Category Archives: Politik

Pasang Surut Hubungan Sipil Militer*

*Tulisan tahun 2009.

Apakah kunci dari penggulingan kekuasaan selalu berada pada pihak yang bersenjata? Menjadi wajar dan lumrah ketika momentum itu –penggulingan kekuasaan– datang, militer ada di garda terdepan. Adakah ini pula selalu terjadi dalam ketidakstabilan politik setiap negara? Belum kering dalam kepala, bagaimana pemerintahan di Madagaskar digulingkan militer tiga minggu silam (17 Maret 2009). Istana negara dikepung tentara bersenjata serta moncong-moncong tank mengarah tanda siaga. Presiden Madgaskar, Marc Ravalomanana dengan terpaksa menyerah pada Andre Andriariajoana sang Kepala Staf Angkatan Darat. Adapun demikian, penggulingan ini tidak lepas dari tindak tanduk sang Presiden yang dinilai diktator hingga menewaskan 28 orang serta perintah represif pada oposisi. Tak mau disetir, tentara berontak dan berpihak pada oposisi. Peristiwa ini sungguh merupakan kasus yang banyak ditemui di berbagai belahan bumi ini. Thailand, Ghana, Mesir, adalah beberapa yang telah mencicipi hal yang serupa. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Memang tak perlu ditanyakan lagi, Indonesia telah lebih dari cukup merasakan asam garamnya kudeta. Bukankah hampir dalam setiap pergantian kekuasaan yang disertai instabilitas politik selalu dibarengi dengan andil militer? sebutlah dari sejak perang kemerdekaan, tahun-tahun awal kemerdekaan seperti tahun 1952, tahun 1965 setelah G30S, dan tentu pada peristiwa 1998. Tapi di sini kita bukan membicarakan sederet ‘kudeta’ tersebut, melainkan ketegangan yang sempat terjadi antara sipil dengan militer dalam sejarah Indonesia.

sudirman_resting_with_guerillas_kota_jogjakarta_200_tahun_plate_before_page_65

Baca lebih lanjut

Iklan

Catatan Kecil Tentang Pergerakan di Bandung; Sarekat Islam & Perjuangan Pers

Pada 1 Mei 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran. Massa sebanyak itu menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Selang tiga tahun setelah peristiwa tersebut, tepatnya pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di Amerika Serikat sebagai Hari Buruh Sedunia. Maka, kita hari ini pun mengenal istilah May Day; yakni hari ketika buruh sedunia turun ke jalan dan menuntut pengurangan jam kerja, atau apapun yang terkait dengan kesejahteraan buruh.
Lantas, apa yang bisa kita petik dari kejadian macam demikian? Adakah kita harus ikut turun ke jalan lalu berteriak-teriak hingga urat leher nyaris putus? Atau sekedar ikut bersimpati atas gerakan buruh? Jelas, masing-masing dari kita punya perspektif yang beragam dalam hal macam demikian. Namun, tanpa bermaksud menggiring pada wacana pergerakan yang terlampau berbobot, agaknya gerakan buruh sedunia bisa memberi kita permenungan; bahwa manusia selalu punya usaha untuk bertahan dan memperjuangkan hak-haknya. Nilai-nilai ini bukan hanya bisa kita dapat dari pergerakan buruh, namun kita bisa berkaca pada sejarah bangsa sendiri, dari pergerakan nasional, atau dari sepak terjang para Founding Father.
Menilik dari sejarah bangsa, agaknya rancu jika menyamakan pergerakan buruh dengan pergerakan nasional, toh pergerakan nasional kita tak didomimasi oleh buruh semata, namun pergerakan kita dibangun oleh golongan menengah, pedagang, petani, dan rakyat kebanyakan. Kalaupun ada gerakan yang cukup mirip dengan gerakan buruh di Eropa dan Amerika, maka nama Sarekat Islam (SI) adalah nama yang cukup pantas dikedepankan sebagai gerakan kolektif-terorganisir dan terbesar sekaligus salah satu yang paling awal muncul di negeri ini.
Embrio SI muncul dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang lebih dulu berdiri pada 1909 atas andil Tirto Adhi Soerjo. Barulah pada 1912, SI terbentuk sebagai organisasi yang terbuka untuk masyarakat di luar Jawa dan Madura. Tujuan utama SI adalah membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong di antara muslim serta mengembangkan perekonomian rakyat. Atas prakarsa Tjokroaminoto, SI terus mengembangkan sayapnya ke seluruh Hindia-Belanda (Indonesia). Pada awal berdirinya SI sudah memiliki anggota sejumlah 4500 orang, empat tahun setelah berdirinya atau pada 1916, jumlah anggota SI sudah mencapai 800.000 orang. SI menjadi organisasi yang sangat fenomenal kala itu.
SI pun terus berkembang, mengalami dinamisasi, bahkan radikalisasi dalam proses perkembangannya. SI pun memiliki berbagai cabang di kota-kota besar. Pada 1913 SI di Jawa dibagi menjadi tiga departemen; Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. SI Jawa Barat dipimpin oleh dua orang pimpinan: Raden Goenawan dan Abdoel Muis. Mereka berdua kemudian membuka dan mendirikan SI cabang Bandung. Dari titik inilah SI cabang Bandung punya kisah dan cara tersendiri dalam melawan kolonialisme.

Sarekat Islam di Bandung
Barangkali kota Bandung sudah tak asing dengan dunia pergerakan. Ada Soekarno dengan PNI-nya, ada pula Indische Partij yang didirikan di Bandung pada 25 Desember 1912 oleh Dr. Douwes Dekker. Walau demikian, nampaknya Sarekat Islam (SI) di Bandung belum terekspose secara luas, padahal SI di Bandung punya perlawanan yang gigih terhadap Pemerintah Kolonial melalui koran yang diterbitkannya; sebuah perjuangan melalui pena.

Pada masa awal pergerakan, khususnya sekitar periode 1900-an sampai 1940-an, pers sangat memiliki peran penting. Ide-ide tentang nasionalisme, kebebasan suatu bangsa, hingga paham sosialis dan komunis disebarkan melalui tulisan atau Koran. Perjuangan lewat pers mungkin tak berpengaruh secara serta merta, namun cukup efektif dalam menyampaikan gagasan secara massive. Melalui pers publik pun mampu tercerahkan. Sejak awal berdirinya, SI Bandung dapat ditelusuri dari perjuangannya melalui pers, dan kritikan-kritikan yang dilontarkan pada Pemerintah Belanda.

Perjuangan SI Bandung lewat pers, setidaknya dimulai sejak 6 Januari 1913 ditandai dengan diterbitkannya Koran mingguan Hindia Serikat yang dicetak oleh Voorkink v/h G. Kolff & Co. Koran ini dikelola oleh tiga orang pentolan SI Bandung, mereka adalah Abdoel Moeis, Soewardi Soerjaningrat, dan Wignjadisastra. Adapun 50% penghasilan dari Koran tersebut disalurkan untuk kas Sarekat Islam. Selain Koran Hindia Serikat, di Bandung pun terdapat Koran Kaoem Moeda yang dikelola oleh Abdoel Moeis. Koran ini menjadi corong perjuangan SI di Bandung dan menjadi salah satu Koran pertama yang mengenalkan rubrik “pojok” sejak tahun 1913-an.
Pada pertengahan 1918, penyampaian ide, kritik, dan perekrutan anggota mulai dilakukan melalui media Koran. Pada tahun tersebut terbitlah Koran dengan nama Padjadjaran. Koran ini menggunakan bahasa Sunda dalam penyampaiannya. Koran ini lebih memfokuskan pada berita internal partai, semisal laporan hasil rapat umum, namun tak jarang memuat pula beberapa kritikan terhadap pemerintah Belanda maupun pemerintah lokal pribumi.

Ketika radikalisasi pergerakan semakin meningkat, SI Bandung pun turut ambil bagian dan mulai terpengaruh unsur-unsur kiri. Walau demikian, SI Bandung tetap konsisten mengkritik pemerintah Belanda. Salah satu media yang paling tajam yang dimiliki SI Bandung adalah Koran yang bernama Matahari. Koran tersebut pertama kali terbit pada 3 Agustus 1922, sekaligus menjadi simbol perlawanan radikal SI Bandung terhadap pemerintah Belanda. Pada halaman depan, di bawah judul besar Koran Matahari, tertulis: “Soerat Kabar minggoean jang roear biasa terbit di Bandoeng”. Kalimat tersebut agaknya tepat untuk menggambarkan SI Bandung dan perlawanannya melalui Koran Matahari, karena tulisan-tulisan di dalamnya begitu tajam dan mengundang reaksi keras dari Pemerintah Belanda.

Koran Matahari dikelola oleh tiga orang penting di SI, ia adalah Raden Goenawan, Mochamad Sanoesi, dan A. Winata. Oleh tiga orang ini Koran Matahari di Bandung terus dikemas dan arahakan untuk berkonfrontasi dengan pemerintah (dulu disebut Gemeente). Berikut salah satu kutipan dari Koran Matahari: “Gemeente dapat banjak wang dari padjeg pasar, Siapa jang terbesar dagang dalam pasar? Kita orang Boemi Poetra! Gemeente dapat wang dari kendaraan sado, siapa jang terbesar mempoenjai sado itoe? Kita Oerang Boemi Poetra! Demikian sedikit gambaran tentang tajamnya perlawanan SI Bandung melalui pers. Riwayat perlawanan Koran Matahari tidak bertahan lama karena isinya yang selalu provokatif dan mengundang tindakan keras pemerintah. Pada Mei 1924 Koran Matahari resmi ditutup, seiring dengan ditangkapnya sang redaktur, yaitu A.Winata karena dituduh melakukan tindakan agitatif melalui Koran Matahari.
Koran-koran yang diterbitkan oleh SI Bandung merupakan representasi dari sebuah perlawanan dan pergerakan untuk mendapatkan hak yang selayaknya. Kita pun semakin tahu, bahwa Bandung selalu dipenuhi dengan riak-riak pergerakan; entah itu berbau nasionalis, Islami, atau bahkan sosialis sekalipun.

Dalam memperingati hari buruh sedunia, ada sedikit kutipan provokatif dari Koran Matahari yang terbit pada Agustus 1923: “Siapa jang menghisap kita? ; Hai Kaoem buruh di seloeroeh doenia, koempoellah menjadi satoe!”

***
H.G. Budiman
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Buruh
http://id.wikipedia.org/wiki/Sarekat_Islam
http://id.wikipedia.org/wiki/National_Indische_Partij
• Haq, Muhamad Nurul. 2011.
Koran Matahari di Bandung (1918-1924). Skripsi. Jatinangor: Unpad Fakultas Sastra

Corat-coret Tentang Kebangsaan*

Belakangan saya baru tahu, bahwa kata “suku bangsa” yang kita akrabi hari ini, ternyata punya pandangan tersendiri di mata Bung Karno.  Ia mengungkapkan : “ Suku itu dalam bahasa Jawa artinya sikil, kaki. Jadi bangsa Indonesia banyak kakinya… ada kaki Jawa, kaki Sunda, kaki Sumetera, kaki Irian, kaki Dayak, kaki Bali, kaki Sumba, kaki Peranakan Tionghoa… kaki daripada satu tubuh, tubuh bangsa Indonesia!”. Melalui pemahaman Bung Karno kita dapat menyimpulkan bahwa bangsa kita, bangsa Indonesia merupakan satu kesatuan  utuh  yang ditopang oleh banyak kaki (Latif, 2011: 369). Baca lebih lanjut

Aksi Massa

17 Januari 1974, Jakarta adalah langit pekat abu-abu. Asap dan percik api belingsatan dari kendaraan-kendaraan yang menghangus. Baunya amuk, karena percikan api yang muncul sejatinya luapan keberingasan. Beringas, defensif, pada modal asing yang mulai mengintip. Tanpa menampik bahwa ada intrik-intrik politik yang mengekor atas aksi mahasiswa, kini kita tahu bahwa aksi massa sering kali menghasilkan si antagonis dan protagonis. Maka, kenal lah kita pada seorang Hariman Siregar. Kala itu sebuah nama mencuat sekaligus menutup kemungkinan-kemungkinan munculnya sosok katalis lain, toh selang 4 tahun setelah Peristiwa Malari, Konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) ditegakkan di bawah tiang sebuah rezim. Aturan yang menghinakan itu pun menandai senja demokrasi menuju gelap.

Seperti kata Hegel, begitulah bandul kehidupan, setiap zaman ke zaman berdialektika. Hingga kini kita tidak lupa bahwa aksi massa yang berbeda di tahun 1966 menandai suatu zaman baru, sebuah pergeseran sejarah. Secara simplistik tentunya kita bisa melihat, kadang sebuah perubahan dimulai dari keriuhan massa. Ada ide, ada semangat, massa, dan orang-orang penggerak, maka genaplah sebuah modal yang pada titik ekstrem tertentu disebut revolusi.

Pada 14 Juli 1789, di Prancis, sebuah keriuhan massa yang beringas menandai sebuah perubahan zaman. Aksi massa merangsek ke penjara Bastille. Massa penuh amuk meruntuhkan tembok kokohnya penjara tersebut. Akhir sebuah kekuasaan lalim pun ditandai dengan terpenggalnya Louis XVI. Sekali lagi perubahan itu dimulai dari massa. Tapi apalah artinya massa jika tanpa ide, maka dalam buku-buku sejarah SMA kita mengenal si protagonis Revolusi Prancis: Lafayette, Mirabeau, Sieyes, dan kawan-kawannya di Constituante. Dari sebuah keriuhan massa, sidang jalanan, dan dari sebuah negeri yang nyaris mati tercekik hutang, nampaklah sebuah rahim demokrasi; Pernyataan Hak-hak Manusia dan Warga Negara atau dalam lidah Prancis disebut Declaration des droits de I’homme et du Citoyen.

Dari poin ini kita pun tahu bahwa aksi massa juga terjadi di berbagai negeri. Ada Revolusi Bolshevik di Rusia, Revolusi Kebudayaan di Cina, dan Ahimsa-nya Gandhi di India. Keriuhan massa bisa membawa perubahan, tapi perubahan itu tak selalu berakhir pada apa yang dicita-citakan. Massa di satu sisi mungkin sebatas alat untuk berbuat kericuhan dan kehebohan.

Dalam catatan hariannya Soe Hok Gie pernah menulis tentang Long Macrh 1966: ”…. dalam saat-saat yang kritis ini mahasiswa bergerak. Mungkin mereka tidak sadar, tetapi dengan tindakan ini mereka mendahului ”mengambil alih” pimpinan perjuangan. Jika bukan mahasiswa, pemuda misalnya, aku tak dapat membayangkan keadaannya”. Gie memberi perspektif; boleh jadi aksi massa harus ditopang oleh kesadaran akan sebuah ide dan dipangku di atas beton intelektual agar massa tidak menjelma menjadi ecstacy anarkisme. Dalam sudut pandang seorang Marxis seperti Gramsci, aksi massa, atau sebutlah gerakan sosial, bisa lebih bermakna ketika kesadaran massa telah diinisiasi oleh para ”pengawal kebenaran” (intelektual Marxis dengan pengetahuan mereka tentang kebenaran kapitalisme) sepert halnya para pembujuk, pendeta, atau guru.

Lalu, kini ketika apa yang namanya reformasi telah bergulir sekian tahun, agaknya aksi massa—baik itu dilakukan mahasiswa atau organisasi kemasyarakatan—seperi barang jualan di pasar. Keriuhan massa dengn aneka problematika dan tuntutan pun telah menjadi keseharian, dan sayangnya lebih banyak yang berakhir rusuh. Jika begini adanya, aksi massa di zaman yang senewen ini, barangkali hanya menghasilkan para antagonis; antagonis yang menghendaki anarkhia, atau keadaan tanpa kekuasaan pemaksa seperti yang dikemukakan Mikhail Bakunin. Mudah-mudahan argumen saya ini keliru.

 

***

 

H.G. Budiman

Siapa Pahlawan Menurut-mu?

Sungguh ini bukan pertannyaan mudah, apalagi bila dikaitkan dengan pilihan hati. Saya justru terjebak antara idola atau pahlawan yang “benar-benar” pahlawan. Tentu jika itu pahlawan, dengan asumsi memiliki jasa besar bagi negara, saya tak akan ragu menyebutkan Sjahrir, Tan Malaka, Hatta, dan Soekarno, tapi tak sampai hati saya untuk mengarahkan pada founding fathers itu. Lalu, manakala pilihan itu adalah idola, maka saya akan lebih senang menyebutkan John Lennon atau mungkin Dylan, atau mungkin Chairil.

Jika lah demikian adanya, maka saya akan menjatuhkan pilihan saya pada Soe Hok Gie. Dia mampu mengakomodasi keinginan saya akan sosok pahlawan dan idola. Entahlah apakah sosok ini saya pilih karena mitologisasinya, romantisme angkatan ’66, atau mungkin karena memesonanya Nickholas Saputra memerankan Soe Hok Gie dalam film. Tapi satu hal yang pasti,  ia adalah pahlawan kaum muda, karena ia muda abadi dengan segala idealismenya yang abadi pula. Tak sampai usia 27 tahun,  kejamnya Semeru mencabut nyawanya.

Mungkin tidaklah seberapa jasa Gie terhadap negara ini, bumi dan langit jika dengan Sjahrir, Hatta, atau Soekarno. Namun ia adalah ”Manusia Baru” yang dilahirkan setelah kemerdekaan 1945, ia memiliki arah perjuangan yang berbeda pula dengan generasi sebelumnya. Manusia-manusia baru ini, dilahirkan dalam suasana yang penuh optimisme, penuh keterbukaan pada dunia Barat, mewarisi semangat progresif-revolusionernya Soekarno, namun sayang mereka besar dalam demoralisasi di segala bidang dan kehilangan kepercayaan terhadap generasi-generasi terdahulu. Sungguh serba paradoksal.

Lalu kenapa pula ia layak disebut pahlawan? Menurut saya, dalam kondisi yang paradoksal tadi, ia selalu mencari kemungkinan dari ruang-ruang ketidakmungkinan agar kemungkinan untuk perubahan itu dapat terbuka. Gie bukan aktivis musiman, bukan intelektual bermental teknokrat yang selalu mencari solusi atas masalah politik-ekonomi lalu berdamai dengan pengusa, bukan pula sok mewakili rakyat tapi rebat-rebut kuasa. Ia adalah cendikiawan. mengutip perkataan Daniel Dhakidae, Gie merupakan profesional rebel dan enternal oppositionist. Ia menempatkan diri diseberang penguasa, maka tak ragu menelanjangi penguasa atas kesalahan-kesalahannya, membongkar masalah-masalah sosial, politik, dan ekonomi. Hal ini menjadi luar biasa, karena ia hidup dalam zaman yang penuh tirani, banyak bicara mungkin tembak mati.

Lalu hal macam apa yang ia buat? Gie bergerak di bawah tanah, sempat ia tergabung dalam Gerakan Pembaharuan Indonesia di bawah pimpinan Sumitro. Gerakan ini bertujuan menggantikan pemerintahan Soekarno secara radikal. Maka gerakannya fokus pada infiltrasi dan penetrasi ke dalam kaum cendikiawan, juga penyebaran pamfelt-pamflet gelap yang provokatif.

Soe Hok Gie adalah salah satu dari mereka yang menjadi arsitek gerakan-gerakan mahasiswa pada awal tahun 1966. Dia yang mengotaki semacam long march untuk gerak jalan yang menuntut penurunan harga bensin, penurunan harga karcis bis kota. Dia juga, ketika berhadapan dengan tentara yang masih membela Soekarno dengan panser-panser, yang mengambil tindakan nekad merebahkan diri di depan panser, sehingga panser-panser dipaksa menghentikan gerakannya. Soe Hok Gie sendiri bukan ahli memimpin gerakan lapangan, tetapi dia sering menjadi auctor intellectualis di baliknya. Maka semua gerakan itu ber “crescendo” dan mencapai puncak ketika runtuh seluruh rezim Soekarno de facto pada tanggal 11 Maret 1966 (Dhakidae, 2005:12). Setelah Soekarno runtuh, perjuangan tampaknya belum berakhir bagi Gie, ia bagaimanapun adanya, telah mencium benih-benih kebatilan baru diantara renyahnya masa pembangunan. Dan tulisan selalu menjadi senjata bagi Gie. Maka tepatlah pula perkataan Bung Hatta dalam Daulat Ra’jat 10 Desember 1933: “Janganlah mencita-cita adanya pemimpin-pahlawan bagi Indonesia, melainkan kehendakilah adanya pahlawan-pahlawan yang tak punya nama.’’ (Mohamad, 1997: 58)

Seperti Robert Wolter Monginsidi, Soe Hok Gie muda abadi, idealisme ia bawa sampai mati. Mungkin beruntung pula ia mati muda, Gie tak sempat berbuat kebodohan macam pendahulu-pendahulunya: Tan Malaka mati karena dituduh memberontak, Soekarno runtuh karena diktator, Hatta lebih banyak diam di akhir-akhir, dan nuansa korupsi di era Soeharto tentu tidak ia cicipi, sebagaimana teman-temannya rasakan. Soe Hok Gie tentulah manusia biasa, sisi manusiawinya dekat dengan keseharian kita. Kegemaran Gie pada film, lagu-lagu Joan Baez, dan mendaki gunung (penuh romantisme masa mahasiswa), mungkin hal ini bisa sedikit menyetir kita untuk bersimpati padanya. Ah..adakah saya terjebak dengan image Gie dari filmnya Riri Riza? Entahlah. Tapi, saya kira catatan hariannya memberikan gambaran akan sosoknya. Dan menginspirasi tentunya.

***

H.G. Budiman