Meneropong Skuad Persib

Selepas  pengumuman skuad persib  ramai diberitakan di berbagai media (15/9), seorang kawan menulis sebuah pesan di wall fb saya, isinya kurang lebih begini: “Be, skuad Persib nu ayeuna mah hasyeum. Moal bisa juara… tah keureut ceuli maneh mun juara”. Tentu  saja saya menganggapnya hanya sebagai reaksi reaktif dan spontan seorang bobotoh plus unsur heureuy di dalamnya. Reaksi atau statement macam demikian selalu terjadi setiap tahun, setiap skuad Persib diumumkan dan di-launching. Ada yang optimis, ada yang pesimis. Ada yang memuji, ada yang mencibir. Tapi toh sejatinya semua sama; yang mencibir, yang memuji, yang optimis maupun yang pesimis sebetulnya  selalu menginginkan Persib juara. Harapan itu selalu muncul tiap awal musim, dan sayangnya, sudah hampir 17 tahun harapan itu; harapan yang selalu  meluap-luap di awal musim, di tengah perjalanan akan surut dan pada akhirnya tenggelam di penghujung liga ketika Persib tak kunjung mampu bercokol puncak klasemen.

Skuad Persib 2011-2012

Kini, seperti 17 tahun yang sudah-sudah, harapan itu selalu memanas pada setiap sanubari bobotoh  Persib di seluruh belahan bumi. Tentu sebuah pertanyaan pun mengemuka: apakah harapan untuk jadi juara akan kembali membeku? Dan siklus puasa gelar akan kembali berlanjut ? Pada konteks ini, kita sebagai bobotoh tidak punya kapabilitas untuk menjawab. Kewajiban kita mendukung dan mendukung atau mungkin mengkritik dengan ekpresi yang beragam. Adapun jawaban yang kita tunggu ada di tangan manajemen, pelatih, serta pemain.

Kita mungkin belum memiliki kapabilitas untuk menjawab, namun menganalisis dan berandai-andai pastinya bukan dosa. Mengacu pada pengumuman pemain dan pelatih yang dilakukan Pak Zainuri dan kawan-kawan, agaknya saya berani memproklamirkan diri sebagai bobotoh yang optimis meski keyakinan untuk jadi juara sepertinya terlalu dini untuk didengungkan. Mungkin optimis yang saya maksud bisa tersirat dalam sebuah kalimat: Persib mampu bicara banyak tahun ini. Pernyataan ini bersandar pada beberapa faktor. Satu faktor yang teramat penting di antaranya adalah tipikal pemain yang direkrut Persib kali ini. Agak berbeda dengan musim lalu, karakter pemain baru yang direkrut agaknya cukup seragam, dalam artian pemain persib kali ini adalah pemain-pemain dengan tipikal pekerja keras, rajin alias determinative.

Penilaian tersebut paling tidak bisa kita lihat dari nama-nama seperti Tony Sucipto, Aliyudin, M. Ilham, dan Nasuha. Meski bukan pemain-pemain dengan skill yang serba hebat, namun pemain-pemain ini merupakan pemain serba bisa di berbagai posisi. Tony mampu bermain sebagai gelandang bertahan, sayap kanan juga sayap kiri. M. Ilham dapat bermain di sayap kiri dan kanan sama baiknya. Nasuha mampu bermain di bek sayap kiri dan gelandang kiri. Aliyudin adalah tipikal striker pengumpan yang mampu bermain baik sebagai striker sayap. Yang lebih penting dari semua itu, jika melihat performa di musim lalu, pemain-pemain ini bukan pemain yang terbiasa menunggu bola dan stylish, tetapi pemain yang rajin mencari dan menjemput bola, disamping punya mental bagus untuk merebut. Energi dan nuansa ini agaknya akan bersinergi dengan Hariono, Eka, Airlangga, dan Wildansyah yang notabene punya tipikal serupa; pemain yang doyan berlari dan ngotot. Sedikit disayangkan Siswanto lepas ke Sriwijaya, jika tidak, sepertinya Persib punya amunisi lebih pemain rajin. Walau begitu, berita segar berhembus ketika manajemen mengemukakan niatnya untuk merekrut Zulkifli Syukur dan M. Ridwan. Jika ini terealisasi, nampaknya Persib punya modal lebih untuk bermain ngotot saat pertandingan tandang, karena seperti kita tahu, Zulkifli punya mental petarung seperti kebanyakan pemain-pemain Makasar. Ah, kondisi ini kiranya bisa lebih bagus lagi jika Hamka Hamzah, yang juga orang Makasar, bisa masuk daftar buruan.

Semoga Persib tidak seperti musim lalu, di mana spirit bertanding dan bertarung keras seolah hanya milik Hariono seorang. Dari materi pemain yang baru masuk, saya koq rasa-rasanya merasakan nuansa RD di Persib. Mudah-mudahan eksodus pemain-pemain Persija ke Persib bisa membawa berkah, toh pemain-pemain yang disebut di atas mampu membawa Persija bercokol di urutan 3 klasemen (hanya beda selisih gol dengan Arema yang ada di posisi kedua). Masuknya beberapa pemain U-21 Persib, seperti Jajang Sukmara, Dudi Sunardi, Budiawan, Anggi Indra, Rian Permana, serta Aldi Rinaldi  menjadi modal tambahan, karena biasanya pemain-pemian muda punya motivasi lebih untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dari titik  ini, saya kira Persib sudah mulai sadar untuk  berinvestasi pada modal karakter pemain. Dengan menumpuk pemain pekerja keras dan ditambah motivasi pemain-pemain muda, karakter tim nampaknya bisa mulai terbaca meski masih samar-samar. (Baca juga esai tentang Karakter Tim di https://hgbudiman.wordpress.com/2011/03/04/karakter-tim/)

Kesalahan musim lalu harusnya jangan terulang. Pada musim lalu, transfer yang dilakukan Persib bisa dibilang gagal; Baihaki, Shahril, Frances gagal memberi kontribusi maksimal, bahkan Gonzales ikut melempem. Kepergian Gonzales sepertinya tidak harus diratapi, namun hal ini bisa memberi peluang lebih bagi Ronggo yang notabene punya performa yang bagus di musim lalu. Dengan mix and mach antar pemain asing yang tepat dan lokal yang baik, bukan tidak mungkin Persib bisa memiliki skuad yang merata di semua lini. Hanya saja, sebagus apapun pemain tanpa racikan yang tepat hanya akan sia-sia, maka keberadaan Drago Mamic sebagai pelatih terpilih adalah sosok kunci kesuksesan Persib. Pernyataan Mamic yang ingin membentuk karakter tim dan kebiasaanya menerapkan formasi 4-4-2 sepantasnya diapresiasi positif. Ditambah riwayat kepelatihan yang cukup berprestasi di tingkat Asia, agaknya Mamic punya kapabilitas untuk membawa Persib setingkat lebih baik. Satu catatan penting yang layak dikedepankan adalah cirri khas pelatih-pelatih Eropa Timur yang biasanya begitu concern pada masalah fisik pemain. Kita bisa berkaca pada Janu dan Kolev yang bisa dibilang cukup sukses. Alhasil, melihat dari materi awal, saya punya teropongan tersendiri untuk skuad Persib tahun ini: Persib sedang mencoba bertransformasi menjadi tim yang kuat secara karakter dan mental.

Satu lagi catatan penting: sukses tidaknya Mamic menangani Persib, sedikit banyak dipengaruhi oleh komunikasi yang baik dengan asisten pelatih. Suka atau tidak suka, diluar track record kepelatihannya yang baik di Asia (Cina, India, Malaysia, Myanmar), Drago Mamic masih gelap dengan sepakbola Indonesia, maka Robby dan Anwar Sanusi menjadi jembatan penghubung yang seyogyanya mampu memberikan gambaran sepak bola di Negara kita (ai kang Roby tiasa bahasa Inggris teu nya..?🙂 ). Jika ini berhasil, barangkali Mamic bisa meniru kesuksesan Rene Albert di Arema dua musim yang lalu. Semoga bisa menjadi bahan diskusi. Tabik.

 

H.G. Budiman (Bobotoh Persib)

One thought on “Meneropong Skuad Persib

  1. sarip mengatakan:

    kabarnya eka juga hengkang, apa benar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: