Taktik Berhasil Tapi…

Malam itu Jalak Harupat berasap, flare di mana-mana, dan penonton membanjir menyemburkan riuh yang mendengungkan seisi stadion. Sejenak kadang saya berpikir, dalam beberapa sudut pandang, Jalak Harupat seperti San Siro. Andrenalin tercapu, dan niscaya kita merinding di sana. Saya  pun yakin, di menit itu; kala Radovic mengambil ancang-ancang penalti, seluruh stadion diselimuti rasa antusias dan kecemasan sekaligus.  Ada emosi yang tertahan dalam hitungan detik. Ada napas yang di-pause, dan ada mulut yang melongo. Dan boommm…  ketika  bola masuk di jala kanan kiper Andritany, seisi stadion seolah pecah. Radovic berlari, lantas melakukan seleberasi. 1-0 Persib unggul atas Persija.

Ada sensasi selepas gol itu, dan keriuhan mencapai puncaknya. Bobotoh jelas bergembira. Sayangnya setelah gol itu, tak ada gol tambahan dan bobotoh –saya yakin semua merasakannya– cenderung terkuras emosi hingga akhir babak kedua. Betapa tidak, Persib diserang dengan cukup sengit dari berbagai sisi. Syukur Alhamdulillah, taktik Drago Mamic berhasil, meski tidak dapat kita pungkiri taktik tersebut mengandung banyak resiko. Setidaknya 4 sampai 5 tendangan ke gawang dilakukan anak-anak Persija, belum lagi beberapa tendangan melenceng yang juga membahayakan. Walau begitu, toh akhirnya Persib yang menang. Dan sebuah ucapan layak disematkan bagi Persija: selamat menikmati kekalahan.

Publik Bandung boleh sedikit bangga, bersuka cita, hingar bingar, dan mungkin pula sedikit pongah, tapi kini belum waktunya Kota Bandung berpesta. Perjalanan masih jauh ke depan. Selain itu, masih banyak catatan khusus bagi skuad Pangeran Biru. Selain bermain terlalu Italy, catatan lain yang layak ditebalkan adalah cara Hariono dan kawan-kawan memainkan tempo. Tentu saja ini bukan catatan yang menghakimi, tapi sekedar opini dari apa yang terlihat di lapangan. Lantas, tidak semuanya pula catatan negatif.

Beberapa Catatan dan Analisis

Berikut catatan yang cukup menggembirakan. Meski bobotoh dipaksa gregetan dan beberapa kali menahan nafas, skuad Pangeran Biru setidaknya mampu menunjukkan determinasi yang tinggi di lapangan. Bisa kita lihat Radovic, Ilham, bahkan juga Moses tidak ragu-ragu untuk turun ke belakang dan merebut bola. Tak pelak Hariono memang selalu punya daya jelajah tinggi. Selain itu seluruh pemain bermain disiplin dan mampu melakukan pressure ketat. Dan hal yang patut disyukuri adalah ketepatan Mamic membaca keunggulan  serangan balik Persija. Agaknya ia melihat rekaman pertandingan Persija melawan Pelita dan PSPS beberapa hari lalu. Meladeni permainan Persija dengan serangan  frontal cenderung menghasilkan bahaya jika mengabaikan serangan balik cepat yang biasanya dimulai dari Oktavianus atau Robertino.

Mamic tak mau ketiban sial macam Pelita dan PSPS yang dengan kepercayaan diri terlalu tinggi menerapkan permainan menyerang. Maka, malam tadi bisa kita lihat pemain Persib menumpuk di tengah, meminimalisir kesalahan, dan tidak terpancing untuk bermain dalam tempo tinggi. Beberapa kali Oktavianus terganjal,  Robertino sulit berkreasi, sementara Johan Juansyah mati kutu. Tapi Persija tetaplah Persija; tim yang selalu sulit untuk dikalahkan. BP dan Pedro mampu membuka ruang dan mengalirkan bola di daerah pertahanan Persib, sehingga bisa kita lihat Jendri Pitoy cukup kerepotan dan Maman kerja ekstra keras. Beruntung bagi Persib, hasil pahit ketika menjamu PSAP Sigli tidak terulang. Tentu saja hasil ini bukan semata-mata keberuntungan, tapi keberhasilan Mamic menerapkan taktik. Agak bermain bertahan di kandang rasa-rasanya mengingatkan saya pada gaya kepelatihan Indra Tohir di era el capitano Dadang Hidayat. Memang tidak selalu bermain indah, tapi hasil optimal di kandang hampir selalu didapat.

Adapun beberapa hal yang mengkhawatirkan antara lain: pertama, bermain bertahan memang bukan berarti bermain buruk, tapi bermain bertahan tentu saja mengandung resiko. Besar kemungkinan Coach Mamic tahu betul kapabilitas anak asuhannya dalam bertahan. Pertanda baik, tapi bukan garansi Persib tidak akan kebobolan. Hasil seri kala menjamu PSAP adalah contoh. Untungnya, pada laga kemarin bek-bek Persib dalam performa puncaknya terutama Maman dan Abanda.

Kedua, suka tidak suka, senang atau tidak, kita semua harus mengakui bahwa Persib kekurangan SDM di lini serang. Ketika Persib harus dipaksa bertahan, sementara daya gedor lini depan kurang, maka intensitas untuk diserang lawan bisa sangat tinggi. Persib kekurangan pemain yang mampu membelah pertahanan lawan dengan aksi individu di saat pemain Persib lainnya harus bertahan. Peran ini sebetulnya diemban oleh Ilham dan Atep, hanya saja kedua pemain ini kerap kali kerepotan ketika harus menembus bek-bek yang tinggi besar atau bek-bek sayap lawan yang bermain lugas. Keduanya memang pemain yang punya kualitas tapi tidak melulu bisa tampil baik. Masalah lain bisa timbul ketika keduanya harus absen. Lantas siapa yang bisa menggantikan? Adapun Radovic menurut hemat saya bukan tipe pemain yang bisa mengacak-ngacak pertahanan lawan melainkan tipe pengumpan seperti Pirlo yang tentunya minim dari kemampuan speed dan duel. Saya kadang membayangkan seandainya Matsunaga masih ada, tentu beban Ilham dan Atep tidak seberat saat ini.

Ketiga, kurangnya SDM di lini serang bisa menjadi efek domino mengingat Moses Sayki agak kedodoran ketika harus berlari. Mengapa demikian? Taruhlah Persib menerapkan skema bertahan, maka fokus serangan adalah serangan balik yang polanya  bisa jadi harus cepat. Memang Moses efektif ketika harus berduel, menahan bola di depan, atau mencari bola-bola udara, hanya saja (sangat terlihat) begitu kesulitan ketika diberi bola daerah. Singkatnya, Moses cukup kontributif dan mampu bermain baik, tetapi kemampuannya tidak selengkap El Locco. Dari titik inilah, kerja Ilham menjadi dua kali lipat; menjadi pengumpan juga membackup Moses menjadi eksekutor, belum lagi penjagan lawan yang pasti ketat. Menempatkan Airlangga dan Aliyudin mungkin bisa jadi pilihan, konsekuensinya kedua striker ini kesulitan duel bola-bola udara, dan agak ribet menghadapi bek-bek yang besar. Jika skema Persib menyerang tentu tidak jadi masalah, namun jika bertahan, ini menjadi problematika tersendiri.

Sedikit catatan tambahan dari laga kemarin adalah masih banyaknya blank side yang tercipta di pos Zulkifli dan Jajang, khususnya ketika tendangan bebas. Beberapa peluang yang diciptakan BP dan Pedro justru memanfaatkan blank side yang tercipta di sisi kanan pertahanan Persib, ketika pemain bertahan fokus kepada bola.

Masalah-masalah yang dikemukakan di atas mungkin bisa menjadi lebih pelik ketika bermain tandang; ketika tekanan lawan lebih intens dan kecenderungan Persib untuk bertahan. Sejujurnya, untuk bisa terus bersaing di papan atas, agaknya Persib sangat perlu amunisi tambahan. Hal ini wajar, apalagi jika menengok tim-tim lain semisal Perispura dan Sriwijaya yang tampil begitu meyakinkan. Pemain-pemain muda mungkin bisa menjadi alternatif, hanya saja harus disertai kesabaran dan sedikit “perjudian” di laga yang tepat.

Demikian, catatan ini hanya sebuah opini dan luapan rasa bungah atas kemenangan Persib. Saya pribadi sepenuhnya yakin Drago Mamic adalah pelatih yang tepat bagi Persib, hanya perlu kesabaran dan mari sama-sama kita tunggu hasilnya.

H.G. Budiman (Bobotoh Persib)

Iklan

One thought on “Taktik Berhasil Tapi…

  1. Ipong berkata:

    ULASAN YANG SANGAT BRILYAN MANTAP…… LANJUT MAS..BUD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: