ISL Best Eleven

Liga Indonesia sudah memasuki putaran II, kita tahu bahwa Persipura hingga pekan ini masih bercokol di puncak klasemen. Hanya mengalami dua kekalahan, Persipura bersama sang kapten Boaz Salosa agaknya mulai menapaki pintu kampiun. Liga kali ini, terlepas dari sengketa PSSI, mulai memiliki trend baru. Kini, tim-tim pendatang baru macam Semen Padang, dan Deltras sudah mampu menempatkan diri di papan atas. Adapun Sriwijaya dan Persib, yang musim lalu bercokol di papan atas dan berstatus tim besar, mengalami strart yang buruk dan terseok di papan tengah. Dalam dinamika yang demikian, tentu kita melihat permainan tiap-tiap tim, termasuk di dalamnya para pemain yang berkonstribusi. Hingga pekan ini, dan memasuki 3 pertandingan awal putaran ke dua, setidaknya ada beberapa pemain yang menonjol dan berkonstribusi lebih bagi timnya. Saya sendiri memiliki Best Eleven Player LSI di putaran I, mulai dari penjaga gawang hingga pemain depan. Simak ulasan berikut ini:

GK: Kurnia Mega (Arema)

Kiper muda yang paling menjanjikan dua tahun belakangan ini. Mega punya postur yang awat ideal bagi seorang penjaga gawang. Meliki respon, reflek, serta positioning yang baik. Mega mampu tampil konsisten bersama Arema selama putaran pertama. Alih-alih Arema kehilangan Njangka sebagi pilar lini belakang, Mega masih mampu membuat nyaman dan percaya diri para kuartet lini belakang Arema. Jika mampu menjaga performa,  Mega kiranya bakal menjadi kandidat kuat pengganti Markus di masa-masa yang akan datang. Satu kelemahan Kurnia Mega adalah emosi yang meluap-luap dan mudah terpancing, namun ketika mencapai pick performance, Mega mampu membuat frustasi striker lawan. Ia pun mampu tampil baik sebagi kiper Timnas Pra-Olimpiade.

DC: Claudiano (Sriwijaya)

Bek tinggi besar asal Brazil ini agaknya menjadi salah satu pembelian tersukses Sriwijaya FC. Cladiono representasi bek modern di Liga Indonesia. Sebagai seorang bek, kemampuannya cukup lengkap; tangguh dalam bola-bola udara, mempunyai strengh dan tackling yang mumpuni, kepercayaan diri untuk mendribel bola, serta kemampuan spesialnya dalam eksekusi tendangan bebas yang akurat. Sejauh ini, Claudiano adalah salah satu paling produktif di tahun ini. Kemampuan Claudiano memimpin lini belakang mengingatkan kita akan ketenangan Njangka di musim lalu. Sayangnya, kekonsistenan Claudiano tidak didukung kekompakan pemain lini belakang Sriwijaya yang lain, alhasil Sriwijaya agak terseok-seok di papan tengah.

DC: Purwaka Yudi (Arema)

Salah satu bek lokal yang mampu tampil menonjol sejak tahun lalu. 2010 lalu, duet Purwaka Yudi dan Njangka mampu membentuk lini belakang Arema sebagai lini belakang tersolid. Purwaka merupakan pemain hasil besutan Rene Alberts, karakternya khas, memiliki kesamaan dengan intelegensi Bustomi dan Zulkifli, ditopang pula oleh gaya ngotot warisan Rene Alberts. Ia memiliki kemampuan intersep yang baik, bukan semata menjaga lawan tapi juga menjaga dengan kecerdasan. Sejatinya, tidak ada yang terlampau spesial dengan Purwaka Yudi, keunggulannya tidak lepas dari kecerdasannya menjaga lini belakang serta efisiensinya. Jika di Timnas, Hamka dan Maman selalu tampil lugas dan sedikit rusuh, maka Purwaka Yudi menunjukkan ketenangan dan antisipasi yang efektif.

DL: Nasuha (Persija)

Nasuha agaknya masih menjadi bek kiri terbaik di Indonesia. Ia seperti di piala AFC lalu, mampu menampilkan permainan menawan; mampu bertahan dan menyerang sama baiknya, ditopang oleh stamina yang mumpuni. Bermain bersama Persija di tahun ini, semakin mematangkannya di posisi sayap; baik sebagai bek sayap ataupun midfield sayap. Keberadaan Nasuha di bek sayap kiri Persija, kiranya semakin mempermudah suplai-suplai bola yang mengarah ke Greg Nwokolo. Dan hebatnya, Greg mampu mengkonfersi umpan-umpan menusuk untuk menjadi gol. Nasuha punya pace yang baik; sebuah modal baik seorang bek modern.

DR: Hengki Ardilles (Semen Padang)

Hengki rasanya bukan pemain yang sesempurna Zulkifli di sayap kanan, hanya saja perkembangannya tahun ini, agaknya merupakan puncak kematangan karirnya. Sejak muda bermain untuk semen padang, dan kini menjabat sebagai kapten, Hengki Ardilles mampu menunjukkan leadership dan konsistensi di pertahanan kanan. Ia pernah melakukan gol indah lewat one-two touch dengan Saktiawan Sinaga. Kematangan dan teamwork-nya cukup teruji. Ia jarang melakukan pelanggaran-pelanggaran tak penting. Tingginya postur tubuh, memudahkannya mengantisipasi bola-bola udara. Sebagai bek kanan, Hengki bukanlah pemain yang memiliki kelincahan, namun kesigapannya mampu menjanjikan kesolidan di lini belakang. Posisi Semen Padang yang berada di papan atas cukup untuk merepresentasikan betapa baiknya lini belakang mereka.

MC: Ahmad Bustomi (Arema)

Calon jenderal lapangan tengah Tim Nasional indonesia. Tak ada yang meragukan kemampuan Bustomi di lini tengah. Masih tampil konsisten seperti musim lalu, ia selalu menjanjikan lini tengah yang dinamis. Rasanya Tak perlu deskripsi panjang lebar untuk pemain yang satu ini. semua orang sudah tahu sejauh mana kualitas Bustomi.

MC: Wanggai (Persipura)

Jika dulu Indonesia punya sosok macam Syamsul, kini Indonesia tak perlu khawatir kehilangan sosok gelandang tenaga kuda. Wanggai mampu menyuguhkan kengototan dan energi seperti Syamsul. Lebih hebatnya, Wanggai memiliki ofensifitas yang tinggi, juga ditunjang oleh skill mendribel, kelenturan dan akselerasi. Seandainya kemampuan Bustomi dan Wanggai digabungkan, rasa-rasanya sebuah tim akan memiliki kesolidan dan agresifitas yang baik. Kelebihan lain yang khas dari Wanggai adalah gerakan dan manuvernya yang eksplosif. Tergusurnnya Edward Ivak Dalam di lini tengah Persipura, cukup untuk membuktikan betapa Wanggai mampu memberi warna baru dalam permaianan anak-anak Persipura.

ML: Greg Nwokolo (Persija)

Sebetulnya, untuk posisi sayap kiri di ranah lokal, Indonesia memiliki Okto dan Ian Kabes, hanya saja sejauh ini belum ada sosok sayap kiri yang sesempurna Greg Nwokolo. Dengan usia yang relatif muda, stamina yang prima, Greg mampu memaksimalkan speed dan kemampuan dribelnya. Begitu sering kita disuguhi tontonan menarik lewat aksi-aksi individu Greg. Aksinya terkadang mampu menarik 2 sampai 3 perhatian bek lawan, alhasil Greg kadang mampu memberi umpan matang pada targetmen atau langsung mengeksekusi bola. Sejatinya Greg memiliki kapabilitas sebagai seorang striker, namun coach RD yang memberinya pos di sayap kiri, sepertinya mampu mengeksplor kemampuan Greg dengan maksimal. Ia sangat potensial kotak penalti. Greg bukan tipikal pemain sayap yang hobi memberi umpan crossing, ia lebih menyukai tusukan-tusukan di kotak penalti. Lini belakang lawan seringkali berantakan akibat aksi individu Greg.

MR: Ridhuan (Arema)

Saya berani mengatakan bahwa Ridhuan adalah Arjen Robben-nya Arema. Kemampuan terbesar Ridwan adalah speednya. Di samping speed, Ridhuan memiliki inisiatif bertahan yang baik. Ketika Janu, pelatih Arema, menerapkan pola disiplin, Ridhuan tak kesulitan untuk menyesuaikan diri. Kelebihan Ridhuan adalah kemampuannya yang cocok untuk skema serangan balik. Kecepatan Ridhuan sering kali membuat repot bek-bek sayap lawan. Ridhuan merupakan sedikit pemain sayap yang memiliki produktifitas mencetak gol. Jiga Greg di kiri mampu melakukan tusukkan ke kotak penalti, maka Ridhuan memiliki kemampuan crossing dan tusukkan yang sama baiknya. Seperti kebanyakan karakter pemain-pemain Arema, Ridhuan memiliki intelektualitas dalam bermain. Sedikit kekuarangan Ridhuan adalah lemahnya dalam strengh ketika adu badan. Overall, Ridhuan merupakan salah satu pemain asing terbaik di Indonesia. Pembelian Arema yang sukses selain Chmelo.

FC: Junior Wilson (Semen Padang)

Junior Wilson merupakan salah satu pemain asing yang melejit di tahun ini. Wilson sempat membawa Semen Padang bercokol di ururtan dua kelasemen LSI. Menunjukkan penampilan yang menjanjikan di awal musim, Wilson menjadi ancaman tersendiri bagi bek-bek di Indonesia. Walaupun finishing Wilson tak seistimewa Gonzales atau Gumbs, tetapi ia mampu memberikan konstribusi yang maksimal pada Semen Padang. Wilson menjadi pemain yang tak tergantikan di skuad Kabau Sirah. selain itu, Wilson menjadi andalan dalam membangun serangan. Ia mampu menjadi wall yang sempurna untuk pemain tengah Semen Padang. Kadang ia menjadi alone striker yang mumpuni ketika Kabau Sirah menumpuk pemain tengah. Adapun aksi individunya kerap kali membuat kalang kabut bek-bek lawan.  Bercokol sebagai salah satu top skor di bawah Boaz, bisa memberi garansi akan kepiawaiannya di lini depan. Sedikit kelemahan Wilson adalah skill one on one ketika berhadapan dengan kiper. Kadang bola melenceng, ketika peluang begitu menganga.

FC: Boaz Salosa (Persipura)

Striker yang sedikit bengal ini kini mulai menapaki kematangannya. Wonderkid temuan Peter White ini telah menunjukkan skill di atas rata-rata striker di Indonesia. Boaz memiliki mobilitas tinggi, skill penguasaan bola, speed, serta penyelesaian akhir yang dingin. Lebih menyenangi bermain melebar, Boaz mampu memanfaatkan ruang kosong di lapangan. Bola-bola daerah adalah santapannya. Dengan ban kapten di lengan, kini Boaz memberi pengaruh positif bagi skuad muda Persipura. Kepaduannya dengan Tibo, sedikit banyak memperlihatkan  pengaruh positif Boaz pada pemain junior. Menjadi top skor di musim lalu sepertinya akan berlanjut di musim ini. Jika performanya konsisten, bukan tidak mungkin Boaz menjadi pemain terbaik LSI musim ini.  Dan kita tentu berharap Riedl bersedia meliriknya kembali.

Untuk cadangan dari kesebelas pemain di atas, saya punya pilihan tersendiri:

GK: Hendro – konsisten (kembali) bersama kuartet lini belakang Persija

DC: Hamka – tampil optimal bersama Igbonefo dan Bio Pauline

DC: Dadic – Bek Eropa Timur yang mengerti betul iklim di LSI, selalu tampil konsisten

DR: Zulkifli – salah satu bek kanan terbaik di Indonesia

DL: Fandy Mochtar – eksplosif, mampu mencetak gol layaknya striker

MC: Eka Ramdani – Pemain Persib paling konsisten selama 5 tahun terakhir ini

MC: Dirga – Fighter yang baru melejit  bersama Sriwijaya FC

ML: Ahmad Amirudin – Kembali menemukan performa terbaiknya seperti beberapa tahun lalu

MR: Siswanto – dalam racikan Daniel Roekito, Sis menemukan lagi bentuk permainan terbaiknya

FC: Marcio – Spesialis tendangan bebas, mampu membawa Deltras di papan atas

FC: Gonzales – masih yang terbaik, dan tak bisa dilupakan

One thought on “ISL Best Eleven

  1. downno mengatakan:

    terimakasih infonya.., mantabs banget nih.,, jangan lupa mampir kesini juga ya : http://motogp.unsri.ac.id/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: