtuh

H.G. Corleone, 2 Januari ’09

***

 

“Etalase Legislator”

hmm.., manis benar senyum bapa, ibu, saudara semua
barangkali kolak pun takluk oleh manisnya
dan ow.., sungguh indah nian saudara-saudari berpose kesana-kemari
tak kalah dengan model-model di TV
menjual segala pesona, walau nyata kering pesona
mengeruk-ngeruk kharisma, entah di mana adanya

itu gambar membanjir di pojok-pojok kota
hinggap di mana-mana bak lalat di pasar ikan
beribu ekspresi seolah berkata, memohon,meminta, mengajak, mungkin merayu
“beli..beli.., belilah kami maka kalian kan sejahtera
karena sembako murah pasti, pendidikan gratis niscaya, dan tanpa korup bukan dusta”
adakah ini semata etalase-etalase kebohongan
dari pesta demokrasi rakyat yang kita damba-dambakan?
ataukah hanya pasar dagang legislator?
yang dibeli untuk  berparodiria ?

AH..tak tahu lah aku
yang pasti kutahu, tukang cetak kehujanan durian runtuh
bukankah spanduk, baligo, poster, stiker bergelimpangan di mana-mana?
rupiah tentu terbang sana-sini
sayang tak mampir
pada tangan-tangan penanti beras
tak kan kennyanglah kita dengan baligo satu ton
menderita pula kita
diguyur janji demi janji

entah apa yang menanti
tak ada yang pasti
dibohongi atau dibodohi
dizalimi atau dikhianati
menunggu yang sejati
mungkin mimpi

rakyat semata batu loncatan
dipijak
ditinggal
saat kursi empuk terhampar
tinggal dilempar

H.G. Corleone, 7 mARET ’09

***

“Runtuh”

Panji agung nyaris lepas singgasana
tiang bermarkas rayap biadab
compang-camping berbau peluh dan darah
masihkah di puja para jelata
kini satria tergoda gelimang harta
lupa angkat pedang
kuda perang pesakitan

percuma mencari raja
raja terhanyut badut-badut istana
kutunggu bentengku runtuh
mati di tanah ibu
bersama belulang
para pejuang

H.G. corleone, 6 April ’09

***

“Tanah Nista”

Belati adalah tanganku
ketika hati beku bernaung hari sendu
gerombolan gagak pasti suka berburu
dalam kabut tebal abu-abu
desing peluru menderu tiada jemu
telinga memekak kaku
riuh rendah panggilan maut penghujung waktu

ini saku-saku amunisi
berisi
sepi orang-orang yang mati
penuh lempeng kalung nisan bersisa sedih
ku sendiri
terhimpit, bahkan terjepit hadiah keji
ternyata belum mampus juga kini
remah-remah kesombongan diniawi
akhirnya ku nikmati saja sendiri

bermandi genangan
merah anggur
perang
amat pahit dan berbau amis sedikit
hari itu aku kuyup
kepalang kuyup
kugandeng sahabat sejati
M-16 di tangan kiri

berjalan
lalu
tanah ini menangis

7 Juni ’09

***

“Injak”

Pada hijau padang
rumput, sungai, buah, dan padi-padi bersemai
bertumpahlah samudera manusia
Diantara riuh rendah sorak sorai
niscaya ringisan dan ratapan pun
terdengar bahagia

Saat di mana kita lupa
berjingkrak serta injak-injak
ketidakberdayaan
ketidakberdayaan yang lahir ketika
kita membutakan diri atau
membekukan leher
agar sekedar…

Agar sekedar menoleh pada genangan
genangan mereka
yang berkeringatkan tangis
yang bertangiskan keringat.

H.G Budiman, Jakarta 18 Agustus ’09

***

“Tanah Mengering”

Menyusu pada angin sore
nampak roda-roda belum bosan bergelinding
tak jemu pula decit hidup
bergulat aspal membara

di sini mentari masih senang
bermanja-manja kabut
atau hujan lebih rajin korek-korek
kebusukan tanah

tanah jelata tak bertuan
tanah gembur kekufuran
tanah istirahatnya orang-orang lapar

ku jalan dan lekat
pada mata, hati
yang nyaris tergeroti
bergelayutlah kekosongan mimpi:
nanti
langit pagi pasti
kan menunggu
tanah kering derita juga nestapa

14 September 2009

***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: