Sore

Hari itu kota J menyisakan sisa-sisa panas siang yang anginnya terasa begitu berharga.  Bulan April rasanya angin agak malu-malu menampakkan diri, maka ketika ia muncul sesekali, rasanya menggelitik di kulit, di leher, atau di dahi yang berkeringat.  Matahari sudah senyap-senyap sore ,menyorot pada lorong lantai dua. Kelas-kelas sudah lengang, white board sudah tersapu bersih dari coretan, dan kursi-kursi rapi tertata tanpa penghuni. Sisa-sisa siswa SMA D yang masih nampak, menghabiskan waktu sore untuk aktivitas-aktivas yang kurang penting. Kurang penting atau berkaitan dengan hal-hal yang tak ada kaitannya dengan kepentingan sekolah; beberapa terlihat berbincang di lorong-lorong di depan kelas, beberapa bermain basket di lapangan, dan orang-orang Osis duduk-duduk di depan sekrenya. Pak Rosyid, satpam sekolah tak di posnya, seperti biasa ia mengecek pintu-pintu ruang guru dan TU. SMA D sudah nyaris sepi sore itu.

Jati duduk di samping lapang basket bersama kawannya, Beni.  Ia dengan pikiran yang entah ke mana, dengan mata yang kosong, menatap ke arah lapang basket; ke arah tiga orang anak yang dengan asyik melempar-lempar bola.  Suara bola memantul begitu tangkas di tangkap telinga. Lapang basket dan taman disekelilingnya menampilkan sunyinya sore. Angin menerpa dengan  intensitas yang jarang.

Mata Jati begitu kosong, sedikit lesu, kuyu. Beni, kawannya, tahu betul mata Jati menatap ke arah lapang basket, tetapi Beni lebih paham bahwa pikiran Jati tidak di situ. Rutinitas baru Jati; duduk dilapang basket menjelang sore sudah berlangsung sejak 3 hari yang lalu. Jati sudah tiga hari ini melupakan buku-bukunya yang biasa ditenteng, dibaca ketika istirahat siang atau selepas kelas selesai. Sejak tiga hari lalu, Jati lebih terlihat pasif, lebih pasif dari kepasifan Jati yang biasannya. Kini, ia, menyalahi pakem rutinitasnya. Ia jadi lebih senang, bukan, lebih tepatnya lebih memilih untuk berlama-lama di sekolah, o…bukan, lebih tepatnya untuk semakin berlama-lama di sekolah dari pada sebelumnya. Jika sebelum tiga hari yang lalu, Jati biasa pulang jam 3 lebih 20, kini Ia pulang hampir menjelang pukul 5, itu pun ketika Pak Rosyid sudah mencak-mencak bahwa pintu  gerbang depan sudah mau di kunci. Akhirnya, atau di waktu sore, Jati menjadi siswa yang paling terakhir pulang. Ya, hampir mencetak record karena ia pulang hampir berbarengan dengan Pak Rosyid si penjaga sekolah. Orang-orang, teman-teman sekelas tidak ada yang sadar dengan perubahan perilaku Jati, hanya Beni yang tahu, plus Pak Rosyid jika masuk hitungan, kerena toh 3 hari belakangan Pak Rosyid mendapati seorang siswa yang bertingkah aneh, lebih tepatnya mengesalkan. Jati tidak ambil peduli, ia hanya melanjutkan rutinitas barunya. Ia tak peduli apakah “aktivitasnya” disadari orang lain atau tidak.

Sore itu, seperti kemarin sore;  Jati duduk manis di bangku taman yang posisinya mengarah ke lapang basket, kali ini ditemani Beni. Sebuah kata rasanya begitu kaku untuk keluar dari kedua mulut mereka. Ada sesuatu yang menahan untuk hadirnya sebuah percakapan hangat.  Hanya ada kekakuan. Jati diam dan Beni canggung. Beni agaknya tak mau mengganggu suasana hati Jati. Beni tahu ada sesuatu yang tak beres setelah kejadian tempo hari. Beni enggan sahabatnya bertingkah aneh seperti lupa dengan sekeliling; lupa bahwa ia hidup dengan manusia-manusia.  Sejak peristiwa itu, Jati seolah membentuk bentengnya sendiri dan hidup dengan dirinya sendiri. Ia semakin tertutup.

Beni mencoba merangkai-rangkai sebuah kalimat untuk memulai percakapan, tapi ia sendiri tahu bahwa itu akan sulit, sesulit ketika ia pertama kali berkenalan dengan Jati dua tahun silam. Beni masih ingat, bahwa sejak dulu Jati adalah orang yang tertutup. Beni bisa membayangkan, seberapa tertutupnya Jati kini, terutama setelah kejadian yang tak mengenakan itu.

Angin tenang sesekali menerpa rambut Jati yang tak lurus; rambutnya kusut. Tadi siang ia lebih banyak tidur di pojok kelas. Lensa kacamatanya agak berdebu akibat angin sore. Dari samping, Beni bisa melihat sedikit warna belang pada kulit wajah Jati yang tertutup batang kacamata; kacamatanya jarang di lepas di tengah panas ataupun basah. Beni melihat wajah Jati yang runyam seperti kemeja yang lama tak disetrika. Beni tak tega karibnya murung

“Jat, lu pasti ga tahu, tadi siang pas lu tidur di kelas, bang Mao yang bertubuh kerempeng kaya cacing kering itu, diceburin ke kolam sama anak-anak…!! sumpah.. itu semua anak kelas 2-B cekikikan ampe puas. Hahaha… coba lu bayangin; kepala kerempeng bang Mao dipenuhi lumut-lumut dari kolam belakang.. si Dadang bilang, wajahnya kaya Bob Marley dengan rambut gimbal yang di cat hijau…huahahaha…”

“Apa dia marah ?”

“ya  gak lah… lu tahu sendiri bang Mao. Kalo udah begitu dia ngerasa dikaryakan. Eh…. bukannya ngadat, dia malah joget-joget kaya manusia tanpa tulang.  Dia santai, karena pulangnya pasti dia dianter ampe rumah sama si Doni. Ah, tapi ga pa pa lah… setaun sekali ini. Mumpung dia ulang tahun, toh ini ide cewenya sendiri.”

“Kasian bang Mao..”

“Kenapa kasian? Dia senang koq..”

Ah sial, gerutu Beni dalam hati. Dia tahu langkahnya keliru, bahkan Jati tidak tersenyum sama sekali.

“Justru dia kasihan, dari dulu selalu jadi bahan lelucon, dan kita tertawa tanpa dosa”

Beni sadar, Jati semakin sensitif dan perasa.

“Mau permen…?”

Beni mencoba mengalihkan topik pembicaraan, tapi Jati hanya menggeleng dan matanya masih fokus ke arah lapang basket tanpa menoleh ke arah Beni di sebelahnya.

“Kamu sudah makan Jat ?? temenin gue makan mie ayam yuk..? lapar nih.. ayo, gue yang traktir.”

Aku masih kenyang Ben.. lagian mbok Narti udah tutup jam segini.”

“Oia ya… gue koq jadi linglung begini..?”

Tiga orang anak di lapang basket masih bermain dengan asyik; menghentakkan bola, mengumpan, menyuting, dan tertawa-tawa seolah tak peduli dengan dua orang linglung duduk di dekat taman. Kondisi yang kontras; di satu sisi tampak ceria, di pojok sana tampak murung dan hening.

“Jat, kalau lu ga keberatan, boleh gue minjem buku lu yang judulnya… Tenggelamnya… tenggelamnya apa tuh..? tenggelamnya kapal apa gitu… gue lupa. “

“Tenggelamnya Kapal van der Wicjk.”

“Nah, yang itu barang kali….”

Kemudian hening… Beni berharap feedback pertanyaan terkejut dari Jati, tapi ia masih dingin. Beni berharap Jati mengeluarkan pertanyaan balik seperti: wah, sejak kapan kau suka baca? atau sejak kapan kau tertarik dengan sastra? atau pertanyaan yang paling diinginkan Beni seperti: ga puyeng kau baca buku yang sudah bau apek? Beni mengharapkan kelakar dari Jati, tapi itu percuma. Jati hanya hening.

“Besok aku bawa…”

“Boleh, boleh… kira-kira itu buku seru ga ya..?”  Beni bertanya sekenanya.

“Besok baca sendiri aja.”

“hmm…betul,betul, lebih asyik baca sendiri.”

Tak ada yang cair dari Jati. Ia masih kokoh, sekokoh namanya. Beni bingung untuk mencairkan si iceman yang satu ini.

“Lusa besok, kelas 2-B maen lawan 2-D, biasa…frendly-frendly-an.. lu maen ya? Kasian si Aji, dia bisa repot di belakang. Lu kan tau, Mambo bisanya cuman nendang kenceng, dia ga bisa ngumpan… kalo lu maen, paling ga bola di belakang bisa agak masuk ke tengah. Maen ya Jat…? we need you..”

Beni berharap umpan yang ini nyangkut. Beni tahu betul, Jati baru bisa berkoar-koar kalau bicara tentang bola, tapi…

“Si Mambo libero yang sempurna Ben.”

“Jadi..?”

“kasih dia kesempatan maen.”

“Maksudnya..?”

“Maksudnya apa..?”

“Maksudnya, lu maen apa ga..?”

“Enggak dulu ..”

“Kenapa?”

ga kenapa-napa.”

“Ah, aneh lu Jat. Biasanya lu selalu semangat.”

“Ben….”

“Apa…?”

“Ah, sudah lah…”

“Sudah apanya..?”

“Aku sedang males ngapa-ngapain.”

Beni sadar betul umpannya telah gagal. Sudah kepalang basah pikir Beni, sudah tiga hari dia tidak mengobrol banyak dengan Jati. Dia ingin menenteramkan hati kawannya.

“Jat, sebetulnya gue gak enak ngomongin ini, tapi tiga hari ini lu bener-bener berubah…  wuhhh.. gue tau kejadian kemarin itu emang ga enak, tapi lu mesti bangun. Ga sehat kalo lu terus mikirin kejadian itu. Paling ga, lu bisa cerita daripada bengong, melawun sampe sore kaya orang bego.”

“hmm…”

“Ayolah kawan, bicara donks… cerita apa kek, ngomong buku juga ga pa pa lah kali ini gue siap.. ayo lah Jat jangan bengong terus.“

“Sudah lah Ben… percuma.”

Matahari sore itu sudah nampak sayu, cahaya kuningnya menerpa lapang basket yang kering. Rerumputan hijau di taman seolah berwarna luntur. Pak Rosyid mulai nampak di tengah lapang, menghampiri tiga orang anak yang asyik bermain. Mereka berbincang. Dari jauh sudah bisa ditebak obrolannya. Salah seorang dari ketiganya mengangguk-ngangguk, dua orang lagi nampak kecewa. Dari raut mukannya nampak dan berkata: tanggung pak, sebentar lagi. Tak lama, ketiganya mengambil tas yang tergeletak di pinggir lapang lalu meleos ke luar. Pak Rosyid kemudian mulai menghampiri pada kedua orang yang serba tak jelas di kursi pinggir taman.

Gue tau Jat, kejadian kemarin itu pahit banget. Lu sayang sama Lani, bahkan terlalu sayang, tapi mau gimana lagi… kenyataan memang menyakitkan. Dan sayangnya, Lani yang lu puja-puja setengah mati itu, ternyata lebih suka cowo berjaket kulit dan bermotor Tiger. Ayo lah Jat…jangan murung. Kita bisa cari cewe yang lain, yang lebih soleh, yang sesuai dengan karakter lu.. ayo lah bro, jangan murung”

“Tak sesederhana itu..”

“Iya, gue ngerti Lani sudah….”

“Ini bukan lagi tentang Lani…” potong Jati

“Lalu.. ?”

“heh,, hey.. kalian ! pulang sana..! sudah jam 5. Pintu mau saya kunci. Kalian mau nginep heh ?!”

Pak Rosyid memotong perbincangan kaku antara Beni dan Jati.

Tak lama, Jati membawa tasnya yang tergoler di bawah kakinya. Ia berdiri, menggendong tasnya lalu berjalan ke luar. Beni yang sedikit bingung masih bengong di kursi taman. Ia melihat Jati melangkah pergi. Cat tembok sekolah nampak pucat di mata Beni. Sedangkan Jati, berjalan dingin tidak peduli sekitarnya.

“Hey boss, mo nginep di sini? Tuh, temen lu udah pegi …!” tegor Pak Rosyid pada Beni yang terbengong di kursi.

Beni diam, kemudian dia berjalan mengejar Jati.

Di lorong sekolah yang sudah agak gelap, luas dan melompong tanpa kesibukan yang biasa, hanya ada Beni dan Jati berjalan menuju ke halaman luar.

“Kalo bukan Lani masalahnya, lalu apa..? lu bener-bener gak mau cerita..?”

Sori, Ben. Saat kondisinya begini, aku hanya rindu Ibu. Aku hanya ingin nasihat dari Ibu. Mengobrol dengannya. Itu saja yang aku Ingin; ngobrol dengan ibuku.”

Beni seperti tertonjok, hatinya mengkerut. Bukan karena merasa legitimasinya sebagai seorang kawan seolah dilangkahi, namun ia insyaf keresahan Jati itu hampir sulit diobati. Beni sahabat Jati yang paling dekat, bahkan mungkin satu-satunya, dan Beni satu-satunya yang selalu mendengarkan kisah bahagia Jati dengan ibunya. Jati selalu bercerita; ketika kecil, ketika Jati diolok-olok oleh kawan sepermainannya di rumah, ibunya selalu hadir, mengelus-elus rambutnya, lalu mendongeng cerita-cerita heroik dari Grimm Bersaudara. Ketika Jati mendapat nilai matematika yang buruk dan dimarahi gurunya, Ibunya tidak pernah marah, namun saat hendak tidur, ibunya selalu bicara dengan nasehat-nasehat lembut yang membuat Jati kecil tidur pulas. Bahkan, ketika Jati menginjak masa puber  dan menyukai teman wanitanya di SMP, ibunya selalu bilang dengan bijak bahwa rasa cinta itu anugerah. Namun kini, hal itu tidak didapatkannya. Ibunya meninggal empat tahun lalu karena sakit. Kini, di saat yang paling memilukan, di saat emosi seorang remaja begitu labil, ibunya tak ada di situ.

Beni mulai paham kenapa Jati begitu enggan pulang ke rumah. Ia diam dengan haru melihat punggung sahabatnya dari belakang.

Jati pun berjalan di tengah sore yang hangat, meninggalkan lorong sekolah menuju gerbang, lalu berdiri di trotoar menunggu bis yang mungkin baru akan lewat setelah limabelas menit. Jati berdiri begitu tegak di tengah sore yang hangat.

 

***

H.G. Budiman, 18 Februari 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: