Dengan atau Tanpa Konate; Sebuah Pertimbangan Lain

084152900_1447669079-makan_konate__persib__zaidan_nazarul__1_

Ada suatu masa di mana lini tengah Persib diisi oleh Enjang Rohiman dan Ayouck Berty. Suatu periode yang mungkin masih begitu lekat dalam ingatan bobotoh, periode yang selalu kita ingat sebagai salah satu catatan sejarah buruk Persib di Liga Indonesia. Tahun itu, Persib lolos dari jerat degradasi karena gempa Jogja. Tentu, bukan hanya itu periode kelam dalam sejarah Persib. Era Marek Andrez Sladzianowsky adalah cerita suram lainnya yang tak bisa kita tendang keluar dari memori. Selama periode 2000-an sampai kini, pemain-pemain berdatangan, bersamaan dengan itu pula banyak yang gagal memenuhi ekspektasi. Meski demikian, toh kita tak bisa menampik, ada pula pemain-pemain hebat yang pernah singgah di lini tengah Persib, sebut saja misalnya Yaris Riyadi, Alejandro Tobar, Eka Ramdani, Suchao Nutnum, Cabanas, dan Miljan Radovic.

Dari sekian waktu Persib bertransformasi dan mencari bentuk terbaiknya, yang tak jarang terasa meyakitkan dan membuat letih, lahirlah skuad juara 2014.Lini tengah diisi pemain-pemain kreatif dan bertenaga; Hariono, Utina, Konate, Tantan, Ridwan dengan di-back up Atep, Taufiq dan sesekali Agung Pribadi, silih berganti mengisi pos utama. Praktis nama-nama ini pula yang menandai era keemasan lini tengah Persib setelah sekian tahun berlalu masa kejayaan Yusuf Bachtiar cs. Tak mengherankan jika banyak media mensejajarkan skuad juara 2014 dengan generasi emas 80-90an. Resikonya kini; skuad Persib pasca 2014, akan selalu dinilai berdasarkan standar 2014 itu.

Hingga saat ini, ketika turnamen kopi 2016 hampir rampung, nama-nama protagonis di 2014 selalu dikaitkan dengan Persib. Konate dan Dedi Kusnandar, dua nama yang paling gencar digosipkan akan direkrut kembali pada 2017 mendatang. Beredarnya kabar tentang Konate yang diisukan mengalami cedera parah pun menjadi atensi tersendiri bagi coach Djanur. Seperti di lansir Simamaung pada 15 November 2016: Kaget karena kita punya harapan untuk menarik lagi dia (Konate) pulang ke Bandung. Walau kita tahu tidak gampang, tetap ada harapan sebenarnya kembali menarik dia, ungkap Janur. Bobotoh berlega hati manakala Vlado memkonfirmasi langsung pada playmaker asal Mali ini, bahwa kondisi Konate ternyata baik-baik saja dan full menyelesaikan kompetisinya di Malaysia (Simamaung, 16 November 2016).

Faktanya, Djanur masih berharap banyak pada Konate sebagaimana bobotoh di seluruh penjuru negeri. Harapan yang hampir pasti turut terkait dengan keinginan mengulang sukses 2014 dan juara piala presiden 2016. Hal ini dapat kita maknai dalam dua sisi. Pertama, Bobotoh hampir pasti menaruh ekpektasi tertinggi, yaitu meraih juara. Kedua, Djanur seolah ingin mengembalikan skema terbaik Persib bersama Konate. Dengan kata lain; Djanur lebih memilih kembali ke zona amannya. Mungkin ia enggan berspekulasi dan menguras energi lagi untuk mencari box to box midfield yang sama sekali baru. Pada titik ini, sama sekali tidak ada yang salah dengan rencana dan harapan Djanur (juga bobotoh) itu.

Namun demikian, performa Persib selama liga kopi 2016, bisa menjadi bahan pertimbangan lain, bukan karena jeleknya lantas tak mencapai prestasi terbaik, tetapi tanpa Konate pemain-pemain tengah Persib ternyata mampu mengeluarkan batas kemampuannya. Bukan hanya pemain, saya pikir Djanur pun dipaksa peras otak dan tenaga untuk membangun ulang tim selepas kejatuhan Dejan Antonic. Kita pun tahu, dengan skuad yang tak terlampau ideal, Djanur dapat menambal beberapa kebocoran di skuad Persib yang belakangan trennya kian membaik. Performa Kim yang membaik (4 gol dan 1 asisst), saya kira bukan sekadar kerja keras dan ketahanan mental si pemain, tapi juga bukti kecakapan Djanur menentukan tugas yang tepat bagi Kim. Hariono yang selalu konsisten di tengah, kini semakin berani memegang bola dan melakukan umpan terobosan. Bola chip umpan Hariono kepada Tantan di laga versus Semen Padang, merupakan salah satu dari sekian improvement yang didapat si gondrong satu ini. Ia mulai sering mengirimkan umpan vertikal ke zona bertahan lawan. Hariono kini, tidak melulu membagi bola ke belakang dan ke sisi lebar lapangan, dalam skema serangan balik sesekali ia hadir di depan kotak penalti dan memberi umpan. Mencuatnya nama Febri belakangan ini juga, agaknya hikmah dari bertugasnya Zulham di Timnas. Begitu pun Jajang Sukmara yang semakin hari, semakin menikmati perannya di full bek kanan.

Kita pun paham, Marcos Flores dan Robertino tidak menunjukkan performa sememukau Konate. Meski begitu, sejauh ini Djanur masih bisa merancang mesin lini tengah Persib berjalan baik. Dari catatan sederhana saya pada laga versus Semen Padang, Flores mampu merampungkan 58 umpan sukses dari total 65 umpan yang dilakukannya (81.5 % umpan sukses). Dari sekian umpan yang dilakukannya, tercatat ia melakukan 3 umpan terobosan saja. Tak bagus-bagus amat untuk pemain yang pernah mengecap atmosfir Liga Champion Asia, tetapi cukup mendukung kinerja serangan Persib supaya tetap hidup.

Dari sekelumit kemajuan-kemajuan Persib yang saya singgung di atas, tenaga Konate boleh jadi masih Persib perlukan, setidaknya untuk menambah dimensi serangan dan memberi daya ledak yang lebih besar dibandingkan Flores dan Ino. Tapi, dari gambaran di atas juga kita bisa tahu, bahwa dengan atau tanpa Konate, Djanur tetap punya kapasitas untuk bikin tim Persib terus berkembang; secara taktikal maupun kemampuan individu pemainnya.

Djanur bisa berkaca pada era Indra Thohir, khususnya di tahun 2001 dan 2005. Ketika itu skuad Persib tak dilimpahi pemain bintang. 2001 lini tengah Persib diisi nama sekelas Yusuf Bachtiar (37 tahun), Yaris Riyadi, Mulyana. Pada 2005, dibawah Thohir lini tengah Persib diisi Yaris Riyadi, Suwita Patha, dan Ullian Souza. Skuad yang tak bagus-bagus amat, tapi Abah Thohir tak pernah bikin malu dirinya sendiri; 2001 Persib lolos 8 besar dan tak lolos semifinal karena menempati posisi 3 dalam grup. 2005 Persib menempati peringkat 5. Hebatnya pria lulusan FPOK UPI ini, ia bisa optimalkan pemain yang ada. Tentu kita masih ingat Boyjati, Eka Ramdani, bahkan Aceng Juanda bisa Thohir optimalkan dengan semestinya. Dengan pengetahuan dan akrabnya Djanur pada atmosfir Bandung, ia punya potensi melakukan kinerja semacam Indra Thohir. Kita bisa lihat potensi itu dalam cara Djanur mengantisipasi celah di skuad 2016 ini. Dan kalau boleh jujur, meski tak meraih juara, tahun ini saya pribadi begitu menikmati proses kebangkitan tim, ketika pemain semakin terlihat berkembang secara individu dan mulai padu dalam unit. Tentu tak sebagus 2014, tapi Persib punya modal.

Jika misalnya tahun depan Konate tak bisa kembali ke Bandung, salahkah kita jika melempar harap pada kemampuan taktikal Djanur? untuk misalnya mencoba memoles ulang Rahmad Hidayat dan M. Taufiq. Ada kutipan dari Jurgen Klopp yang kiranya begitu kontekstual: I cannot believe how obsessed you all are with the transfer window. You dont believe for a second in improvement on training pitch. Statement Klopp dilontarkan pada media pasca kekelahan The Reds dari Burnley. Beberapa match kemudian Millner jadi fullbek kiri. Lini bertahan Liverpool membaik.

~Hary G. Budiman aktif di twitter dengan akun @hgbudiman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: