Category Archives: Resensi

Salju Kilimanjaro*

kumpulan cerpen ernest hemingway

Gertrude Stein, seorang modernis terkemuka asal Amerika, memperkenalkan istilah The Lost Generation. Istilah ini mengacu pada para pengarang muda Amerika yang hijrah ke Prancis sehabis Perang Dunia I, termasuk pada dua pengarang kawakan saat itu: Scott Fitzgerald, pengarang The Great Gatsby dan Ernest Hemingway, pengarang The Old Man and The Sea.

Istilah The Lost Generation ini menggambarkan pahit getirnya para pengarang yang dibesarkan selepas goncangan-goncangan Perang Dunia I. Kenyataan di medan perang yang penuh borok membusuk dan kekonyolan membuka mata para pengarang ini pada hal-hal yang tidak tersentuh oleh konsep-konsep heroik dan romantik seperti patriotisme, kepahlawanan, dan pengorbanan (Budianta, 2008: xxvi). Dan Ernest Hemingway kiranya tahu betul nuansa dan rasa kelamnya perang karena ia mengalami langsung beratnya pertempuran dalam Perang Dunia I.

Baca lebih lanjut

Tinjauan Buku Kekerasan Budaya Pasca 1965*

tinjauan-kekerasan-budaya-pasca-1965_patanjala-vol-6-no-2-juni-2014

Detail Buku: Herlambang, Wijaya. 2013. Kekerasan Budaya Pasca 1965; Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalu Sastra dan Film. Tangerang:  Margin Kiri.

Sejarah adalah milik penguasa. Ungkapan tersebut agaknya lumrah bagi negeri seperti Indonesia; negeri di mana penggulingan kekuasaan, perlombaan pengaruh ideologi, dan revolusi yang penuh darah pernah terjadi. Tentu saja kita paham, bahwa revolusi yang penuh darah itu adalah periode 1965, pasca peristiwa Gerakan 30 Septermber, dan beberapa tahun setelahnya. Pada periode itu terjadi penangkapan dan pembunuhan masal terhadap orang-orang yang dituduh komunis, yang menurut Robert Cribb mencapai 78.000 hingga dua juta orang. PKI pun sirna di negeri ini, kepemimpiman Soekarno berakhir, dan munculah Soeharto sebagai penerus kepemipinan negeri ini. Sejak kepemimpinan mantan Pangkostrad inilah fakta tentang peristiwa Gerakan 30 September seolah olah tunggal; bahwa pembunuhan ketujuh jenderal adalah ulah PKI dalam usaha mereka melakukan coep de etat terhadap pemerintahan yang syah.

Semenjak kepemimpinan Soeharto, dan selama berlangsungnya pengaruh politik-ekonomi Orde Baru, Sejarah Indonesia pun kemudian dicatat dari perspektif sang penguasa. Paham komunis ditetapkan sebagai ideologi yang haram dan terlarang, orang-orang yang dianggap mantan PKI atau simpatisan PKI kehilangang hak hidup yang layak. Kekerasan dan pembunuhan masal pada 1965 dilegitimasi menjadi tindakan wajar dalam usaha mempertahankan kedaulatan NKRI dan Pancasila. Pelegitimasian ini dilakukan lewat beragam cara; lewat jalan politik, ideologi, agama, seni, sastra, dan film. Kekerasan pun pada akhirnya bukan hanya berupa fisik, namun menyentuh sendi-sendi sosial budaya, di mana suatu kebenaran menurut penguasa dipaksakan diterima oleh masyarakat, tanpa kecuali dan tanpa alternatif. Ungkapan Jozef Goebbles, salah satu tukang propaganda Hitler di Perang Dunia II agaknya menjadi sangat tepat dengan kondisi sejarah Indonesia di masa Orde Baru: “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya.”

Tentu saja kepercayaan ini bisa ditumbukah dengan berbagi cara. Kengeriaan, bahkan mungkin kebencian yang muncul terhadap PKI ketika kita menyaksikan film Pengkhianatan G30S/PKI yang selalu diputar setiap tahun, dari 1980-an hingga 1997, boleh jadi salah satu bukti bagaimana praktik kekerasan budaya terjadi. Buku berjudul Kekerasan Budaya Pasca 1965 yang ditulis oleh Wijaya Herlamabang berusaha menggali bentuk-bentuk kekerasan Budaya melalui karya sastra dan film yang muncul manakala pemerintahan otoreterian ala Orde Baru berkuasa selama kurang lebih 32 tahun. Lewat bukunya ini Herlambang berfokus pada kekerasan budaya yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru dan penyebaran produk budaya anti komnunis yang dilakukan oleh golongan liberal—yang oleh sang penulis disebut sebagai pendukung humanisme universal. Kajian yang dilakukan Herlambang mencakup beberapa permasalahan pokok kekerasan budaya yang terjadi setelah 1965, bahkan hingga Indonesia modern saat ini, yaitu 1) bagaimana pendukung anti-komunis dan agen-agen militer memanipulasi produk kebudayaan untuk mengukuhkan semangat anti komunisme; 2) upaya-upaya dari kalangan kebudayaan dalam merekonstruksi ulang atau membongkar tradisi Orde Baru dan pengusung anti-komunisme; dan 3) bagaimana upaya dekonstruksi itu berlangsung.

Baca lebih lanjut

Review Reservoir Dogs (1992)

Reservoir Dogs; dua kata ini jika diterjermakah secara serampangan dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai “Kolam Anjing-anjing”.  Saya tidak paham secara pasti apa yang ada di benak Quentine Tarantino (QT) dengan memberi  judul film perdananya  yang terbit pada 1992 ini dengan nama tersebut. Hanya saja, jika boleh menerka, agaknya QT ingin memberikan konotasi yang tepat pada para begundal dalam film tersebut. Jika kita menyimak film-film garapan QT dewasa ini, sebut saja Kill Bill (vol 1 & 2), Inglourious Basterds, atau Pulp Fiction yang lebih dulu booming pada 1994, akan terlihat jelas bahwa QT konsisten mengangkat tema-tema crime, dan tentu saja dengan para tokoh utama yang bukan hero, jika tidak disebut sebagai penjahat.

Kata “Dogs” dalam Reservoir Dogs, saya kira mengacu pada komplotan penjahat yang memegang peran penting dalam film tersebut, yang konon juga diilhami oleh film bergenre “American Exploitation” di tahun 70-an.  Adapun kata “Reservoir”  memang mengandung banyak tanya di antara para fans QT. Dari pencarian kecil-kecilan, saya menemukan bahwa kata “Reservoir” kemungkinan besar  diambil dari  Film New Wave (?) di Prancis yang berjudul Au revoir les enfants (1987). Alkisah saat QT masih menjadi seorang penjaga toko video, ia menawarkan pelanggannya untuk menyewa film berjudul Au revoir les enfants, lalu si pelanggan dengan spontan menjawab: “I don’t want, no Reservoir Dogs!”. Dari percakapan tersebut, QT agaknya tertarik untuk menamai skenarionya dengan nama Reservoir Dogs. Singkatnya, jika dikaitkan dengan konteks filmnya, saya pribadi mempunyai interpretasi tersendiri pada kata Reservoir. Kata ini saya kira mengacu pada sebuah tempat berkumpulnya para penjahat. Jika kata reservoir dalam kamus Oxford diartikan dengan: a large natural or artificial lake used as a source of water supply,maka saya cenderung mem-pas-kan “Reservoir Dogs” sebagai “Kubangan Anjing-anjing”.

Lantas, dengan membaca tulisan di atas, tentu mengundang pertanyaan; apa menariknya jika para penjahat berkumpul? Dari poin inilah QT selalu menjadi sutradara yang spesial. Selain piawai mengemas dunia kejahatan, QT juga handal memancing rasa keingintahuan dari penonton melalui alur filmnya yang non-linier. Sebetulnya Reservoir Dogs memiliki benang merah yang sederhana; mengisahkan sebuah tim  yang melakukan perampokan pada sebuah toko berlian. Uniknya, tim yang  dibentuk oleh seorang boss mafia bernama Joe Cabot (Lawrence Tierney) dan anaknya; Eddie Cabot (Chris Penn), terdiri dari orang-orang yang tidak saling mengenal satu dengan lainnya. Mereka tidak saling mengetahui latar belakang kawan satu timnya, tempat mereka tinggal, bahkan nama asli kawan satu timnya pun tidak mereka ketahui. Hal tersebut dilakukan agaknya untuk menjaga profesionalisme dan mencegah persekongkolan.  Dalam menjalankan misi tersebut, semua anggota menggunakan nama samaran yang terdiri dari: Mr. White/Larry Dimmick (Harvey Keitel), Mr. Orange/Freddy Newandyke (Tim Roth), Mr.Blonde/Vic Vega (Michael Madsen), Mr. Pink (Steve Buscemi), Mr.Blue (Edward Bunker), dan Mr. Brown (Quentin Tarantino).

Menariknya Reservoir Dogs justru terletak pada poin penting dari perampokkan yang terjadi, dan hebatnya, peristiwa perampokkan tersebut justru tidak digambarkan sama sekali. Penonton dibuat bertanya-tanya, atau mungkin berimaji sendiri. Scene dimulai dari sebuah percakapan santai oleh sekelompok orang berjas dan berdasi hitam di sebuah coffee shop. Sekelompok orang tersebut tidak lain adalah komplotan Joe Cabot yang akan merampok sebuah toko berlian. Mereka berdiskusi dengan lepas tentang lagu “Like a Virgin” milik Madonna. Tak terlihat ketegangan, gugup, atau kekhidmatan tersendiri sebelum mereka merampok. Scene pembuka pun ditutup dengan enam orang pria berjas hitam dan dua orang boss mereka berjalan bersiap menjalankan misi.

Dibuka oleh opening yang santai, sontak penonton dibetot pada scene yang 180 derajat berbeda dengan opening; Mr. Orange dan Mr. White terjebak situasi sulit dalam sebuah mobil. Mr. Orange mengalami pendarahan hebat di sekitar perut, bergelinjangan sambil membacot tak karuan di jok mobil belakang. Sementara Mr. White berusaha meredakan kepanikan. Sampai di situ penonton pasti bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Dari pelbagai scene di menit-menit awal, saya bisa sedikit menyimpulkan bahwa QT salah satu sutradara yang aneh jika tidak disebut esentrik. Alur inti selanjutnya dalam Reservoir Dogs akan berkutat pada konflik dan kecurigaan antara sesama komplotan Joe Cabot.

Lewat setting lokasi sebuah gedung tua sebagai tempat pertemuan mereka di tengah pelarian, QT menyuguhkan perdebatan-perdebatan sengit ditengah situasi yang serba chaos.  Rasa saling curiga antara Mr. Pink dan Mr.White, Mr. Orange yang sekarat, serta Mr.Blonde yang datang tiba-tiba dengan gelagat santai seolah semua berjalan mulus. Pertemuan anggota komplotan ini yang mengundang konflik yang menghangat; seperti kecurigaan Mr. White pada Mr. Blonde, dan hipotesis Mr. Pink yang menyimpulkan telah terjadi pengkhianatan dan penjebakkan.  Pada dasarnya cerita bergelayut antara penyelesaian konflik dan mencari jawaban atas situasi perampokan yang berakhir kacau; apakah terjawab atau hanya menghasilkan kondisi teruk di antara mereka?

Seperti pula pada Pulp Fiction dan  Inglourious Basterds, QT setia membangun dialog yang cermat disertai istilah-istilah kasar khas Amerika. Lewat dialog yang cerdas, agaknya QT suskses menciptakan suasana juga berhasil membangun karakter. Apalagi didukung oleh akting yang prima dari aktor-aktornya, terutama Michael Madsen dan Tim Roth. Saya berani member nilai 8 pada keberhasilan QT dalam menciptakan suasana ke tengah penonton. Selain didukung oleh setting tempat, pengambilan gambar yang sekali-kali bergoyang (baru saya akrabi di Film Bourne dan Black Hawk Down),  terkesan “sembarangan” menyorot badan atau tembok, semakin menguatkan suasana. QT Sukses membuat “realitas” versinya dan menyajikannya pada penonton dengan cukup sempurna.

Kesamaan sekaligus poin plus dari Reservoir Dogs dengan karya QT yang lain adalah unsur ironi yang disuguhkan dengan begitu piawai (selain QT yang turut pula bermain di dalamnya). Unsur ironi dalam film-film garapan QT menjadi ciri khas, bahkan dalam Reservoir Dogs ironi tersebut berhasil dimuntahkan menjadi sebuah tragedy yang menohok penontonnya. Melalui Reservoir Dogs, saya semakin menyadari, selain sutradara hebat, QT juga sutradara yang tanpa malu-malu bahkan cenderung berani mengadopsi unsur-unsur asia yang penuh kekerasan dan berdarah-darah, seperti yang banyak kita temui pada film-film mafia Hongkong. Akhir paragraph ini saya hanya berpendapat, bahwa meski tidak sehebat Pulp Fiction, Reservoir Dogs sebagai sebuah genre Action-Crime sepertinya layak ditempatkan sebagai salah satu yang terbaik, beserta keunikan dan ke-nyeleneh-an Quentin Tarantino tentunya.

***

H.G. Budiman (Penikmat Film)

Menyelami Dunia Nadira; Ulasan Novel 9 Dari Nadira

 

Hari ini (22/12), saya mencoba menyelesaikan proyek membaca yang belum rampung belakangan ini. Kemarin lalu saya lebih sibuk dengan mencari kerja; kerja yang berbuah duit. Banyak sudah waktu tersita. Saya mencoba membereskan Arok-Dedes, tinggal seperempat lagi sampai ending. Setelah novel itu tumpas, saya mencoba melahap novel yang sebulan lalu saya beli. Judulnya 9 Dari Nadira, karya Leila S. Chudori.

Sungguh, rasanya saya agak terhenyak membaca novel tersebut, agak terlarut dengan cerita dan terbawa pada dunianya Nadira. Tulisan ini pun saya kira lahir atas keresahan untuk men-save sensasi yang muncul selepas membaca novel tersebut. Sayang kiranya jika sensasi itu tidak dituangkan, paling tidak, mampu dibagikan pada khalayak luas sebagai pemenuh kepuasan diri.

Bukan maksud terlalu memuji, berlebihan, atau mengecilkan karya yang lain, namun dalam konteks tertentu novel 9 Dari Nadira paling menohok hati. Tanpa mengabaikan pengalaman membaca saya yang masih minim, rasanya novel ini menyisakan kesan bolong, agak menyesakkan, barangkali amat kecut bagi para pembaca yang lapar dengan sesuatu yang membahagiakan. Tapi toh bagusnya suatu karya bukan dinilai dari bahagia atau tidaknya ending, melainkan kesan yang ditimbulkan bagi pembacanya. Dan Leila S. Chudori sangat sukses memberikan kesan yang dalam, bahkan bagi saya pribadi terkesan menyakitkan dan membuat melongo alias terbengong setelah membacanya.

Novel yang berjudul 9 Dari Nadira ini terdiri dari sembilan bab yang masing-masing babnya mengkonstruksi kehidupan Nadira, seperti puzzle atau mozaik yang disusun perlahan untuk mendapatkan gambaran yang utuh pada akhirnya. Novel ini memang agak kurang umum, sedikit eksperimental barangkali, dan alur ceritanya tidak melulu linier. Gaya penuturan dan plotnya menjadi salah satu daya tarik dari novel ini. Pembaca dipaksa menyusun puzzle-puzzle cerita hidup Nadira, beserta tokoh-tokoh di sekelilingnya: Nina dan Arya sebagai dua kakaknya, Kemala ibunya, Bramantiyo sang ayah, dan Utara Bayu sesosok lelaki yang mendamba Nadira dengan sabar dan lebih banyak hening. Nadira menjadi porosnya yang merangkai-rangkai tokoh lain.

Cerita bermula pada kematian Kemala karena bunuh diri. Kemala tewas setelah menegak obat tidur. Kematian tersebut menyisakan goncangan yang hebat dalam keluarga Bramantiyo; termasuk anak-anaknya, Nina, Aryo dan Nadira. Lewat sepenggal-sepenggal kisah dari buku harian Kemala yang ditemukan di gudang, Nadira mencoba menengok masa lalu sang bunda juga ayahnya; sejoli yang merepresentasikan generasi pasca kemerdekaan yang terbuka pada pendidikan Barat. Bram dan Kemala membangun impian sebagai suami-istri di negeri yang jauh dari tanah air, yaitu Belanda, tepatnya di Amsterdam. Bram dan Kemala adalah pasangan terpelajar dari dunia yang berbeda: Kemala seorang campuran Lampung-Palembang dari keluarga kaya raya yang merupakan simpatisan PSI di era revolusi, latarbelakangnya cenderung sekuler. Adapun Bram adalah pemuda cerdas yang memperoleh beasiswa di Belanda, lahir dari keluarga Sunda-Jawa yang kuat pada agama, simpatisan NU dan ia sendiri dekat pula pada pemikiran Natsir. Bram dibesarkan dengan tata etika ketat. Bram kemudian menjadi wartawan, hidup dan menghidupi istri dan anak-anaknya. Di tengah benturan dan latar belakang sosial berbeda antara Kemala dan keluarga/orang tua Bram, Nina, Arya, dan Nadira dibesarkan dengan berbagai problematika keluarga di era modern; pertautan intelektualitas, tradisi, moral, benturan ideologis, dan prinsip. Juga tak lupa mengenai masalah romantika yang kelam dan tidak terlalu manis.

Leila menyajikan narasi dengan tidak lazim dan unik. Ketika membaca mungkin awalnya kita akan dibingungkan oleh sudut pandang si pencerita. Kadang dengan sudut pandang orang ketiga, kemudian sudut pandang silih berganti pada tokoh dalam cerita, atau gabungan antara orang ketiga dengan tokohnya, bahkan dalam bab ”Sebilah Pisau”, pencerita diambil dari perspektif tokoh yang tidak bertait dengan cerita pada bab sebelumnya, yakni dari sudut pandang rekan kerja Nadira yang seorang ilustrator di majalah Tera. Dalam bab tersebut Nadira menjadi objek, padahal pada bab-bab awal Nadira sendiri menjadi subjek. Walau demikian, justru kita disajikan hidangan yang fresh dan tidak membosankan, di samping itu, penggambaran sebuah karakter malah tidak luntur tetapi semakin menguat per tokohnya. Seperti yang saya kemukakan di awal, cerita dalam novel ini ibarat menyusun –nyusun sebuah puzzle.

Penguatan tokoh dan konflik batin yang terjadi dibangun seiring dengan rangkaian bab demi bab. Sekalipun penuturannya tidak linier, kedalaman karakter tokohnya tertuang dengan sempurna.

Kita dihadapkan dengan Nadira, tokoh sentral dalam cerita. Nadira dibesarkan dari lingkungan intelektual sang ayah yang seorang wartawan dan di bawah naungan sang ibu cenderung terbuka dan sekuler. Nadira bebas secara ideologis, maka ia menambatkan karirnya sebagai seorang wartawan yang penuh dengan gairah keingintahuan dan petualangan intelektual. Hingga suatu hari, tewasnya Kemala mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anak, seorang wartawan, seorang kekasih, juga berpengaruh ketika ia menjadi seorang Istri. Kisah dalam novel ini penuh dengan tragedi yang menggoncang, dalam istilah Haruki Murakami, “membuat sekrup-sekrup otak agak longgar” yang tak jarang bisa berujung pada keputusan mengakhiri hidup.

Novel ini juga memasukan konflik-konflik yang berat secara psikologis. Nampaknya Leila memang berusaha menyuguhkan konflik keluarga bukan semacam masalah remeh-temeh dan klise macam sineteron di tv. Ia juga bicara tentang isu-isu feminis yang sedikit-banyak tersirat dari transisi Kemala dari seorang pengagum Simon de Beauvoir, lalu harus menjadi seorang ibu dari 3 anak dan menekan hasrat-hasrat muda dan bebas. Nuansa feminis juga terasa dari pembangunan karakter Nina juga Nadira yang tidak terikat dengan tradisi lokal dan bebas menggapai pendidikan. Nuansa elitis pun sungguh terasa karena banyak bercerita tentang lingkungan-lingkungan intelektual di luar negeri, yang berangkali belum begitu akrab dengan sebagian besar pembaca, khususnya remaja dewasa ini.

Isu-isu politis pun disisipkan secara tersirat dalam lantunan kisah novel ini, mulai dari demo mahasiswa ’66, Malari, tentang NKK/BKK, premanisme/mafioso di era orde baru, hingga isu hangat seputar 9/11 serta wacana Wars Againts Terorism. Tak luput pula masalah keluarga di era metropolitan, di mana ego suami-istri banyak berbenturan.

Sebetulnya banyak poin yang bisa dikupas dari novel ini, termasuk pula kajian dari sudut pandang filsafat semisal dengan menyuguhkan wacana psikoanalisisnya Freud tentang bawah sadar, nuansa kelam ala Camus, juga tentang ekstensialisme yang tergambar dari Nadira yang melarutkan kecemasan dengan menggeluti karya atau karir. Adapun wacana feminisme kiranya menjadi semen perekat dalam bangunan novel ini. Tiada yang salah, dan semuannya tampak begitu menarik.

Di balik semua wacana yang disuguhkan, justru saya tertarik dengan romantika “pahit” antara Utara Bayu sang redaktur majalah Tera (semacam itu klo tak salah) dengan anak buahnya; Nadira yang terkena goncangan hebat dalam hidup. Hubungan rumit antara Nadira yang tak sadar akan rasa kasih Utara Bayu, Nadira yang lebih banyak tenggelam dengan gelapnya goncangan batin dan Utara Bayu yang tak kuasa bicara, lebih banyak mendiam dan sabar, hingga Nadira pun digondol orang lain. Mengutip pernyataan Seno Gumira Ajidarma, Leila tak hanya berkisah tentang hubungan romantik, melainkan betapa manusia menjalani kehidupannya dengan rasa, dengan hati, yang tak selalu dimanjakan oleh dunia kita sekarang ini.

Akhir paragraf, saya hanya bisa sedikit membandingkan dengan novel yang sejiwa zaman; novel Saman dan Larung-nya Ayu Utami. Karya Leila (9 Dari Nadira) dan Ayu Utami (Saman & Larung) memiliki gambaran yang cenderung sama, yaitu representasi problematika sosial di Indonesia modern dengan cita rasa yang berbeda. Jika karya Ayu seperti burger yang panas dan pedas di mulut, maka karya Leila seperti es krim Cone yang dingin sampai menggigil ke jantung. Keduanya muncul dan dikemas dalam restoran gaya postmodern Indonesia. Paling tidak, itulah pandangan saya yang kini menjadi fans berat Ayu dan Leila.

***

H.G. Budiman (22 Desember 2010)

p.s: bagi teman-teman yg mungkin tertarik pada bolongnya hati atau sesaknya dada;  sebuah rasa sakit yg dirindukan seperti waktu muda dulu  ^.^!

Centurion; Runtuhnya Mitos Tentara Romawi

Banyak sudah film yang mengangkat keperkasaan bangsa Romawi. Mereka, bangsa Romawi, adalah bangsa yang mengaplikasikan ilmu dengan sistematika yang cermat. Mulai dari sistem pemerintahan, seni bangunan, tata kota, dan yang menjadi ciri utama bangsa Romawi adalah sistematika dalam strategi militer. Berbagai keunggulan itu yang menyebabkan bangsa Romawi memiliki wilayah kekuasaan yang luas. Adakah luasnya kekuasaan itu selalu memberi keuntungan? Adakah kekuasaan itu selalu berjaya di tanah jajahan? Film Centurion karya Neil Marshal agaknya mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Kiranya sudah tak terhitung berapa banyak film yang menunjukkan kehebatan bangsa Romawi, namun film Centurion mampu meruntuhkan kehebatan dan mitos bangsa Romawi. Film ini nampaknya berusaha mengekspose ketidakberdayaan Romawi yang kebanyakan tidak diungkapkan dalam film-film lain. Selain itu, sang sutradara, Neil Marshal sepertinya ingin mencoba menyuguhkan kekejaman perang. Darah, jiwa, tangan terpenggal, kepala lepas, dan mayat adalah hal yang lazim, tetapi dalam perang, lebih menyakikan bagi prajurit yang bertahan ketika apa yang diperjuangkan menjadi sia-sia. Seorang prajurit akan kehilangan makna eksistensi diri… sisi lain dari kejamnya perang.

Kisah bermula dengan narasi tentang penaklukan kekaisaran Romawi pada 117 Masehi, dimulai dari Mesir, Spanyol, Laut Hitam, dan terus menyebar hingga Britania Utara (Skotlandia). Di wilayah yang disebut terakhir itulah penaklukan tentara Romawi mendapat hantaman keras: Perlawanan dan strategi grilya bangsa Picts. Peperangan tanpa akhir, tanpa kehormatan, dan bahkan alam pun tak menghendaki kedatangan Romawi, begitulah ucapan Quintus Dias (Fassbender) di awal kisah. Quintus adalah seorang wakil panglima di benteng perbatasan. Quintus berhasil selamat, bahkan satu-satunya orang yang selamat dari serangan membabi buta pasukan Picts. Benteng yang dijaganya takluk, ia menjadi tawanan dan berhasil lepas. Ia di buru.

Di sisi lain, Virilius (West) seorang Jenderal legendaris dari Legion Kesembilan, terpaksa membataklan kepulangannya ke Roma. Di bawah Perintah Gubernur Roma di Britain, Virilius dipaksa membantai habis pasukan Picts pimpinan Gorlacon. Dengan bantuan Etain (Kurylenko), sang pencari jejak, Virilius memipin 3000 pasukan untuk menyelesaikan pertempuran terakhir dan menghabisi Gorlacon. Di tengah perjalanan itu, pasukan Virilius menyelamatkan Quintus yang tengah diburu. Quintus akhirnya bergabung dengan rombangan Virilius.

Alih-alih berusaha membantai pasukan Picts, Legion Kesembilan pimpinan Virilius justru dijebak oleh Etain. Pasukan Picts menyerang tanpa ampun. Kapak berterbangan dan panah menghujam. Dari 3000 pasukan hanya bertahan tujuh orang: Quintus Dias sang Centurion, veteran perang Bothos dan Brick, Macros si pelari marathon, Leonidas seorang tentara junior, Thax manusia penuh tipu muslihat, dan Tarak si koki. Quintus mengambil alih pimpinan, misi terakhirnya adalah membawa pulang sisa legion yang selamat. Bukan perkara mudah karena ia kini berada di wilayah musuh. Ia dan kelompok kecilnya kembali diburu. Adalah Etain, pemburu kejam dan tanpa ampun. Romawi yang tangguh kini diburu. Mampukah Quintus selamat?

Centurion memang bukan film yang bisa disebut sepektakuler. Bukan film kolosal dengan megahnya pasukan dan peperangan yang mencengangkan. Centurion hanya sepenggal kisah dari usaha penaklukan dataran Inggris oleh tentara Romawi. Film ini mengkin mengingatkan kita pada film King Arthur yang diperankan Cliff Owen. Film yang lebih banyak menggambarkan perjuangan suku pedalaman di Britania dengan kekejaman dan nuansa barbar yang begitu kental. Menariknya film ini tidak lepas dari gambaran alam yang teramat indah. Lembah, hutan pinus yang lembab, padang rumput, serta sungai-sungai yang mengalir menyuguhkan suatu nuansa eksotis, seolah menggambarkan dataran Britania yang belum terjamah dan misterius di masa itu. Inilah nilai plus dari film ini. Selain itu, ketegangan di dalam film mampu dibangun karena kepiawaian Kurylenko dalam memerankan Etain sebagai seorang pemburu yang kejam dan tanpa ampun.

Centurion adalaha film yang menunjukan runtuhnya mitos-mitos tentara Romawi oleh sekelompok suku barbar di dataran Britania. Dari film ini kita tahu, bahwa penaklukan itu selalu ada titik batasnya. Hitler terhenti di Stanligrad, pasukan Napoleon tumbang di Waterloo, dan tentu saja Legion Kesembilan pimpinan Jenderal Titus Flavius Virilus dibantai di Britania Utara. Hegemoni Romawai tak menancap di sana.

 

H.G. Budiman