Hujan yang kepagian

Payungmu terlalu kecil untuk kita berdua. Kamu sengaja memilih payung yang ramping, payung kecil, mudah dilipat, dan praktis. Aku maklum, toh aktivitasmu memang menuntut  kepraktisan dalam segala yang berjalan begitu dinamis di duniamu. Hari ini, ketika mentari belum menggenapi siang, kala usia pagi masih dini, awan yang sontak memanggil rintik hujan agaknya membetot kita pada sebuah jarak; jarak antara aku, kau, dan payungmu yang begitu kecil ini. Kau tahu, kaki kita tadi nyaris terjerembab selokan di pinggir terotoar ketika kau terburu-buru membuka payung dan berlari. Di tengah kota Jakarta pagi ini yang mendadak agak ramah sekalipun, aku selalu tak mampu mengimbangi kecakapan langkahmu.  Obrolan kita di simpang jalan itu belum selesai ketika awan mengipasi anak-anak hujan. Sekarang, di bawah payung kecilmu, aku begitu ingin berkata: “Kasih, maukah sejenak mampir ke kedai di depan sana? Meneguk segelas kopi hangat sambil kita berbincang”. Sayangnya, aku dan kamu pun tahu, dengan segala kesibukanmu, hal itu tidak mungkin dilakukan.

Seperti hari-hari yang lalu, kau selalu tak punya banyak waktu di hiruk pikuknya pagi Jakarta; sepuluh menit di halte, empatpuluh lima menit di busway atau tigapuluh menit di dalam taksi. Selepas itu, kau tenggelam dalam tautan waktu dan pekerjaan. Entah, waktu kita bertemu pun tiada menentunya bergantung pekerjaanmu yang saling berkejaran dengan kecepatan.

Hari ini, pagi ini, dalam jalanan yang serba becek, beserta suara riak hujan yang mengalun penuh distorsi knalpot motor, taksi, dan kopaja-kopaja yang liar menderu, aku hanya ingin menikmati waktu 5 menit di bawah payung kecilmu ini; Berdua. Sebelum taksi berhenti di depan kita lalu membuka pintunya, dan membawamu melaju ke sana. Manisku, rasanya aku ingin melingkarkan tanganku ke pinggangmu, sambil membaui rambutmu yang sedikit basah karena hujan ini. Biarlah kita berdiri di sini, tapi agak jauh dari air yang menggenang di depan trotoar sana. Aku enggan kemeja biru muda kesayanganmu terciprat motor-motor yang membelah jalan dengan ketergesaan ke tempat-tempat kerja.

Jika kau tahu, punggungku sudah basah sedari tadi.  Jaket maupun kemeja bukan pakaian akrab bagi seorang penghuni anyar kota ini. Andai saja aku pakai jaket sebelum berangkat, inginnya kusampirkan di pundakmu.

Bagiku tak mengapa sedikit dingin, aku memang suka dingin; dingin hari ini, walau tidak sejuk, mengingatkanku  suasana di Bukit Tinggi, kampung yang kurindukan. Ah, Aku nyaris basah kuyup. Biar sajalah, asal nanti kau tak basah dan kedinginan di kantormu yang penuh AC.

Sambil memegangi payungmu, tetes-tetes hujan terus berjatuhan di dekat kaki kita. Benak ini menerawang, menjauh dari laju-laju kendaraan yang kian menumpuk: aku terlalu sulit untuk memberimu peneduhan yang layak, memberi sepercik kemewahan bagi wanita yang harusnya bisa dinyamankan oleh lelaki terkasih. Hati ini kerut mengingat itu; seperti kau tahu, satu-dua lukisanku sekalipun laku terjual, tak akan mampu membeli motor apalagi sebuah mobil yang bisa mengantarmu pergi ke kantor. Seperti sebulan lalu, ketika sebuah lukisanku laku di pasar seni, senangnya bukan main. Alih-alih ingin mengajakmu makan malam di restoran mahal dengan dua gelas Sampanye dan lilin, akhirnya kita mojok di roti bakar Edi. Saat itu tentu kau mengerti, Mahmud rekan dagangku yang ramah dan sopan itu, harus segera membayar biaya masuk anaknya ke SMP.

Untungnya, aku bisa berlega hati, kau masih nyaman cekikikan saat kuceritakan leluconnya Pidi Baiq. Bersama pisang keju, roti bakar dan teh manis yang kau pesan, kita bicara hingga larut, sampai kau pun menguap lebar,  menyisakan mata sipitmu menjadi garis lurus dan bertitik-titik air di sudutnya. Jika sudah begitu, kewajibanku membujukmu, atau jika masih bandel, sesekali harus juga memaksamu pulang dengan embel-embel rapat redaksi yang harus kau ikuti besok pagi.

Ya, aku ingat betul itu sebulan lalu ketika kerjaanmu sedang longgar, kita pun bisa sedikit bersenang-senang berdua dalam hura-hura ala kita; tanpa Jazz, tanpa anggur atau sofa-sofa empuk di cafe. Aku selalu berpikir, heran, juga sedikit cemas, bahwa kau sesungguhnya punya kapabilitas dan kemungkinan yang selalu menganga, untuk paling tidak, bisa memilih lelaki ber-Mercedes dengan dasi Pierre Cardin serta berjas perlente Arnon Brook, bukannya pria belepotan cat minyak, kumal dan jarang bercukur ini.

Aku sadar betul, andai Bang Jali tidak membawaku ke kios buku itu, tentu hari ini kita tidak berdiri berdua di bawah hujan, sambil menunggui  taksi yang lewat, lalu aku akan menanti saat mengecup keningmu sebelum taksi akhirnya mengantarmu pergi. Kalau saja hari itu kau tak mencari Seribu Kunang-kunang di Manhattan dan aku bukan mencari Para Priayi, tentu kita tidak akan terlibat obrolan mendalam tentang Umar Kayam. Dan tentu saja, tanpa momen itu; kala kau ngotot dengan kesalahan argumenmu, mungkin  saat ini kita bukan kopi dan koran yang selalu kau umpamakan. Jika hari itu kau tak emosional menyemburkan kekagumanmu pada karakter Bawuk, mungkin saja hari ini kita sibuk di dunia sendiri-sendiri; aku menyelesaikan lukisan di bengkel, sementara kau sibuk dengan laptopmu di kantor serba dingin dan kaku. Mungkin pula kita tidak saling kenal tanpa itu semua. Mungkin, mungkin saja. Tapi kini, pagi ini, di tengah anomali cuaca Jakarta, agaknya aku masih bisa tersenyum meski kau tak harus tahu.

Dua atau tiga menit lagi, taksi akan segera lewat. Aku masih ingin menikmati dingin-dinginan kita di bawah payung mungilmu. Kulihat orang-orang berkemeja rapi sudah berjejal dalam halte busway di seberang sana, beberapa orang berlarian menutupi kepalanya dengan koran, jaket, atau tas. Karyawati-karyawati muda nampak lalu lalang, gopoh-gopoh dikejar jam masuk.

Aku menikmati momen ini;  saat kutatapi jatuhnya tetes-tetes hujan dari ujung payung, dan kau di sini, melingkarkan tanganmu ke siku lengan kiriku.

“Mas, aku mungkin pergi empat hari sampe seminggu…”.

“Hmm.. lantas ? ”

“Mmn… “. Kau mencari jawaban. Kulihat kau menundukkan kepala, menatapi aspal basah di bawah kaki kita, seolah kata-katamu tercecer di sana. Kakimu tak hendak diam, menepuk-nepuk kecil aspal yang becek. Kau gelisah.

“Sebetulnya, aku enggan Mas, tapi Kang Mochtar ngotot, katanya cuma aku yang cocok dan punya waktu agak kosong di biro. Belum lagi Alif dan Mbak Rina sudah dapet liputan lain”.  Wajahmu masih merunduk melihat aspal, tapi tanganmu terasa hangat menggantung di siku ini.

“ Di Malang kan dingin… kamu ga  lupa bawa sweater tebal? Juga syal ?”

“Sebetulnya aku kesel juga sama Kang Mochtar!  Diki-dikit Fey, dikit-dikit Fey, apa ga ada orang lain?! Di biro kan ada 28 anak buah. Baru dua hari pulang, udah disuruh ngeliput lagi”. Kau mendumel,  mengabaikan pertanyaanku tentang sweater dan syal.

“Mas ga marah kan rencana kita nonton teater jadi batal ?” Wajahmu seketika mendongak, seperti anak yang minta jajan.

“ Fey, Kang Mochtar itu percayanya cuma sama kamu. Dan itu, aku kira peluang emas untuk karirmu.. ”

“Tapi mas, waktu untuk kita jadi semakin jarang belakangan ini”. Kau merengut.

Aku tersenyum, mengelus rambutmu yang sebahu, lalu hanya diam. Tak menjawab. Tak menyanggah. Kucium rambutmu. Perlahan. Dan kita diam, berdiri menunggu taksi lewat, sedang hujan gemericik belum bosan berhenti. Klakson bersaut-sautan di depan kita. Rupanya motor bebek seorang bapak mogok di depan sebuah Inova dan truk pick up. Motor-motor yang mandeg di belakang tidak kalah buasnya memencet klakson. Jalanan agak gaduh, Si bapak sibuk mendorong motornya ke samping. Kota ini agak galak bagi mereka, mungkin juga bagi kita.

Kemacetan yang sejenak ini, inginnya dapat menunda sebuah taksi menuju ke arah kita.

“ Dari kantor langsung meluncur ke Malang ?”

“Iya, ngambil beberapa bahan, terus nunggu instruksi Kang Mochtar dulu”.

“Mas, minggu depan, kalau liputanku selesai, aku ingin nyari bukunya Andre Gidde di kios Bang Jek. temenin ya?” Aku hanya mengangguk pelan, sementara mata ini  lurus terpaku ke arah tukang koran yang sibuk menutupi koran-koran dagangannya dengan lembar-lembar plastik. Hujan sepagi ini di luar perkiraannya.

Celana jeans yang kupakai hampir basah hingga lutut ketika taksi Silver Bird berhenti di depan kita. Kubukakan pintu taksi, kamu masuk, dan kusimpan tas dan payung di bawah jok.

“ Payungnya Mas bawa saja. Hujannya lumayan deras”

“ Ah, aku tanggung basah, kamu saja yang bawa. Sampai kantor pasti masih hujan”

bergegas Aku suruh bang sopir:  “Bang, ke Kebayoran Baru ya… Mayestik !” Lalu, segera kututup pintu mobil. Taksi itu membawamu, dan kita kembali menunggu jeda yang agak lama, paling tidak satu minggu untuk dapat menikmati momen seperti lima menit yang lalu. Atau barangkali berminggu-minggu lagi. Aku tak tahu.

Pukul enam lewat empat puluh ketika kulirik jam di tangan. Aku harus segera pulang, mandi lagi, lalu mengamplas frame-frame yang belum rampung.

Ah, kacamataku mulai berembun. Hujannya makin deras saja. Aku berlari ke tempat yang lebih teduh.

Masih pukul enam lewat empat lima. Hujan yang kepagian.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: