Pulp Fiction; Ketika Tarantino Menyentil Holywood

Andai Quentin Tarantino tidak sukses memincut hati saya lewat filmnya Inglerious Bastard (2009), mungkin saya belum tentu rela tersungkruk dengan film Tarantino lainnya yang terbit pada 1994; Pulp Fiction, ditulis oleh Quentin Tarantino dan Roger Avary.  Film ini, Pulp Fiction, sukses diganjar Palm d’ Or dalam Festival Film Cannes. di ranah Holywood, Pulp Fiction sukses menyabet Piala Oscar kategori Best Screenplay dan Best Supporting Actor didapat Samuel L. Jackson. Dua aktor dan aktris dalam film tersebut; John Travolta dan Uma Thurman masing-masing dinominasikan sebagai Best Actor dan Best Supporting Actress. Dari titik ini, agaknya sudah cukup alasan untuk memaksa saya menonton Pulp Fiction. Belum lagi jajaran cast yang membintangi film ini. Nama-nama seperti Bruce Willis, Uma Thurman, dan Tim Roth seperti menjanjikan sesuatu pada penontonnya. Sayangnya, bagi penonton yang mengharapkan hingar bingar ala Holywood, visual efek, tembak-tembakan yang spektakuler atau bahkan konflik-konflik psikologis mendalam ala Martin Scorsese, agaknya  harus sedikit kecewa. Hal tersebut saya ilustrasikan bukan maksud untuk mengatakan bahwa Pulp Fiction karya yang buruk, justru kebalikan dari itu; Pulp Fiction menawarkan rasa baru dalam perfilman Holywood, terutama di zamannya, di medio 90-an.

Mencoba membahas atau mengkritik Pulp Fiction secara utuh dan menyeluruh  seperti mencoba mengambil semua isi supermarket dengan sebuah troli. mungkin analogi tersebut terkesan berlebihan, namun nyatanya sisi menarik Pulp Fiction bisa ditinjau dari berbagai aspek, mulai dari  gaya penyutradaraan, tema cerita, penulisan skenario, penyusunan dialog, akting para pemain, bahkan budaya popular. Mencoba membongkar atau meresensi Pulp Fiction cenderung menghasilkan ketidakpuasan atau kebingungan bagi penulisnya (seperti pula yang saya alami). Ia film yang padat akan ide. Mengacu pada tulisan Drew Morton, salah seorang kritikus film dari University of California-Los Angeles, Pulp Fiction sejak kemunculannya pada 1994 hingga 15 tahun setelahnya masih menjadi kajian yang menarik dan mampu melahirkan beragam atrikel dan buku yang mengupas film tersebut, seperti Down and Dirty Pictures karya Peter Biskind dan monographnya Dana Polan. Lantas, apa yang membuat Pulp Fiction sefenomenal itu?

Tentu saja saya bukan kritikus film yang punya perangkat teknis untuk menjawab, hanya saja jika sekedar memungut sensasi yang saya dapat dari hasil menonton film ini, setidaknya film garapan Tarantino yang satu ini bisa diidentifikasi dari beberapa hal unik, seperti: alur cerita yang non-linier, dialog yang cerdas, satire dan ironi, serta beberapa hal absurd yang menggiring penonton untuk menertawai  sesuatu yang –pada realitas nyata—sesungguhnya tidak pantas untuk ditertawakan. Tarantino sukses mengajak penonton untuk menertawai tindak tanduk para kriminal yang sesungguhnya menakutkan. Ia mampu memberikan gambaran betapa menakutkannya seorang penjahat, namun di sisi lain image itu ia robohkan sekaligus tanpa embel-embel cerita yang heboh macam perebutan kekuasaan, konflik psikologis yang rumit seperti halnya kita temui dalam The Godfather.

Tarantino yang setia menyuntuki dunia bawah tanah, dunia orang-orang brengsek, seperti dalam film terdahulunya; Reservoir Dogs dan Natural Born Killer, lagi-lagi menyuguhkan banalitas dunia kriminal lewat tokoh-tokohnya. Vincent Vega (John Travolta) dan Jules Winnfield (Samuel L. Jackson) dua orang hitman anak buah bos besar Marsellus Wallace (Ving Rhames), ada pula Mia Wallace (Uma Thurman)  pencadu heroin yang juga istri Marsellus, Mr. Wolf (Harvey Keitel) pria bertaxedo khas mafia Italy. Hampir semua karakter dalam Pulp Fiction adalah seorang pelaku kriminal, termasuk pula sepasang perampok; Honey Bunny (Amanda Plummer) dan kekasihnya Pumpkin (Tim Roth), ditambah Butch Coolidge (Bruce Willis) yang tak lepas dengan dunia hitam sebagai petinju yang menjalin bisnis kotor dengan Marsellus.

Sedikit sulit untuk menjalinkan kisah atau memaparkan cerita Pulp Fiction dalam sebuah tulisan, alurnya yang non-linier lebih nyaman untuk disaksikan secara langsung. Namun, seperti kebanyakan film-film Tarantino, Pulp Fiction dibagi dalam beberapa Chapter baku seperti sebuah novel atau cerpen. Diawali dengan prolog, Tiga Chapter utama  (dengan beberapa pembukaan yang singkat), dan epilog. Chapter pertama, “Vincent Vega and Marsellus Wallace’s Wife,” mengisahkan  Vincent yang menjalankan tugasnya untuk menemani istri sang bos makan malam pada sebuah tempat dengan nuansa 50-an, lalu memenangkan kompetisi dansa (di sini kita melihat Travolta berdansa kembali setelah Saturday Nigh Fever). Alih-alih ingin menjalankan tugas dengan sempurna, tanpa harus berakhir di atas ranjang istri sang bos besar, Vincent justru terperangkap dalam malam yang rumit ketika Mia terkapar karena overdosis heroin.

Chapter kedua, “The Gold Watch,” berfokus pada tokoh Butch, seorang petinju yang sukses menipu Marsellus untuk menolak kalah dalam pertandingan, lalu kabur membawa “uang kalah” dari Marsellus. Kontan, Marcellus mengirim Vincent untuk menghabisi Butch. Chapter terakhir berjudul “The Bonnie Situation,” nama ini diambil dari rentannya konfrontasi janggal antara dua hitman; Vincent dan Jules, serta Jimmy karib Jules. Kedatangan Vincent – Jules dengan membawa mayat ke kediaman Jimmy di tengah pagi buta,  tidak lantas membuat Jimmy panik akan polisi, jutrsu Jimmy khawatir akan istrinya, Bonnie yang akan pulang pukul 11.30 siang (???&%$@!*). Pada Chapter ini kita bisa menyaksikan akting Tarantino yang berperan sebagai Jimmy.

Sampai di sini, saya merasa sangat kesulitan untuk menjelaskan Pulp Fiction dengan detail per detailnya. Namun, jika harus mengambil benang merah atas lautan ide Tarantino dalam film ini, saya cenderung menggarisbawahi unsur satire yang disisipkan dengan begitu sempurna.

Satire dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan. Pendek kata, satire adalah sebuah sindiran atau ejekan. Unsur ini, unsur satire, mampu disungguhkan  Pulp Fiction melalui narasi cerdas nan panjang (terkesan tidak penting), dan adegan-adegan yang unpredictable dalam frame berpikir Holywood, alias tidak umum dalam wacana Holywood. Mengacu pada konsep satire di atas,  maka satire berlaku jika ada suatu keadaan yang berusaha untuk diejek atau disindir. Lantas, keadaan seperti apa yang ingin disindir oleh Tarantino.

Dari apa yang saya dapat, paling tidak Tarantino ingin menggoyang dua hal yang sudah mapan. Pertama, wacana besar Holywood di masa itu. kedua, Pulp Fiction seperti mencoba menyindir logika berpikir yang koheren dan masuk akal dalam film, bukan dalam arti Pulp Fiction dibangun dengan ke-tidakmasukakal-an, namun kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal tidak disodorkan dalam film, tetapi penonton seolah-olah dipaksa mencari jawabannya sendiri. Dan, gaya yang demikian tidak tidak sesuai tren di masa itu. Konon gaya Tarantino yang demikian banyak dipengaruhi oleh film-film karya Jean Luc Godard dan Stanley Kubrick yang muncul di medio 50-an.

 

Satire dan Penentangan Wacana

Pulp Fiction mencoba menyindir frame berpikir Holywood yang sudah mapan. Sindiran Pulp disampaikan pada bentuk-bentuk adegan dimana dalam kerangka umum seharusnya terjadi seperti “itu”, sementara dalam Pulp, yang terjadi di luar “itu”. Misalnya, dalam banyak film Holywood, pembunuh bayaran atau mafia biasanya selalu sempurna dan smooth dalam melaksanakan tugas. Memakai pakaian serba necis dengan jas dan fedora, ia menghabisi musuhnya tanpa kasak-kusuk berlebihan dan mayat terbuang dengan rapi.  Contohnya bisa dilihat dalam Godfather dan Goodfellas. Pada Pulp, kondisi serupa tidak sepenuhnya terjadi. layaknya pembunuh profesional, Vincent dan Jules memang necis dengan jas dan dasi hitam, tapi mereka berbuat kekacauan, merepotkan sang bos dan misi mereka berakhir tanpa  stelan necis di awal melainkan  dengan celana kolor dan kaos oblong, plus harus rela kehilangan sebuah mobil mewah (Chapter III: Bonnie Situation).

Contoh lain bisa dilihat dari hubungan Mia Wallace dan Vincent. Hubungan anak buah dengan istri bos mengingatkan kita pada film Scarface (1983); Ketika Tony Montana sukses menggondol Elvira Hancock dari bosnya. Biasanya dalam pola-pola umum film Holywood, ketika seorang pria-wanita makan malam, dansa-dansi, dan pulang ke rumah, maka biasanya adegan selalu berakhir dengan kemesraan di atas ranjang. Pada Pulp, adegan seolah mengarah pada ekspektasi umum, namun semua perkiraan penonton rontok dijungkirbalikkan ketika adegan menampilkan Mia Wallace yang di awal nampak anggun tiba-tiba mengalami overdosis dengan hidung berdarah-darah dan mulut mengeluarkan busa (Chapter I Vincent Vega and Marsellus Wallace’s Wife).

Pulp Fiction agaknya sarat dengan unsur sindiran. Hal-hal serupa sindiran juga terjadi di Chapter II (“Gold Watch”). Dengan penuh ironi mungkin disertai pula gelak tawa yang kelam, Marsellus Wallace seorang bos mafia yang sejak awal kisah digambarkan begitu bengis dan menakutkan, sekonyong-konyong kebengisan itu runtuh ketika Wallace diperkosa dua pria begundal di sebuah toko barang bekas. Pertanyaannya, adakah di film-film lain, bos mafia dilecehkan sedemikian rupa? Pulp meruntuhkan image bos mafia yang –pada film-film lain—biasanya serba berwibawa dan ditakuti.

Nuansa humor kelam memang terasa di Pulp Fiction, Tarantino dan Avary selaku penulis skenario, nampaknya konsisten menghadirkan adegan yang sejatinya bisa ditertawakan. Bukan hanya satire tapi juga ironi. Nuansa ini terasa pada prolog juga epilog; ketika dua pasangan perampok, Pumpkin dan Honey Bunny berdiskusi sengit di sebuah Coffee Shop tentang merampok dengan cara paling mudah, tanpa membunuh, tanpa resiko terbunuh. Mereka berdebat mengenai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika mereka merampok bank, swalayan, atau toko minuman. Dengan pertimbangan resiko yang kecil dan faktor perlawanan yang hampir mustahil, akhirnya mereka memutuskan untuk merampok Coffee Shop yang mereka singgahi pagi itu. Tentu sedikit aneh jika coffee shop jadi sasaran rampok. Alih-alih ingin mengurangi resiko, Pumpkin dan Honey Bunny justru dipertemukan dengan dua orang mob yang baru selesai membunuh pagi itu, lalu menyantap sarapan di coffee shop. Tentu saja dua orang mob yang nongkrong di sana adalah Vincent dan Jules. Adakah ini sebuah ironi ? mungkin juga sesuatu yang patut ditertawakan.

 

Fiksi  Murah                                                                                                                                             

Sekali lagi, seperti telah saya singgung di paragraph awal, mengupas Pulp Fiction mungkin hanya menghasilkan ketidakpuasan. Ketidakpuasan tersebut sepertinya maklum terjadi karena cairnya pemahaman dan leburnya beragam ide pada film tersebut. Kata “Pulp” itu sendiri, seperti termuat di awal film, memang bisa diartikan pada dua pemahaman. Pertama, menurut  American Heritage Dictionary, “pulp” berarti soft, moist, shapeless mass of matter. Pemahaman ini bisa diartikan bahwa kata “Pulp” yang disandingkan dengan kata “Fiction”, secara kasar bisa diartikan sebagai “Bubur Fiksi”; fiksi yang serba cair seperti bubur. Kalimat “shapeless mass of matter” juga bisa diartikan sebagai zat yang tanpa bentuk. Mungkin ini juga berarti terbukanya Pulp Fiction pada pelbagai interpretasi; tanpa kebakuan bentuk.

Pemahaman kedua, pulp bisa diartikan sebagai: A magazine or book containing lurid subject matter and  being characteristically printed on rough, unfinished paper. Sederhananya, pulp bisa berarti majalah dengan kualitas kertas yang buruk. Majalah model demikian memang sempat terbit di Amerika pada 1896 sampai 1950-an. Majalah model ini juga diidentikan dengan inexpensive fiction; sebuah fiksi murah. Pemahaman ini tentu saja sah disematkan pada film Pulp Fiction, apalagi jika dikaitkan film-film box office yang serba heboh di masanya, sebut saja Indiana Jones, Star Wars, Rambo, juga Top Gun. Ya, Pulp Fiction mungkin fiksi dengan harga murah, tapi bukan fiksi yang murahan. Pulp Fiction adalah film yang dirangkai dengan ide yang sangat mahal di zamannya.

***

Teks Kajian

Pulp Fiction (1994; 154 min). Sutradara: Quentine Tarantino; Produser: Lawrence Bender; Ditulis oleh: Quentin Tarantino dan Roger Avary; Pemeran: John Travolta, Samuel L. Jackson, Uma Thurman, Ving Rhames, Harvey Keitel, Amanda Plummer, Tim Roth, Bruce Willis; Distribusi: Miramax Pictures; Tanggal peluncuran: 14 Oktober 1994.

 

Referensi

 

4 thoughts on “Pulp Fiction; Ketika Tarantino Menyentil Holywood

  1. nontonsambilmakan mengatakan:

    Tak lupa, disetiap film buatan QT selalu terselip dialog berupa celotehan renyah nan berkualitas, tidak sabar rasanya ingin nonton Django Unchained (2012) bersama Leonardo DiCaprio didalamnya🙂

    • hgbudiman mengatakan:

      Betul sekali, Khas QT: dialog cerdas dan humor yg sedikit kasar. untuk pelem Django Unchained, kabarnya melibatkan banyak aktor kawakan macam Jammie Foxx, samuel L. Jackson, Waltz… kayanya bakal lebih fenomenal dari pada Bastard…

  2. kasamago.com mengatakan:

    Penasaran dg Hatefull eight mlh membawa penasaran ke film QT di era 90 an..

    http://kasamago.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: