Cerita (Kumpulan Puisi II)

“Malam di Jatinangor”

lama sudah
tak kucium bau malam di jatinangor
haus pandang
pinggang-pinggang
berlalu-lalang
berwangi-wangi
gadis-gadis baru mandi
pria-wanita bergandeng
jadi pait mata bersantap

selalu
rindu menanti
pinggul montok
celana ketat
bergentayang sana-sini

makan malam suka-suka
sambil cakap-cakap sok pintar
bincang-bincang masa muda
tak tentu arah
hingga asap penutup
mengepul manis di mulut

H.G. Corleone, 16 maret ’09

***

 

http://www.toonpool.com by Freelah, ethnicolors

“kosong”

dinamis
sungutmu lontarkan berhujan kata
tentu berbuih sudah itu mulut
sering kosong tak berisi
namun
kosong ucapmu isi kekosongan lain:
rindu hangat sahabat
makian menjadi lecut
lelucon adalah pengikat
dan banyol selayak simpul

H.G. Corleone, 8 Januari ’09

***

“Di Sekitar”

Tak ada yang sia-sia
darat-udara
tanah dan gunung berkisah
tapi tembok rumah kadang punya dongengnya sendiri
miliki masing-masing cerita
ada pahit tapi indah tak sedikit

H.G. corleone, 29 Maret ’09

***

“Pagi”

selangkah
basah becek di tanah
langkah-langkah
mengejar pelangi ujung bumi
berlari
bersama cicit-cicit burung asing
berhenti
pada sayup-sayup hembus mentari
tafakur
daun-daun bergugur

dan mekar…
kau berdiri sensasi pagi
bergilir sejuk hati berpeluk
semurnakah ini ?

H.G. corleone, 3 April ’09

***

 

“Motormu itu”

(untuk kawan seperjuangan: Eric)

motormu rongsok betul
besi rombeng dipereteli angin
kratak krutuk bak tulang remuk
kecil awaknya seperi kau !
ributnya seperti bacot kau !
kuda besimu itu kadang batuk kronis
tapi kau tak batuk
kau sayang padanya
busung dadamu dengan stiker 46 di body

kami tau itu
melalui keceriaan yang diantarkannya
badanyanya kecil tapi energik
tak jarang pesan-pesan tawa
ia bawa di bagasi penyok
spakboardnya (??) pecah sebelah seret
angin-angin sejuk pada kebosanan malam
spion itu miring yang tak lupa
hari pertemuan dulu
pasti knalpot cempreng sembur
lelucon basi terkadang seronok

kami tau itu
kau adalah motormu
dan motormu persepsi kejujuran
kawan
kadang kami rindu ribut-ribut
tak karu knalpot butut

kami tahu
tapi jangan kau terkekeh di sana

H.G. Corleone, 1 mei ’09

***

“Menerawang Pagi”

Penaku rasanya rindu
nyanyian bambu
riak-riak air dan
riangnya embun pada dedaun
Ku haus hangatnya bermain kata
berguyon cerita

Penaku menunggu
seintip mentari, birunya pagi
penaku menanti
sisa hujan dan genting berharmoni
beri aroma rumput basah

sebasah tarian tinta
tanpa ampun
siratkan kerinduaan samudera

14 September 2009

***

“Surat Kepada Kawan”

kawan,
ada orang yang sejak dilahirkan
bermandi debu, bergemilang sampah
besahabat lalat-lalat malaria di pembuangan
ada orang dibesarkan bersama
asap knalpot dan menegak paitnya makian
ada orang yang menua dengan
otot yang reyot,
reyot mengayuh

kawan,
ku saksikan sendiri
seorang bapa akrabi baunya pipa paralon
berlulur lumpur-lumpur
kawan,
percayakah?!
ada seorang ayah yang hidup
bergantung pada tajamnya arit
menebas rumput-rumput liar
ku lihat pula
kakek renta berumahkan gerobak

kau bertanya kawan??
aku pun bingung..
tapi pasti ku tahu mereka bertahan

lalu,
kawan, sungguhkah kau rasa hidup ini pahit?
yakin ku penuh hidup tak demikian
seberapa berharga kebahagiaan
kau tanyakan sendiri pada penderitaan

kawan, tak usah ciut
tak perlu pula sedikit merunduk
lihat dan angkat
kita berada di masa sempurna
masa sempurna, dalam bara Olimpus yang selalu menyala-nyala
hadapi, seliar kuda Dipenogoro
terobos, setajam pedang Napoleon di Waterloo
kita sama dalam bara
sama dalam asa
kita bakar bara bersama

H.G. Budiman, 18 Oktober ’09

(*untuk kawan-kawan yang sedang mencoba menapaki dunia baru)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: