Garuda

Jika berkaca dari pemaknaan garuda, dan nilai falsafahnya, seharusnya kita bukan semata menilai kesuksesan timnas dari sebuah piala…


Sosok bernomor punggung 9 itu memasuki lapangan. Pria berawak tegap dan berambut macam landak ini, memasuki atmosfir stadion Gelora Bung Karno yang disesaki 80.000 penonton. Ia tidak nervous dengan antusiasme edan penonton; ada asap, ada bendera, spanduk, mercon dan kembang api bersaut sautan. Gonzales nampak percaya diri, seluruh tubuhnya dibalut atribut lengkap Tim Nasional Indonesia; jersey merah glamor dengan merk Nike, logo garuda kecil berwarna emas terjahit di dada sebelah kiri, dan garuda besar terpampang samar di keseluruhan kaos merah Indonesia. Maka, jadilah ia seorang berdarah Uruguay yang menyandang Garuda di sekujur tubuhnya. Ada garuda dalam Gonzales.

Tapi kegagahan itu hanya lalu. Di Stadion Bukit Jalil, Gonzales lebih banyak tak berkutik. Utina dan Bustomi lebih banyak sibuk bertahan, dan barisan pertahanan kita mengalami kepanikan yang akut. Maka terjadilah apa yang tidak kita inginkan; Indonesia harus tumbang dengan skor 3-0. Agak berat memang, tapi bukan tidak mungkin untuk kembali.

Terlepas dari hasil buruk dan catatan merah PSSI yang selalu banyak, kita harus mampu mengapresiasi kerja keras para pemain, dan sejauh ini atmosfir dan antusiasme sepakbola Indonesia kembali terbangun. Belum lagi kebangkitan ini merambah ke berbagai sektor, termasuk ekonomi (dengan catatan tebal mengenai tiket !), dan jauh lebih penting, sejauh ini hingga kekalahan tadi malam, kerja Timnas di lapangan hijau telah mampu menjadi unsur pemersatu bangsa, mencairkan segala perbedaan. Dari poin ini, timnas Indonesia sudah juara ! paling tidak, juara bagi masyarakat sendiri. Betapa tidak, toh kini merah putih dan garuda tersebar di seluruh pelosok lewat kaos-kaos dan atribut. Rasanya garuda sudah mampu mengangkasa kembali, walaupun, sekali lagi, kelahan 3-0 dari Malaysia memang wajar untuk disesalkan.

Saya pribadi justru lebih tertarik untuk kembali menengok falsafah garuda. Bukan maksud memitologisasi, tapi sekedar memberi perpektif lain serta sedikit mengobati kekecewaan kita semua. Ketika timnas mampu menjadi unsur pemersatu bangsa dan mampu membangkitkan spirit masyarakat Indonesia (yang sempat lesu karena bencana),  maka itu pun adalah sebuah kesuksesan. Spirit itu; semangat persatuan dan kebangkitan juga tercermin dalam filosofi lambang garuda.

Tentunya aspek menarik dari kasus ini adalah bagaimana kita memaknai Garuda bukan semata atribut kemenangan, namun mampu memaknai kesuksesan dari filosofi garuda, dan bukan semata piala AFF. Adakah kita sudah tahu makna filosofi garuda? Dapatkah kita mengerti pemaknaan yang muncul dari sebuah garuda dalam konteks sejarah maupun mitologis?

Dalam novel Arok-Dedes, Pram begitu piawai mepersonifikasikan Arok sang peletak pondasi kerajaan Singosari sebagai Garuda. Hal ini bisa terlihat dari percakapan antara Arok dengan gurunya, Hyang Lohgawa seorang Brahmana Hindu. “Dengan namamu yang baru, Arok, Sang Pembangun, kau adalah garuda harapan kaum brahmana.” Demikian perkataan Lohgawe pada muridnya. Kita pun tahu bahwa Arok adalah bapanya raja-raja Jawa, ia menumbangkan Tunggul Ametung dan melanjutkan silsilah wangsa Isana menyeruak hingga kejayaan Singosari di bawah Sri Kretanegara dan pendirian Majapahit di bawah Raden Wijaya. Jikalah Arok dipersonifikasikan sebagai garuda, ada aspek menarik lain karena Arok menguasai berbagai ilmu layaknya sayap garuda yang mengepak luas, begitupun nuansa keragaman dari silsilahnya; Arok muncul dari golongan Sudra, punya perilaku Satria dan menguasai ilmu Brahmana. Ia pun mempersatukan Tumapel dengan ketiga golongan, seperti pula Raja Erlangga yang mengutamakan keadilan dan persatuan.

Adapun dalam mitologi Hindu, garuda digambarkan sebagai dewa yang tangguh. Garuda adalah manusia setengah burung, dan merupakan tunggangan dewa Wisnu. Garuda digambarkan bertubuh emas, berwajah putih, dan bersayap merah. Paruh dan sayapnya mirip elang, tetapi tubuhnya seperti manusia. Ukuran tubuh garuda begitu besar sehingga dapat menghalangi matahari. Sinar garuda sangat terang sehingga para dewa mengiranya Agni (Dewa Api) dan memujanya. Pada peninggalan kerajaan Mataram, tampak pula patung Erlangga yang menunggangi Garuda. Dari titik ini, lambang garuda menunjukkan kedekatan budaya antara Indonesia dengan budaya Hindu di masa lampau, juga jauh lebih penting; melambangkan sikap tangguh dan satria dalam menopang kejayaan, seperti pula garuda yang memangku Raja Erlangga.

Jika berkaca dari pemaknaan garuda, dan nilai falsafahnya, seharusnya kita bukan semata menilai kesuksesan timnas dari semata piala, namun kita pun harus fair dan mengakui bahwa timnas telah mampu menjadi pemersatu. Lalu, kalaupun pahitnya nanti timnas gagal membawa piala AFF, sejatinya perjuangan timnas harus secara tangguh dan satria seperti pula garuda yang tersemat di dada para pemain. Tetap optimis karena ini baru sebuah awal, kebangkitan dan kejayaan masih menunggu. Dengan catatan: PSSI harus segera dibetulkan, direparasi semacam mesin.

***

H.G. Budiman (Bobotoh Persib dan Pecinta Sepakbola Nasional)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: