Category Archives: Puisi

Pada Batas

Antara tanah dan udara

pada nafas yang tersendat, tersangkut pada

bau bangkai dan tanah merah kering berterbangan

masukan aku ke dalam lubang

kuburkan di bumi; di tahan laknat ini

tak usah payung, tak perlu pelayat

kuburkan aku

tak penting mulut-mulut menyiram doa segar

tak usah kembang-kembang mekar

kuburkan aku

tanpa peti atau kain kafan

kuburkan aku

 

25 Juli, 2012.

Pada Sebuah Perhentian

Tuhan, ijinkan aku menarik nafas sejenak

istirahat, atau minum air sungai barang sebentar

ah… apakah aku keliru membaca peta-Mu;

pura-pura melewatkan satu tikungan Baca lebih lanjut

Tahrir

Saudaraku,
Kita tak rela rahim peradaban jadi puing kecongkakan
Kita tak rela sungai penghidupan berderai-derai ratapan
Kamu, kita semua menistai pembudakkan kuasa bersekutu setan

Biarlah sungai itu,
sungai dimana makhluk mentafakuri Yang Maha
biarlah sungai itu
menelan yang lupa,
menyurutkan tamak yang banjir,
menyapu sepatu besi yang keropos

Saudaraku,
Kami tahu Tahrir mendidih
Itu tombak sudah meruncing memanas
ayunkan pada lalim berkarat

di sana kalian memulai, kami segera…

 

H.G. Budiman, 4 Februari 2011

Menyentuh Waktu

Rerumputan hangat,

kokoh pohon beringin,

burung gereja mencari hinggap,

dan embun

merelakan diri pada mentari

 

di bawah bayang rindang

biar ku mengelus angin

lembut perlahan

“Wahai yang telah lalu… kau lenyap menjadi keteduhan semu”

 

Hanya batang pohon menopang pasrah

“Tuhan, ijinkan ku kembali bersandar dalam tenang”

 

H.G. Budiman, 28 Januari 2011

Sensasi (Kumpulan Puisi IV)

“gugup”

sekedip beribu kata ku merasa
tak tegur tak bicara
bahasa bukan ruang bagi kita
bahkan kulitmu tak kuasa kujamah
dimakan nafsu ku menunggu
tapi meluluh oleh polosmu
pegal terjepit angan sendiri

tak bisakah kau yang mulai?
kau mulai…
pergi ku menjauh
tak tau satu dan lain maksud
kembali mata kita yang bertukar sapa

H.G Corleone, 22 Desember

***

“Redup”

inikah ektase kesakitan ?
kenang selalu ingin bersua bersama perih
kesemutan badanku mungkin sakit
tampak sejoli berpaut beriring
sayang
tentu itu kau
sayang
kau pegang bukan tanganku
sayang
tersenyum kau begitu bahagia
pahit buahnya untukku

tak ada mata kita bicara kembali
kau jauh sesak dekatku
ambruk, amuk
tak daya tak upaya

H.G Corleone, 22 Desember ’08

***

“Aku Ingin”

Aku ingin secermat Herodotus
Aku ingin secerdas Odysseus
Aku ingin semenawan Paris
Aku ingin setangguh Achilles
Aku ingin setegar Hector
Aku ingin seangkuh Alexander

Aku ingin dunia takluk
Aku ingin …
Aku ingin …
Aku ingin …

Aku ingin segala
Sebelum Homerus membimbingku menerjunkan titik

PS: ditulis ketika lelah mata, raga, dan pikiran sulit menyatu

H.G. Budiman. 8 november ’09