Review Drive (2011)


Barangkali banyak sudah tulisan yang me-review film Drive (2011), mengkritik dan memujinya dari berbagai aspek; mulai dari skenario, sinematografi, dan keunikan Nicolas Wending Refn selaku sutradara dalam mengemas film. Tapi sungguh, sekalipun telah banyak tulisan yang membahas film ini, saya tetap ngotot menulis tentang film ini. Pasalnya, film yang konon bergaya arthouse  ini cukup kuat untuk membuat saya resah, paling tidak resah untuk mengungkapkan sensasi yang didapat selepas menonton film ini.

Majalah Movie Monthly dalam sebuah ulasannya menyebut Drive: not Fast but Furiously Beautiful. Kalimat tersebut agaknya pas untuk Drive. Jangan berharap kebut-kebutan, mobil super wah, dan wanita-wanita sexy ala Fast and Furious, Drive justru menghadirkan kebersahajaan dengan penuh elegansi. Terdengar aneh memang, tapi itulah yang saya dapat dari film Drive. Apalagi jika melihat posternya, terlihat sangat minimalis; dengan memperlihatkan Ryan Gosling di depan kemudi tanpa embel-embel yang semarak, hanya sebuah tulisan “Drive”  berwarna pink. Sangat mungkin banyak orang terkecoh, lantas menganggap film ini biasa saja. Dan tentu saja, jika menganggap Drive film biasa, itu keliru besar.

Plot Drive memang sungguh sederhana. Berkisah tentang seorang Driver (Ryan Gosling) –tanpa diketahui nama dan asal usulnya— bekerja di Lost Angles sebagai stuntman dan bekerja professional di malam hari sebagai gateway driver alias “melarikan” seseorang atau sekelompok orang dari satu tempat ke tempat lain, termasuk melarikan perampok dari kejaran polisi. Hebatnya driver yang satu ini memiliki aturan tersendiri dalam pekerjaannya: you give me a time and a place. I give you a five-minute window, anything happens in that five minutes and I’m yours no matter what. I don’t sit in while you’re running it down; I don’t carry a gun… I drive. Tentu saja aturan tersebut menggambarkan betapa profesionalnya ia. Yang pasti, cerita tidak melulu berkutat dengan aksi kejar-kejaran mobil seperti film action kebanyakan. Sisi manusiawi justru begitu kentara terlihat ketika si Driver jatuh hati pada tetangganya Irene (Carey Mulligan), ibu muda satu anak. Masalah timbul ketika suami Irene, Standard (Oscar Isaac) kembali dari penjara. Si Driver harus terlibat dalam sebuah misi untuk menyelamatkan Standard, yang mengharuskannya tercemplung dalam misi perampokan sebuah rumah gadai. Sayang, perampokkan berakhir kacau, lantas menyeretnya pada masalah besar dengan para mafia.

Adakah plot tersebut terlihat spesial? Tentu saja tidak, bahkan cenderung biasa; ketika seorang pria jatuh cinta pada wanita bersuami, hal ini sudah banyak ditemui pada film-film Holywood yang lain. Begitu pun terlibat konflik dengan mafia sudah banyak diumbar. Justru dari titik inilah kita bisa bicara mengenai kepiawaian Nicolas Wending Refn. Sutradara asal Denmark yang sebelumnya muncul lewat Valhala Rising ini agaknya sukses mengemas film dengan amat efisien. Dengan  durasi tidak lebih dari 100 menit dan dialog yang minim, penonton bisa mendapatkan kisah yang menyentuh beserta action yang cukup, tanpa hingar bingar. Refn tahu betul memanfaatkan gestur dan bahasa tubuh aktornya. Drive yang bisa digolongkan sebagai film yang tidak bawel alias minim dialog, justru dibangun dari kuatnya bahasa tubuh, sorot mata, dan pengambilan gambar yang tepat. Tepat karena dalam banyak adegan, kamera cenderung menyorot pada wajah tokoh-tokohnya yang tampil dengan prima. Gosling dengan tipikal cool, tidak banyak bicara, dan cekatan dalam bertindak dipadukan dengan Mulligan dengan wajah innocent-nya, menghasilkan romansa yang tepat, tanpa aneh-aneh dan bukan picisan. Dua jempol untuk akting Gosling, plus sorot matanya yang mampu bicara banyak meski tanpa banyak kata.

Jelas, Drive merupakan film yang punya kualitas. Jika diibaratkan, film ini seperti cerpen Hemmingway  yang objektif, tidak banyak cingcong, namun mampu menggambarkan gejolak batin tokoh-tokohnya. Menyimak film Drive seperti menangkap sebuah sensasi tanpa perlu terjebak pada konflik yang bertele-tele. Hebatnya, pengambilan gambarnya pun menawan, seperti sudut-sudut dari balik kemudi, atau beberapa efek slow motion yang pas dan tidak terkesan kampungan. Misalnya ketika si tokoh utama menggendong Benicio, anak satu-satunya Irena, yang tertidur. Atau adegan kissing di dalam lift, yang sungguh tidak terkesan cabul dan murahan. Ditopang dengan scoring dan soundtrack bagus, Drive menjadi sajian yang unik karena, menurut hemat saya, soundtrack pun menyampaikan cerita di tengah keterbatasan tokoh yang nyaris minim meluapkan emosi. Sebut saja Nightcall yang melantun di bagian opening film, atau lagu A Real Hero yang menjadi backsound ketika si Driver, Irene, dan anaknya Benicio bermain di pinggir sungai pada suatu sore yang terik. Ah, soundtracknya memang sungguh indah dengan nuansa europop sentuhan techno, serasa menyimak film tahun 90-an. klasik !!

Satu hal lain yang tidak bisa diabaikan dari film Drive adalah unsur action dan kekerasan, yang dihadirkan  sangat kontras dengan kisah di awal film. Melalui unsur kekerasan (kadang terlampau kejam), agaknya Refn ingin memberikan gamabaran bahwa manusia bisa melewati batas-batas nalar ketika harus mempertahankan satu-satunya yang berharga dalam hidupnya. Dari titik inilah, kedalaman karakter si Driver  yang serba misterius dapat dipungut; di satu sisi ia adalah sosok yang lembut, di sisi lain ia bisa bertindak tanpa tedeng aling-aling layaknya seorang psycho. Gosling sukses memerankan sosok yang amat manusiawi dan anti-hero ini.

Alhasil, Drive adalah film dengan paket yang lengkap. Saya pribadi sangat kagum dengan efisiensi Refn dalam menampilkan keutuhan sebuah kisah. Meski kemarin lalu, sempat terpikat dengan Warrior (2011), untuk genre drama-action, saya kira Drive di urutan teratas untuk tahun ini. Masih ragu menonton film ini ?? sedikit catatan saja, Majalah Rolling Stones menobatkan Drive sebagai film terbaik tahun ini, tapi dengan sedikit footnote: agak sulit mendapat Oscar karena terlalu banyak darah dan kekerasan. Walau demikian, Festival Cannes mengganjar Nicolas Wending Refn sebagai Best Director, plus standing ovation selama 15 menit dari audiences ketika film berakhir. Ah.. hebat toh ?

Tambahan:  Jaket berbordir Kalajengking yang dipakai Gosling bisa menjadi kajian menarik. Punya tafsir yang luas terhadap penjabaran karakter si tokoh utama.

***

H.G. Budiman (penikmat film)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: