Ariel

Ariel membawakan sebuah lagu dengan elegan di Kebon Waru (4/1). Di atas panggung yang alakadarnya; cukup 5×7 meter,  di tengah kerumunan narapidana, ia masih selalu menampilkan performa menawan; seperti pula penampilannya di atas panggung megah, di mana para gadis muda belia meneriakinya dengan antusias. Siang itu Ariel memberi sedikit angin sepoi bagi para napi yang sesak dengan baunya terali besi. Sejatinya mereka semua sama; narapidana, hanya saja kharisma Ariel agaknya tak pernah surut. Dan kita pun tahu, Ariel adalah terdakwa kasus pornografi yang dituntut 5 tahun penjara, tapi kita pun tak lupa bahwa noktah hitam itu, tak membuat masyarakat amnesia akan kepiawaian Ariel menorehkan karya; lirik-lirik lagu yang bukan sekedar kata, namun lirik yang membawa petanda.

Lewat sosok Ariel, kini kita tahu bahwa bermain-main dengan kelamin dan kamera bisa berujung pada bui. Jaga tubuhmu dan gunakan teknologi dengan arif. Paling tidak, itu pesan yang bisa kita cerna. Aparat tak akan ambil peduli dengan karya, dan seberapa indahnya karya itu, tak akan mampu menjadi bahan pembelaan di muka hakim. Lalu, Banyak orang bicara tentang moral, ketika moral itu dicederai, apalagi di depan publik, maka tak ada tawar-menawar di dalamnya. Barangkali banyak masyarakat mencap pendosa bagi si pelaku, tapi sekalipun itu memang dosa, seberapa sucikah kita sehingga layak menghinakan si pelaku?

Kemudian, pornografi pun heboh manakala pemerannya adalah public figure. Sayangnya praktek itu; praktek persetubuhan di luar norma, juga terjadi di mana-mana, dan lewat media yang sama: kelamin dan teknologi. Bedanya hanya pada dikenal dan tidak dikenal. Pornografi pun hadir ke ruang publik, entah secara sembunyi-sembunyi atau blak-blakkan. Dan inilah masyarakat Indonesia; masyarakat yang latah dengan syahwat dan teknologi namun masih malu-malu mengakuinya. Jadinya paradoks, karena di satu sisi nilai tabu dan moral seolah masih melekat.

Jika begini, adakah pernyataan Mochtar Lubis memang masih relevan hingga kini? Bahwa salah satu ciri dari manusia Indonesia adalah hipokrit.

 

***

H.G. Budiman.

P.S: Harap maklum, ini hanya gumaman, sedikit corat-coret catatan kecil.

One thought on “Ariel

  1. sepatu bandung mengatakan:

    tanpa ada ariel pun pornografi sudah merajarela,,,

    jadi gw gk pernah menyalahkan areil…

    salam hangat…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: