Inggit Garnasih

Salahkah Inggit jika mencintai Soekarno? Kala Soekarno datang untuk indekos, Inggit Garnasih masih berstatus sebagai istri dari H.Sanoesi. Soekarno pun tidak bisa dikatakan lajang, kala ia datang ke Bandung, Soekarno telah “di-nikah gantung-kan” dengan Oetari, putri dari H.O.S Tjokroaminoto.

Inggit + Soekarno

Soekarno baru berusia 20 tahun, masih diliputi energi khas orang muda; pintar, penuh ambisi, dan tentu saja kharismatik. Apa daya, agaknya kharisma Bung Karno sukses membetot hati Inggit yang saat itu banyak ditinggal oleh sang suami. Berbagai kisah pun terjadi di sebuah rumah kos sederhana di Jalan Ciateul no 8, Bandung. Ada romansa, juga ada perjuangan di sana, toh Inggit bukan sekedar pemanis dalam perjalanan panjang Bung Karno, ia juga sosok yang turut mendampingi Bung Karno mengawali langkahnya sebagai orang terbesar di Repulik ini; seorang putra sang fajar.

Bagi sebagian orang barangkali hubungan Bung Karno dan Inggit terkesan kurang wajar; ketika menikahi Inggit, umur Bung Karno duabelas tahun lebih muda. Sebelum keduanya menikah, tentu saja Inggit terlebih dahulu meminta cerai pada sang suami, sementara Bung Karno mengembalikan Oetari pada ayahnya. Lantas, menikahlah Soekarno dan Inggit Pada 24 Maret 1923. Walau demikian, perbedaan usia antara Inggit dan Bung Karno sepertinya hanya tinggal lalu. Inggit membuktikan betapa ia mampu menjadi istri yang setia meskipun sang suami jauh lebih muda.

Pada masa awal Bung Karno mendirikan PNI, Inggit berperan mendampingi sang suami dalam menempuh lika-liku perjuangan. Ia tidak saja rela mengeluarkan hartanya buat pergerakan, tetapi ia juga rela berjualan jamu, bedak, bahkan menjahit yang hasilnya disumbangkan bagi pergerakan. Hebatnya, Inggit dengan lihai mampu menyelundupkan sandi-sandi intelijen melalui telur, Alquran, dan benda-benda lain saat Bung Karno mendekam di penjara. Inggit jugalah yang dengan tabah mendampingi Sukarno hidup di pengasingan.

Barangkali kita sering mendengar istilah: di balik orang besar, selalu ada wanita hebat. Terdengar klise memang, tetapi ungkapan tersebut agaknya layak disematkan pada Inggit Garnasih. Menurut tulisan Roso Daras, seorang penulis buku Aktualisasi Pidato Terakhir Bung Karno, dikatakan bahwa “hanya ada satu Inggit Garnasih di atas bumi ini. Dan satu-satunya Inggit itulah yang paling pas mendampingi Sukarno muda. Ia tahan gempuran gosip, gempuran cemooh, bahkan pelecehan polisi Belanda demi mengetahui dirinya adalah istri musuh nomor satu pemerintah Hindia Belanda, bernama Soekarno”. Namun sayang, kisah hidup Inggit pun menyisakan kepiluan. Betapa tidak, Inggit dengan kebesaran hati harus merelakan Bung Karno pergi pada wanita lain. Adalah Fatmawati yang menjadi pelabuhan hati Bung Karno selanjutnya. Kenyataan bahwa Inggit tidak bisa mendapatkan keturunan, lambat laun menjadi hantu tersendiri bagi kehidupan pernikahan Soekarno-Inggit. Ketika Soekarno meminta izin untuk menikahi Fatmawati, Inggit menolak. Ia tak mau dimadu dan memilih becerai dengan Soekarno. Semakin memilukan karena hingga kini sosok Inggit Garnasih agaknya kurang dikenal oleh generasi muda, bahkan tidak terlalu banyak diungkap dalam buku-buku teks sejarah. Untuk memperkenalkan sosok Inggit, Rumah kediamannya yang terletak di Jalan Ciateul no 8 (kini diganti namanya menjadi Jalan Inggit Garnasih) pada 23 Desember 2010 telah diresmikan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat menjadi Rumah Bersejarah Ibu Inggit Garnasih.

 

Rumah Bersejarah Ibu Inggit Garnasih

 

rumah sejarah inggit garnasih

Rumah ini menjadi ruang publik yang bebas dikunjungi oleh siapa saja yang ingin mengenang Ibu Inggit dan perjuangan Bung Karno. Hanya saja sayang seribu sayang, rumah yang punyai nilai historis begitu tinggi ini, masih minim didatangi pengunjung. Barangkali orang-orang belum banyak tahu.

Rumah Bersejarah Ibu Inggit Garnasih idealnya bisa media pengenalan yang tepat bagi publik guna mengetahui sosok Inggit Garnasih. Selain menjadi ruang historis sebagai tempat kediaman Soekarno-Inggit dari 1926 hingga 1932, rumah ini pun menjadi saksi bisu manakala Bung Karno membangun perjuangan merintis kemerdekaan bangsa bersama rekan-rekan seperjuangannya. Diskusi-diskusi penting seputar perjuangan dilakukan pula di rumah ini.

Kini, setelah rumah tersebut diresmikan menjadi Rumah Bersejarah, keadaannya terlihat begitu bersahaja. Pada bagain luar rumah terdapat papan nama yang bertuliskan Rumah Bersejarah Inggit Garnasih. Rumah ini pun tak seberapa luas dan hanya terdapat beberapa ruangan di dalamnya. Tak juga banyak ditemukan beragam perabotan di dalam ruangan, hanya terdapat koleksi foto beserta keterangannya. Adapula replika batu pipisan yang digunakan Inggit untuk membuat jamu. Masuk sedikit ke dalam rumah, terdapat ruang yang dulu menjadi ruang tamu. Di sini tampak foto profil Ibu Inggit dan foto Bung Karno ketika pertama tiba di Bandung. Pada dinding sebelahnya terdapat gambar Bung Karno ketika menjenguk Bu Inggit yang sedang sakit pada 1960. Sebelah kiri ruangan itu, terdapat ruang baca Bung Karno. Dalam ruangan ini terdapat surat nikah dan cerai Ibu Inggit dan Bung Karno. Diceritakan pula sosok Inggit sebagai perempuan yang tidak cengeng dan banyak menuntut kepada Soekarno suaminya. Dalam rumah ini pula dipajang Piagam Penghargaan Satya Lancana Perintis Kemerdekaan yang diberikan oleh Soekarno bagi Inggit pada 1961. Juga terdapat Bintang Maha Putera Utama yang diberikan pada masa pemerintahan Soeharto di tahun 1997.

photo inggit

Inggit Garnasih sosok wanita kuat—yang dalam perjuangannya mendampingi Bung Karno—sejatinya bisa menjadi inspirasi. Inggit Garnasih lahir di Kamasan, Banjaran, pada tanggal 17 Februari 1888. Konon nama “Garnasih” merupakan akronim dari dua kata bahasa Sunda, yakni “Hegar” dan “Asih”. Nama ini sejatinya tidak bisa dilepaskan dari catatan sejarah perjuangan Bung Karno. Untuk memperoleh gamabaran mengenai kisah hidup Inggit, tidak ada salahnya berkunjung langsung Rumah Bersejarah Ibu Inggit Garnasih, ataupun bisa memperoleh gambaran lengkapnya dari buku roman sejarah berjudul Kuantar Kau ke Gerbang ditulis oleh Ramadhan K.H. dan dicetak ulang oleh Bentang Pustaka pada 2011 lalu.
***

(H.G Budiman dari berbagai sumber)

4 thoughts on “Inggit Garnasih

  1. Ana Khoiruroh mengatakan:

    trimakasih note nya, dr kmrin googling tentang sosok beliau. Krn penasaran, stelah ada ustadz yg certa sekilas tentang Inggit. The great woman🙂

  2. Ana Khoiruroh mengatakan:

    Reblogged this on Ana Khoiruroh and commented:
    Wanita di balik pahlawan Indonesia ‘Inggit Garnasih’

  3. alfiansyah mengatakan:

    “DIBALIK ORANG BESAR SELALU ADA WANITA HEBAT” namun WANITA HEBAT tersebut sering tertutupi keBESARannya dan tersamarkan

  4. dina mengatakan:

    Inggit Garnasih is a great woman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: