Our Place

*Untuk Rawaekek’s Brothers

Kamar itu masih tampak kusam, selalu kusam, dan memang begitu dari dulu-dulu. Temboknya batako yang besar-besar, di cat putih alakadarnya. Ada beberapa poster yang menclok di sana; gambar Travis yang bertato sambil melotot, poster Sevenfold, MCR, photo-photo pribadi, dan yang paling terakhir dan terbaru, terdapat gambar Asmirandah berkerudung hijau (bukan poster tapi potongan koran). Jendela kamar hanya satu, berdebu, dengan kain kordeng lusuh.  Kamar itu, rumah itu, sejatinya masih sama seperti lima tahun lalu; ketika kami masih berkumis tipis, bercelana gombrong, dan bergaya-gaya macam anak-anak SMA baru lepas dari rumah.

Rumah itu hanya dihuni oleh tiga benda elektronik paling berharga; televisi dengan gambar yang dikerubungi semut, komputer ringkih yang terjangkit virus shortcut, dan dispensir—entah apa merknya—yang sudah bocor. Ketiganya masih sangat berguna hingga kini. Televisi biasa kami gunakan untuk nonton bareng bola, lihat mba Grace dan mba Tina di tvone, atau sekedar nonton infotainment-infotainment tak penting untuk jadi bahan obrolann nyeleneh; misalnya, sexy mana Aura Kasih atau Syahrini? Atau misalnya, sudahkah pas kemben yang dipakai Veni Rose?

Komputer yang sudah ringkih biasa kami gunakan untuk mengapresiasi karya-karya kami macam puisi, cerpen, esai, belakangan skripsi, tapi terkadang pula kami gunakan untuk mengapresiasi film. Kadang kami suka Digital playground, tapi kami juga suka JAV film. Ah, itulah kami seperti kebanyakan anak-anak muda di usia 20-an. Kini, harusnya kami merasa lebih “beruntung”, toh situs-situs tak jelas sudah di blokir Pak Tif.

Kembali pada barang, adapun Dispenser masih sangat bermanfaat untuk sekedar memanaskan 3-2 gelas air. Galonnya tidak pernah terpasang di dispenser. Hal itu sengaja kami lakukan agar air tidak bocor. Jika ingin kopi, kami cukup menuangkan beberapa gelas air pada lubang isian dispenser. 2 gelas kopi bisa sangat berharga untuk obrolan semalam suntuk.

Oia… ada satu barang lagi yang nyaris terlupa, yaitu rice cooker. Di rumah itu tidak terdapat kompor yang sehat, maka rice cooker sangat berjasa ketika kami lapar dan hanya bermodal mie instant atau beras.

Itu lah tools bagi kami untuk melangsungkan hidup, ngumpul, atau sekedar ngobrol-ngobrol tak penting. Tanpa tools itu, tentunya eksistensi kami dipertanyakan; adakah kami mampu bertahan di sana?

Kembali ke ruangan. Rumah itu hanya memiliki kurang lebih 4 ruangan; pertama, ruang tengah. Ruang ini mungkin hanya sebesar 5×4 meter. Isi ruangan ini sungguh berantakan; ada dua buah meja kecil dengan isi yang tak jelas, mulai dari tumpukkan draf skripsi hingga botol-botol bekas. Di samping meja ada setumpuk tas-tas buluk dan sebangsanya. Di pojok ruang tengah terdapat pula lemari plastik. Adapun di dekat pintu biasanya tergeletak sepatu-sepatu atau sandal. Jika kami sedang rajin, biasanya ruang tengah itu kami gunakan juga untuk sholat berjamaah.

Kedua, kamar. Kondisi kamar sedikit banyak sudah dijelaskan di awal. Di ruang tersebut, bagi kami adalah ruang utama, tempat brain stromming, debat tak jelas, menghabiskan rokok, main gapleh, main winning, nonton bola juga ruang rapat ketika kami membicarakan hal-hal penting, seperti: rencana travelling,  skripsi, buku, mencemooh artis-artis di tv, meledek beberapa orang aneh, juga membicarakan wanita dan sejenisnya. Dibagian pojok kamar, atapnya bocor, jika hujan ember harus siap sedia di sana.

Ketiga, kamar mandi alias wc, alias kakus, alias bilik bermenung. Ruang yang satu ini adalah ruang paling ogah-ogahan tapi juga paling penting. Kenapa harus ogah-ogahan segala? Betapa tidak, kondisinya tidak lebih baik daripada wc umum di terminal. Wc-nya memang tidak bau, tapi tembok bergambar bunga warna biru sungguhlah khas terminal. Lampunya mati, kabelnya jeprut, jika malam ke wc maka gelap gulita lah kita. Baknya bocor, sehingga kami pergunakan ember dalam bak. Air kerannya jalan hanya di waktu-waktu tertentu; pagi dan malam. Andai kata salah satu atau salah dua dari kami kebelet, maka dengan terpaksa kami menggunakan wc masjid demi kemaslahatan umat. Adakah kondisi yang lebih baik dari itu??

Keempat, ruang dapur. Entah lah ruang dapur atau apa sebenarnya. Kami kira, kami sendiri bingung mendeskripsiskannya, yang kami tahu ruangan itu tidak lebih dari 3x 1 meter. Isinya: tali jemuran beserta anduk-anduk lusuh nan bau, beberapa baskom berisi piring, ember bocor, tong sampah, piring kotor, keset yang basah, sapu injuk, dan sebuah kompor yang agaknya bakal mleduk jika dipakai.

Ruang lainnya adalah halaman belakang yang dipenuhi rumput-rumput liar dan seonggok bekas sampah terbakar. Properti tambahan di ruang ini hanya sebuah tali jemuran.  Kami selalu curiga, mungkin saja di halaman belakang terdapat makhluk-makhluk yang tak dikenhendaki eksistensinya.

Satu lagi spot yang tidak bisa dibengkalaikan adalah halaman depan alias tempat parkir; tempat parkir yang tanpa atap. Sebuah motor setia nongkrong di sana, motor yang tampak seperti kakek tua selalu terparkir di situ dengan ganjelan batunya. Sepertinya motor tua yang terparkir itu sudah menjadi aksesoris keramat di teras depan. Di pagi hari, ketika waktu senggang dan kami bingung meraba-raba kegiatan, teras depan selalu jadi arena menghabiskan kopi atau sebatang rokok, atau semangkuk-dua mangkuk bubur ayam. Kadang teras depan menjadi ruang bagi kami untuk me-refresh mata; melihat ibu-ibu muda atau abg-abg yang berlalu lalang di jalan.

Demikianlah itu deskripsi rumah yang biasa kami; Erik, Syamsir, saya, Uki, Igor, Bulky, terkadang Yandri, dulu dihinggapi Ade, pernah rutin disambangi Agung, Dheni, juga Refki, untuk digunakan sebagai tempat bernaung. Kami begitu tahu, sadar sepenuh hati, bahwa tempat itu begitu blangsak, macam kapal ambruk, atau gudang dan sejenisnya. Tapi entahlah apakah ini sebuah kegialaan atau anomali, yang kami yakin, kami cukup betah di sana. Terkadang hal-hal fenomenal dan legendaris muncul dari sana, terkadang pula hal-hal tak penting menjadi penting bagi kami.

Dulu, ketika kuliah dan skripsi masih marak, bagi kami, rumah bertipe 21 di komplek Rancaekek Kencana itu adalah ruang tempat berteduh dari kepenatan atau tempat menggilas waktu, karena ketika kami di sana, kami melupakan kepenatan di luar. Hanya saja, kini, agaknya ada sesuatu yang tak rutin lagi,  di luar orbitnya dulu; satu persatu kawan-kawan tak lagi rutin singgah di sana. Toh, kuliah sudah tinggal lalu, ada yang mulai bekerja, ada yang mengadu nasib di Jakarta, ada yang asyik di rumah masing-masing, dan ada pula yang berkutat dengan skripsi yang hampir rampung. Sekedar tahu saja, kini, agaknya Syamsir lebih banyak berdiskusi dengan tembok-tembok batako bercat putih itu. Bulky kabarnya sesekali singgah di sana selepas les bahasa inggris.  Saya, Uki, Erik, Igor, kadang dua minggu sekali menyempatkan berkunjung ke sana untuk sekedar berbagi keluh kesah tentang pekerjaan, atau sejenak membicarakan hal-hal bodoh. Terakhir kami ke sana, 12 Maret minggu lalu. Kami ke sana, menghabiskan beberapa bungkus Marlboro, beberapa botol coca-cola, juga snack-snack yang sengaja Erik belikan.

Saya kira masa itu; masa ketika semua dari kita bertaut ikatan nasib yang sama, dan memanggul kepedihan dan keriangan yang sama, cepat atau lambat, suka atau tidak, masa itu akan segera berlalu. Masing-masing dari kita akan membawa tawa dan kepedihannya sendiri-sendiri. Dan itu keniscayaan. Memang, semua dari kita akan selalu mencoba mempertahankan pendeknya masa muda, rasa kekanak-kanakan yang selalu ingin dipayungi, kasmaran yang meletup-letup, dan kegilaan yang khas, namun seberapa mampukah kita mempertahankan itu ketika ditantang waktu dan dialektika hidup?

Kelak, dan itu pasti, rumah di rancaekek itu akan kosong. Syamsir mungkin akan segera pulang ke Lampung,  Erik melanjutkan hidupnya di Bandung sambil bekerja. Dan kita mengukir hidup kita di tembok yang berbeda. Kelak, rumah itu pun hanya akan menyisakan tembok batako bercat putih, wc yang tak berlampu, dan ruang tengah yang berdebu.

Kalau umur kita panjang dan kembali ke sana suatu saat nanti, 10 atau 15 tahun jauh ke depan, untuk sekedar melihat rumah itu, tentu kita akan tersenyum dan tertawa dengan haru. Jika saja itu terjadi, sebagian dari kita akan terharu lalu meghisap rokoknya dalam-dalam. Sebagian ingat akan hal-hal gila, dan tentu saja sebagian ingat akan masa muda yang begitu singkat.

H.G. Budiman, 16 Maret 2011

P.S: Tulisan ini hanya bentuk corat-coret untuk sekedar mendokumentasikan, mengabadikan, mengingatkan yang telah lalu dan yang akan segera datang.

sori, aink teu manggih poto nu pas, nu nangkap imah di rancaekek…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: