Corat-coret Tentang Kebangsaan*

Belakangan saya baru tahu, bahwa kata “suku bangsa” yang kita akrabi hari ini, ternyata punya pandangan tersendiri di mata Bung Karno.  Ia mengungkapkan : “ Suku itu dalam bahasa Jawa artinya sikil, kaki. Jadi bangsa Indonesia banyak kakinya… ada kaki Jawa, kaki Sunda, kaki Sumetera, kaki Irian, kaki Dayak, kaki Bali, kaki Sumba, kaki Peranakan Tionghoa… kaki daripada satu tubuh, tubuh bangsa Indonesia!”. Melalui pemahaman Bung Karno kita dapat menyimpulkan bahwa bangsa kita, bangsa Indonesia merupakan satu kesatuan  utuh  yang ditopang oleh banyak kaki (Latif, 2011: 369).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti “Suku Bangsa” cenderung memiliki arti yang lebih sempit dan formal: suku bangsa adalah golongan bangsa sebagai bagian dari bangsa yang besar. Tentu saja dalam konteks pemahaman yang terbuka, saya lebih bersepakat dengan Bung Karno.

Pernyataan Bung Karno di atas, muncul dalam sidang BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) yang berlangsung pada Mei dan Juli, beberapa bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. pernyataan Bung Karno tersebut muncul dalam rangka merumuskan Nasionalisme Indonesia; nasionalisme yang dibangun atas keanekaragaman, bukan nasionalisme bebal ala Hitler, bukan pula nasionalisme serba bebas punyanya Amerika dan Prancis, melainkan Nasionalisme kita menghimbau pada yang kesatuan dan dibangun dari yang partikular.  Dalam konteks ini mewujudkan satu kesatuan bangsa Indonesia jelas bukan perkara mudah. Lantas, Bung Karno pun mengutip pendapat Ernest Renan, bahwa yang menjadi pengikat untuk menjadi satu jiwa adalah kehendak untuk hidup bersama. “Gerombolan manusia, meskipun agamanya berwarna macam-macam, meskipun bahasanya bermacam-macam, meskipun asal turunannya  bermacam, asal gerombolan manusia itu mempunyai kehendak untuk hidup bersama, itu adalah bangsa” (Latif, 2011: 370).

Selain itu, pendapat Otto Bauer menjadi acuan Bung Karno. Ia menyatakan bahwa perwujudan bangsa adalah ekspresi persamaan karakter yang tumbuh karena persatuan pengalaman. Bangsa kita sejatinya mampu bersatu karena merasakan betapa pahitnya ditindas kolonialisme sekian lama. Maka, bangsa kita menentang imprealisme dan kolonialisme.  Bangsa kita pun sejatinya memiliki keseragaman rasa untuk membenci penindasan, bangsa kita memiliki keseragama rasa untuk membenci pembagian rasial yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia-Belanda di masa lampau (trikotomi kebangsaan: Eropa, Timur Asing, Pribumi). Persatuan bangsa kita dibangun dari kesadaran untuk lepas dari embel-embel kata “Hindia-Belanda”, dan guna mewujudkan itu, egoisme kesukuan diruntuhkan. Lepasnya ego kesukuan, memudahkan perlawanan terhadap Kolonialisme Belanda. Maka, kedudukan Negara yang akan lahir sebagai Indonesia pun dibangun untuk melawan Kolonialisme dan mewujudkan kemerdekaan, kemudian untuk selanjutnya  mewujudkan cita-cita  luhur bangsa: membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial

Dari pendapat Bung Karno tersebut, agaknya kita memperoleh konsep tentang Negara-Bangsa ala Indonesia, dimana Negara terbentuk dari sekian unsur suku bangsa dan terekatkkan unsur persatuannya karena kesamaan nasib. Maka, titik tolak terbentuknya Negara adalah untuk melawan musuh bersama berupa kolonialisme yang dibawa oleh Belanda. Negara pun ada untuk selanjutnya mewujudkan cita-cita luhur yang telah disususn oleh para bapak bangsa.

Konsep tersebut jika dipantulkan pada kondisi kekinian nampaknya telah mengalami pergesaran. Perasaan kesamaan nasib dan pengalaman hidup yang membentuk persamaan karakter dapat ditemui dalam bentuk yang ”berbeda” di masa kini. Hal ini terjadi karena Negara kita kini justru menjadi sebuah ironi. Ide Negara-Bangsa ala Indonesia yang dulu disusun sebagai wujud perlawanan terhadap Imprealisme dan kolonialisme, justru kini Negara seolah menjadi musuh itu sendiri.

Perasaan yang muncul  dari rakyat (barangkali) justru perasaan senasib-sepenanggungan karena merasa tertekan oleh Negara. Hal ini terjadi  karena kekurangcakapan Negara dalam mengakomodir perlindungan terhadap segenap bangsa, dan kekurangcakapan dalam memajukan kesejahteraan umum. Contoh: privatisasi aset-aset negara kepada swasta menjadi sumber permasalahan. Separatisme di Papua dengan pengibaran Bendera Bintang Kejora beberapa hari lalu boleh jadi buah dari kekurangberhasilan Negara dalan pemerataan keadilan, serta terjadinya eksploitasi yang berlebihan dari pihak swasta. Benih-benih separatisme dan tak surutnya terorisme alangkah baiknya diintrospeksi secara internal.

Agaknya Negara kurang sanggup menciptakan demokrasi ekonomi dan demokrasi politik sesuai dengan nilai Demokrasi Permusyawaratan yang tercantum dalam Pancasila sila ke-2. Demokrasi politik yang terjadi sejauh ini hanya menjadi alat untuk mengganti pimpinan di eksekutif dan legislatf, sedangkan rakyat kesulitan menjamah pemimpin yang mereka pilih. Benih-benih separatisme di sini, jelas menjadi salah satu bentuk ketidakpuasan. Jika ini terus berlangsung, Bangsa Indonesia yang menurut Bung Karno ditopang oleh sekian banyak suku-suku, kini suku-suku tersebut rentan terkena keropos. Ibarat sebuah meja; Meja Indonesia hari ini hilang keseimbangan karena kaki-kakinya digerogoti rayap. Entah rayap yang mana; rayap yang muncul dari pemimpin-pemimpin atau rayap yang muncul dari rakyat banyak.

*   Tulisan ini merupakan Ikhtisar dan interpretasi bebas penulis dari beberapa poin penting yang terdapat dalam buku Negara Paripurna tulisan Yudi Latif (2011).

H.G. Budiman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: