Sekilas Tentang Pengumpulan Sumber

jika proses pengarsipan dan pendokumentasian itu tak penting, lantas apa gerangan maksud Pram mengkliping koran nyaris sepanjang hidupnya? Ya, Pram. Pramoedya Anantatur, satu dan hanya satu satunya di negeri ini yang masuk sebagai nominasi peraih nobel sastra. Ia mengkliping koran semenjak bebas dari pulau Buru hingga menjelang tutup usia. Setali tiga uang dengan Pram, H.B. Jassin–kritikus satsra paling awal sekaligus seorang “penemu” talenta Chairil Anwar–juga melakukan pengarsipan dan pendokumentasian. Tanpa andil Jassin, karya-karya sastra lawas beserta esai dan kritik-kritiknya tak akan bisa kita temukan lagi di negeri ini. Pusat Dokumentasi H.B. Jassin di Taman Ismail Marzuki merupakan warisan monumental Jassin untuk anak bangsa. Baik Pram maupun Jassin, keduanya sadar bahwa pengarsipan dan pendokumentasian bukan sekedar penting, tetapi di dalamnya terkandung budaya dan sejarah negeri ini. Tanpa Pengarsipan dan dokumentasi yang baik, bangsa ini akan kehilangan akar sejarah dan budayanya. Kehilangan sejarah dan budayanya sama saja dengan kehilangan identitas. Kehilangan eksistensi. Bangsa macam apa yang amnesia identitas? Setan sekalipun punya identitas. Mungkin Pram dan Jassin pun insyaf, toh di negeri ini masih sedikit ditemukan manusia atau lembaga yang memiliki kesadaran dalam pendokumentasian.

Dalam hal pendokumentasian, kita kalah dari negeri Belanda, di mana semua seluk beluk tentang ke-indonesia-an justru terhampar melimpah di sana. Ironis kiranya jika identitas ke-Indonesian kita lebih dipahami oleh orang asing, daripada oleh anak bangsa. Relakah kita? Dari titik inilah, Pendokumentasian bukan sekedar seberapa penting, tetapi harus dan mesti.

Dalam Konteks buku Ujungberung Rebels yang ditulis oleh Kimung, mungkin ia memiliki kesadaran yang satu frekuensi dengan Jassin; sebagai insan sejarah yang sadar akan identitas, dan menghargai/bangga dari mana ia berasal (Ujungberung). Mungkin. toh bukan kapasitas saya untuk menjawab meski sekedar “kira-kira”, namun jika Ujungberung Rebels ditulis dengan pendekatan sejarah, tentu saja buku ini akan menambah khazanah historiografi. Semoga saja demikian, seperti yang belakangan ini saya lihat di instragram Kimung yang memuat foto-foto dari berbagai zine serta setumpuk klipingan. Secara implisit terlihat bahwa metode sejarah digunakan di sana. Artinya, proses pengarsipan dan dokumentasi yang telah berlangsung lama, menjadi sumber penting guna menopang lahirnya sebuah karya. Tentu saja dalam hal ini sebagai sebuah karya sejarah; karya yang tidak bisa lahir dari hasil berkhayal semata, tetapi dari determinasi proses pengumpulan sumber (termasuk pengarsipan dan pendokumentasian), pengkonstruksian peristiwa hingga menjadi sebuah kisah. Ah, saya tiba-tiba teringat Haryoto Kunto sang Kuncen Kota Bandung dengan buku babonnya Semerbak Bunga di Bandung Raya. Adakah Kimung memang sedang mencoba membuat buku babon tentang scene musik bawahtanah di Bandung? Jika iya, tentu saja buku ini akan menjadi inspirasi lahirnya karya-karya yang lain. Salam dan salut.

H.G. Budiman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: