Refleksi Sederhana Tentang Bandung

Hana nguni hana mangke/ tan hana nguni tan hana mangke/ aya na baheula aya tu ayeuna/ hanteu ma baheula hanteu tu ayeuna…

Ada dahulu ada sekarang/ bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang/ karena ada masa silam maka ada masa kini/ bila tiada masa silam tak akan ada masa kini…

Demikian beberapa baris kalimat yang termuat dalam “Amanat Galunggung” (Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy) hasil terjemahan Saleh Danasasmita. Kalimat itu pula dikutip oleh Haryoto Kunto dalam pengantar bukunya yang terkemuka itu; Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986). Betapa potongan kalimat di atas terdengar sederhana di masa ini, tapi adakah kita tahu bahwa kalimat sederhana itu, dibuat sekian abad silam, ketika kertas dan tinta pun entah ada di mana, apalagi mesin cetak. Kalimat sederhana itu merupakan representasi pandangan hidup moyang kita; moyang yang hidup di tanah Priangan ini. Melalui kalimat tersebut, kita melihat bahwa sudah ada kesadaran pada konsep ruang dan waktu, bahkan jauh-jauh hari sebelum Einstein mengemukakan teorinya tentang waktu. Poin intinya, moyang kita begitu punya kesadaran bahwa apa yang terjadi saat ini selalu memiliki hubung kait dengan masa lampau, dan apa yang terjadi di masa lampau, turut membentuk kita saat ini. Kesadaran akan waktu, juga bagian dari kesadaran akan identitas. Lantas, haruskah kita melupakan masa lalu dan melenyapkan identitas begitu saja?

Tanggal 25 September ini Kota Bandung menginjakkan usianya di angka 204 tahun. Sungguh angka 204 menunjukkan betapa tuanya kota ini. Di tengah kota yang semakin tua ini, kita pun sadar Kota Bandung bertransformasi dengan begitu cepat. Masyarakat kota ini semakin heterogen, beragam budaya ada di Bandung, beragam hiburan ada di Bandung, dan bergam komunitas kreatif dan industri kreatif membanjir di Bandung. Jadilah Bandung, kota kreatif yang punya potensi ekonomi begitu tinggi. Dan Barangkali, satu atau dua dekade ke depan Bandung pun akan menjadi megapolitan macam Jakarta. Siapa yang tahu? Namun, apapun jadinya Kota Bandung hari ini dan kelak–seperti yang dikemukakan dalam “Amanat Galunggung” di atas– dibentuk dari masa lalu. Wajar kiranya jika kita selaku penghuni kota ini, mulai ingin tahu dan mau tahu tentang riwayat kota ini. Bahwa Bandung berdiri secara formal pada 25 September 1810, bahwa Bandung dahulu berpusat di Dayeuh Kolot sebelum pindah ke pusat kota dekat sungai Cikapundung, bahwa Bandung dibangun berkait pula dengan pembangunan Jalan Raya Pos gagasan Daendels, bahwa Bandung dahulu bisa menjadi sebuah kota atas jasa Wiranatakusumah II—yang kini makamnya nyaris terlupa dan tak terurus di jalan Dalam Kaum, bahwa Bandung sempat menjadi episentrum pergerakan Nasional. Agaknya fakta-fakta tersebut sudah sewajarnya mau kita ketahui, dan kita cari tahu. Maukah kiranya kita disebut sebagai masyarakat yang amnesia masa lampau? Agaknya tidak.

Marilah kita mencintai kota ini dengan cara kita; tetap membangun dan mengembangkan kota ini, tapi tidak lantas melupakan budaya dan sejarahnya. Layaknya pohon beringin yang kokoh, ia akan tumbuh dan menjulang dengan akar dan batang yang besar-besar, tapi ia menancap pada akar yang kuat. Pada akar itu pulalah sejarah dan budaya menancap kuat, dengan begitu, apapun perubahan yang terjadi, ia tak goyah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: