Saya dan Guru; Sebuah Refleksi

Saya besar dan tumbuh di lingkungan pendidik, di lingkungan guru. Kakek saya seorang guru bahasa Indonesia, sempat juga ia beberapa lama menjabat sebagai kepala sekolah. Darinya saya mengambil banyak teladan. Kakek seorang guru bahasa Indonesia, tetapi ia mewajibkan kami, cucu-cucunya, untuk bisa berbahas sunda sebagai bahasa dan identitas kami, juga cara agar kami tidak lupa di mana kami lahir dan berpijak. Nyaris setiap akhir caturwulan, kakek memeriksa rapot kami para cucunya, kemudian memberi reward bagi kami yang mendapat nilai bahasa daerahnya tinggi. Bukan hadiah yang besar, hanya uang 500 perak. Dan itu rutin dilakukan, baik itu jika kami melakukan pekerjaan rumah, maupun jika prestasi dinilai baik. Dari kebiasaan berbahasa sunda, secara tidak langsung kami diajarkan etika; bahwa orang Sunda terbiasa berperilaku santun, terbiasa menghormati siapa-siapa yang lebih tua.

Kakek seorang guru, begitu pun kedua orang tua saya. Ibu mengajar mata pelajaran manajemen di salah satu SMK di Bandung, Bapak saya mengajar bahasa Inggris di salah satu SMA Negeri di kota yang sama. Oleh mereka saya tumbuh dan dibesarkan. Bapak saya orang yang terbiasa keras dan disiplin. Bukan hal aneh jika saya dikurung dan dikonci di kamar. Bukan tanpa sebab, tentu saja itu karena saya yang rewel atau menangis karena ingin sesuatu. Bapak, sering kali menegor, bahkan dengan nada keras manakala saya sesuka hati menaruh pakaian bekas pakai sembarangan. Ia mengajarkan saya disiplin dan bertanggung jawab dengan diri sendiri.

Ibu, seperti kebanyakan ibu lainnya bersikap lebih melindungi dan mengayomi. Ibu kebetulan juga guru BP di sekolah tempat ia mengajar. Ia tau bagaimana membesarkan hati anak-anaknya. Ibu tak pernah membebani saya dengan prestasi yang muluk-muluk, nu penting mah naek kelas, wios nilai awon ge, asal ngke taun payun langkung rajin. Ia tak pernah pula mem-push saya untuk les ini-itu. saya ikut les ketika memang saya mau, misalnya les renang. Selebihnya saya tak pernah di-leskan ke lembaga pendidikan macam SSC atau GO. Ibu dan bapa sama-sama tak pernah membebani saya dengan tuntutan prestasi, menurut mereka; asal ulah bereum nilai PPKn sareng agama na. Mun bereum moal naek.

Seperti anak pada umumnya, dahulu saya senang main, bergaul dengan anak-anak yang lebih besar, dan mulai badung. Di sekolah pun saya bukan anak yang berprestasi; matematika saya jeblok, nilai IPA saya meluncur bebas. Sejujurnya, saya bukan tipikal anak yang bisa membanggakan orang tua. Suatu waktu sering pula saya ketauan menyontek, kabur dari sekolah untuk main PS, atau ketika SMP pernah pula kena razia karena sok modis memakai sepatu convers hitam yang dilarang di sekolah. Ibu pernah dipanggil guru BP sekolah perihal sepatu ini, tp ibu tak pernah benar-benar marah. Ia hanya memperingati saya dengan sewajarnya, dengan caranya yang kira-kira bisa mengena ke hati.

Saya anak biasa yang memang tak pintar-pintar amat, tapi mungkin Tuhan selalu menaungi. Alhamdulillah, meski nilai pas-pasan saya selalu lolos ke sekolah negeri, dari SD sampai SMA, bahkan hingga kuliah saya bisa masuk ke Universitas Negeri, meski bukan jurusan yang bergengsi dan jadi rebutan selama SPMB. Saya masuk jurusan sejarah, yang mana satu angkatan mahasiswanya hanya berjumlah 40 orang🙂

Saya besar dan tumbuh di lingkungan guru, saya tau betul keseharian seorang guru, dari bangun hingga tidur. Ibu-Bapak saya orang yang biasa-biasa, bukan tipikal orang tua yang bisa memberi fasilitas serba ekslusif bagi anaknya, tapi mereka memberi saya pelajaran dan didikan untuk saya tumbuh dan dewasa; untuk saya tumbuh dengan mindset saya sendiri, dan menghargai hidup. Dengan tanpa beban, saya belajar dan menikmati masa kecil saya. Terkadang saya nakal, terkadang pula saya taat. Ada masa-masanya saya keblinger saat SD, ngobrol saat guru menerangkan. Saya masih ingat hingga saat ini, dulu karena perilaku saya itu, Ibu Guru menyuruh saya menyalin huruf bersambung hingga 4 halaman. Pulang paling akhir, ketika teman-teman sudah ada rumahnya masing-masing.

Pernah pula, saya dipanggil ke ruang guru karena nilai ulangan bahasa inggris saya mendapat nilai 3. Saya dimarah-marahi, lantas diomeli. Sekali lagi, saya bukan anak yang baik-baik amat, juga bukan anak yang berprestasi secara akademik. Selama masa tumbuh dan berkembang saya menjalani masa pendidikan, tentu saya menemui pula guru yang galak, guru yang suka nendang-nendang meja, atau guru yang lempar kapur ketika murid berisik, atau guru yang menggebrak meja ketika muridnya tak bisa menjawab pertanyaan. Ada guru yang memperlakukan siswa dengan baik, ada guru yang memperlakukan siswa dengan penuh canda, dan tidak saya pungkiri, ada pula guru yang memperlakukan siswa dengan galak dan menyeramkan. Guru yang galak dan menyeramkan itu, saya anggap sebagai hal yang wajar-wajar saja, sebagai bagian dinamika hidup, dan kini jadi bahan cerita ketika reuni dengan teman-teman.

Saya tumbuh dan dididik oleh seorang guru, baik di rumah (karena bapak-ibu saya guru), maupun di ruang kelas. Boleh dibilang, tiap langkah yang saya capai hingga saat ini tak pernah lepas dari orang-orang yang bekerja sebagai guru. Saat ini, manakala saya sudah berkeluarga dan bekerja, sekali lagi secara kebetulan saya menautkan diri dengan dunia pendidikan. Saya seorang pekerja sejarah dan budaya di sebuah instansi pemerintah. Meski lebih banyak menyuntuki dunia sejarah, sering pula saya terlibat dengan anak-anak dan guru-guru SMA ketika kegiatan-kegiatan pengenalan sejarah yang merupakan bagian dari tugas kantor. Meski saya kini bukan seorang guru, tapi boeh lah dibilang darah saya mengalir darah guru, bahkan nafkah yang saya cari pun terikat pula dengan dunia pendidikan, dunia guru.

 

Guru Hari ini

Melihat fenomena yang terjadi belakangan ini, khususnya tentang guru yang dipidanakan karena mencubit siswa (Sidoarjo), dan guru yang dipukuli orang tua murid (Makasar), rasanya bagi saya pribadi terasa menohok hati. Betapa tidak, saya menempatkan diri, bagaimana apabila guru yang dipidanakan itu orang tua saya sendiri.

Menurut hemat saya, sebagai seorang yang besar dengan didikan guru, kiranya bisa menilai bahwa apapun perilaku guru di kelas, sejatinya ia mempunyai dua dunia. Pertama, seorang guru yang mengajar dan hidup dari ruang kelas (dengan siswa yang unik dan beraneka ragam). Kedua, guru yang juga menghadapi dunianya sendiri; rumah di mana ia harus menafkahi dan juga membesarkan anaknya sendiri. Dunia guru bukan hanya ruang kelas, di luar ia harus menghadapi, misalnya; tuntutan sertifikasi, membagi waktu dengan keluarga, bayar cicilan rumah, bayar cicilan motor, mengurus sanak famili yang sakit, atau memikirkan tunjangan sertifikasi yang telat, dsb, dsb.

Kita tak bisa mengabaikan fakta bahwa, dunia pribadi seorang guru, bisa tanpa sadar mempengaruhi cara ia mengajar di ruang kelas. Tentu, guru yang baik bisa memilah dunianya dan bersikap profesional di ruang kelas. Guru yang kurang baik, mungkin saja tak bisa membagi emosinya antara masalah di rumah dengan kondisi di ruang kelas, sehingga tidak menutup kemungkinan berimbas pada siswa yang di-didiknya. Apapun itu, perilaku kekerasan kepada anak didik tidak bisa dimaklumi begitu saja. Pada titik ini, orang tua dituntut untuk bisa lebih bijak menilai. Orang tua harus bisa membedakan, mana perilaku kriminal, mana perilaku mengajar yang–mesekipun pada praktenya ada cara didik yang salah.

Perihal mencubit, atau parahnya menampar, jika memang tidak ada intensi untuk melukai, baiknya tidak perlu lah orang tua memersoalkannya ke ranah hukum. Kalaupun orang tua merasa keberatan, harusnya di-dudukkan secara evaluatif atau cukup teguran kepada guru yang bersangkutan atau kepada kepala sekolah misalnya. Kalau boleh melihat konteks di masa lalu, konon berdasarkan cerita orang-orang tua, anak murid yang ditampar oleh seorang guru, lantas mengadu pada orang tuanya, justru si anak akan kena damprat dari orang tuanya sendiri.

Tentu, nilai seiring zaman ikut berubah, tidak mestilah kita mengacu pada nilai lama, tetapi ada nilai-nilai lama yang masih bisa kita serap; betapa orang tua menempatkan guru pada posisi yang penuh hormat, guru bukan dilihat sebagai tenaga yang dibayar lantas harus me-raja-kan anak, tetap pada porsinya untuk mendidik (bukan sekadar akademis tetapi juga moral-perilaku).

Mudah-mudahan asumsi saya keliru, tetapi bagi sebagian orang tua, guru hari ini seolah dilihat sebagai tenaga bayaran yang wajib membuat anak jadi pintar. Pada kondisi ini, orang tua menempatkan guru secara keliru, yang secara otomatis juga menempatkan anak secara sama kelirunya. Bagaimana bisa melihat guru dalam proporsi yang tepat, jika cakrawala orang tua terhadap anaknya sendiri sudah keliru.

Orang tua yang serba sibuk namun punyak kekuatan finansial, cenderung memfasilitasi anaknya pada sekolah-sekolah yang elit tanpa menghiraukan seberapa besar biayanya. Dengan cara pikir kurang lebih seperti ini; saya sudah bayar biaya yang besar, anak saya harus pintar, nilai akademisnya besar-besar. Nanti kalau pintar, dapat pekerjaan bagus, mudah cari uang yang banyak. Pada titik ini, anak seolah dilihat sebagai produk. Seberapa mampu guru mencetak produk yang unggul (secara akademis). Sebetulnya, menurut hemat saya, mungkin mudah saja membuat anak jadi pintar. Jejali saja pelajaran, beri tips-tips menghapal cepat, atau beri rumus-rumus cepat agar bisa menyelesaikan soal matematika yang njelimet itu. Anak pintar, sukses, banyak uang, beres perkara. Apakah orang tua mau seperti itu?

Anak yang pintar, anak yang jenius tanpa bangunan moral yang adiluhung, hanya akan seperti gedung yang rentan roboh. Bukankah karekter, moral, dan perilaku yang lebih menentukan untuk kita bisa bertahan menghadapi dunia? Coba lihat kembali film Good Will Hunting (1997), film ini mengajarkan kita betapa kejeniusan sekalipun, bukan jaminan seseorang bisa terkoneksi dengan lingkungan. Jika pendidikan anak, jika seorang anak hanya dilihat sebagai produk, maka cara membentuknya pun bisa lah layaknya mesin. Padahal, pendidikan berperan bukan sekadar membentuk  anak jadi pintar tetapi supaya anak jadi manusia seutuhnya.

Harus diingat pula, ketika orang tua menyekolahkan anaknya pada suatu-sebutlah-institusi, sejatinya secara tersirat ia menitipkan anaknya dengan kesadaran yang penuh seluruh. Sekadar menitipkan, bukan pula si institusi harus berkewajiban bertanggung jawab sepenuhnya atas karakter dan prestasi si anak. Kendali awalnya tetap ada di orang tua, ada di rumah.

Dalam semboyan Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang dirumuskan dengan ciamik oleh Ki Hajar Dewantara, kita dapat mengambil makna filosofis pendidikan; bahwa seorang pendidik harus bisa mencipta ide, memberikan motivasi, dan memberikan teladan. Lantas, dari mana seorang anak dapat memperoleh teladan? Selain teladan itu bisa diperloleh dari seorang guru (sebagai sebuah ranah profesi), teladan itu justru bisa lebih intens diperoleh dari lingkungan terdekatnya, dari contoh dan perilaku orang tua. Bukankah dalam ajaran Islam pun dijelaskan bahwa didikan awal diberikan dari contoh dan teladan orang tua. Jika orang tua secara heboh memidanakan seorang guru atau memukuli seorang guru, teladan macam apa yang diperoleh si anak?

Untuk kesekian kalinya, dalam tulisan ini saya ungkapkan, saya berbangga hati bisa tumbuh dan besar di lingkungan guru. Meskipun saya tak menutup mata; ada guru yang baik, ada pula guru yang buruk. Apapun itu, bagaimanapun sekian banyak guru yang pernah singgah di kehidupan saya, sejatinya mereka, termasuk bapak dan ibu saya, telah turut serta membentuk saya saat ini. mungkin ada puluhan guru atau ratusan yang pernah saya kenal, pernah saya peroleh inspirasinya, saya adopsi cara pandangnya, untuk jadilah saya saat ini. Mungkin saya belum menjadi orang yang sukses, belum menjadi orang yang berguna, belum menjadi orang yang besar yang mungkin ibu-bapak saya harapkan, tetapi saya masih berbangga dan berdiri tegak untuk setidaknya masih memegang nilai; bahwa guru adalah sosok yang harus selalu dihormati.

 

***

 

Post script: Hatur nuhun Bapak Iton K. Djajawisastra, Ibu Line Lindari, Bapak Atik Setiawan. Hatur nuhun guru-guru sadaya; Bu Eutik, Bu Teja, Bu Imas, Bu Ike, Pak Topan, Bu Nunung, Bu Dede, Bu Lisyanti, Bu Etty, Bu Isma, Bu Ade, Pak Dadang Abdul Fatah, Bu Nani, Bu Nenah, Pak Sukirman, Pak Slamet, Pak Tamsil, Pak Mustari, Pak Aceng, Bu Euis, Pak Sambas, Pak Hudori, Bu Dartika, Bu Heni, Bu Nonoy, Pak Aceng, Pak Marno, Bu Heti, Bu Dina, Bu Tuti, Pak Dadang, Pak Mamat, Pak Dede, Pak Deden, Pak Sofyan, Pak Deni Dimyati, Pak Odin, Pak Endang, Bu Latifah, Pak Muhtar, Bu Neni, alm. Bu Yeti,  Pak Andang, Bu Nurlela, Pak Ucup, Bu Siti Saadah, Bu Nurhadini, Bu Euis akutansi, Pak Cucu, alm. Pak Aceng, Bu Imas fisika, Pak Aris, Pak Enceng, Pak Iskandar Bahasa inggris, Bu Suwangsih, Pak Taufik Matematika, Bu Nenny matematika, Bu Elly, Bu Dedeh, Pak Tatang, Bu Etin, Pak Kamal, Bu Euis kimia, Pak Heldan, Pak Endang, Bu Lin matematika, Pak Cepi, Bu Sri Retno, Bu Euis Heni, Ibu Rengki biologi, Ibu Mala, Pak Dedi, Bu Neulis, Bu Haniah, Bu Enok Fisika, Bu Etin sejarah, Bu Titi kimia, Bu Rina PPkn, Bu Endah Surtika, Alm. Bu Inu Yusmaniar ekonomi, Bu Nina Lubis, Pak Sobana, Pak Mumuh, Pak Reiza, Pak Mas Anto, Pak Awal, Pak Rahmat, Pak Lucky, Bu Tanti, Bu Tika, Pak Fadli, Pak Gani, Pak Agusmanon, Bu Ani bahasa Belanda, Pak Miftah, Pak Bambang, Bu Ety, alm. Pak Benjamin Batubara, Pak Dade, Bu Diena, Bu Ietje, Pak Taufik Hanafi, Pak Fahmi, Pak Kunto, Pak Mamat Ruhimat, Bu Nani, Bu Teti. Bu Susi, Bu Ida, Bu Rini, Alm. Pak Jodi, Pa Widi,dll yang berkontribusi secar formal dan informal, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

 

 

~ Hary G. Budiman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: