Cerita Tentang Jalan Raya Tempo Dulu*

Bayangkan kita bersepeda di Jalan Asia-Afrika pada masa satu abad yang lalu. Mungkin ada yang mampu berimajinasi, tapi mungkin pula tidak, toh kita memang hidup di masa kini; ketika jalanan dipenuhi oleh mobil, motor, kendaraan umum, serta asap yang berantakan di udara. Bagi kebanyakan orang masa kini, bicara tentang jalan raya adalah bicara seputar kemacetan, atau paling tidak tentang trotoar yang tidak nyaman lagi. Betul, dan memang demikian. Namun, jika kita rela hati melihat ke masa lampau, maka bicara tentang jalan adalah bicara tentang romantisme kota dan berbagai kisah; ada yang unik, ada yang aneh, ada pula penuh yang penderitaan.

Mari kita tengok. Misalnya, kisah yang penuh penderitaan. Kisah ini setidaknya bisa kita lihat dari sejarah dibuatnya Groote Postweg (Jalan Raya Pos) dari Anyer sampai Panarukan (termasuk melewati Jl. Sudirman, Jl. Asia-Afrika, dan Jl. Ahmad Yani). Groote Postweg dibuat atas inisiatif H.W. Daendels pada 1809. Menurut Pramoedya Anantatoer dalam novel Jalan Raya Pos, Jalan Daendels disebutkan bahwa jalan itu dibangun dengan memanfaatkan tenaga rodi. Tanpa dibayar, tanpa makanan yang memadai, dan bekerja siang malam. Parahnya jarak yang ditempuh sangat panjang, yakni hingga 1000 km. Menurut sumber Inggris, pembangunan Jalan Raya Pos memakan korban hingga 12.000 jiwa. Tentu saja ini kisah sedih, namun apapun yang terjadi, bagi kita yang hidup di masa kini, Jalan Raya Pos Punya faedah, toh perjalanan sepanjang Jawa menjadi lebih mulus. Bayangkan jika tak ada Jalan Raya Pos.

Adapun Kisah unik tentang jalan bisa kita tengok dari awal mula munculnya berbagai kendaraan di Jalanan Kota Bandung. Beberapa kendaraan tertua yang ada di Bandung di antaranya: sapi, kerbau, tandu (1740-an), kuda, dan pikulan. Kemudian muncul pedati beroda kayu dengan atap untuk peneduh. Pedati mulai marak digunakan sejak 1900-an untuk mengangkut barang dan manusia. Penggunaan transportasi hewan di saat Jalan Raya Pos telah selesai (1800-an), memunculkan sebuah tempat khusus yang hingga kini nama tempat tersebut masih sama. Tempat atau lokasi yang dimaksud adalah Banceuy (sekarang Jl. Banceuy). Banceuy merupakan tempat peristirahatan kuda. Tempat tersebut digunakan ketika pegawai pemerintah yang melakukan perjalanan jauh, akan mengistirahatkan kudanya yang kelelahan, atau sekedar memberi makan dan air minum. Maka, dikenal lah nama Banceuy sebagai tempat peristirahatan kuda. Terkait dengan kuda, di Kota Bandung pada akhir 1950-an mulai marak dipenuhi oleh gerobak kuda. Gerobak ini menggunakan roda kayu berjari-jari dan adapula yang menggunakan ban mobil. Uniknya, maraknya gerobak kuda bersamaan pula dengan semakin menjamurnya mobil sedan Chevrolet Impala—mobil termewah pada saat itu. Setelah Gerobak kuda, alat transportasi hewan yang muncul adalah kereta kuda; ada yang menyebutnya sebagai sado, ada pula delman.

Groote Postweg Bandung (en.wikipedia.org)
Menjelang abad ke-20 dan memasuki awal abad ke-20, teknologi transportasi semakin maju berkembang, dan prinsip mekanik dan mesin mulai digunakan. Sepeda atau dulu disebut kereta angin mulai masuk ke HIndia Belanda (Indonesia) pada 1890. Setelah itu, sepeda motor pun mulai masuk ke Hindia Belanda. Uniknya, sepeda motor di masa lalu punya sebutan kereta setan. Nama ini barangkali muncul atas ketakjuban penduduk pribumi pada teknologi saat itu.

delman & sepeda (wayhu-ariatama.blogspot.com)
Sementara itu, untuk teknologi mobil, baru masuk ke Hindia Belanda pada 1903. Khusus di Kota Bandung, pada 1904, keluarga para Preanger Planters seperti keluarga Kerkhoven, Bosscha, dan Mollinger telah mengendarai mobil uap Serpollet dan mobil bensin merek Darracq. Demikian, jalanan Bandung di masa lalu jika dibayangkan, rasanya amat damai. Tentu Bandung saat itu masih penuh pepohonan, jalanan lengang, mungkin hanya ada satu-dua mobil saja, beberapa pengendara sepeda, delman pasti berjalan amat santai di jalanan, dan tentu saja sisanya lebih banyak pejalan kaki. Adakah polusi saat itu? tentu saja ada, namun tak sebanyak hari ini.

Bicara tentang polusi, pada awal abad ke-20, Tillema—pemilik sebuah apotek besar di Kota Semarang—pernah menuliskan buruknya tingkat keterpeliharaan jalan di Jawa. Menurutnya, Jalanan di masa itu banyak membawa bakteri. Kenapa demikian? Kala itu orang-orang, terutama pribumi, masih membuang sampah langsung ke jalan, bahkan yang lebih mencengangkan, penduduk kadang membuang hajat di jalan raya dengan santainya. Dan semakin luar biasa, karena masa itu banyak pribumi yang berjalan tanpa memakai sepatu. Aduh… jika sekarang resiko berkendaraan di jalan adalah kecelakaan lalu lintas, jika dulu berkendaraan atau berjalan kaki di jalanan, maka resikonya adalah terkena “ranjau darat”. Apapun keadaannya, ternyata jalanan selalu mengandung resiko.

***
H.G. Budiman

*Dimuat dalam Majalah Mediagram, Mei 2012.

Sumber:
Katam, Sudarsono dan Lulus Abadi. 2010. Album Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung: Khazanah Bahari.
Mrazek, Rudolf. 2006. Engineers of Happy Land. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: