Catatan Kecil Tentang Pergerakan di Bandung; Sarekat Islam & Perjuangan Pers

Pada 1 Mei 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran. Massa sebanyak itu menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Selang tiga tahun setelah peristiwa tersebut, tepatnya pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di Amerika Serikat sebagai Hari Buruh Sedunia. Maka, kita hari ini pun mengenal istilah May Day; yakni hari ketika buruh sedunia turun ke jalan dan menuntut pengurangan jam kerja, atau apapun yang terkait dengan kesejahteraan buruh.
Lantas, apa yang bisa kita petik dari kejadian macam demikian? Adakah kita harus ikut turun ke jalan lalu berteriak-teriak hingga urat leher nyaris putus? Atau sekedar ikut bersimpati atas gerakan buruh? Jelas, masing-masing dari kita punya perspektif yang beragam dalam hal macam demikian. Namun, tanpa bermaksud menggiring pada wacana pergerakan yang terlampau berbobot, agaknya gerakan buruh sedunia bisa memberi kita permenungan; bahwa manusia selalu punya usaha untuk bertahan dan memperjuangkan hak-haknya. Nilai-nilai ini bukan hanya bisa kita dapat dari pergerakan buruh, namun kita bisa berkaca pada sejarah bangsa sendiri, dari pergerakan nasional, atau dari sepak terjang para Founding Father.
Menilik dari sejarah bangsa, agaknya rancu jika menyamakan pergerakan buruh dengan pergerakan nasional, toh pergerakan nasional kita tak didomimasi oleh buruh semata, namun pergerakan kita dibangun oleh golongan menengah, pedagang, petani, dan rakyat kebanyakan. Kalaupun ada gerakan yang cukup mirip dengan gerakan buruh di Eropa dan Amerika, maka nama Sarekat Islam (SI) adalah nama yang cukup pantas dikedepankan sebagai gerakan kolektif-terorganisir dan terbesar sekaligus salah satu yang paling awal muncul di negeri ini.
Embrio SI muncul dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang lebih dulu berdiri pada 1909 atas andil Tirto Adhi Soerjo. Barulah pada 1912, SI terbentuk sebagai organisasi yang terbuka untuk masyarakat di luar Jawa dan Madura. Tujuan utama SI adalah membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong di antara muslim serta mengembangkan perekonomian rakyat. Atas prakarsa Tjokroaminoto, SI terus mengembangkan sayapnya ke seluruh Hindia-Belanda (Indonesia). Pada awal berdirinya SI sudah memiliki anggota sejumlah 4500 orang, empat tahun setelah berdirinya atau pada 1916, jumlah anggota SI sudah mencapai 800.000 orang. SI menjadi organisasi yang sangat fenomenal kala itu.
SI pun terus berkembang, mengalami dinamisasi, bahkan radikalisasi dalam proses perkembangannya. SI pun memiliki berbagai cabang di kota-kota besar. Pada 1913 SI di Jawa dibagi menjadi tiga departemen; Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. SI Jawa Barat dipimpin oleh dua orang pimpinan: Raden Goenawan dan Abdoel Muis. Mereka berdua kemudian membuka dan mendirikan SI cabang Bandung. Dari titik inilah SI cabang Bandung punya kisah dan cara tersendiri dalam melawan kolonialisme.

Sarekat Islam di Bandung
Barangkali kota Bandung sudah tak asing dengan dunia pergerakan. Ada Soekarno dengan PNI-nya, ada pula Indische Partij yang didirikan di Bandung pada 25 Desember 1912 oleh Dr. Douwes Dekker. Walau demikian, nampaknya Sarekat Islam (SI) di Bandung belum terekspose secara luas, padahal SI di Bandung punya perlawanan yang gigih terhadap Pemerintah Kolonial melalui koran yang diterbitkannya; sebuah perjuangan melalui pena.

Pada masa awal pergerakan, khususnya sekitar periode 1900-an sampai 1940-an, pers sangat memiliki peran penting. Ide-ide tentang nasionalisme, kebebasan suatu bangsa, hingga paham sosialis dan komunis disebarkan melalui tulisan atau Koran. Perjuangan lewat pers mungkin tak berpengaruh secara serta merta, namun cukup efektif dalam menyampaikan gagasan secara massive. Melalui pers publik pun mampu tercerahkan. Sejak awal berdirinya, SI Bandung dapat ditelusuri dari perjuangannya melalui pers, dan kritikan-kritikan yang dilontarkan pada Pemerintah Belanda.

Perjuangan SI Bandung lewat pers, setidaknya dimulai sejak 6 Januari 1913 ditandai dengan diterbitkannya Koran mingguan Hindia Serikat yang dicetak oleh Voorkink v/h G. Kolff & Co. Koran ini dikelola oleh tiga orang pentolan SI Bandung, mereka adalah Abdoel Moeis, Soewardi Soerjaningrat, dan Wignjadisastra. Adapun 50% penghasilan dari Koran tersebut disalurkan untuk kas Sarekat Islam. Selain Koran Hindia Serikat, di Bandung pun terdapat Koran Kaoem Moeda yang dikelola oleh Abdoel Moeis. Koran ini menjadi corong perjuangan SI di Bandung dan menjadi salah satu Koran pertama yang mengenalkan rubrik “pojok” sejak tahun 1913-an.
Pada pertengahan 1918, penyampaian ide, kritik, dan perekrutan anggota mulai dilakukan melalui media Koran. Pada tahun tersebut terbitlah Koran dengan nama Padjadjaran. Koran ini menggunakan bahasa Sunda dalam penyampaiannya. Koran ini lebih memfokuskan pada berita internal partai, semisal laporan hasil rapat umum, namun tak jarang memuat pula beberapa kritikan terhadap pemerintah Belanda maupun pemerintah lokal pribumi.

Ketika radikalisasi pergerakan semakin meningkat, SI Bandung pun turut ambil bagian dan mulai terpengaruh unsur-unsur kiri. Walau demikian, SI Bandung tetap konsisten mengkritik pemerintah Belanda. Salah satu media yang paling tajam yang dimiliki SI Bandung adalah Koran yang bernama Matahari. Koran tersebut pertama kali terbit pada 3 Agustus 1922, sekaligus menjadi simbol perlawanan radikal SI Bandung terhadap pemerintah Belanda. Pada halaman depan, di bawah judul besar Koran Matahari, tertulis: “Soerat Kabar minggoean jang roear biasa terbit di Bandoeng”. Kalimat tersebut agaknya tepat untuk menggambarkan SI Bandung dan perlawanannya melalui Koran Matahari, karena tulisan-tulisan di dalamnya begitu tajam dan mengundang reaksi keras dari Pemerintah Belanda.

Koran Matahari dikelola oleh tiga orang penting di SI, ia adalah Raden Goenawan, Mochamad Sanoesi, dan A. Winata. Oleh tiga orang ini Koran Matahari di Bandung terus dikemas dan arahakan untuk berkonfrontasi dengan pemerintah (dulu disebut Gemeente). Berikut salah satu kutipan dari Koran Matahari: “Gemeente dapat banjak wang dari padjeg pasar, Siapa jang terbesar dagang dalam pasar? Kita orang Boemi Poetra! Gemeente dapat wang dari kendaraan sado, siapa jang terbesar mempoenjai sado itoe? Kita Oerang Boemi Poetra! Demikian sedikit gambaran tentang tajamnya perlawanan SI Bandung melalui pers. Riwayat perlawanan Koran Matahari tidak bertahan lama karena isinya yang selalu provokatif dan mengundang tindakan keras pemerintah. Pada Mei 1924 Koran Matahari resmi ditutup, seiring dengan ditangkapnya sang redaktur, yaitu A.Winata karena dituduh melakukan tindakan agitatif melalui Koran Matahari.
Koran-koran yang diterbitkan oleh SI Bandung merupakan representasi dari sebuah perlawanan dan pergerakan untuk mendapatkan hak yang selayaknya. Kita pun semakin tahu, bahwa Bandung selalu dipenuhi dengan riak-riak pergerakan; entah itu berbau nasionalis, Islami, atau bahkan sosialis sekalipun.

Dalam memperingati hari buruh sedunia, ada sedikit kutipan provokatif dari Koran Matahari yang terbit pada Agustus 1923: “Siapa jang menghisap kita? ; Hai Kaoem buruh di seloeroeh doenia, koempoellah menjadi satoe!”

***
H.G. Budiman
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Buruh
http://id.wikipedia.org/wiki/Sarekat_Islam
http://id.wikipedia.org/wiki/National_Indische_Partij
• Haq, Muhamad Nurul. 2011.
Koran Matahari di Bandung (1918-1924). Skripsi. Jatinangor: Unpad Fakultas Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: