Superhero, Peter Parker, dan Kesadaran

Seberapa kelam dan gelapnya Batman, seberapa mengagumkannya Cristopher Reeve dalam Superman, atau seberapa saktinya kawanan The Avenger hingga hebatnya para anak didik Profesor Xavier dalam X-men, seberapa heboh dan gemilangnya mereka, saya selalu punya ruang personal untuk Peter Parker dan Spidey. Apapun, atau bagaimanapun hebatnya para superhero, Spidey –terutama Peter Parker– selalu menempati ruang itu; ruang di mana saya bisa memaknai si muka jaring, lantas menautkannya pada kehidupan pribadi.

Peter Parker dan Spidey selalu terasa personal. Ia berbeda dengan Bruce Wayne yang serba melangit. Bruce Wayne merupakan anak dari milyuner besar di Gotham City, aksesnya tak terbatas pada apapun; pada uang, kemewahan, teknologi, mesin tempur, hingga wanita. Bruce Wayne bak di langit tinggi yang tak akan tergapai meski kita melompat dengan mesin pelontar. Dari titik ini Bruce Wayne nyaris senada dengan Tony Strak, hanya saja Wayne bernaung pada ruang yang serba gelap, sementara Strak –seperti kita tahu—mengubangkan dirinya pada kerlap kerlip lampu disko, pesta, pesta, pesta, dan wanita. Stark lebih heboh dan penuh warna terang. Jelas, dari kondisi yang demikian, Parker kalah jauh dari dua tokoh mapan itu.

Lantas, coba bandingkan Parker dengan Clark Kent. Jawabannya, akan kita peroleh tanpa susah payah, mengutip perkataan Bill (David Carradine) dalam film Kill Bill vol 2,  “a staple of the superhero mythology is, there’s the superhero and there’s the alter ego. Batman is actually Bruce Wayne, Spider-Man is actually Peter Parker. When that character wakes up in the morning, he’s Peter Parker. He has to put on a costume to become Spider-Man. And it is in that characteristic Superman stands alone. Superman didn’t become Superman. Superman was born Superman. When Superman wakes up in the morning, he’s Superman. His alter ego is Clark Kent”   Jelas sudah, Bill melihat Superman dengan persfektinya yang unik, dan jelas itu merupakan silogisme yang bersih, bahwa Superman adalah Superman dan Clark Kent adalah topengnya. Jika pun saya memakai perspektif tersendiri, cukup memberi garis tebal pada asal-usul Superman. Ia lahir di Planet Krypton dengan nama asli Kal-El. Pendek kata, Superman adalah Makhluk Asing, dia bukan manusia bumi. Superman merupakan makhluk asing dengan kekuatan luar biasa  setara dengan Son Go Ku (Kakaroto) yang berasal dari Planet Saiya dalam kisah Dragon Ball. Adakah  Kal El yang hebat itu sebanding dengan Peter Parker?

Ah, barangkali anda heran membaca tiga pararaf awal dari tulisan ini. Toh, mungkin anda berpendapat bahwa saya hanya seorang a Nerdy boy yang terlalu banyak menyuntukki komik dan superhero. Jika demikian, kiranya pendapat tersebut tidak lah terlalu keliru. Toh, dalam konteks itulah yang membuat Peter Parker terasa begitu personal bagi saya; ia merupakan seorang nerdy (baca: culun), shy, and awkward high school student yang terlalu banyak menyuntuki buku, science, dan kamera. Sosok Peter Parker bangkali juga mewakili banyak orang di dunia ini yang merasa sendiri, tak pandai bergaul, dan tersisihkan. Stan Lee selaku pembuat karakter Peter Parker/Spidey  agaknya  ingin memberikan sentuhan emosional dan dekat bagi para pembacanya. Inilah kiranya yang membuat sosok spidey selalu dapat membetot pembaca komiknya maupun penonton filmnya. Terlepas dari segala ke-superhero-annya, Parker hanya pemuda biasa yang serba prihatin. Dalam kisah Amazing Spiderman (2012) yang digarap Marc Webb dengan sentuhan barunya, kita bisa tahu lebih jelas tentang si Peter Parker. Ia ditinggal kedua orang tuanya sejak kecil (dengan penuh tanda tanya), dibesarkan oleh Paman Ben dan Bibi May yang serba sederhana dan penuh kasih sayang, memiliki sedikit masalah dalam kehidupan sosialnya; seorang pecundang di sekolahnya yang mendambakan Gwen Stacy si gadis memesona dan cerdas. Webb mampu menyuguhkan sosok Peter sebagai seorang yang juga pintar dan bukan sebatas anak culun.

Dalam Spiderman (2002) versi Sam Raimi, Peter Parker masih memiliki tone yang relatif sama dengaan versi Marc Webb, hanya saja gadis yang diidamkannya adalah Mary Jane yang juga disukai oleh sang sahabat, Harry Osborn. Uniknya, Ketika Peter bertransformasi menjadi Spidey, ia sang Spidermen bukan superhero yang serba melangit. Spidey karekter yang unik, humoris, terkadang jail dan konyol.  Bayangkan, Spidey masih harus menggunakan tas gendong, membeli telur, mengantar pizza dan menggunakan handphone untuk menyadap radio polisi dalam aksinya. Spidey merupakan superhero dari middle class atau kelas pekerja. Maka, ia karakter superhero yang dekat dengan kehidupan kita. Jelas, kondisi ini bertolak belakang dengan para superhero mapan macam Batman yang dikerubuti berbagai gadget canggih. Tentu, di sini kita bukan bicara tentang film atau perbandingan superhero, namun ada nilai yang bisa dipungut dari hidup Peter Parker dan Spidey.

Lantas, nilai macam apa yang bisa dipungut dari kisah hidup Peter Parker yang macam demikian? Sekalipun Parker hanya tokoh rekaan, namun tipikal karekter macam Parker tentu lebih banyak bisa kita temui dalam kehidupan nyata. Akan lebih sulit mencari sosok macam Bruce Wayne, Tony Strak, Logan, Prof. X, yang serba mapan dan meyakinkan dalam kehidupan nyata. Maka, nuansa dalam Spidey adalah nuansa yang boleh jadi dirasakan pula oleh banyak orang.  Akan ada empati yang muncul dari para apresiatornya. Kita dibetot dalam kisah, ikut merasa tidak ada arti, ikut merasa menjadi pecundang yang bergelut dengan buku atau hal-hal aneh, atau mendambakan wanita yang tak terjangkau. Karena yang demikan itu, sangat mungkin pernah kita alami. Lantas, sekonyong-kongyong Peter Parker yang nihil –dengan insiden yang tak diduga—tiba-tiba mengubahnya menjadi Spidey, mengubahnya menjadi sosok yang serba bermakna bagi orang banyak, menyelamatkan kota dari berbagai masalah, hingga ia menjadi terkenal, didambakan oleh banyak orang, dan tentu saja mendapatkan Mary Jane dan Gwen Stacy-nya.  Maka, kita pun sadar, bahwa kita kadang selalu ingin menjadi superhero; mendapatkan apa yang kita ingin dan dimaknai oleh orang banyak.  Tentu, dalam semua kisah superhero selalu ada unsur filosofis yang sama, yakni  dari sebuah ketiadaan menjadi keberdaan yang bermakna; from nothing to something. Saya kira pemaknaan diri macam ini adalah sifat alami yang tertanam dalam diri manusia. Pertanyaannya kini; apakah kita harus menunggu digigit laba-laba untuk bisa lebih bermakna?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: