Menakar Potensi Persib Menerapkan Skema 3 bek ala Conte*

foto-persib-latihan-di-lapangan-karebosi-makassar-jajang-nurjaman_8153

sumber: simamaung.com

Pernyataan Ali Buschen dari stadionsiliwangi.com dalam vlog Simamaung #6 beberapa waktu lalu cukup menggelitik rasa ingin tahu saya. Kalau (Djanur) bisa me-master-kan bagaimana cara main 3-5-2 yang baik, Persib bisa menghajar tim-tim di TSC yang di dominasi skema 4-2-3-1. Menurut Ali, 3-5-2 secara teori menganulir keunggulan 4-2-3-1. Lantas apa yang membuat 3-5-2 menjadi istimewa? kalau kita menengok 1-2 dekade ke belakang, tim-tim di Indonesia pun banyak mengadopsi skema ini.

Lihat juga Vlog Simamaung #6 di:
SIMAMAUNG VLOG #6 SIMAMAUNG x STDSILIWANGI Part 1
SIMAMAUNG VLOG #6 SIMAMAUNG x STDSILIWANGI Part 2

Belakangan rasa ingin tahu saya ini menemu jawab. Formasi 3-5-2 ala Conte beserta turunannya 3-4-3 dan 3-4-2-1 bisa menjadi solusi menghadapi kejamnya liga Inggris (4 kemenangan beruntun, 4 clean sheet, 11 gol dalam 4 match). The Telegraph bahkan melansir bahwa skema 3-4-3 Conte mulai fashionable digunakan pelatih top di Eropa. Sebut saja Martinez di Belgia, belakangan dipakai Slaven Bilic untuk menambal keroposnya lini bertahan West Ham. Guardiola dan Enrique pun fasih dengan skema ini. Di Itali, seperti kita tahu, Conte sukses bersama Juve dan lumayan menginspirasi bersama Timnas.

Skema 3-5-2 ala Conte tentu berbeda dengan 3-5-2 ala Suimin Diharja dan Arcan Iurie di era Ligina, di mana 3 bek cenderung pasif dalam serangan. Prinsip 3-5-2 ala Conte sebetulnya tidak bisa juga disebut sederhana. Untuk mengetahui kerumitan taktiknya, bisa ditelusuri di http://outsideoftheboot.com dengan judul artikel Antonio Conte: Exploring Italys tactics at Euro 2016. Namun demikian, dalam kacamata saya sebagai awam, prinsip dasar skema ini dapat dirangkum dalam beberapa poin. Pertama, keunggulan ketika bertahan, yaitu dua orang wing back akan menjaga 2 winger lawan. Sementara 2 wing forward (dalam skema 3-4-3) atau 2 gelandang (dalam skema 3-5-2) dalam tim akan turun untuk menjaga 2 full back lawan yang naik. Dengan cara ini, skema 4-2-3-1 yang mengandalkan inverted winger untuk merangsek ke kotak penalti bisa diredam. Keuntungan lainnya, striker lawan yang biasanya tunggal akan terisolasi di antara 3 bek dan gelandang.

Kedua, kerapatan ketika bertahan, yaitu lapangan tengah dipenuhi gelandang dan penyerang. Kondisi ini bisa menjadi jebakan bagi lawan, sebagaimana diperagakan Itali di Euro 2016. Cara bertahan Itali dimulai dengan 2 orang forward (Pele dan Eder) berdiri membentuk garis horizontal di daerah lawan untuk mencegah lawan membangun serangan dari tengah. Sementara gelandang membentuk blok rapat di tengah. Deep playmaker lawan akan kesulitan membangun serangan lewat tengah dan secara otomatis lebih banyak mengalirkan bola lewat sayap yang kosong. Pada saat kondisi demikian, ketika lawan memasuki area half space, Wing back telah turun di area sayap bersama 3 bek sehingga membentuk skema 5-4-1 atau 5-3-2. Full back dan winger lawan akan kebingungan karena di sayap kondisinya sudah padat. Opsi lawan adalah mengembalikan bola ke belakang dan melakukan umpan panjang yang tentu saja potensial direbut.

Ketiga, 3 bek memiliki peran penting dalam build up play. Ketiga bek harus memiliki kemampuan mengumpan yang baik (contoh Bonucci di Juve, Luiz dan Azpi di Chelsea), berani pegang bola, dan tentu saja punya pembacaan yang baik terhadap serangan lawan. Bek bukan hanya dituntut mampu mematahkan serangan tapi harus mampu menyambung serangan ke tengah dan depan, termasuk bisa long pass akurat ketika jalur umpan menemui kebuntuan. Hal ini menjadi teramat penting karena terkait dengan prinsip penyerangan.

Keempat, skema 3-5-2 dan 3-4-3 ala Conte memprioritaskan penguasaan bola dengan tujuan mengambil keuntungan ketika posisi lawan tidak terorganisir dengan baik. Dengan banyaknya pemain di tengah, terbuka kemungkinan pemain tak terkawal melalui positional play yang jitu. Walaupun misalnya tim lawan melakukan pressing tinggi, skema ini tetap memprioritaskan penguasaan bola. Tiga bek dituntut bisa melakukan bulid up untuk menghasilkan bangun serangan yang baik dan menggunakan umpan panjang sebagai opsi terakhir.

Dengan skema 3-5-2 atau 3-4-3/3-4-2-1 yang rapat, tim dapat dengan mudah melakukan akses serangan di half space atau membangun serangan dari sayap. Filosofinya, penguasaan bola di manapun tetap mengutamakan serangan yang langsung vertikal ke arah pertahanan lawan. Artinya, tim harus mampu melakukan kombinasi cepat untuk bisa menghasilkan umpan akhir di daerah kotak penalti lawan atau mengambil alternatif lewat wingback. Wingback kemudian melakukan cross atau cutback ke arah kotak penalti yang telah overload oleh gelandang tengah dan striker, maka potensi gol pun menjadi lebih besar.

Dengan menganalisis 3-4-3/3-4-2-1 Conte di Chelsea dapat diketahui bahwa melalui skema ini, organisasi pertahanan dapat dibangun dengan rapi dan lebih padat. Dengan skema ini, ruang pertahanan dapat dikuasai karena keunggulan jumlah pemain untuk turun bertahan. Secara otomatis skema ini menuntut pemain untuk menjaga kerapatan jarak antar lini. Cara ini mempunyai konsekuensi logis, wing back dan wing forward harus punya energi lebih untuk mau turun membantu pertahanan. Di sisi lain, dengan memakai dua wing forward dalam skema 3-4-2-1, akan membuat full back lawan ragu untuk menyerang.

Menakar Potensi Persib
Lalu, apa signifikansinya skema 3-4-2-1 dengan skema Persib? Seperti di bahas di awal, skema ini bisa menjadi pembeda di tengah banyaknya tim di Indonesia menerapkan 4-2-3-1. Ini juga bisa menjadi solusi dan proses jangka panjang ketika Djanur mulai menyusun kerangka untuk liga sesungguhnya di tahun depan. Djanur dapat meniru Conte dalam menyiasati kekurangan dan kelebihan timnya. Misalnya Conte mampu mengoptimalkan dua winger cepat dan kreatif macam Hazard dan Pedro (musim lalu mengalami masa-masa buruk), mengoptimalkan kekuatan gelandang bertahan dalam sosok Kante dan Matic yang bahkan diberi keleluasaan dalam menyerang, memaksimalkan kekuatan fisik Moses di wing kanan, dan mampu menyiasati kekurangan stok bek tengah.

Menurut hemat saya, dengan melihat skuad Persib saat ini, pendekatan serupa bisa dilakukan Djanur. Saya kira, hal ini masuk akal apalagi melihat dua pertandingan terakhir, lini serang mulai cair dalam melakukan serangan sayap. Jika 3-4-2-1 diterapkan Djanur, ia bisa tetap memegang filosofi umpan pendek yang sudah menjadi ciri Persib sejak era Abah Thohir, sambil membenahi lini bertahan dengan menumpuk lebih banyak pemain. Di sisi lain, winger-winger lincah macam Bow, Zulham, atau mungkin Syamsul bisa benar-benar dioptimalkan. Dalam laga lawan PSM, Bow dan Syamsul bukan sekadar bertugas mengirimkan umpan crossing tetapi melakukan gerakan memotong ke dalam untuk memecah posisi bertahan PSM. Cara ini mirip diperagakan Pedro dan Hazard di Chelsea, bedanya mereka memperoleh support yang signifikan dari wing back; Marcos Alonso dan Victor Moses.

Peran Wing back ini bisa Djanur peroleh dengen beberapa opsi, di antaranya menempatkan Diogo ke posisi naturalnya di Wing back kanan atau men-upgrade Jajang Sukmara supaya lebih sip bertahan dan menyerang. Untuk wing back kiri, saya pribadi melihat opsi menarik seandainya Djanur bisa merevolusi Tantan menjadi wing back. Dengan atribut fisikal dan attacking yang baik, saya kira Tantan bisa menjalankan peran ini. Bukankah selama ini Tantan selalu unggul ketika berduel dengan full bek lawan. Tantan juga punya kesardaran untuk track back yang baik ketika tim di serang. Masih ingat kan gaya Dirk Kuyt dan Millner atau Victor Moses? Tantan punya potensi besar untuk berkontribusi ke dalam tim utama.

Masalah utama Persib dalam ketiadaan sosok kreatif macam Konate dan Firman seharusnya bisa ditambal seandainya 3-4-2-1 diterapkan, mengingat skema ini agaknya lebih menekankan pada kolektifitas dalam bertahan dan kekuatan fisik mumpuni di tengah. Tentu skema ini berbeda dengan era Lorenzo Cabanas yang lebih berdiri di belakang 2 striker. Menurut penelusuran awal saya, agaknya skema ini membagi peran menyerang dan bertahan secara kolektif pada 4 gelandang dan 2 wing forward. Sekali lagi Chelsea jadi contoh ideal, di mana gelandang kreatif macam Fabregas justru dicandangkan karena atribut bertahannya yang tidak terlalu baik. Conte lebih mengoptimalkan Matic dan Kante yang justru kuat dalam bertahan. Sebagai catatan, Kante sukses membuat satu assist dan satu gol, Matic sukses membuat dua assist. Peran serupa bisa diemban Hariono.

Jika Flores dan Ino tak kunjung mampu memainkan peran bertahan, maka memainkan Kim dalam skema 4 gelandang adalah pilihan paling logis dengan mengharapkan keterlibatan 2 wing forward macam Zulham dan Bow untuk bertarung dari tengah. Tentu dengan support dari 2 wing back. Saya kira, kita pun masih ingat bagaimana cara kolektif macam ini diperagakan Itali di euro 2016. Dengan jarak pemain yang rapat dalam bertahan dan kompak dalam menyerang, pemain-pemain medioker macam Ghiacherini, Parolo, Candreva, Darmia bisa bikin merana Spanyol dan buat Jerman ketar-ketir. Untuk ukuran liga Indonesia, saya kira nama-nama seperti Hariono, Kim/Taufik, Tantan, Diogo, ditopag wing forward macam Zulham/Bow dan Syamsul bisa menjadi kerangka paling masuk akal sambil menunggu suntikan gelandang bertenaga di transfer tahun depan. Syukur-syukur Dado dan Konate bisa kembali, kalaupun tidak, ada baiknya Djanur mulai melirik potensi lokal macam Zola, Abdul Aziz, atau Rasyid Bakri yang enerjik itu. Atau mempertimbangkan Wawan Febrianto untuk menambah daya ledak lini serang.

Untuk lini bertahan, agaknya kehadiran Basna dan Vlado bisa memberi rasa aman. Dengan skuad saat ini, seandainya 3 bek dipakai, maka opsi logis memundurkan Toncip yang lebih komplit atribut bertahannya; intersepsi bagus, sulit dilewati, dan punya passing yang bagus. Skema 3 bek dapat berjalan dengan apik karena ketiganya punya kemampuan passing yang baik, plus Vlado yang punya long pass lumayan akurat. Manakala Purwaka sembuh, ia bisa ambil tempat dalam skema 3 bek.

Uraian ini tentu saja hanya serupa mengintip kemungkinan dan otak atik potensi yang tentu saja lebih terasa masuk akal dalam konsep, tetapi belum tentu dalam praktek. Hampir pasti skema ini memiliki kerumitan teknis tersendiri, di mana pelatih yang lebih kompeten merancang dan menafsirkan kemungkinannya. Menerapkannya pun tentu dengan segala kemungkinan; beberapa kali gagal dan beberapa kali coba-coba sebagaimana Djanur dulu mematenkan 4-2-3-1 favoritnya. Dengan kemungkinan juara yang kian sirna, tidak ada salahnya mencoba skema baru. Pertimbangannya sederhana; untuk mengantisipasi pembacaan lawan terhadap gaya lama Persib dan mencari senjata baru untuk mengarungi liga sesunguhnya di musim depan.

Ditulis oleh Hary G. Budiman, aktif di akun twitter dengan nama @hgbudiman

*Dimuat di Arena Bobotoh Simamaung , 3 November 2016.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: