Aksi Massa

17 Januari 1974, Jakarta adalah langit pekat abu-abu. Asap dan percik api belingsatan dari kendaraan-kendaraan yang menghangus. Baunya amuk, karena percikan api yang muncul sejatinya luapan keberingasan. Beringas, defensif, pada modal asing yang mulai mengintip. Tanpa menampik bahwa ada intrik-intrik politik yang mengekor atas aksi mahasiswa, kini kita tahu bahwa aksi massa sering kali menghasilkan si antagonis dan protagonis. Maka, kenal lah kita pada seorang Hariman Siregar. Kala itu sebuah nama mencuat sekaligus menutup kemungkinan-kemungkinan munculnya sosok katalis lain, toh selang 4 tahun setelah Peristiwa Malari, Konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) ditegakkan di bawah tiang sebuah rezim. Aturan yang menghinakan itu pun menandai senja demokrasi menuju gelap.

Seperti kata Hegel, begitulah bandul kehidupan, setiap zaman ke zaman berdialektika. Hingga kini kita tidak lupa bahwa aksi massa yang berbeda di tahun 1966 menandai suatu zaman baru, sebuah pergeseran sejarah. Secara simplistik tentunya kita bisa melihat, kadang sebuah perubahan dimulai dari keriuhan massa. Ada ide, ada semangat, massa, dan orang-orang penggerak, maka genaplah sebuah modal yang pada titik ekstrem tertentu disebut revolusi.

Pada 14 Juli 1789, di Prancis, sebuah keriuhan massa yang beringas menandai sebuah perubahan zaman. Aksi massa merangsek ke penjara Bastille. Massa penuh amuk meruntuhkan tembok kokohnya penjara tersebut. Akhir sebuah kekuasaan lalim pun ditandai dengan terpenggalnya Louis XVI. Sekali lagi perubahan itu dimulai dari massa. Tapi apalah artinya massa jika tanpa ide, maka dalam buku-buku sejarah SMA kita mengenal si protagonis Revolusi Prancis: Lafayette, Mirabeau, Sieyes, dan kawan-kawannya di Constituante. Dari sebuah keriuhan massa, sidang jalanan, dan dari sebuah negeri yang nyaris mati tercekik hutang, nampaklah sebuah rahim demokrasi; Pernyataan Hak-hak Manusia dan Warga Negara atau dalam lidah Prancis disebut Declaration des droits de I’homme et du Citoyen.

Dari poin ini kita pun tahu bahwa aksi massa juga terjadi di berbagai negeri. Ada Revolusi Bolshevik di Rusia, Revolusi Kebudayaan di Cina, dan Ahimsa-nya Gandhi di India. Keriuhan massa bisa membawa perubahan, tapi perubahan itu tak selalu berakhir pada apa yang dicita-citakan. Massa di satu sisi mungkin sebatas alat untuk berbuat kericuhan dan kehebohan.

Dalam catatan hariannya Soe Hok Gie pernah menulis tentang Long Macrh 1966: ”…. dalam saat-saat yang kritis ini mahasiswa bergerak. Mungkin mereka tidak sadar, tetapi dengan tindakan ini mereka mendahului ”mengambil alih” pimpinan perjuangan. Jika bukan mahasiswa, pemuda misalnya, aku tak dapat membayangkan keadaannya”. Gie memberi perspektif; boleh jadi aksi massa harus ditopang oleh kesadaran akan sebuah ide dan dipangku di atas beton intelektual agar massa tidak menjelma menjadi ecstacy anarkisme. Dalam sudut pandang seorang Marxis seperti Gramsci, aksi massa, atau sebutlah gerakan sosial, bisa lebih bermakna ketika kesadaran massa telah diinisiasi oleh para ”pengawal kebenaran” (intelektual Marxis dengan pengetahuan mereka tentang kebenaran kapitalisme) sepert halnya para pembujuk, pendeta, atau guru.

Lalu, kini ketika apa yang namanya reformasi telah bergulir sekian tahun, agaknya aksi massa—baik itu dilakukan mahasiswa atau organisasi kemasyarakatan—seperi barang jualan di pasar. Keriuhan massa dengn aneka problematika dan tuntutan pun telah menjadi keseharian, dan sayangnya lebih banyak yang berakhir rusuh. Jika begini adanya, aksi massa di zaman yang senewen ini, barangkali hanya menghasilkan para antagonis; antagonis yang menghendaki anarkhia, atau keadaan tanpa kekuasaan pemaksa seperti yang dikemukakan Mikhail Bakunin. Mudah-mudahan argumen saya ini keliru.

 

***

 

H.G. Budiman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: