Review Reservoir Dogs (1992)

Reservoir Dogs; dua kata ini jika diterjermakah secara serampangan dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai “Kolam Anjing-anjing”.  Saya tidak paham secara pasti apa yang ada di benak Quentine Tarantino (QT) dengan memberi  judul film perdananya  yang terbit pada 1992 ini dengan nama tersebut. Hanya saja, jika boleh menerka, agaknya QT ingin memberikan konotasi yang tepat pada para begundal dalam film tersebut. Jika kita menyimak film-film garapan QT dewasa ini, sebut saja Kill Bill (vol 1 & 2), Inglourious Basterds, atau Pulp Fiction yang lebih dulu booming pada 1994, akan terlihat jelas bahwa QT konsisten mengangkat tema-tema crime, dan tentu saja dengan para tokoh utama yang bukan hero, jika tidak disebut sebagai penjahat.

Kata “Dogs” dalam Reservoir Dogs, saya kira mengacu pada komplotan penjahat yang memegang peran penting dalam film tersebut, yang konon juga diilhami oleh film bergenre “American Exploitation” di tahun 70-an.  Adapun kata “Reservoir”  memang mengandung banyak tanya di antara para fans QT. Dari pencarian kecil-kecilan, saya menemukan bahwa kata “Reservoir” kemungkinan besar  diambil dari  Film New Wave (?) di Prancis yang berjudul Au revoir les enfants (1987). Alkisah saat QT masih menjadi seorang penjaga toko video, ia menawarkan pelanggannya untuk menyewa film berjudul Au revoir les enfants, lalu si pelanggan dengan spontan menjawab: “I don’t want, no Reservoir Dogs!”. Dari percakapan tersebut, QT agaknya tertarik untuk menamai skenarionya dengan nama Reservoir Dogs. Singkatnya, jika dikaitkan dengan konteks filmnya, saya pribadi mempunyai interpretasi tersendiri pada kata Reservoir. Kata ini saya kira mengacu pada sebuah tempat berkumpulnya para penjahat. Jika kata reservoir dalam kamus Oxford diartikan dengan: a large natural or artificial lake used as a source of water supply,maka saya cenderung mem-pas-kan “Reservoir Dogs” sebagai “Kubangan Anjing-anjing”.

Lantas, dengan membaca tulisan di atas, tentu mengundang pertanyaan; apa menariknya jika para penjahat berkumpul? Dari poin inilah QT selalu menjadi sutradara yang spesial. Selain piawai mengemas dunia kejahatan, QT juga handal memancing rasa keingintahuan dari penonton melalui alur filmnya yang non-linier. Sebetulnya Reservoir Dogs memiliki benang merah yang sederhana; mengisahkan sebuah tim  yang melakukan perampokan pada sebuah toko berlian. Uniknya, tim yang  dibentuk oleh seorang boss mafia bernama Joe Cabot (Lawrence Tierney) dan anaknya; Eddie Cabot (Chris Penn), terdiri dari orang-orang yang tidak saling mengenal satu dengan lainnya. Mereka tidak saling mengetahui latar belakang kawan satu timnya, tempat mereka tinggal, bahkan nama asli kawan satu timnya pun tidak mereka ketahui. Hal tersebut dilakukan agaknya untuk menjaga profesionalisme dan mencegah persekongkolan.  Dalam menjalankan misi tersebut, semua anggota menggunakan nama samaran yang terdiri dari: Mr. White/Larry Dimmick (Harvey Keitel), Mr. Orange/Freddy Newandyke (Tim Roth), Mr.Blonde/Vic Vega (Michael Madsen), Mr. Pink (Steve Buscemi), Mr.Blue (Edward Bunker), dan Mr. Brown (Quentin Tarantino).

Menariknya Reservoir Dogs justru terletak pada poin penting dari perampokkan yang terjadi, dan hebatnya, peristiwa perampokkan tersebut justru tidak digambarkan sama sekali. Penonton dibuat bertanya-tanya, atau mungkin berimaji sendiri. Scene dimulai dari sebuah percakapan santai oleh sekelompok orang berjas dan berdasi hitam di sebuah coffee shop. Sekelompok orang tersebut tidak lain adalah komplotan Joe Cabot yang akan merampok sebuah toko berlian. Mereka berdiskusi dengan lepas tentang lagu “Like a Virgin” milik Madonna. Tak terlihat ketegangan, gugup, atau kekhidmatan tersendiri sebelum mereka merampok. Scene pembuka pun ditutup dengan enam orang pria berjas hitam dan dua orang boss mereka berjalan bersiap menjalankan misi.

Dibuka oleh opening yang santai, sontak penonton dibetot pada scene yang 180 derajat berbeda dengan opening; Mr. Orange dan Mr. White terjebak situasi sulit dalam sebuah mobil. Mr. Orange mengalami pendarahan hebat di sekitar perut, bergelinjangan sambil membacot tak karuan di jok mobil belakang. Sementara Mr. White berusaha meredakan kepanikan. Sampai di situ penonton pasti bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Dari pelbagai scene di menit-menit awal, saya bisa sedikit menyimpulkan bahwa QT salah satu sutradara yang aneh jika tidak disebut esentrik. Alur inti selanjutnya dalam Reservoir Dogs akan berkutat pada konflik dan kecurigaan antara sesama komplotan Joe Cabot.

Lewat setting lokasi sebuah gedung tua sebagai tempat pertemuan mereka di tengah pelarian, QT menyuguhkan perdebatan-perdebatan sengit ditengah situasi yang serba chaos.  Rasa saling curiga antara Mr. Pink dan Mr.White, Mr. Orange yang sekarat, serta Mr.Blonde yang datang tiba-tiba dengan gelagat santai seolah semua berjalan mulus. Pertemuan anggota komplotan ini yang mengundang konflik yang menghangat; seperti kecurigaan Mr. White pada Mr. Blonde, dan hipotesis Mr. Pink yang menyimpulkan telah terjadi pengkhianatan dan penjebakkan.  Pada dasarnya cerita bergelayut antara penyelesaian konflik dan mencari jawaban atas situasi perampokan yang berakhir kacau; apakah terjawab atau hanya menghasilkan kondisi teruk di antara mereka?

Seperti pula pada Pulp Fiction dan  Inglourious Basterds, QT setia membangun dialog yang cermat disertai istilah-istilah kasar khas Amerika. Lewat dialog yang cerdas, agaknya QT suskses menciptakan suasana juga berhasil membangun karakter. Apalagi didukung oleh akting yang prima dari aktor-aktornya, terutama Michael Madsen dan Tim Roth. Saya berani member nilai 8 pada keberhasilan QT dalam menciptakan suasana ke tengah penonton. Selain didukung oleh setting tempat, pengambilan gambar yang sekali-kali bergoyang (baru saya akrabi di Film Bourne dan Black Hawk Down),  terkesan “sembarangan” menyorot badan atau tembok, semakin menguatkan suasana. QT Sukses membuat “realitas” versinya dan menyajikannya pada penonton dengan cukup sempurna.

Kesamaan sekaligus poin plus dari Reservoir Dogs dengan karya QT yang lain adalah unsur ironi yang disuguhkan dengan begitu piawai (selain QT yang turut pula bermain di dalamnya). Unsur ironi dalam film-film garapan QT menjadi ciri khas, bahkan dalam Reservoir Dogs ironi tersebut berhasil dimuntahkan menjadi sebuah tragedy yang menohok penontonnya. Melalui Reservoir Dogs, saya semakin menyadari, selain sutradara hebat, QT juga sutradara yang tanpa malu-malu bahkan cenderung berani mengadopsi unsur-unsur asia yang penuh kekerasan dan berdarah-darah, seperti yang banyak kita temui pada film-film mafia Hongkong. Akhir paragraph ini saya hanya berpendapat, bahwa meski tidak sehebat Pulp Fiction, Reservoir Dogs sebagai sebuah genre Action-Crime sepertinya layak ditempatkan sebagai salah satu yang terbaik, beserta keunikan dan ke-nyeleneh-an Quentin Tarantino tentunya.

***

H.G. Budiman (Penikmat Film)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: