Drago Mamic Lebih Pragmatis

Melihat tiga pertandingan awal; 3-2 lawan Persiram, 1-0 lawan Sriwijaya, dan 0-0 saat dijamu Deltras, agaknya Persib punya modal optimisme untuk menatap liga ke depan. Di luar semrawutnya masalah keabsahan kompetisi, ISL masih menjadi ruang yang tepat untuk pembuktian diri bagi Persib, toh tim-tim terkuat masih bercokol di sana. Pembuktian ini tentu saja tidak lepas dari andil pemain serta pelatih. Khusus mengenai sepak terjang pelatih, dalam hal ini Drago Mamic, saya rasa bobotoh sewajarnya harus punya respect tersendiri pada pelatih yang satu ini. Pada tiga pertandingan awal mungkin banyak bobotoh yang bertanya-tanya. Misalnya: mengapa Persib menerapakan pola 4-2-3-1 ? kenapa hanya menempatkan satu striker ? kenapa Persib lebih banyak bertahan?  Kenapa pula gaya permainan Persib kurang agresif dan kurang menyerang ?  menurut hemat saya, pertanyaan tersebut wajar terlontar mengingat dari segi permainan, Persib menunjukkan gejala yang berbeda dari tahun lalu. Namun, jika ditilik secara positif, saya pribadi cenderung berpendapat bahwa Drago Mamic selaku pelatih ingin menerapkan permainan yang lebih pragmatis. Pragmatis di sini, dalam arti permainan yang terbuka, menyerang, dan atraktif belum tentu menghasilkan kemenangan. Singkatnya, lebih berorientasi pada hasil akhir. Kondisi ini terjadi tentu dengan melihat materi pemain dan iklim kompetisi di liga itu sendiri.

Ditinjau dari sisi pemain, Persib cenderung memiliki pemain-pemain yang punya tipikal bertahan yang cukup baik. Tentu berbeda dengan Persipura yang memiliki pemain-pemain kreatif, eksplosif dan unggul secara individu. Praktis, di Persib hanya memiliki sedikit gelandang kreatif yang punya tipikal menyerang. Radovic, Ilham, Atep, adalah tiga nama yang menonjol, selebihnya adalah pemain-pemain yang punya teamwork baik tapi cenderung bertahan. Sebut saja Gaspar, Hariono, Tony, dan Hendra Ridwan, plus bek-bek sayap yang cenderung pekerja bukan pendobrak, misalnya Zulkifli, Nasuha, dan Wildansyah. Sisanya tentu pemain muda, yang meski punya potensi bagus, namun belum tentu matang dari jam terbang.

Dari materi pemain yang demikian adalah wajar ketika Drago cenderung lebih mengutamakan pertahanan dan penguasaan bola dari pada pola penyerangan yang ekspresif. Tentu ini tidak keliru, toh persib tidak bisa disamakan dengan Persipura, Sriwijaya, atau mungkin Persisam yang notabene menumpuk pemain kreatif di lini tengah. Maka, janganlah heran ketika Persib tampil sedikit monoton dan menjaga kedalaman.

Kondisi tersebut, menuntut konsekuensi; pertama, baik-buruknya penyerangan Persib akan tergantung dari kreativitas Radovic, dan kemampuan mendombrak pada diri Atep dan Ilham.  Kedua, Persib bagus dalam organisasi pertahanan, maka besar kemungkinan Persib agak sulit dalam memproduksi gol (catatan 3 pertandingan awal: kemasukan 2, memasukkan 4/ rata-rata 1,3 gol per pertandingan). Ketiga, tentu saja permainan lebih banyak passing bola kebelakang yang cenderung membosankan. Efeknya tentu tidak selalu negatif, tekanan lawan boleh jadi bisa teredam dan kecenderungan untuk terbawa tempo permainan lawan bisa terminimalisir.

Mengatakan bahwa Drago berhasil dalam taktiknya tentu terlalu dini, hanya saja sejauh tiga pertandingan ini, baik pemain dan pelatih telah menunjukkan performa yang baik. Men-judge Persib bermain buruk atau menyia-nyiakan modal pemain timnas, saya kira pernyataan demikian kurang Bijak. Permainan Persib yang bagi sebagian orang terlihat monoton dan lebih banyak bertahan tentu berdasar dari kondisi yang telah dijelaskan di atas.

Adapun jika dikaitkan dengan iklim kompetisi kita, dimana perbedaan kualitas relatif merata dan pertandingan tandang menjadi pertandingan sulit, maka kekompakan tim dan konsistensi menjadi kunci. Di liga kita, poin pada pertandingan tandang akan menjadi modal berharga meraih juara, dan kemenangan kandang akan menjadi harga mutlak. Jika saya berandai-andai menjadi Drago Mamic, tentu kemenangan dan konsistensi lebih penting dari semata permainan indah. Apalah artinya satu kemenangan tandang jika harus mengorbankan atau kandas di pertandingan tandang lainnya. Persib butuh pelatih yang lebih pragmatis, bukan mengumbar janji-janji atau optimisme semu. Sejauh 3 pertandingan, racikan Drago harus diapresiasi positif. mungkin sepak terjang Persib di awal-awal ini cenderung merayap, tapi marilah kita berharap bahwa kedepan seiring semakin familiarnya pemain dengan pola 4-2-3-1 dan semakin kuatnya teamwork, performa Persib bisa terus menanjak. Tidak harus bombastis di awal, tetapi perlahan tetapi pasti menunjukan performa yang meningkat. Idealnya sih begitu.

 

Ulasan Deltras kontra Persib

Adapun menengok pada laga melawan Deltras, saya kurang sepakat dengan anggapan Persib beruntung, seperti yang termuat dalam judul halaman depan Pikiran Rakyat hari ini (13/12): Maung Bandung Beruntung. Boleh jadi ada faktor-faktor keberuntungan di sana, namun itu tidak mutlak. Statement tersebut bisa saja di balik: Deltras beruntung. Toh, Persib punya peluang yang lebih terbuka di depan gawang Deltras, 2 kali pula. Tidak bobolnya gawang Persib, harus diakui secara fair bahwa itu buah organisasi permainan yang baik dan penguasaan bola yang baik pula. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pemain belakang dan tengah Persib terlihat lebih dewasa dengan tidak terburu-buru melepas bola ke depan. Walaupun banyak di serang di babak ke-2, bek-bek Persib mampu bertahan dengan lebih stabil dan yang lebih penting; tidak terlihat panik. Kegemilangan Jendri tidak lepas dari tekanan dan penjagaan yang ketat dari bek-bek Persib terhdap lini depan Deltras.

Menilik kesuksesan Arema dan Persipura dua tahun kebelakang, agaknya ada sedikit contoh yang bisa diambil. Jika Persipura memanfaatkan daya tahan dan serangan yang intens, Arema memiliki daya tahan dan organisasi pertahanan yang baik. Persib bisa mencontoh Arema. Arema di bawah Rene Albert punya organisasi pertahanan yang baik dan daya tahan pemain yang prima. Dua hal ini biasanya menjadi kunci kemenangan di partai tandang; ketika pemain lawan kesulitan menembus pertahanan, pemain yang mempunyai endurance yang bagus akan mampu memanfaatkan kelalaian lawan menjadi sebuah peluang. Contoh: peluang matang Ilham dan Aliyudin kemarin harusnya bisa berbuah gol. Kondisi tersebut (peluang) bisa tercipta ketika pemain Deltras fokus menyerang dan terbentur pertahanan Persib. Pemain Deltras lalai, dan skenarionya Persib bisa mencetak gol dari kelengahan tersebut. Sayangnya, striker yang mengeksekusi bukan tipikal Gonzales, atau semacam Safee Sali yang punya finishing yang matang.  Harus diakui, meski Airlangga dan Aliyudin adalah striker yang bagus, namun mereka bukan tipe alone striker atau targetman yang mampu berduel keras dengan bek-bek lawan yang besar.

Maka, sedikit catatan kecil bagi Persib adalah peningkatan daya tahan pemain dan striker yang mumpuni. Dalam kasus ini Persib butuh seorang striker petarung yang mampu jadi pemantul bola ke lini kedua, bagus duel udara, mampu menahan bola cukup lama, dan tentu saja memiliki finishing touch yang baik. Singkatnya, Persib butuh striker yang tipikalnya mirip Gonzales, atau mungkin Bekamenga jika kita menengok jauh kebelakang. Syukur-syukur bisa merekrut striker mirip Goncalves yang memiliki kemampuan komplit berikut skill individu untuk melewati bek-bek lawan.

Catatan positif bisa disematkan pada Robby Gaspar. Pemain yang satu ini ternyata mampu berperan dengan sangat baik sebagai Deep lying Playmaker. Gaspar mampu menjadi penanggung jawab dalam penguasaan bola di lini pertahanan. Ia sedikit kehilangan bola dan mampu memberikan passing-passing yang sehat di lini pertahanan. Dan di luar dugaan, sekalipun Hariono ditarik di babak ke-2, Gaspar mampu berperan baik sebagai gelandang bertahan.

Harapan kita kini, sekaligus tanda tanya di benak bobotoh; mampukah Persib mempertahankan performanya ketika melawat ke kandang Persidafon? Karena, seperti kita tahu dari catatan tahun lalu, Persib sulit menggondol 2 angka (2 kali seri) dari tour tandang. Jika salah satu pertandingan tandang meraih seri ataupun menang, ada kecenderungan di pertandingan tandang selanjutnya Persib mengalami kekalahan. Nah, mampukah Drago Mamic mengubah trend tersebut ?

H.G. Budiman (Bobotoh Persib)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: